
"Ayah, Bunda, ada waktu?" setelah makan malam Nou menghampiri orang tuanya yang sedang bersantai di gazebo tepi kolam renang.
"Ada sayang. Kemarilah." Bunda menunjuk tempat di sampingnya. "Duduk disini."
"Bagaimana proses adaptasinya?" Ayah segera bertanya.
"Semuanya lancar Yah."
"Baguslah kalau begitu." Bunda tersenyum lega.
"Tapi, sepertinya ada yang mengganggumu." Ayah menatap dengan pandangan menelisik.
"Ada sesuatu yang menggangguku akhir-akhir ini." Noushafarin mengutarakan isi hatinya.
"Ceritakanlah sayang, kami siap mendengarnya." ucap Bunda sambil membelai kepala putrinya.
Nou menarik napas dalam-dalam sebelum mencurahkan isi hatinya. Dari gazebo terlihat Darian datang menuju mereka.
"Ini tentang pekerjaanku serta arah hubunganku dengan Mas Sadewa."
Kedua alis Ayah terangkat. "Sepertinya ini masalah serius." Ayah terlihat antusias dan tersenyum pada Darian yang mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Aku tidak tahu kapan, yang pasti kami akan menikah. Karena aku dan Mas Sadewa tidak ingin menjalin hubungan yang tidak tentu arah tujuannya."
"Tapi aku menjadi sangat khawatir ketika memikirkan keadaan rumah tanggaku nantinya." Noushafarin meremas jemarinya.
"Ayah, Bunda dan Kakak kan tahu bagaimana aku saat sudah bekerja. Teman-temanku di Munich menjulukiku si gila kerja, si gila belajar, dan masih banyak istilah lain. Aku takut kebiasaanku itu akan terbawa ke rumah tanggaku nanti jika aku tetap bekerja setelah menikah. Aku takut sibuk menyelamatkan orang tapi rumah tanggaku sendiri tidak tertolong."
"Lalu, apa kamu sudah memutuskan mana yang menjadi prioritasmu saat sudah menikah nanti?" Bunda mengusap tangan Nou yang bertaut.
"Aku ingin memprioritaskan rumah tanggaku Bun. Tapi aku juga mencintai pekerjaanku. Gimana dong?" Noushafarin menatap Bundanya dengan wajah kalut.
Semua terdiam, Bunda menoleh pada Ayah untuk melihat bagaimana reaksi Sang Suami saat mendengar curahan hati putri bungsu mereka.
"Noushafarin, ingatlah hal ini. Kami tidak pernah menuntut kau harus bekerja setelah kami menggelontorkan banyak uang untuk pendidikanmu. Kami sudah memberikan bekal dalam bentuk ilmu, digunakan dan tidaknya untuk pekerjaan, semua keputusan ada di tanganmu." Ayah menanggapi.
"Tapi menurut Ayah, ada baiknya jalani saja dulu proses adaptasi dan dapatkan STR Dokter spesialis. Setelahnya, digunakan atau tidak STR itu, tergantung kesepakatanmu dan Sadewa. Yang paling penting kau sudah bisa menyesuaikan ilmu yang kau dapatkan dengan kondisi nyata kesehatan di negara kita. Bagaimana menurut Bunda?"
"Bunda setuju dengan pendapat Ayah. Jalani saja dulu adaptasi. Jika dalam dua tahun ini kalian berdua menikah, kau akan bisa melihat dan menilai sendiri. Apakah Nou seimbang dalam hal mengurus keluarga dengan mengurus pasien." Bunda menambahkan.
Noushafarin menghirup napas dalam-dalam. Ia merasakan kelegaan setelah bertukar pikiran dengan orang tuanya.
"Terima kasih Ayah, Bunda. Nou lega mendengar pendapat yang Ayah dan Bunda berikan. Sepertinya Nou sudah mendapat gambaran harus bagaimana."
"Atau mungkin kau takut Sadewa tak bisa memenuhi kebutuhanmu?" goda Darian.
"Jangan menganggap sepele dong Kak. Aku yakin, Mas Sadewa bisa mencukupi kebutuhanku."
"Benarkah? Dia harus memenuhi standar seorang Tuan Puteri. Mustahil dia sanggup."
"Hmmmmm. Lanjutkan dan aku akan meminta Mimi tak menerima semua panggilan dan mengabaikan pesan darimu." ancam Nou dengan berapi-api.
__ADS_1
"Begitu ya ancamannya." Darian mendengus. "Aku kan hanya bercanda."
"Jangan bercanda dengan cara meremehkan kemampuan seseorang memberi nafkah pada keluarganya. Itu bukan topik yang enak untuk didengar."
"Sensi sekali, biasanya tidak begini." celetuk Darian. "Jujur saja, kamu tidak terima dianggap matre, iya kan." Darian menggerak-gerakkan kedua alisnya sambil tersenyum jenaka.
