
Noushafarin mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman bercerita.
"Menurut Bunda, aku egois dan cemburuan?"
"Emangnya kamu bilang apa ke Sadewa?"
"Aku bilang, aku nggak suka dengar gadis lain menginginkan Mas Sadewa."
"Kamu ini." Bunda menggeleng-gelengkan kepala.
Noushafarin menyandarkan kepalanya di sofa. "Aku memang marah waktu Nyonya itu menghinaku. Tapi aku menjadi lebih marah saat mendengar dia mengklaim Mas Sadewa adalah calon suami anaknya. Aku nggak suka Bun, Mas Sadewa itu kekasihku. Dia milikku, aku nggak mau orang lain menginginkannya juga meski hanya sebatas khayalan."
"Hati dan pikiran orang kan tidak bisa diatur Nou."
"Aku tahu Bun."
Bunda tergelak mendengar penuturan putrinya. "Dan kamu bilang begini juga ke Sadewa?"
"Iya Bun."
"Bunda baru tahu kalau kamu posesif begini."
"Salah ya Bun."
"Tidak, selama masih dalam batas wajar."
"Begitu ya."
"Orang bilang cemburu itu tanda cinta. Tapi kalau sudah berlebihan, cemburu bisa membawa kehancuran."
Nou mendengarkan penuturan Bundanya dengan seksama.
"Jika Sadewa berbicara dengan gadis lain, bahkan saudaranya, kemudian Nou cemburu. Itu sudah berlebihan. Jika Sadewa kebetulan satu lift dengan seorang gadis dan Nou cemburu, itu juga berlebihan. Termasuk jika Nou marah saat ada gadis lain menyukai Sadewa. Menurut Bunda, itu berlebihan."
"Jadi aku sudah berlebihan." Nou bergumam pelan. "Tapi kenapa Mas Sadewa tidak komplain dan hanya memelukku?"
"Mungkin semalam dia bahagia mengetahui sebesar itu cintamu padanya. Tapi jika Nou sering-sering seperti itu, dia bisa merasa risih."
"Atau dia hanya menjaga perasaanku?" Noushafarin memegang dagunya dan berpikir.
Bunda mengangkat kedua bahunya. "Kalau untuk itu, lebih baik tanya sendiri kepadanya."
"Aku akan bertanya jika bertemu lagi." Nou terlihat yakin.
"Nou, ingat baik-baik ya sayang. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Terlalu mencintai, terlalu cemburu, semuanya itu tidak baik. Kau harus bisa mengendalikan hati dan pikiranmu."
"Iya Bun."
"Dan mengenai Nyonya Fitri, mengapa kau tidak ingin membawanya ke jalur hukum?"
"Aku tidak ingin mencari musuh Bun."
"Tapi dia yang salah."
"Masalahnya tidak semua orang yang sebenarnya bersalah itu, sadar kalau yang dia buat salah. Dia memarahiku karena menurutnya khayalan putrinya adalah kebenaran. Kalau aku melaporkannya ke polisi, selesai menjalani hukuman dia akan terus memusuhiku dan keluarga kita." terang Nou.
"Lagipula, aku melakukannya juga karena suaminya sudah memukul Nyonya Fitri dan meminta maaf pada kami berdua." imbuhnya.
"Baiklah kalau memang sudah diputuskan. Tapi jika ada sesuatu, biar kami yang bertindak."
__ADS_1
"Iya Bun."
Farena menangkup pipi putrinya. "Jangan ragu bercerita pada Bunda ya sayang."
Noushafarin hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya.
"Lanjutkan kegiatanmu, Bunda mau melihat Nenek."
"Iya Bunda."
Selepas kepergian Bunda Farena, Noushafarin mendapat pesan berupa link sebuah situs dari Sadewa.
Segera gadis itu membuka link yang ia terima. Rupanya itu adalah link berita siaran langsung permintaan maaf Nyonya Fitri.
Tampak Nyonya Fitri membacakan surat permintaan maaf didampingi suami dan pengacara mereka.
Noushafarin tersenyum puas menyaksikan siaran itu. Ia lantas menghubungi Sadewa melalui telepon video.
"Good morning sayang." wajah Sadewa yang berseri terlihat memenuhi layar ponsel Nou. "Eh, kok nggak ada orang?" pemuda itu kebingungan karena di layar ponselnya tak nampak wajah Nou.
"Nou, kamu dimana sayang?"
"Aku disini."
"Ke depan kamera dong. Mas kan ingin lihat wajah kamu juga."
"Kali ini biar aku saja yang menatap wajah Mas puas-puas."
"Oh, sudah mulai curang ya."
Noushafarin tergelak, ia memposisikan diri agar terlihat di layar ponsel.
"Hmmm?? Ada apa sayang?"
"Perasaanku tidak enak." ungkap Nou.
"Karena masalah ini?"
"Iya Mas. Sepertinya mereka tidak terima."
