Noushafarin

Noushafarin
Bab 80


__ADS_3

Noushafarin terlihat bingung ketika tak lagi melihat Tuan Pandu dan istrinya.


"Mereka pulang tidak bilang-bilang." Nou mendesah pelan. "Mas Sadewa juga tidak menghubungi sama sekali hari ini."


Noushafarin melangkahkan kaki menuju kamarnya, dari tadi Bunda Farena sudah menyuruhnya untuk mengganti baju. Walaupun Nou keberatan, mau tak mau ia menuruti. Karena tak ingin Kakak dan Kakak iparnya kecewa.


"Apa tamu undangannya berbeda? Kok kita ganti baju lagi." tanya Nou pada pelayan yang membantunya berganti pakaian.


"Maaf Nona, saya tidak tahu." jawab pelayan tersebut sambil menunduk. Kemudian pelayan itu menuntun Nou menuju meja rias.


Disana sudah menunggu Make Up Artist yang akan mengubah sedikit tampilan riasannya. Juga seorang Hair Stylist yang akan mengubah gaya rambutnya.


"Yang menikah siapa, yang ikutan ganti baju siapa." gumam Noushafarin. Kedua orang yang menangani Nou hanya saling bertukar pandang sambil mengulum senyum.


Noushafarin menajamkan pendengarannya, ia penasaran karena tiba-tiba band pengisi acara berhenti membawakan lagu. Ia ingin keluar, tapi beberapa pelayan melarang. Mereka berkata keluarga yang lain belum selesai, jadi Noushafarin harus menunggu di dalam kamar.


Tak ingin berdebat, Nou hanya duduk di sofa sambil mencoba menelepon Sadewa. Ia mengernyit karena sambungannya masuk, tetapi tak kunjung diangkat. Sekali lagi Nou mencoba menelepon, dan hasilnya pun sama.


Hhhhhhhh....


Terdengar gadis cantik itu mendesah, ia terlihat lesu dan tak bergairah. Nou menatap sendu pada gawai yang ada di tangannya.


Tak lama kemudian pintu diketuk. Seorang pelayan membuka dan terlihat Bunda di ambang pintu.


Farena masuk ke kamar Nou dengan penuh decak kagum. Wanita paruh baya itu menarik tangan putrinya agar gadis itu berdiri.


Noushafarin tampak sangat anggun dengan balutan gaun berwarna peach, warna yang sama dengan yang digunakan Farena.


"Kamu cantik sekali sayang." mata Farena tak berhenti menatap Nou dengan binar-binar yang tidak ditutupi.


Noushafarin tersipu malu. "Bunda bisa saja." lirihnya.


"Ayo sayang." Bunda menggandeng tangan Nou, membawa gadis itu kembali ke taman belakang tempat pesta digelar.


Mendekati taman, Nou terlihat bingung. "Bun, sepertinya tamu makin banyak ya." bisiknya pada Bunda.


"Iya, ada rombongan besar baru datang." jawab Bunda dengan mengulum senyum.


Nou menatap para tamu yang hadir, serta merta gadis itu berhenti melangkah.


"Kang Jono, Mbak Inah, Mbok Yem, Mang Ari..."


"Kamu ngabsen tamu Nou?" Bunda yang ikut berhenti tertawa geli dengan tingkah putrinya.


"Buk-bukan gitu Bun."


"Sudahlah, ayo." Bunda sedikit menarik Nou agar terus berjalan. "Permisi." ucap Bunda hingga kerumunan itu terbuka.


Noushafarin kembali berhenti melangkah. Detak jantungnya terasa lebih cepat. Matanya terkunci pada satu wajah.


"Mas Sadewa." lirih Nou tanpa membuang pandangan dari Sadewa yang mengenakan outfit berwarna peach, sama dengannya.


Pemuda itu pun membalas tatapan Noushafarin, ia terlihat terpesona dengan penampilan Noushafarin yang sangat anggun.


