
Tubuh Sadewa terasa kaku, Darian menatapnya dan Nakula secara bergantian dengan ekspresi yang tidak terbaca setelah ia menceritakan semua kejadian. Mulai dari bagaimana mereka bertemu hingga akhirnya berpisah. Nakula pun ikut membeberkan cerita perihal masa lalunya bersama Tatiana.
"Mengenai persoalan Tatiana, saya sudah lama mengetahuinya. Sebenarnya saya sangat ingin menghajar anda, Tuan Nakula. Tapi yahh, itu hanyalah masa lalu kalian berdua." Darian menyeringai.
Tora menelan salivanya dengan kasar, ia segera menghabiskan jus pesanannya. Dalam hatinya ia hanya bisa terus berdoa, agar Darian tidak menyeretnya masuk ke dalam masalah Wasesa bersaudara. Ia sangat tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
"Aku minta maaf." ucap Nakula sambil menundukkan pandangannya. "Setelah aku kehilangan jejak Tatiana, aku baru sadar kalau aku sangat mencintainya."
Darian tersenyum sinis. "Terkadang kita harus mengalami dulu yang namanya kehilangan untuk bisa menyadari arti kehadiran seseorang."
"Tapi Sadewa tidak seperti itu." Nakula membela saudaranya. "Sudah berbulan-bulan dia..."
"Saya tahu." jawab Darian singkat, kemudian terdiam beberapa saat.
Tak ada yang berani bersuara, mereka merasa gugup menantikan ucapan Darian yang selanjutnya.
"Anda benar-benar mencintai adik saya?" Darian menatap Sadewa dalam-dalam.
"Iya, saya mencintainya." jawab Sadewa dengan tegas.
Darian mengangguk-angguk. "Baiklah, saya akan memberimu kesempatan untuk mendekatinya."
"Benarkah?" saking senangnya Sadewa sampai memajukan duduknya dan mencondongkan tubuhnya.
"Ya, tapi tidak sekarang." Darian tersenyum sinis.
"Lalu?" semangat Sadewa meredup.
"Tunggu sampai dia kembali ke tanah air. Baru anda bisa mendekatinya lagi dan membuktikan ucapan anda."
"Aku akan menunggunya." Sadewa berujar dengan penuh keyakinan. "Tapi bagaimana jika di Jerman ia menjalin hubungan dengan pemuda lain?"
"Aku akan memastikan Noushafarin tidak menjalin hubungan dengan siapa pun disana." Darian memperbaiki cara duduknya. "Namun jika saat ia pulang dan ada pemuda lain yang memikat hatinya, aku sudah tidak bisa melarangnya."
"Aku tahu." Sadewa tersenyum tipis.
...****************...
Nakula dan Sadewa memasuki rumah dengan kepala tertunduk, mereka terlihat sangat lelah.
"Selamat sore Ma." keduanya memberi salam saat melihat Sang Mama datang dari dapur.
"Selamat sore. Kalian lelah sekali ya."
Tak ada jawaban, keduanya tersenyum tipis.
"Malam ini ada teman lama Papa berkunjung, jadi makan malamnya sama-sama kami. Bisa kan?"
"Bisa Ma." Nakula tersenyum dan Sadewa hanya mengangguk. Keduanya lantas naik ke lantai dua untuk beristirahat.
__ADS_1
Sadewa merebahkan tubuh di pembaringan. Pikirannya menerawang mengingat wajah gadis yang sangat ia rindukan.
"Noushafarin, Mas rindu kamu sayang." lirihnya, ia mengusap wajah dengan kasar.
Andai waktu bisa diputar kembali, ia pasti tidak akan menyia-nyiakan keberadaan gadis itu selama bekerja di kediaman mereka. Atau ia akan membantah Tora saat itu juga dan mengungkapkan kebenarannya. Namun semua sudah terjadi, ia tidak menyangka menjelaskan dan meminta maaf akan menjadi sesulit ini.
Setelah Nakula mengetuk pintu kamarnya, barulah Sadewa keluar untuk bergabung dengan tamu mereka.