Sadewa memijat pelipisnya. "Jangan pergi kemana pun tanpa memberitahukan kepadaku atau pun Darian. Ok?"
"Iya Mas." jawab Noushafarin disertai anggukan.
"Aku kerja dulu. Love you."
"Love you too."
......................
Bunyi benda berjatuhan di sela-sela teriakan seorang gadis terdengar dari sebuah kamar di salah satu unit apartemen mewah. Gadis itu adalah Farida yang sedang melampiaskan kekesalannya dengan memporak porandakan kamarnya sendiri.
Ia baru selesai menyaksikan berita secara daring tentang permintaan maaf yang disampaikan Mamanya kepada Noushafarin Armani.
"Dia mengambil Sadewa dariku, dan sekarang dia memaksa Mama untuk minta maaf. Benar-benar gadis yang sombong. Dia memang harus diberi pelajaran!"
Farida mencari ponsel pintarnya di sela-sela begitu banyak barang yang berserakan.
"Halo, aku punya pekerjaan baru."
__ADS_1
"......."
"Jangan takut, kau bukan hanya mendapat bayaran besar. Tapi juga berkesempatan menikmati tubuh seorang Nona Besar."
"......"
"Tempat biasa, jam 5 sore."
Farida menutup telepon dengan seringai licik yang terlihat jelas.
"Aku tidak akan berhenti. Mama saja yang terlalu gegabah dalam bertindak." setelah berkata demikian, Farida keluar kamar dan menutup pintunya dengan kasar.
"Hei!!! Dimana kalian semua??? Cepat keluar!!!"
Tak lama kemudian datang dua orang wanita dengan tergopoh-gopoh dan wajah terlihat takut.
"Kenapa lama sekali?!"
"Kami......"
"Cukup!!!" Farida mengacungkan tangannya. "Cepat bersihkan kamarku!" kemudian ia masuk ke dalam kamar lain dan membaringkan tubuhnya di sisi seorang pria yang sedang terlelap.
"Huh!!! Dasar tukang tidur!!! Untung kaya raya." gerutunya.
......................
Di kediaman keluarga Wasesa, Tuan Pandu Nyonya Srikandi juga menyaksikan permintaan maaf Nyonya Fitri. Kepulangan ia dan suaminya dipercepat karena ada beberapa urusan yang tidak bisa ditunda lagi. Saat makan pagi, Sadewa menceritakan semua kejadian tidak menyenangkan yang dialami Noushafarin. Tak ayal kabar itu mengundang kemarahan Pandu dan Srikandi.
"Aku kecewa dengan tingkah laku istri kedua Bowo itu. Dia menjelek-jelekkan Noushafarin di depan mama tanpa tahu siapa gadis itu. Dan sekarang ia berani menyerangnya di depan umum."
"Kapan dia melakukan itu? Kok Papa tidak tahu."
"Beberapa hari setelah kunjungan mereka. Ia memuji-muji putrinya. Kemudian mengatakan kekasih Sadewa itu hanya mengincar harta kita. Dia mengatakan itu tanpa tahu siapa kekasih Sadewa."
"Memangnya Mama tidak bilang siapa kekasih Sadewa?"
"Setelah dia menghina baru Mama bilang, kekasih Sadewa Noushafarin Armani. Dan dia sangat terkejut."
Pandu mengangguk-angguk. "Dan saat kejadian di restoran, Papa yakin dia juga tidak tahu kalau yang dia hadapi itu Noushafarin."
"Tapi Pa, siapapun kekasih Sadewa, dia tidak berhak melakukan itu. Kita sebagai orang tua saja tidak melarang Sadewa mendekati siapapun. Memangnya dia siapa berani mengaku sebagai calon besan kita dan menghina gadis yang sedang bersama putra kita?!" Mama Srikandi terlihat emosi mengingat perangai buruk Nyonya Fitri.
"Kalau misalnya kekasih Sadewa saat ini hanya gadis biasa dan bukan dari kalangan atas seperti Noushafarin. Apa yang akan Mama lakukan?" Papa Pandu menatap istrinya dengan penuh harap.
"Ya Mama akan membela gadis itu. Enak saja berani menghina calon menantuku." jawab Mama Srikandi tanpa banyak berpikir. "Kebahagiaan anakku lebih penting. Pembunuh saja aku terima, apalagi orang baik."
Papa Pandu mengangkat kedua alisnya. "Mana kita tahu Anjani sejahat itu."
"Oleh sebab itu Mama bilang, pembunuh saja kita bisa terima. Apalagi kalau beneran baik."
Pandu tergelak mendengar jawaban istrinya. "Sepertinya aku jatuh cinta lagi."
"Apa?!! Siapa wanita itu?!!" tanya Srikandi dengan berapi-api.
"Ini, di depan Papa."
"Ih Papa." Mama Srikandi melunak.
......................
__ADS_1