
Sekalipun sudah mengetahui siapa pemilik hati Sadewa Wasesa, Farida tidak menyurutkan niatnya. Apalagi ia mengetahui kalau gadis yang bernama Noushafarin itu sedang tidak berada di Indonesia.
"Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa ditikung." Farida bergumam seraya mengaplikasikan make up di wajahnya.
"Kamu ini, nggak bisa dibilangin." Nyonya Fitri yang melihat tingkah putrinya dari ambang pintu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kan Mama yang merusak otakku dengan impian mewah jika bisa menikah dengan Sadewa. Jadi jangan salahkan aku jika nekat."
"Tapi...."
"Sudahlah Ma, lagian kalau berhasil Mama juga kan yang senang."
Kehidupan bergelimang harta sontak memenuhi otak Nyonya Fitri.
"Belanja barang mewah, perawatan mahal, baju mahal." mata wanita itu berbinar seketika.
Farida tersenyum sinis melihat ekspresi Mamanya. "Tadi aja ketakutan." ujarnya mencibir.
"Iya deh iya, mama minta maaf." Nyonya Fitri masuk ke dalam kamar dan memegang pundak Farida. "Hari ini kamu harus perawatan, biar lebih glowing dan cantik kalau mau ketemu Sadewa."
"Ok deh." Farida mengacungkan jempolnya dengan wajah berbinar.
......................
Noushafarin sedang membantu seorang anak perempuan berumur 8 tahun yang mengalami muntah. Gadis cilik itu tampak sangat lemah, matanya menatap sayu untuk sesaat.
"Dokter, terima kasih." ucapnya pada Nou sambil tersenyum.
"Sama-sama." Nou mengusap kepalanya dengan penuh kelembutan. "Sekarang aku akan memeriksamu. Boleh?"
"Tentu saja." jawab gadis kecil itu dengan senyuman manisnya.
Nou membereskan wadah yang ia pegang kemudian mulai memeriksa gadis kecil itu dengan seksama dan membuat catatan pada buku kecil yang ia bawa. Sesekali ia menanyakan beberapa pertanyaan dan dijawab dengan baik oleh gadis kecil tersebut.
"Baiklah Briana, untuk saat ini cukup. Ingin dengar cerita?"
"Iya, jika Dokter tidak keberatan."
Nou mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Suaranya yang merdu membuat si gadis kecil terbawa suasana. Hingga tak lama kemudian ia pun terlelap.
Noushafarin membenahi selimut Briana, mengusap puncak kepalanya dengan lembut dan kemudian meninggalkan ruang perawatan Briana perlahan-lahan.
Briana adalah pasien anak yang menderita leukimia, sudah satu tahun Nou dan teman-teman Dokter lain yang tergabung dalam satu tim, merawat Briana. Meski rasa sakit sering menderanya, Briana tidak mengeluh. Ia menerima setiap pengobatan yang diberikan dengan penuh semangat.
Seorang perawat mengatakan satu-satunya momen mereka melihat Briana sedih adalah saat Noushafarin pulang ke Indonesia. Pembawaan Nou yang ceria, lemah lembut serta penuh kasih kepada anak-anak, membuatnya menjadi Dokter Anak paling disukai di seluruh Rumah Sakit tempat Nou bekerja. Meski rekan seprofesi lain memiliki sifat yang sama, entah kenapa Nou tetaplah menjadi idola pasien anak-anak.
Tak jarang ada anak yang meminta Nou untuk menikah dengan salah satu keluarganya, atau bahkan dengan papa mereka untuk menggantikan Mamanya yang telah tiada.
"Apakah dia sudah tidur?" perawat Nola menerima lembar catatan pemeriksaan dari Nou.
"Iya, baru saja."
"Ada apa?" Nola melihat gurat kesedihan di wajah Nou.
"Entahlah, firasatku tidak enak."
"Jangan begitu, tiga hari lagi operasi Briana akan dilaksanakan. Gadis kecil itu pasti akan baik-baik saja setelah ini."
"Yahhh, kau benar." Nou tersenyum tipis dan berpamitan untuk mengunjungi pasien lain di bangsal khusus anak.
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam saat Nou melangkah menuju ruang perawatan intensif tempat Briana dirawat. Sebenarnya jadwalnya sudah selesai, namun ia ingin melihat Briana sebentar sebelum pulang.
Nou mengernyit, pintu ruangan Briana sedikit terbuka. Sedangkan tidak ada jadwal perawat untuk memeriksa, bahkan ia bertemu pelayan pribadi Briana di depan mesin pembuat kopi.
Dokter cantik itu bergegas dan dengan sekali sentakan ia membuka pintu. Seorang wanita tengah membekap Briana dengan bantal.
