
Noushafarin tiba di rumah sakit milik keluarganya bersama Darian. Meski anak pemilik rumah sakit, Nou jarang sekali berkunjung kesana. Apalagi keberadaannya yang sempat disembunyikan dari publik setelah penculikannya dulu. Membuat sebagian besar pegawai tidak mengenalinya, hanya beberapa orang saja yang tahu tentang Noushafarin.
Setibanya di lantai teratas yang difungsikan sebagai kantor, Nou disambut dengan tatapan permusuhan oleh beberapa pegawai terutama wanita. Namun Noushafarin tak menghiraukan itu.
"Ini adalah data dari bagian perawatan anak dan bayi." setibanya di ruangan, Darian segera memberikan sebuah berkas yang diinginkan adiknya. "Padahal aku bisa saja membawanya ke rumah."
"Kan aku sudah bilang, ingin keluar dari rumah. Sejak datang aku jarang sekali keluar kalau bukan dengan Mas Sadewa."
"Ya, terserah kau saja." Darian mulai tenggelam dengan kesibukannya.
Keduanya diam, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Noushafarin dengan teliti membaca laporan yang diberikan kakaknya.
Satu jam berlalu, gadis itu mulai gelisah. Ia mengangkat wajah dari map di hadapannya dan mencari lemari pendingin.
"Kak."
"Ya Nou."
"Aku ingin minuman dingin."
"Sebelah lemari berkas paling ujung." ucap Darian tanpa mengangkat wajah dari laptopnya.
Noushafarin mencari sesuai petunjuk Darian dan segera menemukan yang ia inginkan. Namun ia menjadi lesu karena isi dari lemari pendingin itu hanya air mineral saja.
"Kak."
"Ya, ada apa?"
"Aku ingin minuman dingin yang manis."
"Pergilah ke pantry. Dari pintu ruanganku ini sebelah kanan paling ujung. Sedikit jauh sih." Darian kembali memberi petunjuk. "Atau aku panggil OB saja?"
"Tidak perlu kak, biar aku ambil sendiri."
"Hmmm, cepatlah kembali."
"Iya Kak. Apa kakak juga mau?"
"Tidak, untukmu saja."
Noushafarin segera keluar ruangan Darian dan menuju pantry seperti petunjuk kakaknya. Tanpa ia sadari ada beberapa pegawai yang memperhatikan dan mengikuti arah perginya.
"Lihatlah gadis penggoda itu. Dia pikir ini adalah kantor orang tuanya. Seenaknya kesana kemari." ucap seorang wanita bertubuh sintal yang dengan sengaja memakai kemeja dengan tampilan seksi untuk memikat Darian.
"Iya benar. Apa saja yang ia kerjakan di ruangan wakil kesayanganku." wanita lain ikut menimpali.
"Akan ku kerjai dia. Biar dia tahu diri." wanita pertama segera berjalan mendekati pantry. Ia memberi instruksi tanpa bersuara. Semua OB dan OG yang berada di dalam segera keluar jika tak ingin gajinya dipotong.
Kemudian dengan satu sentakan, ia menutup pintu lalu menguncinya dari luar.
"Diam saja disini dan jangan berani buka pintunya!" titahnya pada para pegawai bagian pantry itu.
"Tapi Bu Ita, itu...."
__ADS_1
"Itu itu apa!!!" Ita memotong ucapan OB bername tag Aldi itu. "Aku tahu kamu dekat dengan Pak Darian. Tapi kalau kamu berani mengadu, akan kupotong 50% gajimu bulan depan." ancam Ita sambil menyerahkan kunci pada Aldi.
Di dalam ruangan Noushafarin mulai panik karena tidak bisa membuka pintu. Ia menggedor namun tidak ada yang membukanya.
"Yah, ponselku tertinggal." keluhnya setelah memeriksa saku baju dan celananya.
Di luar pantry Ita dan beberapa temannya tertawa mendengar Noushafarin menggedor pintu.
"Ita, hormati gadis itu. Dia tamu pak Darian." ucap seorang pria.
"Tamu kok ke pantry sendiri, kan bisa panggil OB." sanggah Ita.
"Tapi Ta...." seorang wanita ingin menghentikan kegilaan Ita.
"Diam kamu bumil!!! Atau cutimu tidak akan di acc sama kepala HRD." ancam Ita yang juga merupakan kesayangan pria paruh baya yang menjadi kepala bagian HRD. "Biar saja gadis penggoda itu di dalam. Biar dia tidak ganjen menggoda Pak Darian."
"Bukannya kamu yang penggoda semua laki-laki yang punya jabatan di kantor ini." gerutu seorang pria lain dari meja kerjanya.
"Apa?! Siapa itu yang bicara?!" Ita meradang dan memandang ke seluruh ruangan dengan mata nyalang.
"Kak, Kak Darian!!!" terdengar Noushafarin berteriak lebih kencang.
"Kak Kak Kak! Dasar penggoda." seorang rekan Ita mencibir.
"Mampus, siapa suruh gatel dekatin Pak Darian." ujar Ita memandang sinis ke arah pintu.
"Siapa yang gatal?"
