
Tak ada sepatah katapun terucap dari mulut Sadewa maupun Noushafarin, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Gadis itu menatap ke luar jendela menikmati pemandangan di sana. Entah benar-benar menikmati atau terpaksa menikmati karena tak tahu harus berbuat apa.
Kenapa nggak nyampek-nyampek sih? Badan udah kaku karena nggak berani bergerak. Perjalanan itu terasa sangat lama bagi Nou.
"Arin." Sadewa memecah keheningan.
"Iya Tuan."
"Kita akan lewat di depan sebuah supermarket, apakah tak ada bahan makanan yang ingin dibeli?"
"Tidak ada Tuan."
"Kamu menjawab tanpa berpikir dulu?"
"Karena memang masih banyak stoknya, Tuan."
Sadewa kembali diam, ia nampak berpikir.
"Tuan."
"Hmmm."
"Maaf sebelumnya."
"Ada apa?"
"Perasaan kok lama sekali sampainya Tuan. Dan jalannya tidak sama dengan yang kami lewati tadi."
Sadewa melirik gadis di sebelahnya itu sekilas. "Perasaan kamu saja."
Jika Sadewa sudah berkata seperti itu, Nou bisa apa. Lebih baik bungkam jika tidak ingin diturunkan di pinggir jalan.
Tidak ada percakapan lagi hingga mereka tiba di kediaman keluarga Wasesa. Nou segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu. Ia terkejut karena pintu masih dikunci.
Segera Nou menoleh untuk mengingatkan Sadewa, namun ia dibuat terkejut dengan tatapan pemuda itu yang sedang melihatnya dengan intens. Nou menunduk, Sadewa yang sedang melepas sabuk pengaman itu terlihat seperti ingin menerkamnya.
"Tu-tuan, pi-pintunya..."
Tiba-tiba Nou merasa gugup, tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya dan tangannya meremas ujung kaosnya.
"Panggil seperti di ruko tadi."
"Tapi..."
"Membantah lagi?" Sadewa terdengar tak suka.
"Maaf Tuan. Eh!" Nou menutup mulut. "Maaf, Mas." ralatnya takut-takut.
"Aku tak dengar." tiba-tiba saja ia mencondongkan tubuhnya, membuat Noushafarin terkesiap. Gadis itu refleks berjengit menjauhkan tubuhnya ke belakang.
"Aduh!" Nou memegangi kepalanya yang terbentur kaca jendela. Posisinya yang setengah berbalik saat mundur tadi membuat tubuhnya tidak seimbang.
"Astaga kau ini, ceroboh sekali."
Sadewa semakin mendekat dan hendak meraih kepala Nou. Siapapun yang melihat posisi mereka berdua akan jadi salah paham. Sadewa terlihat sedang merangkak mendekati Nou yang sudah terpojok.
"Berhenti Tuan!" seru Nou tiba-tiba dengan satu tangan menyentuh dada Sadewa.
Pemuda itu mengangkat satu alisnya dan menatap tangan Nou di dadanya.
"Maaf, saya bisa sendiri, Tuan." tegasnya.
"Terserah." Sadewa mundur dan segera membuka kunci.
Nou bergegas keluar dan menuju bagasi mobil untuk mengambil wadah-wadah makanan yang ia tata disana. Sedangkan Sadewa, ia langsung masuk ke rumah dan menuju ruang kerja.
"Selamat sore, Nyonya." sapa Noushafarin pada Anjani saat ia masuk ke dapur melalui pintu belakang.
"Sore Rin." Anjani yang sedang membersihkan kentang menoleh sejenak pada gadis itu. "Kok sendirian Rin? Mama mana?"
"Nyonya Kandi masih di lokasi pembangunan, Nyonya."
__ADS_1
"Trus kamu pulangnya sama siapa?"
"Dengan Tuan Sadewa, Nyonya."
Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya saja, melihat itu Noushafarin segera menuju rak untuk menyimpan kembali wadah makanan yang ia bawa.
"Sudah dicuci Rin?"
"Sudah Nyonya, di ruko tadi."
"Arin." Sadewa tiba-tiba sudah muncul di dapur. "Eh, hai Jani."
"Hai." Anjani tersenyum melihat kedatangan iparnya.
"Arin, tolong buatkan saya es jeruk."
"Baik, Tuan."
"Jani, aku akan kembali ke lapangan setelah ini. Kata Mama masaknya sedikit saja. Karena Papa dan Mama akan makan malam bersama klien."
"Kalau begitu pulangnya jangan kelamaan. Aku akan masak makanan kesukaan Naku."
"Kesukaanku?"
"Nanti Arin buatkan." Anjani tersenyum penuh arti menatap Noushafarin, tapi gadis itu tak bereaksi sedikit pun. Ia fokus membuat es jeruk pesanan Sadewa.
"Memangnya dia bisa masak?" Sadewa meragukan Noushafarin. Bahkan selesai bertanya ia segera pergi dari dapur. Membuat Anjani geleng-geleng kepala melihat tingkah iparnya.
"Nyonya, saya permisi membawa es jeruk Tuan dulu."
"Iya."
Setibanya di ruang tengah Nou baru sadar, Sadewa tak mengatakan harus dibawa kemana es jeruknya. Mencoba peruntungan, ia menuju pintu ruang kerja dan mengetuknya.
"Masuk."
Syukurlah, tebakanku benar. Nou mengangkat nampan yang ia letakkan di meja kecil dekat situ setelah membuka pintu.
