
Sadewa kembali ke ruangan Noushafarin setelah mengantar Mama Kandi kembali ke ruang perawatannya. Wanita itu sudah lebih baik karena hanya mengalami syok. Ia memaksa Papa Pandu dan Sadewa untuk mengantarkannya melihat keadaan Noushafarin.
Hanya sebentar ia berada di sana karena gadis itu masih terlelap. Sepertinya efek obat yang diberikan membuat Noushafarin tidur dengan lelap.
Sadewa menatap gadis itu lekat-lekat, ia tak pernah bosan melakukan itu. Hingga akhirnya suara ketukan membuatnya terpaksa berdiri dan membukakan pintu.
"Darimana kamu tahu aku disini?"
"Setidaknya biarkan aku ucapkan salam terlebih dahulu. Selamat siang."
"Selamat siang." Sadewa mendengkus. "Masuklah."
Dokter Tora menatap Nou yang sedang terlelap dan tersenyum.
"Ia sangat mrnggemaskan saat tidur, seperti bayi." ucapnya sambil mendekati brankar.
"Hentikan." Sadewa memegang tangan Tora yang hendak terulur memegang rambut Nou.
"Kasar sekali."
"Tentu saja, aku tak ingin kekasihku disentuh olehmu."
Kedua alis Tora terangkat, sejurus kemudian ia tertawa dengan membungkam mulut menggunakan tangannya sendiri.
"Aktingmu sangat bagus, bahkan saat Arin tengah tidur. Berhentilah berlakon seperti ini."
"Apa maksudmu?" Sadewa mengernyit.
"Bukannya dirimu hanya berpura-pura menyukainya? Setelah ia jatuh cinta kau akan meninggalkannya. Bukankah itu maksudmu saat berkata akan memberinya pelajaran karena sudah mengabaikanmu dan tak tertarik padamu?"
"Bicaramu asal."
"Hei, ada Nakula yang jadi saksi!"
"Ya! Itu du....."
Sadewa mengehentikan ucapannya saat ponsel miliknya berdering. Ia melihat siapa yang menelepon dan kemudian membuat gerakan tangan agar Tora mengikutinya keluar ruangan.
Begitu pintu ditutup, Noushafarin mengerjap. Buliran bening mengalir dari mata indahnya. Saat ini hatinya terasa nyeri, seperti diiris-iris sembilu. Baru saja mengecap indahnya mencintai dan dicintai, namun harus berakhir karena fakta yang ia dengar.
Ya, Noushafarin sudah bangun saat mendengar ketukan di pintu. Namun ia memilih memejamkan mata karena masih terasa berat untuk membuka mata.
Ia menutup mulutnya sekuat tenaga dan menangis sejadi-jadinya. Kemudian ia berdiri dari brankarnya dan mengangkat gagang telepon yang terhubung dengan customer service rumah sakit. Setelah mendengar suara CS, ia meminta dihubungkan ke nomor ponsel seseorang.
"Ini aku." ucapnya setelah panggilan itu diangkat. "Jemput aku sekarang juga."
"....."
"Tak perlu pura-pura, kakak tahu darimana telepon ini berasal kan."
__ADS_1
"....."
Nou meletakkan gagang telepon kemudian duduk di tepi brankar. Berulang kali ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Namun ternyata usahanya sia-sia. Air matanya luruh, bahkan Nou memukul-mukul dadanya karena terlampau sesak di dalam sana.
"Aku kira kamu serius Mas. Aku kira kamu tulus." lirih Nou diantara isak tangisnya.
Ia hancur, hatinya terasa remuk tak bersisa. Pemuda yang ia cintai ternyata hanya ingin memuaskan keinginannya untuk dipuja.
Padahal Nou telah berencana memperkenalkan Sadewa kepada keluarganya. Ia bahkan rela menunda atau bahkan tidak kembali ke Jerman sama sekali, jika Nenek meminta mereka segera menikah.
