Noushafarin

Noushafarin
Bab 63


__ADS_3

Noushafarin bergegas menyusul Darian yang sudah menunggunya di mobil. Hari ini adalah hari pertamanya melakukan adaptasi di salah satu rumah sakit milik pemerintah. Sebenarnya ada beberapa rekan Sang Ayah yang memberi penawaran jalan pintas. Namun Noushafarin menolaknya dengan alasan tak ingin merasa was-was saat menangani pasien.


"Aku tak yakin dengan alasan saat kau menolak tawaran jalan pintas." ujar Darian saat mereka sudah meninggalkan rumah.


"Apa maksud Kakak? Aku tak ingin tersandung hukum hanya karena selembar kertas." Noushafarin memandang Darian dengan kesal.


"Alasanmu memang masuk akal. Tapi pasti ada sesuatu yang lain ikut mempengaruhi keputusanmu." jawab Darian dengan mata yang fokus melihat ke jalan raya mereka lalui.


Noushafarin terdiam, dalam hatinya dia mengakui kebenaran ucapan Kakaknya.


"Sepertinya fokusku mulai berubah." sahutnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Kakaknya.


Darian tersenyum tipis. "Kita bisa langsung pergi ke kantor kalau kau mau. Dan batalkan proses adaptasi ini."


"Entahlah Kak, aku bingung." Nou memijat pelipisnya.


"Apa fokusmu sekarang?"


"Aku ingin mulai mengejar kebahagiaanku, tapi aku juga mencintai apa yang sudah kupelajari."


"Kan bisa tetap bekerja setelah menikah, seharusnya kau tak perlu bingung."


"Aku tahu, tapi Kakak juga kan tahu bagaimana diriku jika sudah bekerja. Aku bisa saja mengabaikan keluargaku. Dan bukankah klinik yang menjadi hadiah ulang tahunku sudah selesai dibangun?"


Darian mengangguk. "Sudah, tapi jika kau tidak menggunakannya juga tak masalah. Kita bisa mencari dokter lain untuk praktek disana."


Noushafarin menarik napas. "Aku harus bagaimana Kak?"


"Bicarakan dengan Sadewa." usul Darian.


"Tidak bisa Kak."


"Kenapa tidak?" kening Darian mengernyit.


"Aku takut dia akan mengira aku ingin cepat dilamar." Nou menunduk malu.


"Haha, astaga Nou. Pikiranmu jauh sekali."


"Terserah Kakak mau bilang apa." cibir gadis itu.


Darian terdiam beberapa saat, Noushafarin pun hanyut dalam pikirannya sendiri.


"Kalau begitu berkonsultasilah dengan Ayah Bunda, mereka pasti akan memberi solusi terbaik untuk masalah ini." ujar Darian kemudian.


"Ya, aku pikir juga begitu."


"Jadi, mau kemana hari ini?"


"Lanjutkan saja dulu proses adaptasi."


"Baiklah kalau begitu."


Ponsel Darian berdering, ia menekan tombol di headset yang terpasang di telinganya.


"Halo."


"....."


"Ada apa sayang?"


"....."


"Aku dalam perjalanan mengantar sahabatmu ke RSU."


"....."


"Ya, dia sudah mulai mengikuti proses adaptasi."

__ADS_1


"....."


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti. I love you."


Noushafarin menganga tak percaya melihat interaksi Kakaknya dengan Miranti.


"Tak perlu memasang wajah seperti itu." ujar Darian setelah melirik sekilas pada Noushafarin.


"Bujang lapuk bisa romantis juga?" goda Nou.


"Aku bukan bujang lapuk."


"Baiklah, mantan bujang lapuk."


"Terserah, yang jelas kamu dan Sadewa tidak boleh menikah sebelum aku dan Miranti menikah. Kalau perlu sampai Tatiana menikah juga. Setelah itu baru kalian berdua."


"Eh?!!! Nggak bisa gitu dong Kak." sahut Noushafarin dengan sengit.


"Bisa saja, kenapa tidak bisa?" Darian tidak mau kalah.


"Aku dan Mas Sadewa kan lebih dulu pacaran."


"Tapi aku kan Kakakmu, dan sekarang sudah punya calon istri. Jadi kalian harus menunggu giliran."


"Isshhhh!!! Baiklah, baiklah." Noushafarin kesal. "Tidak apa-apa jika harus menunggu Kakak dan Mimi. Tapi jangan ditambah Kak Tatiana. Dia kan belum punya kekasih."


"Kalau begitu bantu dia menemukan pasangan."


"Caranya?"


"Pikir saja sendiri. Kalau tidak mampu berpikir sendiri, ajak Sadewa juga untuk memikirkan caranya."


"Ya ampun Kak." Noushafarin menepuk dahinya.


