Noushafarin

Noushafarin
Bab 7


__ADS_3

Dua hari kemudian...


"Arin." Anjani yang baru selesai mengantar teh berjalan menghampiri.


"Iya Nyonya."


"Nanti jam 2 siang kamu temani kami ke Green House ya."


"Kami?"


"Iya, saya sama Mama."


"Nyonya besar sudah sehat?"


"Katanya sih sudah, makanya Mama sudah tidak sabar ingin beraktifitas. Katanya ingin punya tanaman baru."


Arin terlihat ragu, karena ia takut pegawai dan pemilik toko itu mengenalinya. Waktu masih sekolah Bunda dan Nenek sering membawanya kesana untuk menambah koleksi tanaman di rumah. Meski sudah sangat lama, daya ingat seseorang siapa yang tahu.


"Mama maunya kamu yang ikut, lagian yang lain sudah diberi tugas tambahan." Anjani melihat jelas keraguan di wajah gadis itu. Sejujurnya dia juga tidak mengerti, mengapa mertuanya ingin mengajak Arin.


"Iy-iya Nyonya." Arin melanjutkan pekerjaannya agar bisa siap lebih awal.


Green House adalah toko yang menjual tanaman serta hal-hal yang berkaitan dengan berkebun. Bahkan ada kafe di dalamnya dengan konsep kebun yang asri. Arin berjalan di belakang majikannya dengan menunduk. Ia bisa sedikit bernapas lega karena pemilik toko sedang pergi berlibur.


"Anjani, kamu sama Arin pilih bunga Anggrek ya. Mama mau lihat bonsai dulu. Kalau sudah selesai, kalian nyusul Mama ya. Bagian bonsai ada di dekat kafe."


"Iya Ma. Ayo Arin."


Ketiganya lantas berpisah, Nyonya Kandi menuju lokasi yang memajang berbagai jenis tanaman bonsai. Saat sedang melihat-lihat tanaman yang akan dibeli, Nyonya Kandi melihat sosok tubuh seseorang yang ia kenal belum lama ini. Ia melangkah dengan cepat sambil tersenyum.


"Jeng Farena, apa kabar?" ucapnya sambil menepuk pelan bahu wanita di depan yang sedang berdiri membelakanginya.


"Eh, Jeng Kandi. Kabar saya baik." Nyonya Farena tersenyum gembira melihat sosok yang menyapanya. "Sendirian Jeng?"


"Sama menantu dan ART nih." jawabnya dengan bahasa tubuh mengarah ke belakang. "Tapi mereka lagi milih Anggrek."


"Eh iya, ada Anggrek baru yang datang. Tadi saya juga sudah kesana lihat."


"Jeng Farena beli juga."


"Enggak Jeng, kurang pas di hati."


Keduanya terkekeh pelan, lantas mengobrol sambil memilih bonsai. Mereka berjalan beriringan mengitari lokasi itu dengan perlahan dan diselingi canda tawa.


Nyonya Kandi dan Nyonya Farena berkenalan di sebuah acara amal. Sebenarnya Tuan Bardia dan Tuan Pandu sudah lama kenal, akan tetapi karena istri mereka jarang menemani saat menghadiri sebuah pesta, jadilah mereka tak pernah bertemu satu dengan yang lain. Perbedaan jenis usaha pun membuat kedua keluarga tersebut jarang berinteraksi.


Tiga puluh menit mengitari lokasi itu, beberapa bonsai sudah mereka pilih. Langkah keduanya membawa mereka ke area yang dekat dengan kafe. Pada saat itulah netra Nyonya Kandi terpaku pada sebuah pemandangan mengerikan yang terjadi di salah satu sudut kafe. Letaknya terkesan tersembunyi karena berada di antara rimbunnya bunga.


Disana ia melihat calon menantunya sedang bercumbu dengan seorang pemuda yang tak ia kenal. Keduanya begitu larut dalam suasana hingga tak menyadari dua pasang mata sedang menatap dengan pandangan kecewa, terluka dan jijik.


Tangan Nyonya Kandi mengepal di kedua sisi tubuh, rahangnya mengatup rapat, bahkan napasnya memburu. Ia sampai memejamkan mata untuk menguasai emosi yang menggelegak, tak ingin Nyonya Farena Armani merasa tak nyaman dengan roman mukanya. Akan meninggalkan kesan tak baik pada teman baru jika Nyonya Kandi mengikuti amarahnya.


Hening, tak ada satu pun yang berbicara. Nyonya Kandi lantas menoleh pada Nyonya Farena yang sedang mengarahkan kamera handphonenya.


"Sedang apa Jeng?" sapa Nyonya Kandi setelah berhasil menguasai diri.