Noushafarin telah berpikir matang-matang, ia bisa mengesampingkan cita-citanya demi kebahagiaan Nenek dan keluarganya. Apalagi ia sudah menemukan pemuda yang berhasil menguasai hatinya.
Sementara itu, Papa Pandu, Nakula, Sadewa dan juga Tora telah tiba di mapolres setelah mendapat telepon dari kolega Papa Pandu. Mereka menuju ruang tahanan Anjani dan menahan napas ketika melihat pemandangan mengerikan disana.
Tubuh Anjani berbaring layaknya seperti orang tidur, namun darah sudah menggenangi lantai di bawah. Belum ada yang mendekat karena bagian koroner masih menangani berada di sebuah tkp pembunuhan satu keluarga.
Sel Anjani yang berada di sudut membuatnya jarang dipantau kecuali saat diberi makan. Dan menurut petugas jaga, wanita itu baik-baik saja saat diberi makan.
Tak kuat melihat genangan darah dan jasad Anjani, Nakula segera pergi dari sana dengan air mata yang sudah mengalir. Papa Pandu dan yang lainnya segera mengikuti langkah Nakula.
Anjani memilih mengakhiri hidupnya dari pada meminta maaf dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Nakula terpukul, walau ia marah dan kecewa, namun tetap saja kepergian Anjani dengan jalan bunuh diri seakan menambah luka baru di hatinya.
Ia berharap Anjani meminta maaf pada Mama, ia berharap Anjani meminta maaf pada mereka semua. Ia berharap bisa memperbaiki hubungan mereka, karena Mama tak sampai meninggal dan juga perusahaan tak merugi apapun.
Nakula berpikir setelah penjelasan Papa, pikiran Anjani terbuka. Dan pernikahan mereka masih bisa diselamatkan. Namun ternyata Anjani tak pernah berpikir akan berdamai dengan keluarga Wasesa. Ia memilih mati dari pada mengaku salah dan meminta maaf.
Papa Pandu memeluk Nakula sekuat tenaga, sedang Sadewa dan Tora berkaca-kaca sambil saling merangkul. Pemandangan siang ini bukanlah sesuatu yang mereka inginkan. Bahkan setelah meluapkan semua kekesalan pada Anjani, Papa Pandu berharap masih bisa merubah keadaan.
Ia sadar, perbuatan Anjani dipicu oleh doktrin sesat yang ditanamkan Mufasa padanya. Harta dan kekuasaan membuat Mufasa buta dan menghalalkan berbagai cara untuk menguasai semuanya. Kini harta jugalah yang membuat Mufasa serta Anjani kehilangan nyawa.
Tak lama kemudian tim koroner datang dan mulai melakukan pemeriksaan. Sampai akhirnya mereka membawa jenazah Anjani ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan visum.
Papa Pandu, Nakula, Sadewa dan Tora sudah sepakat untuk tidak memberitahukan kejadian ini kepada Mama Kandi dan kedua ART mereka yang masih dirawat.
Selama visum berlangsung, Sadewa dan Tora setia menemani Nakula. Sedangkan Papa Pandu menemani Mama Kandi di ruangannya. Apalagi istrinya itu telah diijinkan untuk kembali ke rumah. Selama di ruangan, Pandu memutar otak, mencari cara untuk menceritakan semuanya tanpa membuat istrinya kembali terguncang.
"Pa, bagaimana Anjani? Papa sudah tahu apa motifnya?" tiba-tiba Sriandi bertanya, dalam hatinya Pandu merasa lega karena tak perlu memutar otak untuk mulai bercerita.
Pandu meraih kedua tangan istrinya dan menatap wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Berjanjilah, kamu akan kuat setelah mendengar ini semua."
Srikandi mengangguk, sejak memutuskan bertanya, ia sudah bertekad akan menerima semua alasan yang membuat Anjani bertindak seperti itu.
