Noushafarin

Noushafarin
Extra Part. 1


__ADS_3

Tatiana tersenyum sambil sesekali menyesap wine yang ada di tangannya. Ia melihat kedua sepupunya asyik berdansa dengan pasangan masing-masing.


"Hhhhhhhh, kalau begini kan bagus. Jadinya aku tak akan dipaksa cepat menikah." Tatiana menghembuskan napas penuh kelegaan.


Tak dapat dipungkiri, kadang ada rasa iri yang muncul di hati Tatiana. Ia juga ingin memiliki pasangan yang memperlakukannya dengan sangat baik. Namun apalah daya, mungkin ia belum menemukan jodohnya.


Tatiana mendesah pelan, terlalu lama melihat Darian dan Noushafarin beserta pasangan mereka, bisa menimbulkan penyakit hati. Ia memutuskan untuk mencari tempat duduk yang agak jauh dari tengah pesta.


Tatiana tak langsung membalikkan tubuh, ia terlebih dulu melangkah mundur.


"Aduhh!!!" suara kesakitan dan merasa menginjak sesuatu membuat Tatiana refleks berbalik.


"Maa...af." Tatiana terkejut melihat Nakula berdiri di belakangnya sambil meringis. Ia kemudian memindahkan kaki kirinya dari atas sepatu Nakula.


"Heel sepatumu terbuat dari apa? Sampai rasa sakitnya bisa terasa di kakiku." gerutu Nakula.


Tatiana yang mendengarnya hanya bisa menatap Nakula dengan perasaan bersalah. Ia menatap ujung sepatu Nakula yang berbekas akibat pijakannya.


"Maaf Naku, aku... Aku tak sengaja."


Nakula melirik Tatiana, gadis itu masih fokus memandangi kakinya.


"Minta maaflah dengan benar." ucap Nakula kemudian.


"Apa?" Tatiana mengernyit. "Maaf, tapi aku tak paham."


Nakula segera mengambil gelas wine dari tangan Tatiana dan meletakkannya pada baki pelayan yang sedang melintas.


"Aku akan memaafkanmu jika kau bersedia berdansa denganku."


"Ap-apa?"


"Keberatan? Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaafkanmu, dan akan mengatakan kepada Tan.."


"Baiklah." potong Tatiana, ia tak ingin Mamanya bicara dengan Nakula. Tatiana takut kalau Mama semakin dekat dengan pria itu.


Nakula tersenyum, membuat Tatiana termangu untuk sesaat. Senyum manis yang dulu sangat ia sukai.


"Tia." panggilan Nakula menarik pikiran Tatiana kembali ke dunia nyata.


"Eh? I-iya." Tatiana terkejut, terlebih lagi Nakula memberi kode lewat matanya. Ia mengikuti arah pandang Nakula dan melihat tangan pria itu sedang terulur meminta.


Tatiana sedikit ragu, namun akhirnya ia menerima. Tatiana mengulurkan tangan menyambut tangan Nakula. Keduanya lantas menuju area dansa dengan bergandengan tangan.


Wajah Tatiana merona, terlebih lagi saat Nakula menuntun tangan kirinya agar bertengger di pundaknya. Dan tangan kanan Nakula memeluk pinggang Tatiana yang ramping. Sementara tangan mereka yang lain masih saling menggenggam.


Keduanya mulai bergerak mengikuti irama musik yang lembut. Tak lupa senyuman penuh arti dari kedua belah keluarga saat melihat Nakula dan Tatiana berdansa. Bahkan Nyonya Kandi dan Mama Bianca sudah saling menatap dan berbicara lewat isyarat mata.


Nakula menatap Tatiana dalam-dalam. Membuat jantung gadis itu kembali berdesir. Aliran hangat menyeruak dari dada mengalir ke seluruh tubuhnya. Wajahnya semakin memerah menahan malu.


Tatiana menggigit bibir bawahnya kemudian memalingkan wajah. Namun sesekali ia melirik Nakula yang ternyata masih betah berlama-lama menatapnya. Setiap ekspresi Tatiana tak luput dari pengamatan Nakula.


Ia menyadari gadis dihadapannya salah tingkah dan gelisah. Namun Nakula tak berniat memalingkan wajah atau setidaknya menatap ke arah lain. Di matanya, ekspresi Tatiana terlihat sangat menggemaskan.


