Noushafarin

Noushafarin
Bab 36


__ADS_3

Sadewa merebahkan tubuhnya di kasur hotel dan merasakan kenyamanan yang dari tadi ia impikan. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Begitu tiba di bandara Mozes Kilangin, ia langsung naik pesawat sewaan yang sudah menunggu.


Ia terkejut bukan main, karena dari Bandara Ewer menuju Kota Agats mereka harus menggunakan speed boat. Semalam ia berpikir, Papa Pandu hanya menambah-nambah cerita untuk mengganggunya.


Dan saat tiba ternata cuaca di muara sedang tidak bersahabat. Gelombangnya lumayan tinggi hingga membuat driver agak sedikit kewalahan. Ini pertama kalinya ia melihat pekerjaan di Agats, biasanya Nakula atau Papa.


Begitu tiba di dermaga Pelabuhan Aswan, beberapa pengawas sudah menunggu. Ternyata mereka hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai lapangan yang sedang dibangun di atas lumpur itu. Kawasan Kabupaten Asmat sebagian besarnya adalah daerah rawa, jadi semua dibangun di atas pondasi yang berupa umpak, entah itu terbuat dari kayu maupun dari beton.


"Halo Ma." Sadewa yang sedang berbaring menerima panggilan video dari Mama Kandi. Wajah cantik Mamanya memenuhi layar ponsel.


"Lelah?"


"Iya Ma. Sedikit."


"Sudah makan belum?"


"Sudah Ma. Lalu bagaimana kondisi Mama?"


"Mama sudah lebih baik." Mama Kandi terlihat ragu saat ingin mengucapkan sesuatu.


"Ada apa Ma?"


"Mama ingin bertanya sesuatu. Apakah ada kalimat yang kamu ucapkan sebelum meninggalkan Noushafarin di ruang perawatannya?"


"Dia sedang tidur waktu aku dan Tora pergi Ma. Ada apa?"


"Jadi kamu tidak berbicara padanya?"


Sadewa menggeleng pelan. "Tidak Ma. Ada apa?" pemuda itu kembali mengulang pertanyaannya.


"Mama pikir mungkin dia tersinggung dengan ucapanmu." Mama Kandi termenung. "Wa, sebelum tahu kalau Arin itu putri Tuan Armani, Mama sudah menyukainya. Waktu itu Mama tidak peduli kalau dia itu asisten rumah tangga kita. Apalagi sekarang setelah tahu dia Nona Besar keluarga Armani, Mama semakin senang." Mama Kandi tersenyum lebar.


"Jadi?" Sadewa mengangkat sebelah alisnya, namun tak dapat dipungkiri jantungnya berdebar-debar menunggu kelanjutan ucapan Mama.


"Jadi....ekhmmm!!! Kamu mau kan membuat Noushafarin jadi menantu Mama, jadi istri kamu?"


"Tentu saja mau dong Ma." jawab Sadewa cepat dan penuh semangat.


"Ihh, anak Mama. Semangat sekali." Mama Kandi terkekeh. "Tapi apa kamu benar-benar sudah melupakan Della? Karena Mama tidak mau ada wanita lain di hati kamu selain istrimu kelak."


"Yakin Ma. Selama ini aku hanya terbiasa dengan kehadiran Della disampingku. Bukan cinta." mata Sadewa menerawang. "Aku tak pernah memberi waktuku kepadanya. Berbeda dengan Noushafarin, aku merasa ingin selalu bersamanya."


Sadewa terkekeh dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Sepertinya aku mulai gila."


Mama Kandi tersenyum penuh arti. Ia bahagia melihat wajah Sadewa yang berseri-seri.


"Baiklah kalau begitu, istirahatlah. Papa bilang nanti malam kamu ada pertemuan dengan orang dari Pemda. Kamu harus bugar agar terlihat semakin tampan dan berwibawa."


"Iya Ma, tentu saja." Sadewa tersenyum sampai sambungan terputus.

__ADS_1


Sadewa memainkan ponsel untuk mencari nomor ponsel Noushafarin. Sampai sesaat kemudian ia memukul dahinya sendiri.


"Aku lupa, selama ini aku tak pernah punya nomor ponselnya." namun kemudian Sadewa mengernyit. "Sepertinya dia tidak pernah memegang ponsel. Atau dia sengaja agar tidak bisa dilacak?"


"Arin...kamu tega sekali sih sayang." Sadewa memeluk guling kuat-kuat.


......................


Terik matahari membuat seorang gadis berlari-lari masuk ke dalam rumah sakit. Kemudian ia menuju lift khusus ruangan VVIP dan tersenyum kepada satpam yang berjaga disana.


"Saya Miranti, sudah ada janji menjenguk Nona Noushafarin Armani." ucapnya memperkenalkan diri.


Satpam melihat daftar yang ada di tangannya kemudian menemukan nama Miranti disana.


"Silahkan. Ruang perawatan Edelweis ya Nona." Satpam itu memberi tahu.


"Terima kasih."


Miranti segera memasuki lift sambil memeluk paper bag. Namun pintu lift tak bisa menutup sempurna karena sebuah tangan masuk tepat diantar celah lintu yang hampir menutup. Miranti cepat-cepat menekan tombol dan pintu kembali terbuka.


"Eh!" ia terkejut melihat sosok tubuh yang berdiri di balik pintu. "Se-selamat si-siang Kak." ucapnya gugup.


"Hmm." pemuda itu hanya berdehem sambil melangkah masuk ke dalam lift.


