
Nakula menikmati sarapan sambil sesekali melirik Sadewa dan beralih pada Noushafarin yang sedang melayani mereka. Terlihat jelas di mata Nakula, bagaimana saudara kembarnya menikmati makanan disertai curi-curi pandang. Sedangkan gadis yang ditatapnya dengan sembunyi-sembunyi tetap beraktifitas seperti biasanya.
"Apa kau tidak akan tersedak jika makan sambil senyum-senyum terus, Naku?" pertanyaan Mama membuat semua atensi terarah pada Nakula.
"Tidak Ma, tenang saja."
"Apa yang membuatmu terlihat begitu bahagia?" Mama jadi penasaran.
"Pemandangan indah di taman dekat lapangan basket tadi malam. Taman itu kelihatan cantik." Sadewa sontak menajamkan pandangannya saat menatap Nakula. Yang ditatap tak merasa bersalah terus melanjutkan makan.
Mama dan Papa hanya geleng-geleng kepala, sudah jelas perkataan Nakula tadi hanya untuk menggoda saudaranya.
Drama makan sambil senyum berlanjut di kantor. Sadewa yang terlihat kesal segera mendatangi ruangan saudaranya itu.
"Hai bro, ada apa?"
"Kau mau kemana?" Sadewa terkejut sebelum mengetuk pintu, Nakula sudah membukanya dari dalam.
"Bertemu Papa. Ada apa?"
"Apa maksudmu pemandangan indah tadi malam?"
"Pffttt...haha... Kau penasaran ya rupanya." Nakula puas melihat raut wajah Sadewa yang kesal. "Nanti juga kau akan tahu." Nakula segera keluar dari ruangannya.
"Kau mengintip?"
"Taman itu area terbuka untuk umum, mana bisa dibilang mengintip." Nakula tak terima dengan tuduhan Sadewa. "Sudahlah, ada pekerjaan yang menunggu. Aku hanya ingin kembali mengingatkan satu hal. Jangan pernah berkata tidak akan pernah."
Nakula menepuk pundak Sadewa sesaat sebelum dia pergi ke ruangan Papa Pandu. Sadewa mendengkus kesal, namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia memilih untuk kembali ke ruangannya.
"Tidak, tidak. Jika aku terus bersikap seperti ini maka yang lain akan salah paham. Mereka berpikir aku benar-benar jatuh cinta pada gadis sombong itu." Sadewa menyugar rambutnya dengan kasar.
"Aku tidak jatuh cinta."
"Aku tidak jatuh cinta."
"Aku tidak jatuh cinta."
Pemuda itu terus merapal mantra yang sama sambil berjalan mondar mandir di dalam ruangannya.
......................
Sementara itu, di kediaman Keluarga Wasesa. Noushafarin sedang memasak bersama Nyonya Kandi, beliau akan membawa bekal makan siang ke kantor.
"Permisi Nyonya, ada telepon dari kantor." Teh Siska datang membawa pesawat telepon tanpa kabel dan menyerahkan pada Nyonya Kandi.
"Halo."
"....."
"Ya Sekretaris Li, ada apa?"
"....."
__ADS_1
"Begitu rupanya, baiklah. Terima kasih sudah memberi tahu."
"....."
"Oh itu." Nyonya Kandi tersenyum. "Saya lupa membawa ponsel saya keluar dari kamar."
"....."
"Ya, selamat siang." Nyonya Kandi mengakhiri pembicaraan dan menyerahkan pesawat telepon itu pada Siska.
"Arin, saya tidak jadi ke kantor. Tapi kamu temani saya ke tempat pembangunan ya. Bekalnya kita antar kesana."
"Baik Nyonya."
Sesuai dengan perintah Nyonya Kandi, saat ini Noushafarin tengah bersiap menemani majikan. Makanan yang akan dibawa sudah selesai ia atur di mobil. Gadis itu berganti baju dengan mengenakan jeans berwana navy dan kaos oblong kuning polos.
"Arin!"
"Iya Mang, sebentar." gadis itu merapikan penampilannya kemudian membuka pintu kamar menemui Mang Ari.
"Ini dari Nyonya." ucap pria itu sambil menyerahkan sepasang sepatu boat pekerja proyek berwarna coklat terang dan helm berwarna jingga. "Sepatunya pakai sekarang, kalau helm nanti saja kalau sudah sampai."
"Kenapa pakai beginian, Mang?"
"Kalian kan akan datang ke lokasi pembangunan gedung. Semua yang memasuki kawasan itu wajib menggunakan alat pelindung standar. Lebih baik mengantisipasi sebelum hal buruk terjadi."
"Ya elahh Mang, cuma nganterin makanan doang."
