
Malam yang dinantikan Darian sudah tiba. Saat ini keluarga Armani baru saja sampai di halaman rumah keluarga Miranti. Mereka akan melamar Miranti dan melakukan acara pertunangan.
"Sudah siap?" Ayah Bardia berdiri di samping Darian yang terlihat tampan dengan setelan jas berwarna silver.
Darian menarik napas dalam-dalam kemudian mengangguk dengan tegas. "Aku siap Ayah."
Iring-iringan keluarga Armani disambut oleh perwakilan keluarga Miranti. Kemudian mereka dipersilahkan masuk. Dan mulailah Ayah membuka percakapan, mengutarakan niat baik mereka.
Noushafarin mengamati setiap proses dengan antusias dan berdebar. Apalagi saat mereka memanggil Miranti keluar. Ia melihat bagaimana Kakaknya terpana dengan penampilan Miranti.
Saat Bunda memasangkan cincin berlian di jari Miranti, Noushafarin jadi membayangkan jika nanti Keluarga Wasesa datang dan Sadewa melamarnya. Seketika pipi gadis itu merona, membuat Tatiana yang duduk di sebelahnya tergelitik untuk menggoda adik sepupunya itu.
"Nou, kamu sakit? Kenapa pipimu merah sekali?" Tatiana melancarkan aksinya, ia berbicara dengan berbisik.
"Eh. Oh it-itu." Noushafarin gelagapan. "Ak-aku baik-baik saja Kak."
"Lalu, kenapa pipimu memerah begitu?"
"Benarkah? Kakak pasti salah lihat." ucap Nou berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Sepertinya tidak. Apa kau sedang membayangkan saat Sadewa melamarmu?" Tatiana belum mau berhenti.
Tubuh Noushafarin menegang, ia menatap Tatiana dengan senyuman yang terlihat aneh. Tatiana terkikik geli melihat ekspresi Noushafarin.
"Jangan-jangan kita akan menyelenggarakan pesta dengan waktu yang tak berjauhan. Aku akan memberi tahu Nenek." mata Tatiana mengerling.
"Beri tahu apa?" alarm waspada Nou berbunyi.
"Aku akan bilang, Nou pun sudah tak sabar ingin segera bertunangan."
Segera saja Nou mendekap mulut Tatiana dan menoleh ke sekitar. Matanya awas mengamati keluarganya. Ia tak ingin ada yang mendengar ucapan Tatiana.
"Jangan dong kak. Nanti dikira aku kebelet nikah." gerutu Nou.
Tatiana terkekeh sambil menutup mulutnya. Namun kasak kusuk keduanya menjadi perhatian Mama Bianca yang segera melebarkan mata pada kedua gadis itu.
Noushafarin yang lebih dulu melihat segera menyikut Tatiana. "Mama Bi marah, sepertinya kita terlalu ribut."
Tatiana segera menatap Mamanya dan berdehem kecil. Kemudian fokus mereka berdua kembali pada acara yang tengah berlangsung.
......................
Setibanya di kediaman Armani, Noushafarin langsung mempertanyakan tanggal pernikahan Darian dan Miranti saat seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.
"Kenapa harus satu bulan lagi? Kenapa tidak dua minggu lagi?" tanya Nou entah pada siapa.
"Kamu ingin segera menikah juga ya?" goda Mama Bianca.
"Bukan begitu Mama Bi. Kalau satu bulan ke depan, aku tidak tahu bagaimana jadwalku." kilah Nou.
"Tidak mungkin, pasti kamu ingin cepat menikah. Iya kan." desak Darian.
"Apaan sih Kak." Nou merengut.
__ADS_1
"Kakak sudah bilang, kamu tidak akan bisa menikah kalau Kakak dan Tatiana belum menikah." tegas Darian.
"Apa?!! Kenapa harus aku juga?" Tatiana protes.
"Memangnya kamu tidak mau menikah?" Nenek melirik tajam.
"Buk-bukan begitu Nek." Tatiana susah payah menelan salivanya melihat tatapan horor Nenek Faireh.
"Tapi kalau menunggu Kak Tatiana, mau sampai kapan? Dia bahkan belum punya kekasih."
"Nah, betul. Betul itu." Tatiana bersemangat mendukung argumen Noushafarin.
"Kan ada Nakula." celetuk Bunda Farena.
"Apa??!!" Tatiana bahkan sampai berdiri saking kagetnya. Ia kemudian melempar tatapan tajam pada Sang Mama, namun disaat yang sama Mamanya sedang memandang ke arah lain. Harusnya aku ingat, mereka adalah saudara ipar yang kompak, gerutu Tatiana dalam hatinya.
"Nakula? Siapa dia?" Nenek Faireh mengubah posisi duduknya. Beliau tampak tertarik dengan nama itu.
"Saudara kembar Sadewa Nek." sahut Darian mengacuhkan raut wajah kesal Tatiana.
"O itu." Nenek mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kapan dia akan kemari?"