"Tuan, es jeruknya."
"Letakkan disini saja." Sadewa memerintah tanpa mengalihkan mata dari laptopnya.
"Maaf Tuan, takutnya membasahi berkas di atas meja."
Sadewa mengerjap menatap kertas yang tak beraturan di mejanya kemudian menatap Noushafarin. Gadis itu hanya menunduk sambil tetap memegang nampan yang kosong.
Merasa tak ada perintah tambahan, Nou pamit kembali ke dapur. "Permisi Tuan."
"Mau kemana?"
"Kembali ke dapur, Tuan."
"Untuk apa?"
"Bekerja, Tuan." Semakin rese saja sih orang ini.
"Bagaimana kepalamu?"
"Maaf Tuan?"
"Yang tadi terantuk kaca."
"Oh itu. Kepala saya baik-baik saja, Tuan."
Sadewa memijat pelipisnya. "Semakin lama aku semakin suntuk mendengar Tuan Tuan Tuan dan Tuan!"
Nou mengangkat wajahnya dengan ekspresi bingung. "Jadi saya harus panggil bagaimana, Tuan?"
"Tuan lagi?? aarrghhh!" Sadewa menggeram, apalagi ekspresi wajah Nou yang polos saat bertanya.
Gadis itu berjingkat, tubuhnya mendeteksi signal bahaya.
__ADS_1
"Sa-saya permisi." ia cepat-cepat berbalik. Namun Sadewa sudah melesat lebih dulu dan menghalangi pintu.
"Tu-tuan."
"Panggil yang benar."
"Maaf?"
"Panggil yang benar!"
"Tuan Muda Sadewa Wasesa."
"Bukan itu."
Nou terdiam, sebenarnya ia tahu panggilan yang ingin di dengar oleh Tuan Mudanya, namun ia enggan.
"Kalau begitu jangan harap kau bisa keluar."
"Tapi, bukankan Tuan Pandu sudah menunggu?"
Satu alis Sadewa terangkat, senyum sinisnya tersungging. "Kau pikir bisa mengancam menggunakan nama Papa?"
"Bu-bukan Tuan, saya hanya mengingatkan." lirih Noushafarin seraya menunduk. Somebody, help me, hatinya merana.
"Kalau begitu, panggil yang benar dan tatap wajahku. Karena kalau terlambat aku akan bilang pada Papa kau yang menghambatku. Bukankah kau sangat memerlukan pekerjaan ini?"
Dasar kucing garrooooong, jemari Nou mencengkram nampan semakin kuat.
"Aku menunggu, waktuku masih banyak, namun tidak dengan waktumu." Sadewa tersenyum penuh kemenangan, sangat menyenangkan mengerjai gadis ini.
"M-mas."
"Aku tak mendengarnya Arin."
Nou kembali menggigit bibirnya, ia menoleh kesana kemari. Ya ampun Nou, kenapa aku jadi berdebar begini?
"Arin."
"Iya...Mas." Noushafarin mengerjap beberapa kali sambil memandang Sadewa. Pemuda itu tertegun sejenak.
"Arin." perlahan Sadewa membawa kakinya maju mendekati Noushafarin, matanya tertambat pada mata gadis itu. Begitu pun sebaliknya.
"Iya Mas." entah keberanian dari mana, ia dengan lancar mengucapkan kata yang diinginkan Sadewa dan membalas tatapan mata Tuan Mudanya. Tak menghiraukan debaran jantungnya yang semakin cepat hingga membuat napasnya tercekat.
"Jangan panggil Jono dengan kata itu juga."
Kerutan di dahi Noushafarin terlihat jelas. "Lalu?"
"Pikir saja sendiri." Sadewa melewati Noushafarin begitu saja. "Sudahlah! kau membuatku terlambat."
"A-apa?!!!" Noushafarin berbalik dan menatap Sadewa yang sedang minum es jeruknya dengan sorot mata kesal yang sangat terlihat. Debaran aneh di dadanya berubah menjadi rasa kesal.
Bukankah dia sendiri yang buang-buang waktu minta dipanggil 'Mas'?!! Manusia ini...aaarrghgghhhh, akan kucakar-cakar wajah menyebalkanmu itu.
Tangannya menggenggam nampan menyalurkan kekesalannya, rahangnya mengeras. Ia segera berbalik dengan cepat dan keluar tanpa permisi. Sadewa melihat kepergian Noushafarin sambil menyunggingkan senyum tipis.
Sepanjang jalan hingga tiba di dapur bibir Nou komat kamit, ia terus merutuki keisengan Tuan Mudanya. Tanpa sadar ia tiba di dapur dengan wajah yang belum berubah.
"Ada apa Rin?"
Noushafarin berjingkat, ia berbalik dengan tangan didada karena terkejut.
"Ti-tidak ada apa-apa, Nyonya." ucapnya sambil menetralisir keterkejutannya.
"Sadewa iseng lagi ya." tebak Anjani tepat.
Noushafarin hanya mengulas senyum canggung kemudian membantu Anjani menyiapkan bahan yang akan dimasak.
"Baru kali ini iparku itu iseng sama seorang gadis." ucap Anjani sambil melirik Noushafarin. Namun karena masih kesal, gadis itu lebih memilih mengabaikan perkataan Nyonya Muda tersebut.
Kalau dilihat bukan sekarang saja dia iseng, itu sih bawaan dari orok. Duh Mimi, kamu nyariin majikan kok yang anaknya kayak gini banget sih.
__ADS_1
...****************...