
Nou menatap langit-langit kamarnya, sudah satu jam berbaring namun tak kunjung lelap. Ia selalu teringat pada perlakuan Sadewa kepadanya.
Dari pertama berjumpa, Sadewa selalu membuatnya marah dengan berbagai aksi usil dan tuduhan yang tak berdasar. Semakin kesini, pemuda itu malah bersikap manja jika hanya berduaan.
Terlebih saat di pasar Sadewa mengucapkan 'Masmu', rasanya Nou ingin tiarap dan guling-guling di tanah. Karena kata-kata itu menimbulkan gelenyar dan perasaan hangat yang menggelitik hatinya.
Saat itu Nou bukan tidak mendengar atau membiarkan, namun ada debaran yang menggila membuatnya menerima saja Sadewa berkata begitu.
"Masku." lirih Nou sambil tersipu malu, ia lantas menutup wajah dengan kedua tangannya. "Orang itu menjungkir balikkan mood dan hatiku. Tapi aku suka." kenyataan itu membuat wajah Nou merona, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan otot bibir berkedut menahan perasaan yang sedang membuncah.
"Bundaaaaa, sepertinya aku jatuh cinta." Nou terus bergumam dengan volime suara sekecil mungkin. Ia tak ingin membangunkan Mbak Inah.
Di kamarnya Sadewa pun mengalami hal yang sama. Ia berbaring sambil menatap langit-langit. Dan dalam yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah wajah ART cantik sedang menampilkan berbagai macam ekspresi.
"Hmmmm... Kamu menggemaskan banget sih Rin." tangan kanan Sadewa terulur menyentuh dadanya, senyuman bahagia terulas di bibirnya yang tak pernah menyentuh rokok.
"Aku akan membujuk Mama dan Papa agar bisa menerima Arin sebagai calon istriku. Yahh, begitu masalah ini selesai dan Mama dalam kondisi sehat, aku akan mengungkapkan pada Mama dan Papa." Sadewa bertekad.
Pemuda itu meraih guling kemudian memeluk benda itu sekuat tenaganya. Bahkan beberapa kali ia membenamkan wajahnya sambil terus tersenyum.
"Arin... Arin... Arin... Kamu membuatku gila."
......................
"Kamu kenapa senyum-senyum terus Wa?" Nakula menatap heran pada Sadewa yang sedang duduk di anak tangga terakhir sambil menopang dagunya.
Hening, tak ada jawaban. Akhirnya Nakula ikut duduk di sebelah Sadewa.
"Sedang apa?!" Sadewa terkejut Nakula sudah ada di sebelahnya.
"Mengikutimu."
"Untuk apa?"
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku, jadi aku mengikutimu duduk disini."
"Kapan kamu bertanya?"
"Kamu tidak mendengar aku bertanya?"
"Tidak."
"Lupakan."
Sadewa mengerutkan dahi, ia kembali menatap ke depan. "Kemana dia?" ia menyadari gadis yang dipandanginya sejak tadi sudah tak ada disana.
"Siapa?"
"Arin."
"Ooooo.... Jadi dari tadi kamu sedang menatapnya."
Sejak kedatangan Mbak Inah, gadis itu sudah kembali pada tugasnya seperti semula.
"Gara-gara kamu Naku, aku tak tahu kemana dia pergi."
"Kau bangun pagi-pagi hanya untuk melihatnya bekerja?"
"Memangnya kenapa?"
Nakula berdiri dan memukul tengkuk Sadewa.
"Hei!" Sadewa tak terima, ia bergegas berdiri dan mengejar saudara kembarnya itu.
Nakula tak akan menerima pukulan Sadewa dengan suka rela, ia berlari sekuat tenaga menuju halaman. Kedua pemuda berusia 28 tahun itu berkejar-kejaran sama seperti yang sering mereka lakukan 20 tahun lalu. Jono yang sedang membersihkan mobil dan Pak Maman yang sedang berada di dekat pagar tersenyum geli melihat kejadian tersebut.
Tak disangka Nakula berlari ke halaman belakang, Nou yang sedang menjemur alat pelnya terkejut dengan aksi kedua pemuda itu. Bukan hanya Nou, tapi juga semua pekerja yang sedang melakukan tugasnya pun dibuat terheran-heran.
Saat berlari sudut mata Nakula menangkap bayangan Noushafarin. Ide gila terbit di pikirannya. Segera saja Nakula berlari menuju Nou yang melanjutkan pekerjaan.
"Ya ampun!" Nou memekik saat tiba-tiba Nakula telah berada di depannya. Ditambah lagi Tuan Muda itu memegang kedua lengan dan memutar tubuh mungil Nou. Dalam sekejap gadis itu sudah berbalik dan membeliakkan mata melihat Sadewa yang datang berlari.
"Arin, pindah! Awas kau Naku!"
"Hahahaha.... coba saja."
