Noushafarin

Noushafarin
Bab 20


__ADS_3

Tidak disangka, Nyonya Kandi ternyata betah berlama-lama di lokasi pembangunan. Hal ini membuat Noushafarin menjadi sangat gelisah.


"Mas, Nyonya masih lama ya." akhirnya ia memilih bertanya pada Jono yang duduk bersamanya di depan ruko.


"Sepertinya begitu. Kenapa?" Jono melihat kegelisahan di wajah Nou.


"Itu Mas, masih banyak kerjaan di rumah." kilah gadis itu. "Gimana nih Mas?"


"Ya gimana Rin, Nyonya aja masih di dalam lokasi gitu. Emang kamu nggak tahu ya?"


"Tahu apa Mas?"


"Nyonya itu senang mengawasi pekerjaan sampai detail-detailnya. Seharian di lokasi pun Nyonya kuat."


"Kok bisa?"


"Nyonya kan kuliahnya Teknik Sipil, jadi mengerti kerjaan begini. Beliau itu bisa lebih lama di lokasi konstruksi ketimbang mall."


"Oo gitu, aku baru tahu." Nou mengangguk-angguk. "Tapi kerjaan di rumah gimana nih Mas?"


"Yang lain pasti ngerti kok, apalagi kan ada Nyonya Anjani."


Noushafarin tidak menyahut lagi, ia terdiam kemudian meletakkan dahinya di atas kedua lututnya yang ditekuk berhimpitan.


"Rin." terdengar Jono memanggil setelah terdiam beberapa menit.


"Hmmm."


"Kamu beneran udah punya pacar?"


Noushafarin bingung, gimana ya jawabnya?


"Eh, ituu..."


"Jadi Mas beneran nggak punya kesempatan ya Rin." nada sendu dari pertanyaan Jono membuat gadis itu sontak mengangkat wajahnya dan menatap Sopir di sebelahnya. Nou terdiam melihat keseriusan di wajah Jono.


"Kok nggak dijawab Rin?"


"Bingung gimana jawabnya Mas." Nou tersenyum kikuk.


"Yahh, belum perang udah kalah." desis Jono kecewa.


Noushafarin tidak menanggapi, ia memilih kembali meletakkan dahinya di atas lutut. Selain karena posisi itu nyaman, ia juga jadi bisa menyembunyikan mukanya. Sekedar berjaga-jaga, jangan sampai ada yang mengenalinya.


Suasana hening di depan ruko itu, tak ada lagi percakapan diantara ART dan Sopir keluarga Wasesa. Yang terdengar bisingnya suara dari lokasi pembangunan di seberang jalan dan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Nou tak menyadari kalau Jono sudah pergi dari tempatnya duduk.


"Arin."


"Iya Mas." jawabnya sambil mengangkat kepala. Betapa terkejutnya ia saat menyadari bukan Jono yang sedang memanggil. Entah apa yang sedang dilamunkannya hingga tak bisa membedakan suara.


"Ma-maaf Tuan." pekiknya sambil berdiri, Sadewa tengah menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Panggil aku sekali lagi."


Nou mengernyit, namun ia menuruti saja. "Tuan."


"Bukan, bukan panggilan itu." Sadewa menggeleng. "Yang sebelumnya."


"Tu-tuan, maaf. Saya kira, Tuan adalah Mas Jono." Noushafarin menyadari kesalahannya, ia menjadi gugup.


"Aku tak peduli." Sadewa memaksa. "Arin."


"Iya Tuan."

__ADS_1


"Hhhhh!!!" Sadewa menghela napas dengan kasar. "Arin!" nada bicaranya mulai meninggi.


"I-iya Ma-mas." lirih Arin. Oh Tuhan, bagaimana kalau Nyonya Kandi mendengar ini, aku tak ingin dipecat.


"Aku tidak dengar." Sadewa melangkah mendekati gadis itu.


"Arin."


Kalau tidak dituruti kucing garong ini akan mengamuk. Gadis itu menguatkan hati dan memberanikan diri menatap Sadewa. "Iya Mas."


Namun ia kembali menunduk, tatapan mata Sadewa membuat dadanya bergemuruh. Ia berulang kali menelan salivanya, entah kenapa tenggorokannya terasa sangat kering.


"Ayo pulang."


"Eh?"


"Ada berkas yang harus aku ambil di rumah, jadi sekalian Mama memintaku untuk mengajakmu pulang."


"Ta-tapi, Tuan...."


"Kenapa kelihatannya kau sangat senang membantahku?!"


"Bu-bukan...saya ambil wadah makanan dulu, Tuan."


"Hmmm."


Walau sebenarnya Noushafarin sangat tidak nyaman akan pulang hanya berdua dengan Sadewa, namun demi menghindari kemungkinan terburuk, ia memilih ikut.


