
"Jadi, kalian berdua bertemu dimana?" Mama Bianca meletakkan cangkir tehnya dan menatap Nakula dengan antusias.
"Saya dan Tatiana adalah teman SMA, Tante."
"Benarkah?" Mama mengangkat alis dan tersenyum penuh arti menatap Tatiana. "Siapa nama lengkapmu?"
"Nakula Wasesa, Tante."
"Wasesa? Sepertinya pernah dengar. Dimana ya?" Kakak perempuan Bardia Armani ini mengetuk-ngetuk cangkir yang dipegangnya.
Selagi Mama Bianca berpikir, Nakula terang-terangan menatap Tatiana. Namun yang ditatap hanya acuh, sibuk mengunyah sepotong kue red velvet di hadapannya.
"Oh iya. Sama dengan nama belakang kekasih Noushafarin. Yah, walaupun Tante belum pernah ketemu secara langsung sih."
Nakula tersenyum. "Saya saudara kembar Sadewa, Tante."
"Apa? Jadi Sadewa kembar?" Mama Bianca antusias. "Noushafarin bisa bedakan kalian berdua?"
"Bisa Tante." jawab Nakula dengan tersenyum menahan geli melihat ekspresi Nyonya Bianca Armani.
Untuk sesaat Mama ber-oh ria sebelum menyadari sebuah keanehan. "Tatiana, kok dari tadi diam saja?" tanya Mama setelah menyadari putrinya tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Tatiana tidak suka saya ada disini Tante." celetuk Nakula. Membuat Tatiana membulatkan mata dan menatap penuh kekesalan padanya. Sedangkan Nakula dengan santainya dan tanpa rasa bersalah asyik menyeruput kopi yang dihidangkan khusus untuknya.
"Benar begitu, Nana?" Mama menatap serius pada Tatiana, sedangkan Nakula, ia terkejut dengan panggilan yang disematkan Mama Bianca pada putrinya ini.
Nana, manis sekali, batinnya.
"Buk-bukan begitu Ma...."
"Saya mantan kekasih Tatiana, Tante. Wajar kalau Tatiana tidak suka dengan kehadiran saya." Nakula melancarkan aksinya, ia sudah siap bila terkena amukan dua perempuan sekaligus.
"Hentikan Naku!" Tatiana meradang.
"Tante." Nakula menatap Mama Bianca dengan berani, wajahnya pun sedikit tegang. "Saya ingin berbicara berdua dengan Tatiana. Saya ingin minta maaf padanya."
"Memangnya kalian belum pernah bicara berdua?" Mama Bianca mengernyit.
"Yang saya lakukan terlalu menyakiti Nana, Tante. Jadi dia belum memberikan saya kesempatan. Dan mungkin tidak akan pernah memberikan saya kesempatan untuk minta maaf."
Mata Mama Bianca memicing mendengar pengakuan Nakula, sedangkan Tatiana terbelalak mendengar Sadewa ikut memanggilnya Nana. Panggilan yang hanya digunakan oleh kedua orang tuanya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan pada Nana kami?"
Nakula menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Kedua tangannya bertumpu di lutut dan terlihat mengepal.
"Saya dan teman-teman bertaruh, Tante. setelah berhasil membuat Tatiana benar-benar menyukai saya, saya akan meninggalkannya. Tapi sebelum tiba waktunya saya mengakhiri hubungan kami, Tatiana mendengar percakapan kami."
"Saat Tatiana pergi barulah saya menyadari kalau saya tidak sekedar bermain, tapi saya juga terbawa perasaan dan benar-benar menyukainya." rahang Nakula mengeras saat mengingat kejadian yang sudah lampau. "Saya menyesal Tante, sangat menyesal."
Semua terdiam, tak ada yang berbicara sedikit pun. Nakula juga sepertinya sudah siap jika akan ada benda dapur terbang dan mendarat di tubuhnya.
Hhhhhhh
__ADS_1
Terdengar helaan napas yang berat dari Nyonya Bianca Armani.
"Dari banyak teman perempuan di sekolah kalian, mengapa harus Tatiana yang kalian jadikan target?" Mama menyayangkan kejadian itu.
"Karena Tatiana cantik, namun dingin. Baginya buku adalah segalanya. Dia ramah, tapi hanya pada sesama perempuan. Sedangkan pada kami, dia hanya sekedar menarik sudut bibir, senyum yang dipaksakan." Nakula menatap hangat pada Tatiana.
"Karena kalian adalah kumpulan cowok playboy." Tatiana mendengus kesal.
"Ide mencampakkan bukanlah dariku. Tapi dari seorang teman yang pernah kau tolak tanpa berpikir." Nakula melanjutkan.
Tatiana mengerutkan dahinya. "Siapa?"
"Lexi."
Tatiana terdiam, namun sejurus kemudian ia tersenyum sinis. "Playboy nomor satu sekolah. Untuk apa dipikir dulu. Bukankah aku menolaknya dengan sopan? Salahnya dimana?" Tatiana melontarkan pertanyaan dengan sengit.
"Sopan atau tidak, namanya ditolak pasti sakit dan memalukan." sahut Nakula.
"Salah sendiri melakukannya di depan kelas." Tatiana menipiskan bibir.
Nyonya Bianca menatap Nakula dalam-dalam dan akhirnya beliau menatap Tatiana yang terlihat sangat marah.
"Bicaralah dengannya Nana." ucap Mama Bianca.
