Noushafarin

Noushafarin
Bab 14


__ADS_3

Sadewa tersenyum menatap kepergian Arin, mari kita mulai permainan ini.


"Kau benar-benar akan mengganti metode seranganmu ya." tiba-tiba Nakula sudah duduk di sampingnya.


Sadewa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Nakula.


"Apakah tidak ada hal lain yang bisa kau kerjakan selain mengganggunya?"


"Kurasa tidak." jawab Sadewa tanpa berpikir.


"Sampai segitunya kau ingin dia memperhatikanmu. Ternyata seperti itu ya dirimu kalau sedang jatuh cinta." Nakula tersenyum penuh arti.


"Siapa yang jatuh cinta? Aku tidak jatuh cinta pada Arin." Sadewa sewot.


Nakula mengangkat sebelah alisnya.


"Baiklah, baiklah." Sadewa menyerah.


"Aku mungkin, mungkin ya." Sadewa memberi penekanan. "Mungkin sedikit tertarik padanya."


Kali ini kedua alis Nakula terangkat.


"Bukan berarti aku jatuh cinta." Sadewa memasang muka masam melihat reaksi Nakula.


Nakula mencebik, Sadewa menjadi kesal.


"Terserah kau sajalah! Aku hanya ingin memberinya pelajaran karena sudah meremehkanku."


"Hei bung! Dia hanya tidak tertarik padamu. Bukan meremehkan." Nakula mulai kesal. "Lagipula kau tidak bisa memaksa semua gadis terpesona padamu."


"Aku tidak marah karena dia tidak terpesona padaku." kilah Sadewa.


"Tapi kenyataannya kau kesal, kau tertarik padanya sejak pandangan pertama tapi dia merasa biasa." Nakula sampai mencondongkan tubuhnya ke arah Sadewa. "Sekarang kau kena karma, banyak gadis terpesona padamu tapi kau melirik pun tidak. Maka dari itu, selamat menikmati rasanya bertepuk sebelah tangan."


"Kau ini, mengapa jadi memojokkanku?!"


"Karena aku tak suka kau mempermainkan Arin. Entah kenapa firasatku tidak enak soal kau terus mempermainkan gadis itu. Jadi berhentilah mengganggu dia. Aku tak ingin kau kenapa-kenapa."


Sadewa terkekeh geli mendengar kekhawatiran saudaranya.


"Memangnya apa yang bisa terjadi?"


"Patah hati, rasa bersalah, semuanya itu tidak enak Wa, jangan mengulangi kesalahanku dulu." Nakula menatap Sadewa sendu.


"Maksudmu kejadian waktu kita SMA?"


Nakula mengangguk. "Aku nggak nyangka saat itu akan beneran jatuh hati."


"Aku tidak akan jadi sepertimu." Sadewa terlihat yakin.


"Kau ini bodoh atau tolol sih? Ya ampun!!! Kenapa aku punya kembaran sebego ini." Nakula uring-uringan.


"Kenapa jadi mengata-ngataiku sih?!" Sadewa mendengkus sebal.


"Apa kau lupa? Aku juga sepertimu waktu pertama bertemu gadis itu, dan dia juga menganggapku biasa." Nakula berpindah posisi duduk di samping Sadewa. "Kejadian ini sama persis Wa."


Sadewa terdiam, beberapa saat ia tampak berpikir keras. Kemudian ia tersenyum seolah mendapat ide cemerlang.


"Aku yakin, aku tidak akan pernah jatuh hati padanya. Seperti kau dulu jatuh hati pada gadis kutu buku itu."


"Kan sudah pernah aku ingatkan juga sebelumnya, jangan pernah berkata tidak akan pernah." setelah berkata demikian Nakula beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Sadewa begitu saja.


Sadewa menghela napas kasar, jauh di dalam relung hatinya ada suara yang menyarankan agar ia mengikuti saran Nakula. Namun otaknya seakan mengabaikan sinyal tanda bahaya itu.


Pemuda itu memilih untuk menghentikan pekerjaannya. Karena percuma juga dilanjutkan, otaknya sudah buntu.


Di kamarnya, Noushafarin terlihat sangat gelisah. Ia berkali-kali mengganti posisi tidur. Ada sesuatu yang membuat dirinya merasa tak nyaman.