"Apa yang anda lakukan?!" mata Nou nyalang dengan rahang mengeras. "Tolong! Tolong!"
"Dokter sialan!" wanita itu menerjang Nou, ditangannya sudah ada sebilah pisau.
Wanita tersebut mengayunkn tangannya hingga pisau itu mengenai lengan Nou.
"Akh!" Nou yang tak sempat mengelak meringis merasakan perih di kulitnya.
__ADS_1
Teriakan Nou menarik perhatian petugas keamanan dan petugas medis lain yang tak jauh dari sana. Dengan cepat wanita itu diringkus. Sedangkan Nou, ia dengan sigap memeriksa Briana dibantu dengan perawat lain.
Mereka memeriksa denyut jantung Briana dan memasang kembali selang oksigen yang dicabut pelaku. Segera Nou memberi napas buatan dan memompa dada Briana.
Beberapa kali mencoba, tidak ada tanda-tanda detak jantung Briana kembali.
"Siapkan defribrilator!" perintahnya pada perawat yang berada di dekatnya. "Ayolah Bri, tetaplah bersamaku. Tetap bersamaku Bri."
"Clear."
Tubuh Briana berguncang, Nou melihat ke layar sejenak.
"Clear."
Sekali lagi Nou mencoba, mata Perawat Nola yang berada di sana sudah berkaca-kaca.
"Dokter." ujar Nola lirih.
Noushafarin tak menghiraukan tatapan sedih petugas medis disana. Ia kembali memompa dada Briana dan memberikan napas buatan.
"Sekali lagi." Nou memberi perintah.
"Dokter."
"Aku bilang sekali lagi!!!"
Mau tak mau perawat yang menyiapkan defribrilator mengikuti perintah Nou. Mereka menyiapkan alat pacu jantung tersebut, memberi krim pada permukaan paddle yang telah dipegang Nou.
"Clear."
Tanpa diijinkan air mata Nou menetes saat tubuh Briana terguncang.
"Clear."
Tak ada perubahan, Nou meletakkan paddle dengan tergesa-gesa. Ia melangkah keluar sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Kemana perempuan tadi dibawa?"
"Dibawa ke bawah. Kata nya sudah ada polisi yang menjemputnya." jawab seorang petugas keamanan yang berjaga di pintu.
"Itulah yang kami tidak mengerti, karena belum ada satu pun dari kami yang menelepon."
Nou berlari secepat kilat masuk ke sebuah lift, namun yang lebih mengejutkan Nou menarik seorang petugas keamanan lain yang memperhatikan peristiwa tadi dari jauh. Begitu lift tertutup ia segera mendorong pria itu ke dinding.
"Aku tahu Darian kakakku mempekerjakanmu untuk melindungiku. Sekarang juga hentikan siapapun yang akan membawa perempuan sialan tadi keluar dari rumah sakit ini." Nou berucap dengan raut wajah mengerikan. "Aku tahu kau tidak sendirian."
Pria tadi meneguk salivanya dengan susah payah. Kemudian ia mengambil Walkie Talkie yang modelnya berbeda dengan milik petugas keamanan rumah sakit lain.
"Perintah langsung dari hummingbird, hentikan perempuan yang akan dijemput polisi di luar."
Selesai memberi arahan, pria itu menatap Nou yang masih melihat ke arahnya dengan penuh kemarahan.
"Sejak kapan Nona Besar tahu?"
"Sejak lama." jawab Nou datar. "Dan jika perempuan tadi lepas, aku akan membunuh kalian semua dengan caraku sendiri." ancamnya.
Pria tersebut tak berani membantah, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aura yang menguar dari tubuh Nou sangat dingin dan mencekam.
Bunyi dentingan lift membuat pria tadi menghembuskan napas lega. Nou melesat dan melihat dua orang polisi sudah dikepung dengan beberapa pria berbadan tegap.
Sedang perempuan yang menyakiti Briana meronta-ronta dalam pengawasan petugas keamanan rumah sakit.
"Lepas! Lepaskan aku! Aku adalah istri wakil presiden Bundesrat! Aku akan memasukkan kalian semua ke dalam penjara!" seru wanita itu dengan angkuhnya.
Nou melangkah dengan cepat menuju pusat keributan tersebut.
"Akhhhh!" wanita tersebut menjerit kesakitan saat tangan kanan Nou dengan keras mendarat di pipi kirinya.
"Sialan! Kau berani menamparku?!"
"Mengapa aku tidak berani? Pembunuh!"
"Hahahaha." wanita itu tergelak dan menatap sinis. "Kalian tidak punya bukti. Dengan kekuasaan yang aku miliki, kau yang akan menjadi pembunuh anak tiriku itu."
