
Sepanjang perjalanan Noushafarin hanya berdiam diri. Ia lebih memilih menatap keluar jendela. Sadewa mengerti kemarahan dan kesedihan yang dirasakan kekasihnya. Oleh sebab itu tanpa Nou sadari, Sadewa menghentikan mobilnya di area parkir sebuah taman yang cukup besar. Sadewa tidak mungkin membawa pulang Nou dengan kondisi hati seperti sekarang. Ia ingin menghibur dan menenangkan gadisnya lebih dulu.
"Lampiaskan saja padaku, jangan pendam kemarahanmu." ucap Sadewa sambil memegang pundak Noushafarin. "Maaf aku tak bisa menjagamu dengan baik hingga kau mendapat perlakuan tidak menyenangkan malam ini."
Perlahan Nou menoleh dan menatap Sadewa. Cukup lama keduanya saling bertatapan. Dari wajahnya, terlihat Noushafarin sedang mempertimbangkan sesuatu. Sadewa tidak memaksa, ia menunggu dengan sabar apa yang akan diucapkan Noushafarin.
"Aku....." Nou menarik napas dengan berat. "Tak suka dengan perkataan Nyonya Fitri."
"Siapapun pasti akan marah dan terluka jika dihina seperti tadi, dia sudah keterlaluan dan sangat kasar."
Noushafarin menggeleng pelan. "Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku tak suka mendengar Mas milik gadis lain, meski hanya sebatas khayalan mereka."
Sadewa mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan Noushafarin.
"Aku tak suka berbagi, meski ucapan Nyonya Fitri tidak benar."
Dengan susah payah pemuda itu menahan otot pipinya agar tidak bereaksi membentuk lengkungan di bibirnya.
"Mas adalah kekasihku, Mas calon suamiku. Aku tak suka ada gadis lain menginginkanmu. Dalam mimpi pun tidak boleh!"
"Tapi sayang, kita tidak bisa membatasi imajinasi seseorang." ucap Sadewa sambil mengusap tangan Noushafarin.
"Aku tahu memang tidak bisa, tapi aku....." Nou kembali menarik napas yang terlihat berat. "Cemburu." lanjutnya dengan lirih kemudian menunduk.
Sadewa tersenyum senang, ia menarik Noushafarin ke dalam pelukannya.
"Aku menyayangimu." kemudian dengan penuh perasaan ia mengecup puncak kepala Nou.
Pelukan Sadewa mampu menenangkan hati Noushafarin. Energi negatif seakan menguap begitu saja membuat Noushafarin merasa lebih baik.
"Mas." Nou memecah keheningan yang terjadi selama beberapa menit itu.
"Hmmm."
"Aku mulai kepanasan."
Sadewa terkekeh, ia mengurai pelukan mereka dan mencubit hidung kekasihnya.
"Mau jalan-jalan di luar?"
Setelah melihat keadaan sekitar, Nou menggeleng. "Kita pulang saja ya. Tidak apa-apa kan?"
"Tentu." ia mengecup pipi Noushafarin sekilas kemudian mengemudikan mobil meninggalkan taman tersebut.
......................
"Terima kasih untuk makan malamnya." ucap Noushafarin sambil melepas sabuk pengamannya.
"Sama-sama sayang." Sadewa mendekat dan mengecup bibir Nou. "Ayo, aku harus berpamitan pada Nenek juga."
Saat keduanya turun dari mobil, tampak Bunda Farena membuka pintu rumah utama.
"Selamat malam Bunda." keduanya kompak memberi salam.
"Selamat malam."
__ADS_1
"Nenek sudah tidur Bun?"
"Sudah, ada perlu?" Bunda menatap kedua sejoli itu bergantian.
"Saya ingin berpamitan, Tante."
"Kalau begitu masuklah, suamiku belum tidur."
Sadewa mengangguk dan mengikuti kedua wanita keluarga Armani itu dari belakang.
"Selamat malam Om." sapa Sadewa begitu melihat Bardia Armani yang sedang duduk santai sambil menatap layar ponselnya.
"Selamat malam. Kalian sudah pulang rupanya."
"Sudah Om."
"Duduklah Sadewa."
"Terima kasih Om."
"Ingin minum minuman hangat?"
"Tidak Om. Terima kasih."
"Begitu ya."
"Saya hanya sebentar Om. Hanya ingin menyapa dan melapor. Saya sudah mengantar Noushafarin pulang."
Bardia tertawa mendengar ucapan Sadewa. "Ya, kau memang memasuki kawasan wajib lapor."
Sadewa tersenyum kemudian menatap kekasihnya sejenak.
"Iya sayang, istirahatlah." jawab Ayah sambil mengangguk. "Ia terlihat semakin cantik jika sedang bahagia." imbuhnya sambil menatap Sadewa.