"Anjani," Pandu menghirup napas dalam-dalam, "Adalah putri dari Mufasa."
Terdengar jelas suara napas yang tertahan keluar dari Srikandi. Netranya membulat sempurna, wajahnya memerah, wanita itu begitu marah mendengar nama Mufasa disebut.
"Lalu." suara Srikandi terdengar bergetar.
__ADS_1
"Ia didoktrin dengan cerita yang salah oleh Mufasa. Setelah kematian Mufasa, Anjani bertekad membalas dendam. Bahkan rencana menikah dengan Nakula sudah ia susun sejak lama. Kemudian ia merekrut Siska untuk membantu."
"Tapi seingatku, Siska tak seperti orang yang sudah mengenal Anjani saat baru datang ke rumah."
"Karena Siska memang tak mengenal Anjani. Gadis itu tak pernah tahu siapa orang yang menyuruhnya sebagai balas budi karena sudah menolong mendiang Mamanya."
"Maksud Papa, Anjani menolong Mama Siska secara diam-diam?"
"Iya Ma."
Srikandi tercenung. "Gadis muda itu menyusun rencana dengan rapi."
"Ya, namun ia lupa atau bahkan tak mengenal kekuatan lawannya."
"Nakula, putraku. Bagaimana kondisinya saat mengetahui cerita ini?"
"Ia terpukul, namun masih bisa mengatasinya."
"Nakula tak menunjukkan kesedihan dan kekecewaan dihadapanku. Ia memendam semuanya seorang diri." Srikandi mulai menangis. "Malangnya putraku."
Pandu membawa istirnya ke dalam pelukan. Ia membiarkan Srikandi menangis tanpa melanjutkan cerita tentang Anjani. Karena ia yakin, setelah tangisnya mereda, Kandi akan lanjut bertanya.
Benar saja, perlahan-lahan isak tangis Srikandi mereda. Ia mendorong dada Pandu dengan pelan kemudian menyeka air matanya menggunakan tisu yang disodorkan suaminya.
"Jadi, bagaimana kelanjutan proses hukum Anjani?" Srikandi mengusap sisa-sisa air matanya dan memandangi Pandu dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
"Tadi siang, Anjani ditemukan sudah tak bernyawa di dalam selnya dengan luka sayatan di pergelangan tangan."
Srikandi menutup mulut dengan kedua tangan, napasnya tercekat, netranya membeliak.
"Tidak!! Tidak mungkin!!" kenyataan Anjani mengakhiri hidup seperti itu terasa lebih menyakitkan bagi Srikandi. Karena itu artinya Nakula putranya semakin terpuruk.
"Nakula! Nakula putraku, antarkan aku kepadanya. Aku harus menemaninya." Srikandi mengguncang-guncang kedua lengan Pandu.
"Baik, baik." Pandu kembali memeluk istrinya. "Asalkan kamu berjanji akan menenangkan diri dan tidak histeris di depan Nakula. Kuatkan dirimu jika ingin menguatkan orang lain."
Nasehat Pandu membuat Srikandi kembali mengontrol diri. Ia mengangguk dakam pelukan Pandu.
Setelah melihat istrinya tenang, Pandu membawa Srikandi menuju ruang autopsi. Di depan pintu nampak Nakula duduk di tengah dan Sadewa serta Tora di samping kiri serta kanannya.
"Nakula." sapa Srikandi dengan penuh kelembutan.
"Mama." Nakula tersentak menatap kedatangan Mamanya, kemudian mendekati wanita yang sedang merentangkan kedua tangannya itu.
Nakula kembali menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Mama Kandi. Sedangkan Mama Kandi menangis tanpa bersuara, karena ia takut Nakula semakin terpuruk melihat kesedihannya. Ia sudah berjanji pada Pandu untuk tetap kuat jika ingin menghibur Nakula.
...****************...
Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤
__ADS_1