"Eh, Pa-Pak Darian." Ita tergagap, jantungnya bertalu. Namun ia berusaha setenang mungkin menjaga ekspresinya agar tetap terlihat lemah lembut di hadapan Darian.
"Kak Darian!!! Tolongin Nou!!!" seru Noushafarin sambil memukul pintu.
"Buka!" Darian memberi perintah kepada semua yang berada disana karena ia tak tahu siapa pemegang kunci.
Dengan ketakutan Aldi maju, tangannya bergetar saat membuka pintunya.
"Ya ampun Aldi, kamu jahat sekali sih kunci tamu di dalam pantry." Ita menemukan kambing hitam yang tepat.
Aldi semakin takut, ia bahkan tak bisa memutar kunci dengan benar. Darian maju dan memegang pundak OB itu. Kemudian mengambil alih untuk membuka pintu.
"Kak Darian!" seru Noushafarin senang melihat pintu dibuka oleh kakaknya. "Ada yang iseng kunciin aku." adu Nou.
"Ini nih, OB tidak tahu diri ini yang mengunci." Ita mendorong-dorong bahu Aldi.
Noushafarin menatap wanita dihadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Darian pun ikut menatapnya dengan pandangan yang menakutkan.
"Ayo Kak, kita kembali ke ruangan." Noushafarin menggandeng tangan Darian sambil menatap Ita. Benar dugaan Nou, wanita itu langsung menatap ke arah tangan Darian dan Noushafarin dengan mata penuh kemarahan.
Saat berjalan melewati Aldi, Nou sengaja berhenti. "Tenang Kak, aku tahu bukan Kak Aldi pelakunya."
"Darimana kamu tahu bukan dia pelakunya? Jangan sok mengenal pegawai disini." Ita berbicara dengan sinis, ia tak dapat menyembunyikan kekesalannya.
"Kenal dong. Kak Aldi kan....."
__ADS_1
"Nou."
Noushafarin menatap kakaknya dengan heran, samar-samar terlihat Darian menggeleng pelan.
"Mana minuman yang kamu mau?" Darian melihat adiknya tak membawa apapun.
"Habis kak. Tadi lagi bingung mau pilih apa untuk gantinya, eh pintu ditutup trus dikunci."
Darian melepas tangan Noushafarin dan berdiri menghadap Aldi.
"Belilah satu karton minuman yang dicari adikku dan dinginkan. Tambah satu botol yang sudah dingin. Karena Noushafarin ingin minum sekarang." Darian menyerahkan kartu kreditnya.
"Apa lagi yang kau inginkan? Biar Aldi menyiapkannya di pantry dan ruanganku."
"Tidak perlu Kak." Noushafarin menggoyangkan kedua tangannya.
"Mulai sekarang kau akan sering datang, seperti kata ayah. Jadi aku harus menyiapkan keperluanmu juga."
"Aku akan memikirkannya nanti." ucap Noushafarin sambil tersenyum.
Darian hanya mengangkat bahu dan menggandeng Noushafarin menuju lorong di tengah ruangan.
"Perhatian semua!!!" suara Darian yang menggelegar membuat semua orang berdiri dan yang berada di dalam ruangan keluar.
Darian merangkul Noushafarin. "Perkenalkan, ini adalah adik kandungku. Noushafarin Armani, putri kedua pemimpin kalian, Tuan Bardia Armani." Darian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Bukan wanita penggoda!!!" imbuhnya dengan penuh penekanan sambil menatap tajam pada Ita.
"Kami berencana membuat pesta kecil untuk memperkenalkan adikku. Namun ternyata dengan lancangnya sebagian dari kalian sudah membuat pesta penyambutan lebih dulu." imbuhnya lagi.
"Baiklah, itu saja. Dan silahkan kembali bekerja." Darian membubarkan pegawainya dan membawa Noushafarin kembali ke ruangan.
"Sepertinya Ayah memang harus membuat acara besar supaya banyak orang mengenalimu." ujar Darian setelah tiba di ruangannya.
Noushafarin tertawa pelan. "Aku sih terserah Ayah dan Kakak saja."
"Maaf sudah membuatmu tak nyaman." Darian mengusap kepala adiknya.
"Tidak apa-apa, kan Kakak sudah menyelesaikannya."
Darian tersenyum menatap adik yang sudah lama tinggal jauh darinya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Tak lama lagi Aldi akan datang membawa pesananmu."
"Iya Kak."
Sementara itu di luar ruangan Darian, Ita dan rekan-rekannya saling berpegangan. Mereka merasa tubuh mereka lunglai, dan wajah mereka memancarkan keputusasaan.
"Makanya, jangan ganjen. Sok mau ngerjai orang." cibir staf lain yang tak menyukai perangai mereka.
"Simpan saja barang-barang kalian. Kalau dipecat tidak repot lagi." timpal yang lain membuat ruangan itu riuh dengan suara-suara cibiran.
Mereka memanfaatkan momen terpuruknya Ita untuk membalas setiap ucapan kasar serta ancaman yang sering dilontarkan Ita dan rekan-rekannya.
......................
__ADS_1