
Selama satu minggu Tatiana menemani Nou di Munich. Dan selama itu pula, ia sukses membuat adik sepupunya itu lebih memperhatikan kesehatan diri sendiri. Walau pun Tatiana tidak yakin, setelah kepulangannya ke Indonesia, apakah Nou akan tetap mengikuti sarannya atau malah kembali ke kebiasaan awal sebelum kedatangan Tatiana.
Patah hati yang dialami Nou membuatnya mencari cara agar tidak selalu mengingat Sadewa. Jatuh cinta untuk pertama kalinya di usia yang cukup matang, namun sayang hanya sesaat dan membuat Noushafarin terpuruk. Setiap insan punya cara sendiri untuk melupakan sakit hati mereka. Termasuk bekerja bagai robot yang tak mempunyai batas kekuatan.
Fokusnya sekarang hanya pada bagaimana menyerap semua ilmu yang ada dan menyelesaikan pendidikan dengan baik. Kadang bayangan Sadewa melintas, bahkan dalam mimpi. Namun Nou tak ingin ambil pusing dengan itu. Menangis pun tak ada gunanya, lebih baik meningkatkan kwalitas diri dalam bidang pekerjaan dari pada terus larut dalam lara.
"Bagaimana dia?" Darian yang menjemput Tatiana membuka percakapan dengan topik utama setelah ia melajukan mobil meninggalkan bandara.
"Tak baik. Dia lebih gila belajar dan bekerja dari sebelum mengenal Sadewa." Tatiana terlihat sedih mengingat keadaan Noushafarin.
Darian menghela napas berat. "Setidaknya kamu mengurusnya dengan baik selama satu minggu."
"Ya, tapi kurang lama."
"Maaf, Rumah Sakit juga membutuhkanmu." Darian bersungguh-sungguh.
"Tidak usah meminta maaf. Satu minggu bisa off saja aku sudah bersyukur. Aku malah tidak enak dengan Dokter lain. Mentang-mentang aku keponakan CEO jadi bisa seenaknya."
"Aku bilang ada urusan keluarga yang penting. Tapi memang benar kan?"
"Iya, kamu benar." Tatiana menghela napas. "Seandainya Bibi bisa menemani Nou disana."
"Kita tidak bisa meminta Bunda untuk melihatnya. Nanti Bunda akan tahu kejadian sebenarnya dan membuatnya semakin terpuruk dalam rasa bersalah."
"Tak menyangka jadi serunyam ini." Tatiana tersenyum getir. "Miranti pun tak pernah mengira, memberi bantuan pekerjaan pada Nou malah berakhir dengan membuat Nou mengalami patah hati."
"Sudahlah, tak ada gunanya menyesali masa lalu." Darian mengakhiri pembicaraan yang dipenuhi energi negatif itu. "Apartemen atau Rumah Sakit?"
"Rumah Sakit saja."
Darian mengangguk patuh dan mengarahkan kendaraannya ke Rumah Sakit Mitra. Tatiana sudah terbiasa seperti itu.
Sesampainya di Rumah Sakit, kedua saudara sepupu itu berpisah arah. Tatiana segera membawakan buku yang sudah dipesan Dokter Haykal dan Dokter Tora. Kedua Dokter tampan itu tahu Tatiana pergi ke Luar Negeri, hanya saja mereka tak mengetahui keperluannya.
Selesai memberi buku pada Dokter Haykal, Tatiana segera menemui Dokter Tora di ruangan pemuda itu. Karena pintunya terbuka, Tatiana berdiri di pintu dan berbicara tanpa melihat ke dalam ruangan terlebih dahulu.
"Dokter Tora ini buk...."
"Tatiana!" Nakula segera berdiri dari duduknya. Panggilan dari Nakula membuat tubuh Tatiana membeku seketika itu juga.
Selama Nyonya Srikandi dirawat, ia selalu berhasil menghindari pertemuan dengan Keluarga Wasesa. Namun ia lupa, tak selamanya ia bisa bermain petak umpet.
"Kalian saling kenal?" Dokter Tora menatap Nakula dan Dokter Tatiana bergantian.
"Ini buku yang kau pesan." Tatiana melangkah masuk dan menyerahkan buku itu pada Tora.
"Terima kasih Dokter."
"Hmm, aku permisi."
"Tatiana tunggu." Nakula mencekal lengan gadis cantik itu sebelum ia mencapai pintu.
Tatiana terdiam, ia sedang berusaha mengendalikan kemarahannya.