Miranti perlahan menjaga jarak hingga tubuhnya merapat ke dinding. Ia merasa tubuhnya gelisah dan jantung berdebar tak menentu. Setiap bertemu pemuda itu, Miranti tak dapat mengendalikan rasa aneh yang muncul di hatinya.


"Kenapa jauh sekali?" Darian sangat suka menggoda gadis ini, menurutnya Miranti sangat manis saat gugup dan tersipu malu.


Apalagi pemuda itu menekan sebuah tombol dan lift berhenti bergerak


"Kak-Kak Darian nga-ngapain?" Miranti panik. Ia maju untuk menekan tombol namun Darian menghalanginya.


"Gugup banget." pemuda itu tersenyum, namun malah terlihat menakutkan.


"Kk-kak, Nou sudah nung..."


"Nung nung apa!!" Darian membentak untuk mengerjai gadis di depannya.


"Eh nung nung nung nung!" Miranti sontak menutup mulutnya dengan wajah merona. "Kak Darian ihh." ia refleks memukul lengan pemuda di hadapannya itu.


Miranti terkesiap, ia segera menarik kembali tangannya dan mundur satu langkah ke depan. Ya ampun tangan ini lancang banget mukul orang ganteng.


"Sekarang sudah berani mukul ya." Darian melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Miranti yang sedang menunduk.


"Ma-maaf Kak."


"Aku enggak dengar."


"Ma-maaf kk-kak."

__ADS_1


Darian sedikit menunduk mencondongkan wajahnya mendekati wajah Miranti yang tingginya hanya lebih pendek sekitar 10 cm dengannya. "Ngomong apa sih?"


Pertanyaan itu membuat Miranti mengangkat wajah namun secepat kilat menarik kepala ke belakang karena terkejut Darian sudah sangat dekat dengannya. Gerak tubuhnya yang terlalu cepat sontak membuat badannya kehilangan keseimbangan.


Darian menarik pinggang Miranti agar gadis itu tidak jatuh. Tubuh Miranti spontan menempel pada tubuh Darian dan bibirnya mendarat tepat di bibir pemuda itu.


Netra keduanya membulat sempurna, Miranti cepat-cepat melepas tangan Darian yang melingkar di pinggang rampingnya. Ia juga terburu-buru maju dan menekan tombol agar lift kembali bergerak. Miranti tak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya, kepalanya pun semakin menunduk.


Dadanya semakin berdebar, wajahnya terasa panas. Walau itu bukanlah ciuman pertamanya, namun rasanya tetap mampu menggetarkan hatinya. Miranti tak menoleh barang sedikit, ia juga tak berani menatap melalui pantulan dinding di depannya. Entah apa yang dilakukan Darian di belakang sana.


Saat lift berhenti di lantai yang menjadi tujuannya, ia cepat-cepat keluar. Tanpa melihat pun ia tahu kalau Darian juga melangkah keluar dari lift.


Melihat Miranti yang begitu tergesa-gesa membuat Darian tersenyum tipis. Ia menatap tubuh sahabat adiknya itu dari belakang. Ciuman tadi, walau sekilas dan tanpa sengaja, nyatanya mampu menciptakan senyar di dalam tubuhnya. Mengirim perasaan asing namun hangat ke dalam hatinya.


Didalam ruangan, Nou menatap dengan kerutan yang sangat jelas di dahinya. Miranti tengah menyuapinya dengan gerak tubuh yang gelisah. Sedangkan Darian yang sedang duduk di sofa dengan laptop didepannya. Terpergok Nou sering mencuri pandang melihat Miranti.


Saat Miranti berdiri meletakkan mangkok ke nakas, Nou menatap Neneknya. Rupanya Nenek Faireh juga melihat kecanggungan itu. Kemudian tanpa sepengetahuan Darian dan Miranti, Nenek menunjuk mereka bergantian kemudian membentuk tanda 'OK' dengan jarinya kepada Nou.


Melihat kode itu, Nou paham, Nenek Faireh setuju jika ada hubungan spesial diantara Kakak dan sahabatnya itu. Nou tersenyum dan membalas kode itu diam-diam.


"Miranti." Nenek Faireh mulai melancarkan aksinya.


"Iya Nek." Miranti mendekat.


"Nenek ingin buah naga, bisa tolong pergi belikan?"


"Iya Nek, tentu saja." Miranti segera mengambil tas kecilnya. "Aku keluar dulu." ia berpamitan pada Nou.


"Darian cepat temani Miranti." perintah Nenek membuat Miranti menjengit dan berbalik dengan cepat.


"Ti-tidak Nek. Mi-mi eh saya sendiri...sajjaaa!" Miranti meneriakkan kata terakhir karena Darian sudah menarik tangannya.


Noushafarin menutup mulut dengan kedua tangannya untuk menahan tawa. Sedangkan Miranti langsung memberi lirikan tajam.


"Kak Darian apa-apaan sih?!" protesnya.


"Karena kamu kelamaan." jawab Darian santai.


Keduanya tiba di depan lift, Miranti panik seketika. Wajahnya merona mengingat kejadian tadi. Sedangkan Darian, ia terlihat santai malahan menggandeng Miranti masuk ke dalam.


"Jangan diingat terus, nanti kamu ketagihan." ucap Darian dengan tenangnya.


Miranti membeliakkan mata menatap Darian dengan wajah tak percaya, bercampur malu dan kesal.


"Kakak kePeDean!" sahut Miranti ketus.


Darian tersenyum tipis melihat reaksi Miranti. Sepertinya Nenek sudah memulai rencana mencarikan jodoh untukku.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya❤❤❤❤❤


__ADS_2