Noushafarin

Noushafarin
Bab 31


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya?"


"Ini racun arsenik Wa. Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Dari seseorang yang sedang menggunakan orang lain untuk bermain dengan nyawa Mama."


Pemuda di hadapan Sadewa merobek secarik kertas dari buku kecilnya dan menyodorkannya.


"Tulis nama, aku akan mengusut pembeliannya. Agar kamu tidak perlu repot meminta alamat pengirim pada ART yang menerima."


Sadewa mengambil kertas tersebut dan menyodorkannya kembali. "Terima kasih banyak."


"Kamu membantuku lebih dari ini, jadi tak perlu sungkan." pemuda tersebut berdiri kemudian meninggalkan Sadewa seorang diri di Restoran Jepang itu.


Tak lama setelah kepergian pemuda tadi, Nakula muncul dengan wajah yang lesu.


"Ada apa?"


Nakula tak menjawab pertanyaan Sadewa, ia memberikan sebuah map berisi penyelidikan latar belakang orang di rumah.


"Siska, latar belakangnya bersih. Namun sebelum bekerja di rumah, ada seseorang yang membiayai pengobatan ibunya yang sedang sakit. Takdir berkata lain, ibunya meninggal dan sebulan kemudian Siska bekerja di rumah kita."


"Jalan buntu?"


"Ya, sejak Anjani mengatakan mendapat benda itu dari Siska, sumber dayaku seluruhnya dipusatkan pada perempuan itu. Namun tetap tak bisa menemukan kejanggalan yang membuatnya memiliki motif untuk membunuh Mama dan menghancurkan usaha kita."


Nakula menarik rambutnya dengan kasar, ia terlihat frustasi. Kemudian Sadewa mengeluarkan hasil penyelidikan rekannya.


"Bubuk putih yang dikirim ke rumah atas nama Inah. Itu adalah Arsenik. Dan menurut Inah, itu milik Siska. Perempuan itu malu jika orang mengetahui ia memakai bubuk pemutih, jadi ia menggunakan Inah."


"Begitu alasannya?"


"Ya."


"Inah percaya begitu saja?"


"Dia sudah bekerja pada kita sejak masih muda, kamu tahu sendiri bagaimana lugunya dia. Mana mungkin dia berpikir itu adalah racun."


"Sebenarnya siapa Siska?" lirih Nakula. Pertanyaan yang ia tujukan pada diri sendiri, sebab saat mengucapkan itu mata Nakula menatap kosong ke arah meja.


"Kau tak mengatakan apapun pada Anjani, bukan?"


Nakuka menggeleng pelan. "Entah kenapa aku merasa tak nyaman membahas ini padanya."


"Buku yang dia simpan di dalam ruang kerja adalah buku tentang kehamilan dan parenting. Setelah beberapa kali mengamati rekaman CCTV, aku jadi hapal tempatnya menyimpan buku itu."


"Jika hanya buku biasa, mengapa harus disembunyikan di ruang kerja?" Nakula mengernyit, tak mengerti jalan pikiran Anjani.


"Mana aku tahu." jawab Sadewa sambil mengangkat kedua bahunya.


"Jam berapa dia akan masuk ruang kerja dan mengambil buku itu?"


"Biasanya sekitar pukul 13.30."

__ADS_1


Nakula mengangguk-angguk. "Baiklah, aku akan berpura-pura memergokinya."


"Lalu bagaimana dengan Siska?"


"Laporkan dia ke polisi."


"Itu akan menimbulkan keributan di rumah."


"Kalau begitu kita akan menangkapnya malam-malam dan minta pada polisi untuk tidak membuat kegaduhan."


"Baiklah, kita bisa menghubungi teman Papa itu kan."


"Ya, tentu saja." Nakula memejamkan mata dan memijat pelipisnya. "Perasaanku sangat tidak enak."


"Aku pun sama."


Selama beberapa menit kedua saudara itu terdiam, merenungi jalan pikiran masing-masing.


"Aku baru ingat." Nakula kembali duduk dengan tegap. "Berhenti mengerjai Arin."


"Apa maksudmu? Kapan aku mengerjainya?"


"Tadi siang di kantor. Kamu terlambat datang karena menjahilinya lagi kan."


"Untuk apa aku menjahili kekasihku sendiri."


"Kekasihmu? Sejak kapan ia menjadi kekasihmu?"


"Sejak semalam."


"Aku benar-benar mencintainya, Naku. Jangan berprasangka buruk."


"Semudah itu melupakan Della."


"Entahlah, perasaan ini sangat berbeda. Tak sama saat seperti bersama Della. Arin membuatku menjadi gila."


"Yahh, apa pun pilihanmu, aku akan mendukung." Nakula tersenyum. "Kapan memberitahu Papa dan Mama?"


"Begitu kita mengungkap Siska dan masalah benar-benar selesai. Aku tak ingin melibatkan Arin dalam pusaran yang berbahaya."