Akhirnya ia memilih untuk duduk di tepi tempat tidurnya. Matanya terpejam, wajah ayu Bunda menghiasi pelupuk mata, seolah-olah Bunda ada dihadapannya. Bunda, Nou rindu.


Dulu tidak bisa bertemu karena beda negara, saat ini tidak bisa bertemu karena beda pendapat.


Hhhhhhh...apa salahnya dengan menunda pernikahan satu atau dua tahun lagi? Apa aku sudah setua itu sampai nenek takut aku akan jadi perawan tua? Ini kan zaman modern.


Arin menarik napas dalam-dalam, seolah-olah dia sudah kehabisan napas. Rasanya berat sekali, tapi selangkah lagi ia akan jadi dokter seperti yang ia cita-citakan.


Apa salah kalau dia mengejar mimpinya dulu? Dia sudah mengorbankan masa remajanya demi meraih cita-cita ini. Apa dia egois kalau tidak menuruti keinginan keluarganya?


Aku bukan menolak menikah, aku hanya minta untuk menundanya. Apa aku sudah durhaka pada orang tuaku? Pada nenek?


Tanpa sadar air matanya tumpah, ia lantas membekap mulut dengan kedua tangan. Tak ingin isak tangisnya mengganggu tidur nyenyak Mbok Yem dan Mbak Inah.


***


Keesokan harinya, Arin sedang menjemur peralatan bersih-bersih yang biasa ia gunakan saat Mbak Inah datang menghampiri.


"Rin, penyalur kamu datang tuh."


"Penyalur?"


"Itu lho, yang ngasih kamu kerjaan di rumah ini."


Miranti.

__ADS_1


"O iya mbak, sedikit lagi saya kesana."


"Cepetan ya, orangnya lagi di dekat kolam renang. Ngobrol sama nyonya Kandi."


"Iya Mbak, terima kasih ya mbak."


Arin menyelesaikan pekerjaannya, membersihkan diri dan menuju taman dekat kolam renang.


"Nah, itu orangnya datang." Nyonya Kandi tersenyum melihat kedatangan Arin.


"Selamat siang Nyonya, selamat siang nona."


Miranti membelalakkan matanya, ia menunduk menahan tawa.


"Siang, Arin ini Miranti mau tahu kondisi kamu. Jadi kamu duduk disini dan jawab semua pertanyaannya. Saya mau ke dalam."


"Iya Nyonya."


"Miranti, Tante masuk dulu ya."


"Tante nggak mau disini aja?" Miranti sedikit menahan Kandi.


"Tidak perlu, ini kan urusan pekerjaan kamu. Walaupun Arin pekerja rumah ini, tapi dia kan tetap punya privasi."


"Terima kasih ya Tante."


"Iya, jangan lupa ikut makan siang."


"Iya Tante." Miranti tersenyum lebar sambil menatap kepergian Nyonya Kandi.


Arin menunduk saat Nyonya Kandi berjalan melewatinya.


"Hmpp pffttt!" Miranti tak dapat menahan diri lagi. Arin tak bereaksi, gadis itu duduk di sebelah Miranti.


"Ya ampun, Nou. Kau begitu mendalami peranmu." Miranti terkekeh geli. "Seorang Nona Besar Armani menunduk padaku dan memanggil Nona, ben..."


"Benar-benar kesempatan langka, jadi pergunakan baik-baik." Noushafarin hanya menggelengkan kepala melihat senyuman Miranti yang semakin lebar. "Tutup mulutmu sebelum rahangmu sakit."


"Hhmmmm." Miranti tertawa sambil menutup mulutnya.


"Kamu datang hanya untuk menertawakanku?" lama-lama Nou kesal juga melihat Miranti terus tertawa.


"Maaf deh maaf." ucap Miranti sambil menguasai diri.


"Katakan, ada apa? Bukankah waktu itu kau akan menemuiku saat menjemputku? Waktuku masih 37 hari lagi kan."


"Aku bertemu Bunda beberapa waktu yang lalu."


"Bun-da." wajah gadis itu berubah, tatapannya menjadi sendu. "Aku rindu Bunda, Mi."


"Bagaimana kabar Bunda?"


"Beliau baik." Miranti membenarkan posisi duduknya. "Nou, pulang ya." bujuknya.


"Trus merusak kontrakmu dengan Nyonya Kandi." Nou menatap tajam.