"Tolong jangan kucilkan aku." tiba-tiba Tora maju dan menutup serta mengunci pintu. "Kalian kenal dimana?"
"SMA." tanpa melepaskan tangan dan pandangannya dari Tatiana, Nakula menjawab pertanyaan Tora.
Tora mengangkat sebelah alisnya. "Dokter Tatiana, kenapa tidak pernah cerita?"
"Untuk apa?"
Pertanyaan ketus yang meluncur dari mulut Tatiana membuat Tora bungkam. Bukan hal yang baik, Tatiana sedang marah.
"Yahh, kamu benar." jawab Tora sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Tatiana mengibaskan tangan, berharap bisa lepas dari cekalan Nakula. Namun ternyata sia-sia saja.
"Tolong lepaskan saya, Tuan Wasesa." akhirnya Tatiana menatap tajam pada Nakula.
"Sudah lama aku mencarimu, Tia."
Tatiana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, panggilan spesial itu menimbulkan perih dari luka lama yang masih ada di hatinya.
"Anda salah orang." sahut Tatiana dingin.
"Aku tak salah, Nona Tatiana Young." Nakula berpindah menatap Tora. "Dia juga Dokter?"
Tora mengangguk. "Spesialis Anestesi."
Jawaban Tora sukses membuat pemuda itu mendapat tatapan intimidasi dari Tatiana. Dokter tampan itu sampai harus menelan salivanya dengan sudah payah.
"Tia, maafkan aku." Nakula memegang kedua bahu Tatiana agar tatapan gadis itu fokus kepadanya. "Aku benar-benar menyesal sudah..."
"Berpura-pura mencintai saya." Tatiana memotong ucapan Nakula. "Bukankah anda sangat bangga saat mengatakannya di depan teman-teman anda?"
Tora terhenyak, ia sampai menutup mulutnya, mendramatisir keadaan. Tak pernah ia bayangkan jika di masa lalu, Nakula pernah menyakiti teman seprofesinya ini yang ia kenal saat masih kuliah di Singapura.
"Ya, aku memang sebrengsek itu. Namun saat itu aku belum sadar kalau aku...." Nakula menatap Tatiana dalam-dalam. "Aku benar-benar mencintaimu. Tapi saat itu aku terlalu gengsi untuk mengakuinya."
"Omong kosong!" hardik Tatiana. "Dan sekarang seakan belum puas, saudara kembarmu melakukan hal yang sama pada adik sepupuku!"
"Adik sepupu?" Nakula terlihat bingung, Tatiana menggerakkan tangannya dan melepas tangan Nakula dari tubuhnya.
"Buka pintu itu atau aku akan mengadu pada Darian!" ia mengancam Tora.
"Tenanglah Dokter Tatiana, aku akan membuka pintu."
Tatiana segera keluar begitu Tora membukakan pintu untuknya. Saat Nakula ingin mencegah, Tora menghalangi.
"Katakan kepadaku, apa hubunganmu dengan Tatiana?"
Nakula menarik napas dalam-dalam dan menceritakan kejadian saat mereka kelas 3 SMA. Tora memijat pelipisnya dengan pelan.
"Aku tak menyangka, pisah sekolah denganku membuatmu jadi tak terkendali begitu." Tora menatap sinis pada Nakula.
"Begitulah." desah Nakula. "Dan apa maksud Tatiana tadi? Adik sepupu?"
"Kau benar-benar tidak tahu?"
"Tidak."
"Darian dan Noushafarin Armani adalah adik sepupu Tatiana. Mama Tatiana, Nyonya Bianca Armani adalah kakak kandung Tuan Bardia Armani."
"Kenapa wajah mereka tak terlalu mirip?"
"Tentu saja, wajah oriental Tatiana didapat dari Papanya." Tora tiba-tiba terdiam. "Tadi, Tatiana bilang 'saudara kembarmu melakukan hal yang sama pada adik sepupuku.' Bagaimana Tatiana tahu rencana Sadewa pada Noushafarin?"
"Rencana apa?" Nakula mengernyit.
"Tentu saja rencana membuat gadis itu jatuh cinta dan kemudian mencampakkannya."
"Apa kau gila? Sadewa itu benar-benar jatuh cinta pada Noushafarin."
"Apa?" Tora mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa?!"
"Aku tahu sekarang penyebab gadis itu pergi." ucap Tora kemudian. "Ayo temui Sadewa." Tora mengambil beberapa barangnya dan kemudian pergi bersama Nakula.