Noushafarin yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa pasrah tubuhnya bergerak kesana kemari dijadikan tameng oleh Nakula.
"Tu-tuan..."
"Jangan pakai dia Nakula! Hadapi aku langsung. Enak saja kau memukul kepalaku."
"Hahahaa... Tidak akan." Nakula tergelak dengan napas yang tersengal-sengal.
"Nakula!!! Sadewa!!!"
Kedua pemuda tersebut berhenti dan menoleh ke arah sumber suara, Noushafarin yang berada di tengah pun mengikuti arah pandang kedua Tuan Muda.
"Kalian bukan lagi anak TK!" Mama Kandi berkacak pinggang sambil menunjuk kedua putranya menggunakan spatula. Sepertinya dia sedang menggoreng sesuatu saat mendengar keributan di luar.
__ADS_1
"Mama, kenapa Mama memasak? Bukankah Mama belum boleh terlalu banyak beraktifitas?" Sadewa tak menghiraukan kemarahan Sang Mama saat melihat spatula di tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Ia pun bergegas menghampiri Mama Kandi dan diikuti oleh Nakula. Sementara Noushafarin kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mama bosan di kamar terus. Dan apa-apaan kalian berdua? Kasihan kan Arin jadi pusing di buat tameng."
Tak ada satu pun dari mereka berdua yang berani menjawab. "Kalau di luar rumah saja kalian kelihatan cool, berwibawa, terkesan dingin. Di rumah? Seperti anak-anak." Mama Kandi mengomel.
"Biarkan saja Ma, anggap saja mereka menghibur diri agar tidak stres karena beban pekerjaan." Papa Pandu muncul dari pintu halaman samping khusus jalan pekerja.
"Terserah Papa deh kalau begitu. Cepat bersiap, jangan terlambat ke kantor."
......................
Noushafarin berada di dalam lift yang akan membawanya bertemu Tuan Pandu. Siang ini ia mengantar bekal menggantikan Mang Jono.
"Selamat siang."
"Selamat siang, mari ikut saya." Sekretaris Li sudah mengetahui maksud kedatangan gadis di hadapannya, jadi ia segera menuju ruang Tuan Pandu.
Setelah mengetuk dan diijinkan masuk, pria itu segera membuka pintu serta mempersilahkan Nou masuk.
"Selamat siang Tuan Besar."
"Oh, kau sudah datang. Terima kasih ya." Tuan Pandu menghentikan pekerjaan saat melihat kedatangan Noushafarin.
Nou meletakkan makanan yang ia bawa di meja tamu yang berada di depan meja kerja Tuan Pandu.
"Arin, bisa tolong panggilkan Sadewa? Katakan padanya makan siang sudah tiba."
"Maaf. Tuan Sadewa saja, Tuan?"
"Iya, Nakula sedang keluar sebentar. Jadi dia tidak ikut makan siang bersama kami."
Nou mengangguk kecil. "Saya permisi Tuan."
Begitu keluar dan menutup pintu, gadis itu melangkah menuju meja Sekretaris Li.
"Maaf Tuan. Tuan Besar meminta saya untuk memanggil Tuan Muda Sadewa. Ruangannya yang mana?"
Kening Sekretaris itu berkerut samar. "Belok kanan ruang sebelah kiri." meski heran, ia tetap menunjukkan arahnya. Biasanya Tuan Pandu akan memanggil lewat sambungan telepon.
"Terima kasih, Tuan."
Noushafarin berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan. Sebelum mengetuk pintu, Nou menarik napas dalam-dalam. Sejak Tuan Pandu menyebut nama Sadewa, dada Nou sudah mulai berdebar.
"Masuk!" terdengar seruan memberi ijin dari dalam ruangan Sadewa.
Perlahan gadis itu membuka pintu dan segera masuk meski ragu. Ia membiarkan pintu tetap terbuka lebar. Ia melangkah jauh ke dalam ruangan itu, tak sopan jika memberi tahu maksud kedatangannya dari jauh.
"Tu-tuan, Tuan Besar memanggil." Noushafarin sedikit terbata saat mulai berbicara.
Sadewa terkejut saat mendengar suara gadis itu. Awalnya ia mengira Nakula atau staf lain yang masuk. Jadi ia mengacuhkan dan melanjutkan pekerjaannya.
"Sudah waktunya makan siang, Tuan." Nou kembali berbicara karena Sadewa tak merespon ucapannya. Pemuda itu hanya diam dan terus melihat dengan tatapan yang sulit diartikan.
Orang ini kenapa? Kok diam saja. Duhhh....mending keluar aja deh.
"Sa-saya permisi Tu-tuan."
Nou berbalik dan bergegas keluar, namun belum sampai di pintu Sadewa sudah melesat lebih dulu dan menutup pintu serta menguncinya.
Napas Nou tercekat, ia membeliakkan mata. "Ke-kenapa di-dikun-ci, Tu-tu-tuan?"