"Oh, sedang memotret sesuatu untuk ditunjukkan pada Ibu."


"Minta pertimbangan tanaman yang mau dipilih ya." tebak Nyonya Kandi.


"Eh. Oh iya." Nyonya Farena terlihat gugup, raut wajahnya pun aneh.


Disisi lain, Anjani sedang melihat beberapa mawar yang areanya berdampingan dengan bonsai. Ia meminta Arin menyusul Nyonya Kandi, mana tahu Sang Mertua memerlukan bantuan.


Arin yang pergi menyusul Nyonya Kandi segera menghentikan langkahnya saat melihat sejoli yang sedang bermesraan di sudut kafe. Merasa mengenali pemuda di depannya, Arin memutar dan mencari tempat yang dekat dengan sepasang kekasih itu tanpa ketahuan saat mengintai.

__ADS_1


"Kak Salton." desisnya lirih setelah melihat wajah pemuda yang baru mengakhiri cumbuan dan menarik wajahnya dari si gadis. "Duh, seandainya aku memegang handphone, akan kuabadikan kejadian ini."


Tangan gadis itu mengepal, merasa kesal dengan pemuda di hadapannya. Pemuda yang membuatnya terpaksa lari dari rumah dan nekat menjadi pembantu demi mengumpulkan uang untuk kembali ke Jerman.


"Ughhh!!! Aku benci pemuda itu, dasar playboy!!!" geramnya sambil berbalik mencari Sang Majikan yang tadi sempat terlihat sebelum ia mengendap-endap mengintai Salton. Gadis itu berbalik menyusuri arah dia datang tadi sambil menghentak-hentakkan kaki menyalurkan kekesalannya.


"Arin, darimana?" Nyonya Kandi sudah muncul di hadapannya.


"Eh, Nyonya." Arin terkejut sambil memegangi dada. "Saya mencari Nyonya, tapi sepertinya saya tersesat." kilah Arin sambil menunduk.


"Trus Anjani dimana?"


"Nyonya Anjani sedang melihat-lihat bunga mawar. Ia meminta saya untuk mencari Nyonya, mana tahu Nyonya membutuhkan bantuan."


"Oo begitu." Nyonya Kandi tersenyum mengetahui menantu mengkhawatirkan dirinya. "Tadi ada orang yang membantu kami dan membawa tanaman ke kasir."


"Kami?" alis Arin bertaut sambil memiringkan kepalanya.


"Iya, tadi saya bertemu teman disini." jawab Nyonya Kandi sambil tersenyum geli dengan reaksi ARTnya itu. "Ayo, saya juga mau melihat mawar."


"Baik Nyonya."


***


Sepanjang perjalanan pulang Farena tak henti-hentinya menangis. Ia sedih mengingat Noushafarin yang kabur dari rumah karena akan dinikahkan dengan Salton. Farena pun sudah menelepon suaminya dan mengirim foto serta video tidak senonoh Salton dengan seorang gadis di kafe Green House.


"Sebelum berbicara dengan ibu, pastikan mobil dan sopir telah siap di depan pintu rumah. Serta beberapa pelayan berdiri tak jauh dari kalian." itulah pesan Bardia sebelum Farena memutus sambungan telepon.


Mereka takut kabar yang akan dibawa membuat Ibu Faireh terkejut dan kesehatannya terganggu.


***


"Kurang ajar! Pemuda itu mempermainkanku!" Faireh menggebrak meja membuat Farena menjengit. "Hubungkan aku dengan Tuan Triantono sekarang juga."


"Ba-baik ibu." Farena segera menelepon calon besannya, atau lebih tepatnya mantan calon besan. Hatinya berdesir penuh kebahagiaan. Nou sayangku, kamu dimana nak? Kamu akan bebas dari perjodohan ini, batin Farena.


"....."


"Ibu Armani ingin berbicara."


"....."


Farena menyerahkan handphonenya pada Ibu Mertua. "Ibu, silahkan."


"Tuan Triantono."


"....."


"Maaf jika saya berbicara melalui sambungan telepon."


"....."


"Langsung saja. Putra anda bermesraan dengan seorang gadis di siang bolong." sesepuh Keluarga Armani itu menjeda kalimatnya sambil memejamkan mata. "Artinya dia sudah berbohong pada saya saat mengatakan tak memiliki kekasih. Oleh sebab itu, pernikahan Salton dan Noushafarin saya batalkan." suara Nyonya Faireh terdengar bergetar menahan luapan emosi.


"...."


"Saya akan mengirim bukti foto dan videonya sekarang juga."


"...."


"Jangan khawatir, saya pastikan Bardia tidak akan membatalkan kerja sama pembangunan klinik baru kami. Keluarga kami bisa membedakan urusan pekerjaan dan keluarga." senyum sinis terlihat jelas di wajah sesepuh Keluarga Armani itu.