Terlihat Ayah Bardia tersenyum sambil mendekatkan microphone ke mulutnya.


"Inilah putri saya, Noushafarin Armani." Ayah merentangkan tangan kirinya menunjuk Nou. "Apa dia gadis yang kamu cari?"


Sadewa hanya bisa mengangguk, tak sepatah katapun ia ucapkan. Matanya terus saja saling mengunci dengan tatapan Noushafarin. Membuat semua yang ada disana tertawa.


Nou mengerjap, ia tersadar dan mengedarkan pandangan. Ternyata ia tak salah lihat, para ART di keluarga Wasesa tampak hadir dan membaur dengan keluarga Besar Armani, Miranti dan Wasesa.

__ADS_1


Kemudian Nou kembali menatap Sadewa, ia seperti belum puas setelah tadi saling pandang. Dua minggu tak bertemu membuat perasaan Nou menggebu-gebu ingin berlari memeluk pemuda itu.


Namun apalah daya, Bunda sedang memegang lengan Nou.


"Tuan Muda Sadewa, ada perlu apa mencari putri saya?" tanya Ayah pada Sadewa.


Pemuda itu menyeret matanya agar bisa fokus pada Bardia. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya saya bukan hanya mencari Noushafarin." jawab Sadewa tegas.


"Lalu?"


"Saya juga mencari Keluarga Armani."


Semua yang ada saling pandang. Mereka menatap Sadewa dengan penasaran, menunggu Sadewa melanjutkan kalimatnya.


"Ada perlu apa mencari kami, Nak?"


Sadewa menatap Ayah Bardia. "Saya hendak meminta, itu pun jika Keluarga Armani berkenan. Untuk menjadi bagian dari keluarga saya, serta keluarga saya menjadi bagian dari Keluarga Armani. Dan meminang Noushafarin..." Sadewa tiba-tiba gugup.


Namun ia mencoba menghalaunya dengan kembali menatap wajah ayu pujaan hatinya. Sadewa menatap tepat ke dalam bola mata Nou. Tatapan yang dalam dan penuh cinta.


"Meminang Noushafarin, untuk menjadi pendamping seumur hidup."


Deg


Deg


Deg


Nou sontak memegang dadanya, ia terkejut dengan ucapan Sadewa. Saat ini pemuda itu sedang meminangnya.


Semua atensi tertuju pada Nou yang masih mematung di tempatnya dengan mata yang terus menatap Sadewa dan Ayahnya secara bergantian.


Sadewa turun dari panggung kecil itu kemudian berjalan menuju Noushafarin membuat Bunda melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.


"Noushafarin Armani, mungkin kita memang belum lama menjalin hubungan. Tapi saat ini aku sudah tak ingin lagi menjadi kekasihmu." Sadewa menatap Nou dalam-dalam.


Tiba-tiba ia langsung menjatuhkan diri, menekuk satu lututnya dan lutut yang lain sebagai tumpuan. Noushafarin tercengang melihat Sadewa berlutut di hadapannya. Gadis itu sontak mundur satu langkah ke belakang dengan kedua tangan menutup mulutnya.


"Aku ingin menjadi suamimu. Bersediakah kamu menerimaku?"


Noushafarin merasa sesak, debaran jantungnya sudah tak dapat dikendalikan. Ada perasaan hangat yang menyeruak menekan ke segala arah membuat dadanya terasa penuh. Buliran kristal bergulir dari sudut matanya. Ia bahagia, sangat bahagia.


Dengan perlahan Nou melepaskan tangan dari mulutnya. Wajahnya yang cantik memancarkan aura kebahagiaan. Senyumnya terus mengembang sambil menatap Sadewa.


Sebelum menjawab ia memandang Ayah, dan beliau hanya mengangguk. Kemudian Noushafarin menoleh menatap Sang Bunda. Hal yang sama dilakukan oleh Farena, ia mengangguk menyerahkan keputusan pada Noushafarin.