"Salah sendiri buru-buru keluar."
Aihhh...dianya yang diam terus. Kenapa malah aku yang salah.
"Saya kira Tuan marah karena saya masuk. Dari tadi Tuan diam terus."
"Dengan siapa kesini?"
"Taksi online, Tuan eh Mas." Nou teringat permintaan Sadewa.
Pemuda itu tersenyum dengan ralat yang dilakukan Noushafarin.
"Jono kemana?"
"Kang Jon..."
"Kang?!"
Nou seketika itu juga mendongak menatap Sadewa. "Iya, kan Mas melarang saya memanggilnya 'Mas'. Jadi saya panggil 'Akang' saja."
Kenapa semua panggilan itu terdengar manis dari mulut Arin?
"Bisa tidak nada bicaranya jangan dibuat manis saat menyebutnya panggilan untuk Jono?"
"Tapi, saya tidak dengan sengaja membuatnya terdengar manis." secara halus Nou menyangkal apa yang diucapkan Sadewa.
Pemuda itu menghela napas dengan kasar. Ia terdiam beberapa saat, entah apa yang ada dipikirannya.
__ADS_1
"Mas, saya...."
"Mau kemana?"
"Mau menunggu di sofa depan meja Sekretaris Li."
"Kamu nggak betah berlama-lama denganku?"
"Mas sudah ditunggu sama Tuan Besar."
"Kamu mengalihkan pembicaraan."
"Hanya mengingatkan Mas."
Sadewa mendengkus kesal.
"Saya permisi." Nou mencoba melewati Sadewa, namun pemuda itu kembali menghalangi jalan.
"Tidak boleh."
"Saya harus bagaimana?"
"Tidak tahu juga."
"Mas, kalau semakin lama disini nanti jam makan jadi mundur. Pekerjaan semakin menumpuk."
"Aku masih ingin melihat wajahmu."
"Melihat saya tidak akan membuat Mas kenyang."
"Kalau begitu aku akan memakanmu."
Nou menjengit mendengar itu. "Daging saya tidak enak."
"Sepertinya enak." Sadewa memindai tubuh Noushafarin dengan tatapan jenaka. Gadis itu mundur perlahan-lahan.
"Kenapa mundur-mundur terus?"
"Mengambil jarak, kalau terlalu dekat nanti langsung kena ngap."
Sadewa mengangkat satu alisnya. "Jadi kalau jauh bisa meleset?"
"Setidaknya bisa menghindar."
Tiba-tiba Sadewa melesat hendak menerjang gadis itu, refleks Nou menghindar dan berlari ke belakang sofa.
"Tu-tuan, tolong jangan gila."
"Kau menganggapku gila?"
"Hanya orang gila yang mau makan daging manusia."
"Kau yang sudah membuatku gila."
"Saya?"
"Iya. Jadi tanggung jawab."
"Tidak mau!"
"Kenapa?"
"Saya kan tidak melakukan apapun."
"Benarkah? Coba diingat lagi."
Nou terdiam sejenak dan berpikir. "Akhhh!!!" ia memekik saat Sadewa sudah memegang lengannya.
"Kamu lengah dan aku mendapatkanmu." pemuda itu menyeringai.
"Ja-jangan makan saya Tu-tuan eh Mas."
Sadewa tergelak, ia tak menyangka gadis dihadapannya ini akan menganggap serius ucapannya.
"Orientasi makanku masih normal." ucapnya sambil melepaskan tangan dari lengan Noushafarin. "Ayo, kita keluar."
Nou menarik napas lega, menyadari Tuan Mudanya hanya bercanda. Namun saat hampir mencapai pintu, Sadewa bergerak ke depan menghalangi dan menghentikan langkah Noushafarin sembari memandang gadis itu lekat-lekat.
Selama beberapa detik pandangan mereka bertemu, lalu Nou menoleh ke arah lain karena tak kuasa menahan debaran jantungnya saat bertatapan dengan Sadewa.
"Tolong jangan palingkan wajahmu. Aku hanya ingin memuaskan mataku memandangimu. Tak lebih dari itu." ucapan Sadewa terdengar sangat lembut membuai telinga Noushafarin. Hingga tanpa paksaan ia kembali mengarahkan wajah ke depan dan menguatkan hati membalas tatapan Sadewa.
Pemuda itu tersenyum lembut, tangannya terulur ke pipi Nou. Ia mendekatkan punggung tangannya kemudian membuat gerakan seperti membelai pipi itu tanpa menyentuhnya.
"Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang konyol." Sadewa berbalik dan membuka pintu, bahkan ia mempersilahkan Nou keluar lebih dulu.
Gadis itu berjalan menunduk sambil tersenyum, ia bahkan menggigit bibirnya untuk menekan perasaan yang membuncah dalam dada. Kamu manis banget deh Mas.
...****************...
__ADS_1
Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