
Noushafarin mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Matanya nanar menatap Farida yang sedang menangis pilu.
Ingatannya kembali pada kejadian yang ia lihat beberapa saat lalu. Bagaimana tubuh Sadewa berada di atas tubuh Farida yang pakaiannya sudah berantakan bahkan setengah telanjang.
Bernapas Nou, bernapas! ia berusaha menjaga kewarasannya meski yang ia lihat membuat darahnya mendidih. Lidahnya terasa kelu, tubuhnya bergetar menahan kemarahan yang menggelegak meminta pelepasan.
"Seperti yang sudah anda dengar Tuan. Saya tidak melakukan apapun padanya." jawab Sadewa tanpa rasa takut.
Noushafarin menatap Sadewa dan pemuda itu pun membalas tatapannya.
"Sekali lagi kukatakan, aku tak melakukan apapun kepadanya!"
Bugh!!!
Sadewa terjungkal, Tuan Bowo menyarangkan bogem mentah ke wajah pemuda itu.
Nou memekik, kedua tangannya menutup mulutnya. Sedang Nakula segera berlari menolong saudara kembarnya itu.
"Bowo!!!"
"Putramu sudah kurang ajar!!!" teriak Bowo tak kalah lantang membalas teriakan Pandu.
Sadewa yang sudah berdiri meminta Nakula untuk menjauh.
"Papa, jangan pukul Mas Sadewa." pinta Farida sambil terisak.
"Kau masih saja membelanya?" Bowo menatap Farida tak percaya. "Dia sudah melecehkanmu Farida."
"Aku tak melecehkannya." ujar Sadewa dengan santai.
"Apa?! Kau masih saja menyangkalnya?!" Bowo menatap nyalang pada Sadewa.
"Sekali lagi kau memukulnya, aku tak akan segan lagi kepadamu." Pandu memperingatkan, ia ingin mendekat namun sekali lagi Nakula menghadangnya.
Bowo kembali mendekati Sadewa dan mencengkram bajunya. "Kami melihatnya sendiri dengan mata kepala kami!" geram Bowo.
"Bahkan calon istrimu yang melihatnya lebih dulu!" ucap Bowo sambil menunjuk Noushafarin yang masih terdiam.
"Yang kita lihat belum tentu benar." ucapan Noushafarin membuat Bowo terperangah. Apalagi gadis itu dengan santainya berjalan masuk dan duduk di sofa diikuti oleh Pandu dan Nakula.
"Sudah seperti ini, kamu juga membelanya? Sebegitu besar kah cintamu pada pemuda laknat ini Nak?" Bowo menatap Noushafarin dengan iba.
"Sadarlah! Yang kau percaya tidak bisa menjaga kepercayaanmu." imbuh Bowo.
__ADS_1
"Lihatlah! Kau sudah menyakiti dua gadis sekaligus!" ucap Bowo pada Sadewa lagi.
"Dimana hatimu?!" Bowo menarik kemeja Sadewa dengan kasar hingga kancingnya lepas dan berserakan.
Bowo terdiam melihat tubuh Sadewa. "Ap-apa ini?" ia menunjuk kabel hitam yang sangat kecil yang berada di balik kemeja Sadewa.
"Kabel kamera." jawab Nakula dengan santai.
Tiba-tiba Farida berhenti menangis, ia tak mampu menyembunyikan kekagetannya. Matanya melebar menatap Sadewa yang kini tengah menatapnya dengan sinis.
Sadewa merapikan kemejanya walaupun sudah tidak bisa tertutup rapi. Pemuda itu mendekati meja kecil di samping televisi yang ada di ruangannya dan mengambil remote.
"Katakan yang sebenarnya atau aku yang mengatakannya!" Sadewa menatap Farida dengan datar.
"Me-mengatakan ap-apa." Farida berpura-pura tak tahu arah pembicaraan Sadewa.
"Masih berlagak menjadi korban, huh?!" Sadewa tersenyum tipis.
"Kalau kau masih menyangkal, mari kita lihat rekaman CCTV." ucap Bowo.
"CCTV di ruanganku rusak, tadi pagi pihak keamanan memberi tahu." ujar Sadewa sambil berjalan mengambil ponselnya dan mengutak-atik sesuatu.
"Bagaimana bisa? Kebetulan yang mencurigakan." Bowo menghampiri Farida. "Ayo, kita akan melapor pada polisi."
"Dia tidak berhak mendapatkan belas kasihanmu sayang." Bowo menuntun putrinya untuk pergi dari ruangan itu. "Aku kecewa padamu Pandu. Kerjasama kita lebih baik dibatalkan saja."