Nou menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Iya Mas, aku bersedia."


Jawaban Noushafarin disambut dengan teriakan bahagia Sadewa. Ia berdiri dengan cara melompat membuat semuanya tertawa sambil bertepuk tangan.


Dor


Dor


Dor


Letupan confetti terdengar di sekeliling Sadewa dan Nou. Sejurus kemudian guntingan kertas berwarna warni turun bagai salju.

__ADS_1


"Yes! Yes! Yes!" teriak Sadewa sambil mengepalkan kedua tangan ke atas. Noushafarin tertawa melihat Sadewa mengekspresikan kebahagiaannya.


Mama Srikandi berjalan mendekati keduanya dengan membawa sebuah kotak kecil. Ia meminta keduanya untuk naik ke panggung kecil tempat Bardia berdiri.


Srikandi membuka kotak dan mengambil sebuah cincin berlian dari wadah tersebut. Ia lalu meraih tangan kiri Nou dan menatap gadis itu dengan penuh kasih.


"Terima kasih mau memberi Sadewa kesempatan dan mau menerimanya. Cincin ini sebagai tanda bahwa kamu adalah calon menantu kami." ucap Srikandi seraya menyematkan cincin ke jari manis Nou.


Noushafarin terharu, ia tersenyum dan memeluk Srikandi dengan erat. Sesaat kemudian Srikandi mengurai pelukan mereka dan mencium kening Nou.


......................


Hari yang membahagiakan bagi Keluarga Armani. Darian melepas masa lajangnya, dan Noushafarin menerima pinangan kekasihnya. Acara yang digelar di halaman belakang masih berlangsung.


Sudah tak nampak lagi pengantin di pelaminan, karena saat Nou akan dilamar, semua keluarga telah sepakat untuk berganti baju.


Band pengiring memainkan lagu yang mengusik keinginan untuk berdansa.


"Terima kasih untuk kejutan ini." ungkap Nou saat ia tengah berdansa bersama Sadewa.


"Terima kasih juga karena tidak menolakku. Aku bisa mati berdiri tadi jika jawabanmu adalah tidak." Sadewa bergidik ngeri saat membayangkannya.


"Hmmm, mungkin sebaiknya tadi aku menjawab tidak." Nou menggoda Sadewa.


"Kamu ini." Sadewa menyentil ujung hidung Nou dengan gemas.


Sadewa menarik Noushafarin masuk dalam pelukannya. Tak ada penolakan, gadis itu bahkan menempel dengan nyamannya di dada Sadewa.


"Noushafarin." lirih Sadewa.


"Hmmm?"


Sadewa sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Nou.


"Nama yang cantik, sangat sesuai dengan pemiliknya."


Nou tersipu, ia kembali bersandar pada dada bidang Sadewa.


"Mas."


"Iya sayang."


"Terima kasih banyak sudah melimpahiku dengan banyak cinta."


Sadewa mengeratkan pelukannya. "Iya sayang. I love you." ucapnya seraya mendaratkan kecupan hangat pada kening Nou.


Noushafarin memejamkan mata menikmati kecupan yang dilakukan Sadewa. Bibirnya terus menyunggingkan senyum.


"Love you more."


Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuh Nou. Tak menyangka, aksi nekatnya menghindari perjodohan berakhir dengan menemukan jodoh.


Cita-citanya bisa ia gapai, cintanya pun bisa ia raih. Meski jalannya tidak mudah, bukan berarti mustahil didapatkan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


HAIIII....TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA NOVEL NOUSHAFARIN DARI AWAL SAMPAI SELESAI.


CERITA NOUSHAFARIN DAN SADEWA SUDAH SELESAI SAMPAI DISINI YA.


TERIMA KASIH UNTUK SEMUA YANG SUDAH MENDUKUNG.

__ADS_1


__ADS_2