Nou menatap pria yang datang bersamanya, kemudian memberi kode. Mereka menyeret wanita dan dua orang polisi tadi menuju tempat yang sepi. Sedang Nou nampak sibuk menelepon.
__ADS_1
"Halo, ini aku. Datanglah ke rumah sakit, dan uruslah anak buahmu sebelum kakakku yang mengurusnya."
"....."
"Mereka ingin mengamankan istri kedua Herr Olaf Schröder yang membunuh pasienku. Dan jika aku tahu kau terlibat, aku pastikan kau akan menyusul pasienku."
"....."
Saat Nou mendekat, kedua polisi itu menatap Nou dengan penuh selidik. Mereka dapat mendengar setiap ucapan Nou saat menelepon.
"Dokter tak berguna! Kau pikir kau bisa menjebloskanku ke dalam penjara?"
"Aku tidak berpikir seperti itu Frau Schröder." jawab Nou dengan senyuman sinis di wajahnya. "Untuk apa membuatmu masuk penjara jika bisa melakukan hal lain yang lebih baik."
Wanita yang merupakan ibu tiri Briana bergidik ngeri melihat wajah cantik Nou. Cantik namun penuh dengan aura membunuh.
Tak lama kemudian sebuah mobil van berwarna hitam berhenti. Wajah kedua polisi tadi memucat melihat siapa yang datang.
"Kau cepat juga, Ivan."
"Jika masih ingin bertemu dengan Georg, aku tahu harus berbuat apa." Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pintar." cibir Nou.
Pandangan Ivan beralih krpada kedua anak buahnya. "Masuklah." ucap Ivan sambil menggerakkan kepala.
Kedua anak buahnya tadi saling menatap, mereka menelan salivanya dengan susah payah. Perlahan mereka berjalan menuju mobil van dan masuk dengan patuh.
"Aku akan menyeret semua yang teribat, aku pastikan itu." ucap Ivan sambil memegang pundak Nou. "Lenganmu!"
"Hanya luka kecil."
"Dia pelakunya?" Ivan menunjuk wanita bermake up tebal di depan mereka.
"Ya."
"Apa yang akan kau lakukan kepadanya?"
"Dia menggertakku dengan jabatan suaminya. Aku yakin suaminya tak tahu menahu jika istri jalangnya ini membunuh putri kecilnya."
Ucapan Nou membuat wanita itu terkejut.
"Dia tidak akan mempercayaimu. Suamiku hanya memercayaiku karena dia sangat mencintaiku."
"Memang." jawab Nou ketus. "Karena bukan aku yang akan mengatakannya." Nou kembali membuka ponsel pintarnya dan menelepon seseorang.
"Kak, kau sedang sibuk?"
"....."
"Hentikan pendanaan pada kegiatan politik Herr Schröder sekarang juga."
"....."
"Istrinya membunuh pasienku, Briana Schröder."
"....."
"Berikan semua bukti perselingkuhan wanita itu." ucap Nou dengan mata menyipit menatap wanita di depannya. "Terima kasih kak."
"Si-siapa kau se-sebenarnya."
"Aku?" Nou menunju dirinya sendiri dan tersenyum tipis. "Aku hanya seorang dokter anak biasa."
"Mari Nyonya, ikut aku." Ivan mendekati wanita yang terlihat mulai marah. Ia meronta dan mencaci maki Ivan. Namun tenaganya tak sebanding, apalagi beberapa bodyguard Nou ikut menyeretnya. Mereka bahkan ikut naik ke van yang dibawa Ivan.
"Kami pergi." ucap Ivan berpamitan."
Nou hanya mengangguk, setelah mobil bergerak ia segera kembali ke dalam menuju ruang perawatan Briana.
Hatinya seperti diremas ketika melihat tubuh gadis itu sudah ditutupi kain berwarna putih. Perawat Nola yang mengikuti Nou saat melihat Dokter itu tiba, hanya diam membiarkan Nou mendekati brankar Briana dan membuka kain penutup gadis kecil itu.
"Maafkan aku Bri." lirih Nou sambil memandang wajah Briana yang pucat. "Maaf." akhirnya air mata Nou menglir deras, ia sampai membekap mulutnya sendiri. Melihat itu, Perawat Nola segera keluar dan menutup pintu. Ia bahkan menghentikan beberapa perawat yang akan mengurus jenazah Briana.
"Berikan waktu untuk Dokter Noushafarin." ucap Nola lirih dengan mata berkaca-kaca. Petugas-petugas tadi patuh dan hanya mengangguk.
__ADS_1
...****************...