Tora sudah mengetahui cerita tentang Noushafarin yang merahasiakan identitasnya. Sadewa bercerita kepadanya saat pemuda itu meminta saran Tora sebelum menemui Darian.
__ADS_1
Nakula tiba di depan pintu ruangan Sadewa, sebelum masuk ia beradu pandang dengan Tora saat mendengar teriakan Sadewa dari dalam. Setelah menunggu beberapa saat, seorang pegawai keluar dengan wajah pucat pasi. Ia membungkuk hormat kemudian lari terbirit-birit.
"Kamu menakutinya Wa." ucap Nakula begitu melangkah masuk.
Di belakang meja kerja, Sadewa sedang duduk sambil memijat pelipisnya. Tora terkejut dengan penampilan pemuda itu. Entah sudah berapa lama Sadewa tak merawat tubuhnya. Rambutnya mulai panjang, dan jambang di pipinya pun dibiarkan tumbuh.
"Ada perlu apa?" ia berdiri dan pindah duduk di sofa.
"Memberi informasi penyebab Nou tak ingin menemuimu." jawab Nakula sambil duduk di sofa diikuti oleh Tora.
"Tahu darimana?"
"Tatiana Young."
Jawaban Nakula membuat Sadewa memperbaiki posisi duduknya.
"Kau bertemu dengannya?"
Nakula mengangguk dan tersenyum tipis, ia menoleh sesaat pada Tora.
"Tatiana juga seorang Dokter di Rumah Sakit Mitra."
"Kenapa tidak memberi tahu kami?" Sadewa menatap Tora dengan kesal.
"Mana aku tahu kalian kenal." jawab Tora dengan santainya. "Ingat saat kita bertemu di kafe dan mengatakan temanku mencari saudaranya?"
Nakula dan Sadewa mengangguk bersamaan. "Orang itu adalah Dokter Tatiana. Namun saat dia menceritakan kepadaku, dia tidak menunjukkan wajah Noushafarin atau pun menyebut namanya."
"Lalu apa hubungan Tatiana dengan Nou yang kabur dariku?" Sadewa menatap tamunya bergantian.
"Tatiana kakak sepupu Noushafarin. Tadi dia marah padaku dan berkata dirimu melakukan hal yang sama seperti yang kuperbuat kepadanya dulu." ucap Nakula dengan tatapan terluka.
"Darimana dia dapat informasi itu? Aku tak pernah menganggap Nou....." Sadewa terdiam. Kepalanya menoleh cepat melihat Tora. "Jangan-jangan, siang itu dia pura-pura tidur dan mendengar ucapanmu?"
"Itu yang aku pikirkan." Tora menjentikkan jarinya.
Sadewa menggeram sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku benar-benar mencintainya Tora. Aku jatuh cinta padanya. Tidak ada sedikit pun maksud untuk mempermainkannya saat aku menyatakan perasaanku."
"Ada yang tidak aku ketahui?" Nakula bergantian menatap Sadewa dan Tora.
"Siang itu kami berada di ruangan Nou. Aku melihat tingkah Sadewa yang begitu protektif pada gadis tersebut. Langsung saja aku bilang 'berhenti berakting saat target sedang tidur'. Aku bahkan mengingatkan ucapannya saat di kafe." Tora menjelaskan panjang lebar.
"Mana aku tahu Sadewa benar-benar jatuh cinta." imbuhnya lagi. "Saat ia ingin mengatakan sesuatu, saat itulah ia menerima telepon dari kantor polisi."
"Kalian pergi begitu saja?" alis Nakula bertaut.
"Iya, aku tak sempat melanjutkan bantahanku lagi saat itu. Kami kira dia memang benar-benar tidur." Sadewa memijat pelipisnya.
"Kita temui Darian sekarang. Dan jelaskan kesalah pahaman ini." ajak Nakula.
"Benar Wa, aku kan saksi sekaligus pelaku utama." Tora segera berdiri.
"Jadi kamu sudah sadar salahmu dimana?" Sadewa memicingkan mata.
"Sorry bro." Tora meringis sambil membentuk huruf V dengan jari di kedua tangannya.
"Tapi aku ragu." Sadewa terlihat lelah. "Apakah ini bisa membantu?"
"Setidaknya kita sudah berusaha. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti yang kuperbuat pada Tatiana. Aku menderita bertahun-tahun karena kehilangan jejaknya setelah hari itu." Nakula berdiri dan menepuk pundak Sadewa.
Sadewa menatap Nakula dalam-dalam. "Yahh, aku harus tetap berjuang."
...****************...
__ADS_1