"Iya deh Mang. Maaf." ucap gadis itu dengan raut wajah penyesalan. "Terima kasih ya sudah dibawakan."
"Sama-sama. Cepetan, jangan sampai Nyonya Kandi sudah lebih dulu di mobil."
"Eh, iy-iya Mang." gadis itu segera mengunci kamar dan melesat ke halaman depan melalui jalan di samping kanan rumah yang biasa dilewati pekerja.
Mang Ari menatap kepergian Noushafarin yang tergopoh-gopoh dengan senyuman disertai gelengan kepala. Gadis itu kadang membuatnya khawatir, karena jika sudah selesai dengan tugasnya, ia akan membantu yang lainnya. Seperti orang yang sengaja berusaha menyibukkan diri untuk melupakan sesuatu. Dan seakan tidak peduli dengan tubuhnya sendiri.
Nou beruntung, karena begitu tiba di dekat mobil, Nyonya Kandi belum datang. Ia menarik napas untuk meredakan debaran jantungnya karena datang terburu-buru.
"Kau sudah siap, Arin?" Nyonya Kandi keluar rumah sambil menenteng tas dan helmnya.
"Iya Nyonya."
"Ayo masuk, kamu duduk di depan sama Jono ya."
"Baik Nyonya."
Nou segera membuka pintu depan, sebelum masuk dia tersenyum tipis dan mengangguk ke arah sopir itu.
"Selamat siang Mas Jono." sapanya ramah.
"Siang Rin. Makin cantik saja kamu."
"Ekhmm!" Nyonya Kandi yang ternyata sudah duduk manis di belakang lantas berdehem, mengagetkan Nou dan Jono.
__ADS_1
Nou cepat-cepat duduk dan memasang sabuk pengamannya. Sedang Jono menggaruk tengkuknya untuk menghilangkan kegugupan.
"Nyetir yang bener ya Jon. Jangan mentang-mentang ada Arin di samping kamu, kita jadi buat jalan baru." Nyonya Kandi mengingatkan Jono saat kendaraan itu mulai bergerak.
"Iy-iya Nya."
"Dan jangan lirik-lirik Arin terus, dia sudah ada yang punya."
Netra Noushafarin membeliak namun ia tidak berani menoleh ke belakang, gadis itu memilih menatap ke luar jendela.
"Oo, Arin sudah punya pacar to. Yah, Mas Jono terlambat dong." ujar Jono pelan, namun bisa terdengar oleh Noushafarin bahkan Nyonya Kandi.
Mau jawab belum, nanti Nyonya marah. Mau jawab iya, kenyataannya masih jomblo. Hhhhhh, senyum aja deh.
Akhirnya gadis itu tersenyum tipis sambil menoleh pada Jono.
Lokasi yang mereka tuju berada di kawasan PIK 2. Dan bangunan yang akan dibuat adalah sebuah klinik kesehatan swasta khusus anak. Noushafarin mengernyit, ia tahu benar lokasi ini dan tujuan klinik dibangun. Jantungnya mulai berdebar tak menentu, tanpa sadar ia meremas sabuk pengaman yang ia kenakan. Gadis itu menggigit bibirnya, dengan mata yang tidak fokus melihat melihat kesana kemari.
Jono menghentikan mobil di sebuah ruko yang berhadapan dengan lokasi pembangunan. Salah satu ruko itu digunakan sebagai kantor sementara Nindya Karya agar memudahkan pengawasan pekerjaan.
"Arin, kamu sama Jono cepat kesana cari Tuan Pandu ya." titah Nyonya Kandi setelah makanan yang mereka bawa selesai ditata.
"Iy-iya Nyonya."
Duhhh, bagaimana ini. Bagaimana kalau ketemu....
"Sedang apa disini?" suara Sadewa membuatnya menghentikan langkah. "Jangan berjalan sambil menunduk jika sedang berada di kolasi konstruksi."
"Maaf Tuan."
"Ada apa?"
"Nyonya sudah menunggu di kantor sambil membawa makan siang."
"Baiklah, aku yang akan memanggil Papa dan Nakula."
"Terima kasih Tuan."
"Arin."
"Ya Tuan?"
"Jangan tebar pesona disini."
Seketika itu juga Noushafarin mengangkat wajahnya dengan kedua alis yang bertaut. Sadewa tak peduli dan segera berbalik.
Kumat lagi, pasti obatnya habis.
Nou menatap punggung Sadewa dengan tatapan sebal. Namun setelah dilihatnya simbol MH, ia segera berbalik dan cepat-cepat pergi dari sana.
...****************...
Jangan Lupa Vote, Like dan Komen ya Good Reader❤❤❤❤❤
__ADS_1