"Nenek?" Tatiana ingin protes. Ia menatap Mama meminta tolong.
"Dia pemuda yang baik. Iya kan Nou?" Mama Bianca justru berada di sisi yang berlawanan dengan putrinya. "Yah, walau pun dia seorang duda."
"Eh, it-itu, mmm..Nou tidak tahu Mama Bi. Walau kembar, kan sifat dan karakter orang berbeda." gadis itu memilih jalur aman.
"Tidak ibu." jawab Bunda Farena sambil mencuri pandang pada Mama Bianca, kakak iparnya.
"Bagi Nenek itu bukan masalah. Banyak juga di luar sana mengaku perjaka padahal onderdilnya sudah duda." ucapan Nenek sukses membuat semua yang ada disana menahan senyum sambil geleng-geleng kepala. "Ada anak pun tak mengapa. Aku jadi punya cucu tanpa harus menunggu lama."
"Aku juga tidak keberatan jika kedua putri Armani dipinang dengan kedua pemuda Wasesa." sahut Ayah Bardia dengan santainya.
"Astaga Paman." Tatiana tiba-tiba terserang migrain. "Sebaiknya aku tidur, sepertinya aku terkena migrain." ia pun segera beranjak.
"Darian, besok Tatiana akan cuti. Kita harus membahas ini." titah Nenek.
"Baik Nek." Darian menuruti perintah itu.
"Nenek..." Tatiana menghentakkan kaki seperti gadis kecil yang tidak dipenuhi keinginannya.
"Apa?! Katanya kena migrain. Segeralah tidur." ucap Nenek dengan santainya.
Tatiana menghela napas berat, ia segera pergi dari sana sebelum semuanya semakin tidak terkontrol.
"Nah, Nou. Katakan pada Sadewa untuk bersabar. Tidak ada lamaran apalagi pernikahan jika Kakak-kakakmu belum melepas masa lajang." Nenek menatap lembut pada Nou, namun disaat yang sama, ucapannya pun terdengar tegas. Tersirat tak ingin ada bantahan disana.
"Sekalipun Sadewa bisa menyediakan semua permintaan Tatiana atau pun Darian. Tapi Nenek tidak mau itu. Mengerti kan sayang?" imbuh Nenek lagi.
Noushafarin mengangguk cepat. "Iya Nek, Nou mengerti." ia tersenyum kecut.
Malam itu Nou mengatakan semua yang Nenek ucapkan pada Sadewa. Seperti biasa, sepasang kekasih itu melakukan panggilan video sebelum tidur.
__ADS_1
"Jadi gimana Mas?" Noushafarin menanyakan pendapat Sadewa setelah menceritakan semuanya.
"Mau bagaimana lagi sayang. Mereka memang sudah bicara dan Nakula sudah menjelaskan semua. Tapi untuk melangkah lebih jauh, aku rasa itu sedikit sulit."
"Kak Tatiana pasti menolak." Nou merasa yakin dengan hal itu.
"Memangnya Tatiana tidak sedang dekat dengan siapa pun?"
"Setahuku sih tidak."
Hhhhhh, Sadewa menghembuskan napas dengan kasar.
"Bersabarlah sayang." Sadewa terdengar pasrah. "Sebenarnya aku berharap bisa meminangmu setelah pernikahan Darian dan Miranti."
Noushafarin merona mendengar pengakuan Sadewa.
Tok...Tok...Tok....
"Mas, sabar ya. Ada yang mengetuk pintu." ujar Nou sebelum meninggalkan ponselnya.
"Siapa?"
"Ini aku." terdengar suara Tatiana.
Noushafarin segera membuka pintu dengan wajah bingung. "Ada apa Kak?"
"Malam ini aku tidur denganmu." ucap Tatiana langsung masuk ke dalam kamar Nou.
Noushafarin masih terlihat bingung, ia menutup pintu dan segera menyusul Kakak sepupunya.
"Hai Sadewa." Tatiana melambai pada ponsel Nou yang ada di holder.
"Hai juga."
"Maaf obrolan kalian harus dipersingkat. Aku akan tidur dengan Nou malam ini." jelas Tatiana.
"Sebenarnya ada apa Kak?"
"Aku marah sama Mama. Pasti Mama yang sudah menceritakan semuanya ke Bibi. Malam itu saat aku berbicara berdua dengan Nakula, ternyata Mama menguping." sungut Tatiana.
"Oh, begitu rupanya." Noushafarin tersenyum tipis. "Mas, sudah dulu ya."
"Iya sayang."
"Sekali lagi maaf ya Dewa."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Sadewa melambai pada Nou sebelum memutus sambungan.
"Malam yang aneh." desah Tatiana sebelum merebahkan diri di kasur.
Noushafarin tertawa kecil, ia merasa iba pada Tatiana, namun ia juga yang terkena dampak dari keputusan Nenek. Gadis itu hanya bisa menghela napas sebelum merebahkan diri di samping Kakak sepupunya.
......................
__ADS_1