Pemuda itu merasa begitu sulit menelan salivanya. Sadewa menarik napas sejenak mengumpulkan keberanian.
"Sebenarnya, ada kejadian memalukan dan menyedihkan setelah kami makan."
"Ada apa?" Ayah mengubah posisi duduknya dan wajahnya terlihat serius.
Perubahan ekspresi yang sudah diperkirakan oleh Sadewa namun tetap terasa mengejutkan.
Pemuda itu mulai menceritakan peristiwa kekerasaan verbal yang dialami Noushafarin dan bagaimana mereka berdua menyelesaikannya.
Bunda Farena yang duduk di samping Ayah Bardia terlihat berkaca-kaca. Kedua tangannya mengepal sambil meremas ujung tunik yang ia gunakan. Ayah menyadari hal itu, ia merangkul istrinya dan mengusap lengan wanita itu.
"Aku tidak terima putriku dihina. Namun jika Noushafarin hanya meminta permohonan maaf Nyonya Fitri secara publik, aku akan menghormati itu."
"Tapi...."
"Dia sudah dewasa sayang, Nou pasti sudah memikirkan matang-matang hal ini." Bardia menenangkan Farena yang tampak sangat marah dan tidak terima dengan keputusan Noushafarin.
"Maaf, saya tidak bisa menjaganya dengan baik." imbuh Sadewa.
Ayah Bardia melambaikan tangannya. "Ini adalah kejadian tidak terduga. Mana kita tahu Nyonya Fitri dan anaknya sangat terobsesi untuk memilikimu."
Sadewa tersenyum kecut mendengar jawaban Tuan Bardia.
"Setidaknya kalian berdua pulang dengan selamat." pria paruh baya itu menambahkan.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi."
"Ya, hati-hati saat mengemudi."
"Tentu Om. Selamat malam."
"Selamat malam."
......................
Farena gelisah, meski berusaha untuk terlihat tenang, nyatanya ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya dari Sang Suami. Sepanjang makan pagi, Bardia sering mencuri pandang ke arah istrinya.
"Apa yang membuatmu gelisah?" akhirnya Bardia bisa bertanya setelah keduanya berada di ruang kerja. Farena yang sedang membantu suaminya memeriksa tas kerja otomatis menghentikan kegiatannya.
"Aku ingin tahu kondisi Nou. Tapi aku takut jika bertanya akan membuatnya kembali teringat penghinaan itu."
"Lakukan saja. Jika ia terluka, aku percaya kau bisa mengobatinya." Bardia menarik Farena ke dalam pelukannya. "Kau adalah ibu yang hebat, aku percaya kau bisa melakukannya."
Farena hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya. Sungguh, tak percuma mengutarakan isi hati pada suami.
Tak lama setelah suami dan putranya berangkat ke kantor, Farena mendatangi kamar putrinya.
"Nou, ini Bunda." ucapnya setelah mengetuk.
"Masuk saja Bun, tidak dikunci."
Bunda membuka pintu dan melihat Noushafarin sedang berkutat dengan laptop di atas sofa yang berada dekat jendela.
"Sedang sibuk?"
"Tidak juga Bun. Hanya membaca jurnal ilmiah yang baru dikirim Georgia." Nou menutup laptopnya. "Ada apa Bun?"
Bunda duduk di samping Nou. "Semalam Sadewa sudah cerita tentang kejadian setelah makan malam. Jadi sekarang Bunda mau tahu kondisi Nou."
Noushafarin menunduk dan menggigit bibirnya. "Nou malu Bun."
Farena refleks memeluk putrinya itu. "Katakan saja, Nou mau Bunda apain perempuan itu?"
"Bunda." Nou melepas pelukan Bundanya. "Kok begitu?"
"Karena dia sudah membuatmu malu sayang. Bunda gemas, pengen narik mulut lancang itu."
Noushafarin terkekeh melihat ekspresi Bundanya. Ia memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. "Nou memang malu dihina didepan umum Bun. Tapi Nou lebih malu karena sudah cemburu."
"Cemburu?"
"Iya Bun. Nou cemburu sama khayalan Nyonya Fitri itu."
"Nou, Bunda tidak mengerti."
Noushafarin melepas pelukannya. "Nou marah ada gadis lain yang menginginkan Mas Sadewa."
Bunda mengangkat kedua alisnya. "Tapi dia kan hanya mengkhayal Nou, hanya berimajinasi."
Noushafarin terkekeh menutupi rasa malunya. "Kan pertama tadi Nou sudah bilang, Nou malu." ucapnya sambil menahan senyum.
"Ya ampun anakku." Bunda menepuk dahinya.
......................
__ADS_1