"Na-Naku." cicit Tatiana sambil sesekali melirik Nakula.


"Hmmm?"

__ADS_1


"To-tolong berhenti menatapku seperti itu." pinta Tatiana.


Hhhhhh


Nakula mendesah pelan. "Maaf Tia, seandainya saja aku bisa."


"Mem-memangnya, ke-kenapa tidak bisa?"


"Entahlah Tia, sepertinya aku kembali tersihir olehmu." jawab Nakula dengan jujur.


"Na-Naku." Tatiana menatap mata Nakula, berharap menemukan canda atau kebohongan yang tesirat disana. Namun nihil, kejujuran Nakula sangat terlihat dari sorot matanya.


"Tia, aku...."


Ucapan Nakula terhenti karena tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang menandakan lagu telah berakhir. Keduanya tersadar dan melepaskan pelukan.


Sadewa tertawa dan menghampiri Nakula kemudian merangkulnya. Sedangkan Tatiana terlihat salah tingkah ketika Noushafarin dan Miranti tersenyum menggoda.


Tak jauh dari area dansa, Mama Bianca segera menghampiri Tora yang kebetulan berdiri tak jauh darinya.


"Tora, sepertinya sejak kejadian di swalayan, Tatiana jadi jinak sama Nakula."


"Iya Tante, sepertinya begitu." Tora tersenyum melihat interaksi keduanya. Bahkan saat meninggalkan tempat dansa, Nakula terus mengikuti Tatiana.


"Eh! Jinak??" Tora menatap Mama Bianca dengan heran. "Apa Tatiana sangat buas? Setahuku dia sangat baik."


"Iya, Tatiana buas pada orang yang pernah menyakitinya. Roarrr." Mama Bianca menggeram membuat Tora memundurkan wajah karena terkejut. Keduanya lantas tertawa kecil.


Sementara itu, Tatiana memutuskan masuk ke dalam rumah. Ia ingin menenangkan diri di dalam kamarnya.


"Na-naku!!" seru gadis itu terkejut dan memegangi dadanya. "Kamu mengagetkanku."


Nakula sedikit terengah, ia tampak menarik napas sejenak. Kemudian secara tiba-tiba, Nakula menarik tangan gadis itu menyeberangi ruang tengah menuju taman di sisi lain rumah yang dipenuhi bonsai kesayangan Nenek Faireh.


"Apa-apaan ini Naku?" Tatiana berusaha melepaskan tangan Nakula dari pergelangan tangannya. "Nakula lepaskan aku!"


Setibanya di taman, Nakula mendudukkan Tatiana di bangku taman yang berada di antara bonsai. Nakula mengambil tempat tepat di samping gadis itu. Dengan tangan yang masih terus memegangi Tatiana, ia menatap gadis cantik itu.


"Tia, aku mohon padamu. Akhiri hubunganmu dengan Dokter Haikal." tatapan Nakula tampak sendu. "Tolong jangan lanjutkan hubungan kalian berdua."


"Apa?" Tatiana menautkan kedua alisnya. "Mengakhiri? Melanjutkan? Hubungan apa maksudmu?"


"Hubungan asmaramu dengan Dokter Haikal." jawab Nakula tegas.


"Ha? Apa?!" mata Tatiana membulat, gadis itu terperangah. Namun sedetik kemudian ia tertawa terpingkal-pingkal. Nakula menatap Tatiana dengan masam.


"Ya ampun Naku." tawa Tatiana mereda. "Memangnya sejak kapan aku menjalin asmara dengannya?"


"Tapi tadi kata Nou..."


"Nou?" Tatiana memotong ucapan Nakula, ia pun teringat ucapan Noushafarin. Tatiana menutup mulutnya sebentar kemudian tertawa kecil.


"Antara aku dan Dokter Haikal, tidak ada hubungan apa-apa." Tatiana menatap Nakula sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. Ia kembali berdebar ditatap seperti itu oleh Nakula.


"Sudah lama aku menolaknya." imbuhnya. "Lagipula, walau pun aku sudah memaafkanmu, atas dasar apa kau meminta hal seperti itu?" sorot mata Tatiana menunjukkan ia tak menyukai kalimat Nakula.