"Mama, kenapa Mama malah memberinya kesempatan?" Tatiana menatap tak percaya pada Sang Mama.
"Mama lihat dia tulus minta maaf. Lagipula itu sudah sangat lama Na." bujuk Mama.
Mama menepuk dahinya. "Itu sih namanya belum memaafkan." dengan gemasnya Mama mencubit pipi Tatiana.
"Nakula, sebenarnya Tante sangat kecewa. Namun mengingat hal itu terjadi di masa-masa yang sudah jauh di belakang, Tante akan memaklumi itu. Lagi pula kamu dengan berani sudah datang mengakui kesalahan kamu pada Tante. Jadi silahkan bicara berdua dengan Tatiana." setelah berkata demikian, Mama Bianca menepuk bahu Tatiana dan meninggalkan keduanya.
Keheningan menyelimuti area dapur, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Hanya terdengar helaan napas yang berat dari keduanya.
"Tatiana, aku mohon, maafkan aku." ucap Nakula bersungguh-sungguh. "Setelah hari itu aku sadar, kalau aku sudah masuk dalam kebohonganku sendiri. Aku benar-benar jatuh cinta padamu hingga tidak bisa melihat gadis lain."
Gadis itu tidak langsung menjawab, ia hanya menunduk sambil memikirkan sesuatu.
"Berapa hargaku?"
Nakula terhenyak. "20 juta, tapi aku tak menyetujuinya."
Tatiana tertawa sumbang, terdengar menyakitkan. "Jadi aku tak memiliki harga? Ya ampun, mirisnya."
"Tatiana ma...."
"Mengapa kau menerima tawaran itu?" potong Tatiana dengan cepat.
Nakula terdiam beberapa saat. "Sebenarnya, aku sudah tertarik padamu. Acuhmu membuatku semakin penasaran. Tapi aku tak mengatakannya kepada siapapun. Oleh sebab itu aku menerima tawaran mereka."
"Begitu ya." Tatiana tersenyum sendu.
"Tatiana, yang kau dengar saat itu hanyalah kalimat palsu. Aku mengatakannya agar Lexi tidak marah dan mempengaruhi adiknya agar memutuskan sepupuku." Nakula terlihat memelas, memohon agar Tatiana bisa menerima alasannya.
__ADS_1
"Kau tahu sendiri bagaimana Kia bucin pada adik kelas kita, si Karin." imbuh Nakula.
Tatiana menatap Nakula, berusaha mencari kebenaran di mata mantan kekasihnya itu.
"Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu ingat bagaimana rasa sakitnya." ucap Tatiana pada akhirnya. "Yang ada sekarang hanya marah."
Nakula tiba-tiba berdiri dan mendekati Tatiana, membuat gadis itu terkejut dan ikut berdiri.
"Pukul aku sepuasmu kalau itu bisa menghilangkan kemarahan dalam hatimu Na."
Tatiana tertawa kecil mendengar penawaran dan Nakula.
"Sudahlah Naku, tidak perlu seperti itu. Aku akan belajar menghilangkan perasaan marah itu." Tatiana tersenyum miris. "Kau boleh pergi sekarang. Dan terima kasih sudah menolong mama."
"Kau mengusirku?" Nakula tak percaya.
"Tidak mungkin kau menginap kan."
"Mana tahu Mamamu mengijinkan."
"Kau besar kepala ya setelah Mama memberimu kesempatan untuk menjelaskan."
"Tidak juga." Nakula mengangkat bahu. "Hanya merasa dimengerti. Dan aku yakin, jika aku meminta waktu untuk berbicara lebih lama pas...."
Tatiana mengangkat tangannya untuk menghentikan Nakula. "Tidak ada tambahan waktu."
Nakula mendesah. "Baiklah kalau begitu." ia mengulurkan tangan. "Kita teman?"
"Bukan, hanya sekedar pernah kenal." Tatiana menjabat tangan Nakula.
"Tak bisakah dinaikkan lagi levelnya, Nana?" Nakula memasang wajah memohon sambil mendekap tangan Tatiana.
Tatiana menarik tangannya dengan kasar. "Kau terlalu banyak mau! Dan satu lagi, jangan memanggilku Nana. Itu hanya boleh dikatakan oleh orang tuaku dan..." Tatiana tiba-tiba memalingkan wajahnya.
"Dan apa?" Nakula memiringkan kepala berusaha melihat wajah Tatiana yang tiba-tiba merasa malu.
"Suamiku." cicit Tatiana.
Nakula tersenyum tipis mendengarnya, ia merasa dinding antara dia dan Tatiana perlahan mulai runtuh.
"Kalau begitu, terima kasih juga karena sudah mau mendengar penjelasanku, Tia." Nakula sengaja menekan nada saat mengucapkan nama gadis di hadapannya membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan garang.
"Aku tidak suka, itu membuatku ingat..." seketika Tatiana mendekap mulutnya.
Nakula mengangkat kedua alisnya kemudian tersenyum penuh arti kemudian mencondongkan tubuhnya mendekat pada Tatiana.
"Ingat saat pertama kali aku mencium bibirmu?"
"Lebih baik kau pergi sekarang Tuan Nakula Wasesa!" pekik Tatiana sambil mendorong Nakula.
Bukannya tersinggung, Nakula malah tertawa terkekeh. Ia tahu pasti Tatiana merasa sangat malu saat ini.
......................
__ADS_1