"Terimalah nasibmu sebagai anak bungsu." Darian terkekeh.


......................


Tok...Tok...Tok...


"Masuk!!" serunya tanpa menoleh.


"Melihat apa?" tanya Sadewa membuat Nakula menoleh.


"Oh kamu, aku kira siapa." jawabnya sambil kembali melihat keluar. "Tidak ada, hanya pemandangan seperti biasa."


"Sepertinya pertanyaan dariku salah. Memikirkan siapa?" Sadewa berdiri di samping saudara kembarnya.


"Memikirkan diriku sendiri." Nakula tersenyum tipis. "Kau jauh berubah setelah Noushafarin menerimamu kembali." imbuh Nakula setelah memperhatikan Sadewa selama beberapa detik.


"Benarkah? Apa yang berubah?" Sadewa memperhatikan penampilannya.


"Kau terlihat berseri-seri." jawab Nakula.


"Mungkin karena terlalu bahagia. Apakah tingkahku berlebihan?"


"Menurutku tidak, masih wajar."


"Maaf, tidak bermaksud membuatmu iri."


"Aku tidak iri." sahut Nakula cepat.


"Benarkah?"


"Ya, hanya jadi ingin cepat-cepat punya kekasih." jawabnya sambil terkekeh.


"Itu sama saja namanya, iri." sahut Sadewa ketus. "Kalau begitu segeralah cari pengganti Anjani." usulnya kemudian.

__ADS_1


Nakula mendesah pelan. "Sepertinya aku belum bisa melakukannya. Aku takut salah orang lagi hingga membuat keluarga kita berada dalam bahaya."


"Jika seperti ini terus, kapan menikahnya?"


"Aku pun tidak tahu." Nakula mengangkat kedua tangannya.


"Mulai saja dulu dengan pikiran yang positif." kata Sadewa lagi.


"Aku sudah sering mencobanya." Nakula membela diri.


"Atau kau bisa memulai dengan gadis yang jelas latar belakang keluarganya."


"Sepertinya berat." tatapan Nakula menerawang.


"Ya, benar. Namun, seberat-beratnya tugas adalah yang tidak dikerjakan sama sekali."


Nakula menoleh menatap Sadewa, setelah beberapa detik saling pandang, keduanya lantas tertawa.


"Jadi, bagaimana dengan Noushafarin?"


"Hari ini dia akan mulai menjalani proses adaptasi."


"Berapa lama?"


"Maksimal dua tahun."


Nakula mengangkat kedua alisnya. "Apa kau bisa menunggu selama itu?"


"Sepertinya tidak, dan Noushafarin juga tidak pernah meminta aku menunggunya menyelesaikan adaptasi ini. Artinya kita bisa menikah kapan pun saat sudah siap."


"Lulusan Dokter dari Luar Negeri lumayan panjang prosesnya untuk bisa bekerja disini."


"Begitulah." Sadewa tersenyum kecut.


"Kenapa tidak melalui jalan pintas saja, bukankah banyak yang mengenal orang tuanya."


"Aku sudah pernah mengatakannya."


"Bagaimana menurut Nou?"


Sadewa menggeleng pelan. "Dia tidak mau terganjal kasus hukum hanya karena selembar sertifikat yang tidak ia miliki."


"Pemikiran yang bagus." puji Nakula. "Kalau begitu kalian berdua menikah saja, bukankah tidak jadi masalah bagi Nou?"


"Menurutmu begitu?"


"Ya, sepertinya lebih bagus seperti itu." Nakula melangkah ke tengah ruangan untuk duduk disana.


Sadewa mengikuti langkah Nakula dan duduk bersandar di sofa seperti yang dilakukan saudara kembarnya tersebut.


"Lalu, hal apa yang membuatmu risau?" tanya Sadewa.


Nakula diam, kadang dia lupa bahwa Sadewa bisa tahu apa yang dia rasakan.


"Aku ingin bertemu Tatiana, aku ingin menyelesaikan masalah di masa lalu."


"Untuk apa? Sepertinya dia sangat membencimu."


"Aku ingin berdamai dengannya."


"Berdamai atau kembali bersama?" Sadewa memperbaiki posisinya. Ia mencondongkan tubuh ke arah depan sambil kedua lengan sampai pangkal siku disandarkan pada kedua lututnya.


Nakula terkekeh pelan. "Aku tak mengerti, kurasa kamu salah makan saat sarapan pagi tadi."


"Jangan berbohong."


"Aku bahkan belum bisa mendapatkan maaf dari Tatiana. Apalagi mendapatkan hatinya. Tidak mungkin." Nakula menyugar rambutnya dengan jari-jarinya. "Jadi jangan pernah ada pikiran yang aneh-aneh." imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu perjuangkan keduanya. Kata maaf dan juga hatinya."


......................


__ADS_2