"Aku akan membayar penaltinya. Kalau kau merasa tak enak padaku, kau bisa mengganti uangku." Miranti meringis.


Perusahaan penyalur ART milik Miranti menerapkan sistem kontrak dengan majikan. Jadi gaji yang diterima ART akan dibayar oleh perusahaan mereka setelah majikan mentransfer seluruh dana yang tertera di dalam kontrak.


Ini dilakukan untuk melindungi para ART dari majikan nakal yang lalai membayar gaji dengan berbagai alasan menjijikkan. Juga melindungi para majikan dari ART yang tidak becus bekerja bahkan berpotensi melakukan tindakan kriminal. Sebab kontrak mereka mengatur penjaminan asal usul ART secara rinci.


Artinya, jika ada ART yang berhenti bekerja sebelum masa kontrak selesai, perusahaan akan membayar denda dua kali lipat. Atau jika ART yang disewa terbukti tidak bagus pekerjaannya, maka perusahaan juga yang akan menanggung resikonya.


Nou tersenyum menggelengkan kepala. "Bukan masalah uangnya Mimi."


"Lalu?"


"Profesionalitas!"


"Udah deh Nou, kamu kan pembantu gadungan. Nggak usah bawa-bawa profesionalitas segala." Miranti sewot.


"Lahh kok aku?" Nou menunjuk dirinya sendiri. "Maksudku itu profesionalitas perusahaan kamu Mi."


"Apa hubungannya?"


"Sekalipun kamu membayar penalti, tapi menghentikan kontrak ditengah jalan akan memberi penilaian buruk pada citra usahamu. Apapun alasannya, orang akan berpendapat seharusnya kamu berpikir matang-matang sebelum menandatangani kontrak itu."


"Tapi Nou, pernikahan kamu sama Kak Salton sudah dibatalkan."


Mata Nou membulat sempurna. "Serius?"


Miranti mengangguk sekuat tenaga. "Bunda lihat dia mesra-mesraan sama cewek."


"Nenek?"


"Nenek yang batalin. Karena Bunda menunjukkan foto dan video mesra-mesraan itu ke Nenek."


Nou terdiam, namun wajahnya tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Jadiiii....pulang yuk Nou." rayu Miranti sekali lagi disertai wajah memelas.


"Aku senang pernikahan ini dibatalkan, tapi aku nggak bisa pulang." Nou tetap berpegang teguh pada pendiriannya. "Aku nggak mau merusak citra usaha kamu, Mimi."

__ADS_1


"Santai aja kali Nou, kamu kan sahabatku."


"Justru karena aku sahabatmu. Aku harus menjadi pendukung nomor satu usaha milikmu. Sahabat ya sahabat, bisnis tetap bisnis." Nou menatap Mimi dengan tegas, sedikit pun tak ada keraguan dalam sorot matanya yang tajam namun teduh.


"Saat ini aku adalah pekerja di bawah perusahaan kamu, sudah tugasku untuk menjaga nama baik kamu. Bukan berarti aku sahabatmu jadi aku bisa suka-suka keluar dan membatalkan kontrak. Kalau nanti ART lain tahu trus ikut-ikutan gimana?"


"Aku rugi dong!" seru Mimi mulai sadar.


"Pinterrrr!" tandas Nou sambil mengacungkan jempol.


"Kalau gitu aku akan ngasih kamu bonus deh."


"Nggak, bayar aja sesuai kontrak." Nou menolak.


"Tapi kamu kan sahabat aku."


"Jadi karena sahabat aku bisa dapat bonus seenak jidatku gitu?" Nou mendelik kesal. "Kan tadi aku sudah bilang, sahabat ya sahabat, bis.."


"Bisnis tetap bisnis." Mimi memotong ucapan Nou, membuat gadis itu tersenyum senang.


"Tapi aku takut, nanti Nenek sama Bunda marah ke aku karena sudah buat kamu jadi pembantu." Mimi khawatir.


"Kan aku yang minta ke kamu, bukan kamu yang minta ke aku." jawab Noushafarin santai. "Lagian kerjaan halal, ngapain malu. Pelakor yang morotin duit korbannya aja bisa bangga kok. Padahal itu kelakuan nggak baik. Masa kerjaan bener kayak gini malah diomelin."


"Ya tapi kan kamu Nona Besar."