"Atas dasar rasa cintaku kepadamu." jawab Nakula dengan tegas.

__ADS_1


Tatiana tercekat, ia mengerjapkan matanya berkali-kali dan menelan salivanya dengan susah payah.


"Tatiana Young, aku rasa aku jatuh cinta lagi kepadamu. Aku ingin kembali menjalin hubungan asmara denganmu."


Tatiana berdiri, dadanya terasa sesak. Ungkapan perasaan Nakula dan setiap ucapannya yang bertubi-tubi membuatnya sangat terkejut.


"Tu-tunggu Naku." Tatiana mengangkat satu tangannya yang bebas. Dan Nakula pun ikut berdiri, keduanya kini saling berhadapan.


"Ini begitu mengejutkan." Tatiana menunduk. "Dan tolong, lepaskan tanganku." pintanya kemudian.


Nakula tak membantah, ia mengikuti keinginan Tatiana.


"Berikan aku kesempatan, untuk kedua kalinya Tia." tangan Naku terulur dan membelai pipi Tatiana, ia melangkah hingga keduanya saling menempel seperti saat berdansa tadi.


"Aku juga tahu, jauh di lubuk hatimu, masih ada cinta yang kamu simpan untukku." imbuh Naku dengan telunjuk yang masih membelai pipi Tatiana. Pandangan keduanya saling mengunci.


"Naku.." lirih Tatiana. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya berdetak sangat cepat, ia merasa sedikit gemetar.


"Rasa ini menyiksaku Tia." Nakula mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya pada kening Tatiana. Napas dari keduanya bahkan terasa hangat menerpa wajah masing-masing.


"Awalnya aku memang hanya ingin meminta maaf. Namun hatiku berkhianat, aku menginginkan lebih. Aku ingin memilikimu." Nakula terdengar seperti orang yang sedang depresi.


Pria itu menjauhkan wajahnya, meraih kedua tangan gadis itu dan membawanya ke dada serta menatap Tatiana lekat-lekat.


"Aku mencintaimu, Tatiana." ungkapnya lagi. Kemudian ia menunduk untuk mencium tangan Tatiana yang berada di dadanya. Sedikit lebih lama dan penuh perasaan.


Darah Tatiana berdesir saat merasakan kecupan hangat pada tangannya, ia merona. "Nakula."


Nakula menghentikan aksinya dan kembali menatap Tatiana. "Jangan tolak aku Tia, aku bisa gila."


Tatiana tersenyum penuh arti. "Memangnya aku bilang apa?"


Nakula mengangkat salah satu alisnya. "Kamu tidak menolakku?"


Tatiana hanya tersenyum, dan bagi Nakula itu artinya ya. Sama seperti saat mereka SMA, karena malu, Tatiana hanya tersenyum dan Nakula yang kembali memastikan.


"Kali ini aku ingin dengar jawaban, Tia. Bukan hanya senyuman seperti dulu."


Rona merah menjalar di pipi hingga telinga Tatiana. Gadis itu menarik napas sejenak. "Iya, aku bersedia kembali menja...."


Tatiana tak dapat melanjutkan ucapannya. Bibirnya telah dikuasi oleh Nakula. Pria itu bahkan mengarahkan tangan Tatiana agar memegangi pundaknya.


Keduanya menumpahkan segenap perasaan dan kerinduan lewat setiap kecupan dan ******* pada bibir pasangannya. Nakula menekan tengkuk Tatiana agar memperdalam ciuman mereka. Bahkan tangan kirinya ikut merangkul tubuh Tatiana agar semakin menempel padanya.


Keduanya melepas tautan bibir mereka dengan napas yang terengah-engah. Tatiana tersenyum namun tak berani membalas tatapan Nakula.


Pria itu kembali mengecup bibir Tatiana. Namun lama kelamaan kecupan itu menjadi intens dan semakin dalam.


"Aku mencintaimu Tia." ucap Nakula setelah mengakhiri ciuman mereka dan memeluk Tatiana dengan erat.


"Aku pun sama Naku, aku mencintaimu."


Tatiana tersenyum dalam pelukan kekasihnya.


Kekasih? Sekarang aku sudah punya kekasih! pekik Tatiana dalam hatinya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2