Ketika Bowo dan Farida hampir mencapai pintu, tiba-tiba terdengar suara Farida dari pengeras suara. Pasangan ayah dan anak itu berhenti dan berbalik, rupanya televisi sudah menyala dan menampilkan video saat Farida baru tiba dan berbicara dengan Sadewa.
"Bre****k!!! Bre****k!!!" tiba-tiba Farida mengumpat. Dengan tatapan nyalang ia berjalan mendekati televisi. Namun dengan sigap Nakula segera menarik tangan gadis itu dan menghempaskannya ke belakang."
"Mari kita nobar." ucap Nakula ketus kemudian tersenyum sinis.
Farida panik, apalagi saat ia melihat Papanya sedang menatap layar plasma yang menayangkan kejadian tadi.
Nakula tidak berbohong saat mengatakan kabel yang berada di balik kemeja Sadewa adalah kabel kamera yang juga dilengkapi dengan microphone. Dan saat ini mereka sedang menyaksikan hasil rekaman kamera tersembunyi itu.
"Papa! Papa!" Farida berusaha menutup mata Bowo agar berhenti melihat rekaman tadi.
Namun sekalipun Bowo tidak melihat, suara Farida dan Sadewa terdengar jelas. Bagaimana Sadewa menolak Farida bahkan menghina gadis itu. Dan terdengar bagaimana Farida dengan tidak tahu malunya menawarkan tubuhnya.
Bowo memejamkan matanya, kekecewaan yang lebih besar datang mendera. Lebih sakit dari saat ia melihat posisi intim Sadewa dengan Farida.
Pria itu kecewa, ia bahkan menutup wajah dengan kedua tangannya dan mulai menangis.
__ADS_1
"Papa, Papa, maaf." Farida yang melihat orang tuanya menangis tak ayal ikut meneteskan air mata. "Rekaman itu palsu Pa."
"Sadewa menjebak akhhh!!!" Farida merasakan nyeri di pipinya akibat tamparan Bowo.
Pandu berdiri dan segera menahan Bowo yang terlihat hendak kembali menyerang Farida.
Gadis itu cepat-cepat kembali berdiri dan menghampiri Bowo.
"Ternyata benar, disini kau rupanya wanita ja***g!!!" teriakan seorang wanita membuat semua yang ada di ruangan menoleh ke pintu.
Tampak Della tengah berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal. Ia terlihat dipenuhi kemarahan. Dengan cepat ia berjalan masuk dan segera menarik Farida dengan kasar.
Belum sempat yang ada di ruangan mencerna maksud perkataan Della, terdengar jeritan Farisa saat Della mulai memukulinya.
"Pe***u*!!! Tidak tahu diri!!!" Della memukuli Farida dengan membabi buta.
Nakula yang berada di dekat situ segera menangkap Della dari belakang dan menariknya agar berhenti menyerang Farida.
Della tidak terima, ia meronta-ronta saat Nakula memindahkannya. Bahkan saat ini Sadewa sudah ikut memeganginya.
Bowo menatap Farida dengan nanar, ia terlalu terkejut dengan perlakuan Della pada putrinya serta ucapan wanita itu.
"Lepas!!! Lepaskan aku!!!" Della meronta. "Dia menggoda suamiku! Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya!" racau Della.
Nakula dan Sadewa saling pandang, mereka segera melepaskan Della. Namun saat wanita itu hendak kembali menerjang Farida, keduanya sontak menghadang.
"Jangan lindungi dia!!! Dia sudah berkali-kali tidur dengan Salton!!!" Della berteriak histeris, kemudian ia menepuk dadanya yang terasa sesak.
Noushafarin tergerak oleh rasa iba, ia mendekati Della dan memeluk wanita itu. Della menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Nou.
Seketika itu juga Bowo ambruk tak sadarkan diri.
"Bo-Bowo!!!" Pandu terkejut dan mengguncang tubuh rekannya.
"Papaaaaa!!!" Farida menjerit dan berlari memeluk tubuh Bowo.
Sadewa segera menyambar pesawat telepon dan berbicara dengan pihak keamanan.
"Ba-bagaimana ini?" Noushafarin ingin memeriksa keadaan Tuan Bowo, namun Della masih memeluknya erat sambil menangis. Jika ia melepas Della, maka wanita itu bisa kembali menyerang Farida. Dan ruangan Sadewa akan berakhir menjadi TKP pembunuhan.
Astaga, keadaan ini benar-benar kacau. Noushafarin menatap ruangan Sadewa dengan lesu.
......................
__ADS_1