Noushafarin

Noushafarin
Bab 11


__ADS_3

Farena memainkan cangkir kopinya, wajahnya terlihat murung. Bahkan beberapa kali terdengar helaan napas dari bibir istri pemilik Mitra Hospital Grup itu.


"Tante, maaf aku terlambat." seorang gadis menghampiri dan menarik kursi dihadapan Farena.


"Tak apa-apa sayang, Tante mengerti pekerjaanmu sangat padat." Farena tersenyum lembut pada gadis yang ditunggunya. "Pesanlah sesuatu." imbuhnya sambil memanggil pelayan yang kebetulan melintas.


Setelah menyebutkan pesanannya, gadis itu menatap Farena dengan perasaan was-was. Ia tahu kemana arah pembicaraan dari pertemuan ini.


"Ehm." ia berdehem menetralkan kegugupannya. "Ada apa Tante tiba-tiba minta bertemu?"


Farena menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Tante tahu, Nou pasti sudah cerita sama kamu kan Mimi."


Gadis itu mengangguk tegas setelah memantapkan hatinya. "Iya Tante, aku tahu."


"Dimana dia sekarang?"


Mimi menghela napas, ia jadi semakin gugup. "Maaf Tante, aku tidak bisa memberi tahu."


"Dia yang menyuruhmu diam?"


Mimi hanya mengangguk sebagai jawabannya. Farena menghela napas, berat sekali rasanya, wanita itu tertunduk lesu.


"Menurutmu, kami sudah keterlaluan ya Mimi."


"Iya."


Farena mendongak, terkejut dengan jawaban cepat dan tegas dari sahabat Noushafarin itu.


"Maaf kalau aku lancang Tante." ucap Miranti menyadari keterkejutan Nyonya Farena. "Tapi bukankah Nou sudah mengikuti semua keinginan Keluarga?"


Farena terhenyak mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir Mimi.


"Aku tahu, dari kecil Nou memang sudah bercita-cita menjadi Dokter Spesialis Anak. Tapi seingatku dia ingin kuliah di UI saja. Pergi ke Jerman dan kuliah di LMU bukanlah keinginannya." gadis itu diam sesaat dan mengamati wajah Farena. Jika wanita itu marah, maka ia akan mengakhiri pembicaraan ini.


Nyatanya Farena hanya diam, dan mendengarkan setiap perkataan Mimi.


"Pertama kali Nou meninggalkanku saat SMP karena lompat kelas, ia langsung bercerita begitu kami masuk setelah libur. Katanya Nenek Faireh sudah mengatur agar ia bisa kuliah di LMU. Mumpung bisa lulus saat usia masih belia, kuliah 12 tahun tak akan jadi masalah." Mimi menerawang, mengingat kembali bagaimana mulai saat itu hari-hari Nou hanya diisi dengan belajar. Bahkan waktu khusus mereka berdua juga ikut tersita.


Farena tetap diam, membuat Mimi menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Tante tahu, Nou menangis sejadi-jadinya saat Nenek menelepon dan meminta ia mempersingkat waktu kuliah menjadi 9 tahun. Ia harus bisa menyerap banyak sekali ilmu dengan waktu yang terbatas."


Farena membeliak, hal ini adalah kenyataan yang baru dia dengar. Sayangnya bukan dari bibir Noushafarin langsung. Melainkan dari Mimi, sahabatnya.


"Nou belajar dan magang seperti mesin. Dia itu manusia Tante, bukan robot. Dan sekarang dengan mudahnya langsung mengatur pernikahan." Mimi tersenyum sinis.


"Tante tidak bisa menolong putri Tante." suara Farena terdengar bergetar. Mimi menyentuh tangan wanita itu dan menggenggamnya penuh kehangatan. Sejatinya ia pun mengerti, kehidupan keluarga Armani masih di bawah kendali Nyonya Besar Faireh Armani.


"Oleh sebab itu, aku tidak akan memberitahu dimana keberadaan Nou." ucap Mimi tegas. "Ini pertama kalinya ia mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, jadi biarkan saja dia menjalaninya. Yang perlu Tante tahu, dia berada di tempat yang aman."


Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya pelayan datang membawakan pesanan.


"Terima kasih." ucap keduanya pada pelayan yang menghidangkan makanan.


"Makanlah Mimi."

__ADS_1


"Iya, Tante juga. Jangan sampai Nou sedih melihat Tante kurus saat dia pulang nanti."


"Dia akan pulang."


"Tentu saja. Tante tidak berpikir dia akan menghilang selamanya, bukan?"


"Tante takut dia pergi dan tak mau kembali."


"Nou akan kembali Tante. Dia akan menyelesaikan pendidikannya."


Farena mengernyit. "Bagaimana ia bisa menyelesaikan pendidikannya jika semua kartu kredit dan debit ditinggalkan di rumah?"


"Entahlah Tante." Mimi mengangkat kedua bahunya. "Nou bilang sudah menyiapkan segalanya. Ia bersiap-siap jika akan dipaksa menikah sebelum selesai kuliah. Karena pasti akan menolak, jadi dia menyiapkan tabungan cadangan."


"Gadis cerdas." lirih Farena dengan tatapan menerawang.


"Mimi, jika kau bisa menghubunginya, tolong katakan kami sudah membatalkan rencana pernikahan itu. Aku melihat sendiri Salton bercumbu dengan gadis lain." Farena sadar, ia tidak bisa memaksa untuk bertemu Noushafarin.


Mimi tersenyum gembira. "Aku harap bisa langsung bertemu dengannya lagi. Pasti akan kusampaikan kabar baik ini."


***


Arin berjalan menuju lapangan basket, namun saat ia melihat Sadewa sedang bermain ia segera berbalik.


"Aduhh." Arin menjangkau punggungnya yang terasa sakit terkena hantaman bola. Tanpa menoleh pun Arin tahu siapa pelakunya.


Sabar Noushafarin, sabar....demi uang tiket.


Gadis itu mengambil bola dan membawanya ke depan Sadewa. Pemuda itu sudah menunggu dengan raut wajah datar, seperti biasanya.


"Bolanya Tuan." ia menyerahkan bola tanpa menatap wajah Sadewa. Pemuda itu tak bergerak sedikit pun, ia menatap Arin dalam-dalam.


Keduanya lantas menoleh ke sumber suara. Terlihat Nakula berjalan mendekat sambil merangkul pundak istrinya. Tanpa sadar Arin menarik napas lega, membuat Sadewa kembali memperhatikannya.


"Kau lega dengan kehadiran orang lain? Pikirmu mereka bisa menyelamatkanmu dariku?" dengan kasar Sadewa menangkup pipi Arin dan menarik wajah gadis itu agar menatap padanya. "Tatap aku saat aku sedang berbicara padamu Arin!"


"Dewa, hentikan!" Nakula melihat Arin meringis karena perlakuan kasar Sadewa.


Tangan Sadewa beralih pada kedua pundak Arin, ia mencengkram tubuh mungil itu agar pemiliknya memberi perhatian pada dirinya.


"Kau sedang bermain game cuek ya. Semakin kau cuek padaku aku akan semakin penasaran padamu. Benar kan?" pemuda itu tersenyum sinis.


"Tidak sama sekali, Tuan."


"Penipu, perempuan itu sama saja. Lain di mulut, lain di hati." sambil berkata begitu, Sadewa melepaskan cengkramannya.


"Kamu sedang melampiaskan sakit hatimu pada Arin?" Anjani terlihat kesal. "Yang selingkuh Della, mengapa Arin yang kamu aniaya?"


Anjani melepaskan tangan suaminya lalu bergerak menghampiri Arin. Diraihnya tangan gadis itu dan mengajaknya pergi dari lapangan basket.


"Sebenarnya kamu juga sudah berselingkuh."


Ucapan Nakula membuat Sadewa menatapnya tajam. "Aku tak pernah mengkhianati Della."


Nakula tersenyum tipis. "Hari dimana kamu terpukau saat menatap Arin, disitulah hatimu mengkhianati Della." Sadewa terkesiap.