"Emang Nona Besar nggak boleh kerja? Tetangga apartemenku di Jerman itu anaknya Menteri negara ini lho, tapi dia mau aja tuh kerja part time jadi pelayan di kafe."


"Duuuhhhh....iya iya iya. Terserah kamu aja deh." Miranti akhirnya mengalah. "Susah ngomong sama kamu, kalau udah niat biar hujan badai juga tetap aja diterjang."


Noushafarin terkekeh geli melihat Miranti yang sudah memajukan bibirnya.


"Tapi apa kamu nggak kangen Bunda?"


"Ya kangenlah. Udah satu kota, satu negara tapi nggak bisa ketemu, nggak bisa telepon." wajah Nou berubah sedih. "Tapi aku lega, setidaknya setelah kontrakku selesai aku bisa pulang ke rumah dulu sebelum balik." pembatalan pernikahan benar-benar meringankan beban hati Noushafarin.


"Makasih udah datang bawa berita bahagia ini." imbuhnya sambil tersenyum menatap Miranti. "Aku akan selesaikan tanggung jawab aku ke kamu, baru aku pulang."


Miranti berkaca-kaca menatap Noushafarin. "Duh, jadi makin sayang deh sama sahabat aku yang satu ini. Sini peluk." ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ogah!"


"Ayo dong Nou."


"Enggak mau Mimiiii."


"Isshhh kamu ini, aku kan lagi terharu sama ucapan kamu."


"Pokoknya enggak! Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Mereka bisa curiga soal identitasku."


Miranti kembali merengut. "Kamu tuh...."


"Miranti, gimana? Sudah selesai urusannya?" tiba-tiba Nyonya Kandi muncul menghampiri mereka.


"Eh, Tante."


Noushafarin segera berdiri di samping Miranti.


"Duduk aja Rin, nggak apa-apa kok." Nyonya Kandi tersenyum hangat pada gadis itu.


"Tidak Nyonya, lagi pula urusan saya dengan Nona Miranti sudah selesai." jawab Noushafarin sambil tetap menunduk. "Saya permisi Nyonya, Nona."


"Iya Rin." sahut Nyonya Kandi.


"Makasih untuk waktunya ya Arin." ucap Miranti dengan nada suara yang dibuat senormal mungkin. Pasalnya gadis itu kembali menahan tawa setelah melihat tingkah Noushafarin yang tampak sangat menjiwai perannya sebagai pembantu.


Noushafarin hanya tersenyum kecil kemudian pergi dari tempat itu.


Nyonya Kandi mengangguk-anggukkan kepalanya memandang kepergian Arin, kemudian beralih menatap Miranti. "Kamu kenal Arin dimana? Kerjanya bagus lho, Tante sama Om puas banget. Kalau bersihin ruangan itu beneran sampai kinclong." puji Nyonya Kandi.


"Eh it-itu..."


"Tante mau deh perpanjang kontraknya dia. Bisa kan?" Nyonya Kandi memotong ucapan gadis di hadapannya dan menatap Miranti penuh harap.


Gadis itu terkejut. "Hmm, bagaimana ya?" ia tersenyum kikuk. "Masalahnya Arin sudah ditunggu, dia...."


"Mau dinikahkan ya." sekali lagi Nyonya Kandi memotong ucapan Miranti.


"Bu-bukan itu. Maksud...." Miranti menggoyang sepuluh jarinya di depan dada.


"Yahhhhh, sayang sekali. Padahal Tante suka sama dia. Cantik, sopan, pekerja keras." tatapan mata Nyonya Kandi menerawang. Sedangkan Miranti memukul dahinya pelan dan menunduk.


Gimana nggak salah paham, belum selesai ngomong udah dipotong terus. Gumamnya sambil tersenyum geli.


"Eh, kita makan siang yuk. Tante sendiri lho yang masak."


"I-iya Tante." Miranti beranjak dari duduknya mengikuti langkah Nyonya Kandi.


Saat masuk ke dalam ia tanpa sengaja melihat Sadewa. Miranti lantas mengikuti arah tatapan pemuda itu. Ternyata ia sedang fokus menatap Noushafarin yang tengah sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.


Wah wah, Nou sudah punya pengagum nih kayaknya. Gumam Miranti sambil meneruskan langkahnya.


***

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan favoritnya


❤❤❤❤❤


__ADS_2