Noushafarin menggeram, ia bangkit dan menghampiri Kakaknya. Tanpa aba-aba dia menyerang lengan Darian dengan cubitan bertubi-tubi.
"Astaga Nou!!! Sakit!!" Darian meringis sambil terus menepis tangan adiknya. "Noushafarin. Aduh."
"Nou." Ayah tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya. "Hentikan, kasihan besok Mimi bisa syok melihat memar-memar itu."
Noushafarin kembali ke tempat duduknya dengan wajah terlihat puas.
......................
Noushafarin terkejut melihat Sadewa sudah berada di halaman rumahnya. Ia pikir pagi ini akan berangkat bersama Sang Kakak seperti kemarin.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi Mas."
"Ayo, hari ini aku yang akan mengantarmu."
Noushafarin mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Ia tak perlu mengetahui alasan kemana Kakaknya pergi, karena ia bahagia bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya.
"Kalau Ibu Dokter secantik ini, orang tua pasien bisa betah menjaga anak mereka." ujar Sadewa sambil terus menatap wajah Nou.
"Duh Mas, pagi-pagi sudah ngegombal." Nou berusaha terlihat biasa, walau sebenarnya dalam hati berbunga-bunga.
"Dasar." Nou mengerucutkan bibirnya kesal.
"Bibirnya biasa saja dong." Sadewa memegang dagu Nou dan mengarahkan wajah gadis itu untuk menghadap padanya.
Tanpa Nou duga, Sadewa mendekatkan wajah dan langsung mengecup bibir gadis itu. Noushafarin mengerjap karena terkejut, sedang Sadewa tersenyum kemudian menyalakan mesin mobil dan segera menuju RSU tempat Nou melakukan proses adaptasi.
"Sayang." Sadewa membuka pembicaraan setelah keheningan menguasai mobil itu.
"Iya Mas."
"Siang ini kita makan sama-sama ya." ajak Sadewa.
"Memangnya, Mas ada waktu makan di luar?"
"Iya sayang."
"Iya, aku mau." wajah Nou berbinar-binar.
"Kamu mau makan apa?"
"Mmmmm." Noushafarin memegang dagunya saat berpikir. "Sekarang aku masih belum tahu. Mungkin nanti sudah bisa memutuskan."
__ADS_1
"Segera kabari Mas ya." Sadewa mengulurkan tangan dan mengusap kepala Nou.
Noushafarin mengangguk dan tersenyum senang.
"Mas."
"Hmm? Ada apa sayang?"
"Kak Nakula sudah ketemu pengganti Kak Anjani?"
"Sepertinya belum. Kenapa?"
"Kalau kita comblangin sama Kak Tatiana, bagaimana?"
"Sepertinya sedikit sulit Nou."
"Begitu ya." wajah Nou menyiratkan kekecewaan.
"Dapat ide darimana?"
"Ideku sendiri."
"Tapi, kenapa harus Tatiana?"
"Soalnya kalau Kak Darian sama Kak Tatiana belum menikah, aku tidak boleh menikah." celetuk Noushafarin, entah dia sadar atau tidak.
Sadewa sempat menatap gadis di sebelahnya selama beberapa detik sebelum kembali fokus menyetir.
"Jadi kamu mau kita menikah secepatnya, hmm?"
"Eh?! I-itu..." Nou terkejut tanpa sadar sudah mengatakan hal itu. "Bu-bukan begitu maksudku Mas."
Sadewa tertawa kecil melihat wajah Nou yang terlihat gugup sekaligus merona karena malu.
"Kalau bukan begitu lalu bagaimana, calon istriku?"
"Mas..." Noushafarin salah tingkah hingga ia memukul lengan Sadewa.
Jantungnya berdesir mendengar sebutan calon istri yang Sadewa ucapkan. Dadanya jadi berdetak beberapa kali lebih cepat. Sadewa pun merasakan hal yang sama. Jika saat ini ia sedang tidak mengemudi, mungkin ia akan menarik Noushafarin masuk ke dalam pelukannya dan menyalurkan setiap perasaan yang meluap dalam dadanya.
"Siapa yang bilang kepadamu?"
"Kak Darian."
Kedua alis Sadewa terangkat, pemuda itu tertawa. "Aku kira Nenek atau Ayah yang mengatakannya."
"Dia bilang resiko anak bungsu."
"Kalau begitu katakan padanya aku akan menyiapkan mahar sebagai ganti rugi karena sudah melangkahi yang lebih tua." Sadewa terlihat serius. "Karena aku juga sudah tidak sabar ingin mengesahkan hubungan kita." imbuhnya sambil menatap dalam-dalam pada Nou.
Beruntung mereka sedang berhenti di lampu merah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Cinta oh cinta......
......................