"Aku mengerti."


......................


Keesokan harinya, Nakula diam-diam pulang ke rumah untuk pura-pura memergoki Anjani. Mengandalkan CCTV yang sudah dipasang Sadewa, Nakula bisa mengetahui dimana keberadaan Anjani di dalam rumah. Kecuali jika istrinya iyu berada di dalam kamar mereka.


Ia dengan santainya melangkah, kemudian mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Saat ini Anjani sedang berada di dalam ruang kerja.


Tak lama kemudian Anjani keluar, Nakula bergegas menghampiri.


"Anjani, buku apa itu?"


"Naku!" Anjani menjengit sambil berbalik, wajahnya pias. "Ka-kamu sudah pulang?"

__ADS_1


Nakula tak menjawab, ia segera mengambil buku dari tangan istrinya serta membacanya sepintas.


"Kamu baca buku ini?"


"I-iya." Anjani menunduk, tak berani menatap suaminya.


"Kenapa tidak pernah bercerita?"


"Ak-aku ta-takut kamu tersinggung."


Nakula menarik Anjani ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Sang Istri hingga perempuan itu merasa lebih tenang.


"Jangan simpan bebanmu sendirian, kamu tahu kan aku mencintaimu."


"Aku tahu." lirih Anjani. "Maafkan aku, Naku."


Nakula mengecup kepala Anjani berkali-kali. "Maaf jika mengagetkanmu."


"Tumben pulang." Anjani menjauhkan wajahnya dari dada Nakula.


"Ada yang ketinggalan." kilah Nakula sambil mengusap kepala istrinya.


"Ingin makan atau minum sesuatu? Biar aku ambilkan."


"Tidak perlu, aku hanya sebentar." tatapan mata Nakula yang teduh membuat Anjani merasa sangat disayangi.


"Mau aku temani di dalam?"


"Tidak perlu sayang, buatlah dirimu senyaman mungkin saat membaca." sekali lagi ia mengecup kepala Anjani.


Anjani hanya tersenyum kemudian pergi menuju kamar mereka di lantai dua. Sedangkan Nakula masuk ke dalam ruang kerja.


......................


Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, beberapa anggota kepolisian berseragam lengkap dengan senjata dan beberapa berpakaian preman sudah memasuki halaman rumah keluarga Wasesa. Pak Maman tak terkejut karena sudah diberitahukan sebelumnya oleh Nakula dan Sadewa.


Siska digelandang ke kantor polisi, ia berjalan dengan tenang. Raut wajahnya pun datar, ia hanya terkejut saat pertama kali melihat polisi. Beberapa pekerja yang terbangun telah diberi arahan, termasuk yang tidur bersama Siska.


"Maaf mengganggu tidur kalian. Aku harap peristiwa ini tidak dibahas di rumah ini atau dimana pun. Kami sudah menambah CCTV di luar dan di dalam rumah, dilengkapi dengan microphone. Jika ada yang ketahuan melanggar ini, silahkan keluar dari rumah ini. Dan bersiap dijemput polisi, karena kalian semua adalah saksi, jadi kami mohon kerjasamanya."


Kata-kata Sadewa yang tegas dan terkesan dingin menimbulkan perasaan yang menakutkan bagi mereka yang mendengar, termasuk Noushafarin. Namun ia memilih untuk tidak akan bertanya, hingga kekasihnya itu menceritakannya sendiri.


"Jangan dibahas dengan sesama pekerja, atau menceritakannya kemana pun. Jika ada yang tidak mengetahui peristiwa ini, biarlah tetap demikian." Nakula menambahkan.


Mereka yakin, Siska tidak bekerja sendiri. Sekarang fokusnya untuk mencari tahu dalang dibalik semua perustiwa ini. Bahkan beberapa polisi yang menyamar ditempatkan di rumah sebagai pekerja. Semua yang dilakukan Nakula dan Sadewa sudah mengantongi ijin Pandu. Hanya Kandi dan Anjani yang tak mengetahui.


Semua barang milik Siska dibawa ke kantor polisi, mereka akan memeriksanya disana. Sedang sisanya akan diperiksa oleh polisi yang menyamar. Mereka tidak ingin menimbulkan kegaduhan sebab lebih banyak yang akan terbangun.


Di kantor polisi, Siska ditempatkan di ruangan sementara khusus tahanan wanita. Tuan Pandu ditemani Nakula dan Sadewa datang pada pukul 10.00 pagi. Mereka menyaksikan pemeriksaan Siska dari jauh.


Sadewa tercenung melihat wajah perempuan itu. Ia terlihat tenang, bukan. Bukan tenang, lebih tepatnya pasrah. Sepertinya yang dilakukan Siska murni atas perintah orang lain. Bisa jadi atas perintah orang yang pernah menolong pengobatan ibunya.


...****************...

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2