__ADS_1


"Kamu iseng pada gadis itu agar ia memperhatikanmu dan menunjukkan beragam reaksi dihadapanmu. Lalu kamu mulai kesal karena kenyataannya ia tak tertarik padamu walau hanya sedikit. Kemudian kamu mengetahui fakta Della selingkuh. Kamu jadi semakin kesal dan melampiaskan semuanya pada Arin."


Melihat Sadewa diam saja, senyum Nakula semakin lebar.


"Tak ada bantahan, berarti aku benar."


"Aku diam karena aku pikir kamu baru selesai menonton film apa hingga khayalanmu pergi melanglang buana." Sadewa mencebik.


"Itu bukan khayalanku, KENYATAAN!" Nakula menekan kata terakhirnya. "Lagipula awal hubunganmu dengan Della hanya karena kau kasihan padanya kan. Ia dengan gigih mengejar cintamu sejak kalian kuliah. Akhirnya, ia juga yang merusak hubungan kalian karena ia mendapati pemuda yang membuatnya begitu terobsesi tak sesuai dengan harapannya."


"Tak sesuai harapan?"


"Hmm, dia kan mengharapkan kekasih yang bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk bersamanya. Bukan hanya bisa memberikan tas branded."


"Aku tak punya waktu untuk itu."


"Tapi kamu punya waktu mengerjai Arin."


Sadewa terdiam, kalimat Nakula bagai menghujam jantungnya. Ia kalah telak dalam perdebatan ini.


"Kamu juga aneh, sudah jelas di hatimu tak ada Della. Tapi kamu memaksa kami semua menerimanya." Nakula geleng-geleng kepala mengingat bagaimana usaha Sadewa memberi pengertian padanya dan orang tua mereka.


"Siapa bilang dihatiku tak ada Della?! Buktinya aku marah dia berselingkuh."


"Marah bukan berarti kau sakit hati. Kau marah karena gengsi, egomu terluka karena dikhianati. Tapi kau tidak merasa kehilangan."


"Bagaimana kau tahu aku tidak kehilangan? Kan aku yang rasa."


"Buktinya, sepuluh tahun lalu saat kucing kesayanganmu mati. Kau duduk melamun memandangi fotonya, kamu bahkan menangis." Nakula tiba-tiba tersenyum geli mengingat itu. "Pemuda 18 tahun menangisi seekor kucing." gumamnya.


"Jadi, kamu lebih sayang kucing dibanding Della."


"Kamu membandingkan Della dengan Simba,kucingku? Bagaimana bisa setara? Simba sudah kurawat sejak kecil, tentu aku sangat menyayanginya."


"Jika kau bisa sangat menyayangi kucing, mengapa tidak dengan Della?"


"Jelas tidak bisa, aku sudah menyukai Simba sejak pertama melihatnya di toko hewan. Sedangkan...."


Nakula mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum. Sadewa mengacak rambutnya dengan kasar.


"Astaga Naku! Berhenti membandingkan manusia dengan hewan!" Sadewa frustasi.


"Della juga menemanimu selama bertahun-tahun, ia lebih dekat padamu dibanding dengan gadis lain. Sampai akhirnya kalian berpacaran kemudian bertunangan. Tapi nyatanya ia tak bisa seperti Simba, tinggal di hatimu. Dan juga kamu tak bisa memberinya waktu luang."


Sadewa melirik Nakula dengan kesal.


"Bukan tidak bisa, tapi tidak mau." Nakula kembali menyerang Sadewa. "Kamu tidak mau memberinya waktumu. Sedangkan beberapa hari yang lalu kau memberi waktumu untuk mengerjai Arin, hingga ia terpaksa naik turun ke lantai dua mengantar teh."


"Hentikan!!!"


"Kenapa harus marah kalau yang aku ucapkan salah?!" Nakula tertawa sambil berlari pergi dari lapangan. Ia tahu kekesalan Sadewa sudah sampai ubun-ubun.


"NAKULAAAA!!! BERHENTI!!!"


***

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen ya.


❤❤❤❤❤


__ADS_2