"Aku bukan sopirmu, jadi duduklah di depan." ucap Sadewa setelah melihat Nou selesai mengatur wadah-wadah makanan di bagasi.


Dengan berat hati gadis itu melangkah menuju pintu samping kemudi, ia membungkuk terlebih dahulu sebelum duduk.


Sadewa segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tak lama berselang sebuah mobil memasuk halaman ruko, seorang pemuda tampan mengenakan kemeja navy lengan pendek segera turun dan berjalan menuju lokasi pembangunan.


"Ooh, selamat siang Tuan Muda Armani." Pandu menjabat pemuda itu dengan hangat.


"Darian saja, Tuan." ucap pemuda itu sambil tersenyum.


"Ma, kenalkan ini anak Tuan Bardia Armani, Darian."


"Selamat siang, Nyonya. Saya Darian."


"Srikandi." ujar Nyonya Kandi sambil menyambut jabat tangan Darian. "Panggil Tante saja, lagipula aku dan mamamu kan teman."


Darian tersenyum dan mengangguk, membuat Kandi langsung berpikir. Senyumnya mirip senyum seseorang, tapi siapa ya?


"O iya, anakku Sadewa baru saja pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal. Jika tidak Om akan memperkenalkan kalian berdua."


"Lain waktu pasti bisa bertemu."


"Ya kau benar, jadi hari ini aku akan mengenalkanmu pada Nakula lebih dulu. Dia kembarannya Sadewa."


Mendengar penuturan Pandu, Darian mengangkat kedua alisnya dan tersenyum. Keluarga wayang.


Tak lama kemudian Nakula datang bersama Jono.


"Nakula, kenalkan ini Darian. Putra Tuan Bardia Armani, pemilik gedung ini."


Darian tersenyum menatap Nakula dan mengulurkan tangannya.


"Nakula Wasesa." Senyumnya mirip seseorang, pernah lihat dimana ya?


"Darian Armani."

__ADS_1


"Sudah lama?"


"Aku baru sampai."


Nakula mengangguk. "Boleh bertanya sesuatu?"


"Silahkan."


Papa Pandu dan Mama Kandi mengernyit, namun mereka tak menghentikan putranya untuk bertanya. Apalagi Darian terlihat ramah saat mempersilahkan.


"Dilihat dari maket, tempat ini lebih cocok dijadikan tempat bermain ketimbang klinik untuk anak. Mengapa begitu?"


Darian tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Sesuai permintaan pemiliknya."


"Oh tentu, keluarga kalian.."


"Bukan." Darian memotong ucapan Nakula.


"Maaf??" Nakula tak mengerti.


"Tujuan klinik ini dibuat adalah sebagai hadiah kelulusan adik perempuanku 3 tahun yang lalu. Karena dia masih melanjutkan pendidikan spesialis anak, jadi pembangunannya baru sekarang dilaksanakan. Dan untuk desainnya, dia dan temannya di Jerman yang membuat. Itu sebabnya aku menjawab, sesuai permintaan pemiliknya."


"Papa tidak pernah cerita Tuan Armani punya seorang putri." Mama Kandi berbisik pada suaminya.


"Bukankah dari dulu kita tidak pernah membahas tentang keluarga klien?" Papa Pandu menjawab dengan berbisik pula.


"Papa Mama kenapa bisik-bisik?"


Pandu dan Srikandi terkejut karena ternyata Nakula dan Darian sedang memandangi mereka.


"Aa, tidak ada apa-apa." Mama Kandi tersenyum lembut pada Nakula. "Ayo kita ke ruko."


Keempat orang tadi lantas meninggalkan lokasi, diikuti Jono dari belakang.


"Kamu sudah siapkan yang saya perintahkan kan Jon." Nyonya Kandi tiba-tiba berjalan mendekati Jono dan membiarkan suami serta anaknya mengantar Darian terlebih dulu.


"Sudah Nyonya, saya sudah beli kue."


"Terus kamu kenapa kayak orang bingung begitu?"


"Itu Nyonya, Arin hilang."


"Hilang?"


"Iya, waktu saya kembali dia sudah tidak ada di depan ruko."


"Oh, dia sudah pulang sama Sadewa."


Jono menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Kamu beneran naksir Arin ya Jon."


"Eh, itu.." Jono menggaruk kepalanya.


"Dia memang cantik sih, saya saja mau ngambil dia jadi mantu kalau Sadewa naksir dia."


"Se-serius Nya?" Jono melongo tak percaya. "Tapi dia kan bukan anak..."


"Jonnnn."


"Eh, maaf Nyonya." Jono lantas membungkam mulutnya dan tetap berjalan mengimbangi langkah Nyonya Kandi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2