"...."


"Ya, Selamat siang."

__ADS_1


Nyonya Faireh tertunduk lesu. "Farena, kirim foto dan video tadi ke Tuan Triantono, suamimu dan Darian."


"Maafkan kelancangan saya ibu, sebelum berbicara pada ibu saya sudah menceritakan semuanya pada Bardia serta mengirim foto dan video. Saya meminta pertimbangannya memberikan kabar ini mengingat kesehatan ibu......"


Farena tak melanjutkan kalimatnya karena Ibu mertuanya telah berdiri dan memeluknya erat.


"Seharusnya ibu yang meminta maaf. Secara sepihak ibu mengatur pernikahan Noushafarin tanpa memikirkan perasaan kalian sebagai orang tua. Dan saat ada masalah memalukan seperti ini kalian malah lebih memikirkan kondisiku." Nyonya Faireh mulai menangis saat memeluk menantunya.


"Maafkan keegoisan mertuamu ini Farena. Maafkan ibu karena sudah membuat Noushafarin menderita, membuatnya kabur, menghilang tanpa berita seperti ini."


Farena tak tahan lagi mendengar penuturan mertuanya, ia pun ikut menangis. Keduanya terisak saling berpelukan.


"Noushafarin, cucuku. Dimana kamu sayang?!" Nyonya Faireh semakin histeris sampai akhirnya ia tak sadarkan diri.


"Ibuuuu!" Farena sekuat tenaga menopang tubuh mertuanya yang lemah. Namun karena tak siap keduanya jatuh. "Tolong! Tolong!" para pelayan yang telah siap segera muncul dan memapah tubuh Nyonya Besar menuju mobil yang menunggu di depan pintu.


***


Disaat yang sama, Nyonya Kandi tiba di kantor Nindya Karya dengan wajah penuh kemarahan. Ia bahkan menggedor ruang kerja Sadewa seakan hendak meruntuhkannya. Ia memerintahkan Arin menunggu di depan meja kerja sekretaris suaminya. Sedangkan Anjani sudah masuk ke dalam ruangan suaminya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Ada apa, Ma?" Sadewa yang membuka pintu terkejut dengan aura menakutkan yang menguar dari tubuh Mamanya.


"Sudah berapa kali Mama bilang, jauhi Della! Dia bukan gadis baik-baik!"


Sadewa pias. "A-apa maksud Mama?"


"Mama melihat dengan mata kepala sendiri, ia bercumbu dengan seorang pemuda di kafe Green House."


Sadewa terdiam, lidahnya kelu. Kali ini Mama sendiri yang telah menangkap basah pengkhianatan Della.


"Ma, aku..."


"Cukup!!!" Mama Kandi mengangkat tangan kanannya di depan wajah Sadewa. "Mama tidak ingin mendengar pembelaan apapun tentang Della." setelah berkata demikian ia segera keluar dan menuju ruangan suaminya.


Sadewa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aarrghhhh!!!"geramnya dengan melayangkan tinju ke udara. Pemuda itu mengambil ponsel dan melangkah dengan lebar menuju tangga darurat.


Namun begitu ia berbelok melewati lift, ia terkejut melihat sosok Arin yang akan masuk toilet wanita. Pemuda itu segera berlari dan menangkap lengan ART keluarganya.


"Ikut aku!" serunya sambil menyeret gadis itu dan membuka pintu menuju tangga darurat.


"Tuan muda!" pekik Arin menahan sakit.


"Mengapa kau tak menghentikan Mama?!"


"Menghentikan bagaimana Tuan?!"


"Berhenti pura-pura tak mengerti!"


Arin memejamkan mata, dan menarik napas. Ia berusaha tidak terpengaruh emosi Sadewa, Arin sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Tuan, saya sungguh tak paham." ucapnya melunak.


"Kau ja..."


"Maaf Tuan, saya sudah kebelet." Arin segera berlari meninggalkan Sadewa.


Pemuda itu kehilangan kata-katanya saat mendengar kalimat terakhir Arin. Ia hanya bisa menggeram sambil menarik rambut dengan kasar. Begitu keluar ia berpapasan dengan OB yang memakai name tag Udin, pria itu terlihat menenteng pel dan ember.


Sadewa segera merebut ember itu dan membantingnya sekuat tenaga. Belum puas, ia bahkan menginjak-injak wadah itu sampai ember tersebut pecah. Tanpa menghiraukan Udin yang terpaku menatap ember, Sadewa pergi begitu saja.


"Dipecahin lagi." lirih Udin sedih. Hhhhh


***

__ADS_1


Ditunggu vote, like dan komennya❤❤❤❤❤


__ADS_2