Di ruang tamu tampak sepasang suami istri dan seorang gadis tengah bercakap-cakap dengan Pandu dan Srikandi. Ketika melihat kedatangan keduanya, gadis tadi terang-terangan menatap putra-putra Pandu dengan penuh kekaguman.
Namun saat Sadewa balas menatapnya, gadis itu pura-pura tersenyum malu-malu.
"Gadis itu membuat aku mau muntah." Sadewa berbisik pada Nakula.
"Bertahanlah, aku pun ngeri dengan senyum malu-malu monyetnya itu." balas Nakula.
"Kucing." Sadewa memperbaiki ucapan Nakula. Yang dikoreksi hanya mengangkat bahu.
"Jalannya lama banget, sekarang malah bisik-bisikan." tegur Mama Kandi.
"Selamat malam semuanya. Maaf terlambat." Nakula berbasa basi.
"Malam, ayo duduk." Pandu mengajak putranya bergabung. "Nah, Bowo, ini adalah putra-putraku. Nakula dan Sadewa."
Pandu mengenalkan anak-anaknya pada teman lamanya. Nakula dan Sadewa menjabat tangan ketiga tamu mereka sambil menyebut nama.
"Tampan-tampan." Fitri, istri dari Bowo memuji. "Ini anak gadis kami, namanya Farida."
"Dari surat kabar, Om mendengar istrimu meninggal beberapa bulan lalu. Kami turut berduka cita, Nakula." ucap Om Bowo tulus.
"Terima kasih Om." Nakula terlihat tenang mendengar Anjani kembali diungkit.
"Sudah waktunya makan malam, ayo kita semua pindah ke ruang makan." ajak Srikandi pada semua yang ada di ruangan.
Saat makan malam berlangsung, Farida yang berhadapan dengan Sadewa terang-terangan menatap pemuda itu. Saat Sadewa tak sengaja melihatnya, ia akan menunduk dan tersenyum malu. Namun Sadewa tak ambil pusing, ia melanjutkan maksnnya tanpa sedikit pun bersuara.
Selama makan malam berlangsung, Pandu dan Bowo terlibat pembicaraan ringan, sesekali Srikandi akan ikut menimpali. Di sisi lain, Fitri menyenggol tangan Farida tanpa sepengetahuan yang lainnya, ibu dan anak itu terlihat saling memberi kode melalui mata.
Tak lama kemudian Sadewa mengulurkan tangan hendak memegang sendok sambal goreng kentang. Ia berniat mengambil makanan tersebut dan meletakkan ke piringnya. Tanpa ia duga, di saat bersamaan tangan Farida juga akan memegang sendok tersebut hingga tangan mereka bersentuhan.
"Eh, maaf Mas." Farida tersipu.
"Silahkan duluan." kata Sadewa datar.
"Tidak, Mas saja yang duluan."
"Kalau begitu Farida saja yang ambilkan untuk Nak Sadewa." Fitri memberi saran. Percakapan kecil itu menarik perhatian Pandu, Srikandi dan Bowo.
"Iya Ma." Farida segera menyendokkan makanan tersebut.
__ADS_1
"Tidak perlu, terima kasih." Sadewa menolak dan melanjutkan makannya.
Terlihat jelas kekecewaan di mata Farida, ia melirik Mamanya sekilas. Sedangkan Srikandi yang sedari tadi memperhatikan tamu wanitanya itu menunduk untuk menyembunyikan senyum sinisnya.
Kunjungan Keluarga Bowo ternyata lebih lama dari yang Nakula dan Sadewa duga. Namun demi menghargai Papa, mereka berdua tetap duduk menemani di ruang tamu meski lebih banyak diam.
"Permisi Jeng, putri saya ingin ke toilet. Di sebelah mana ya?" Fitri tersenyum manis pada Srikandi.
"Oo, di belakang jeng." Srikandi membalas senyuman Fitri kemudian menoleh pada Nakula. "Naku, tolong antar Farida."
"Iya Ma."
"Bisa sama Mas Sadewa saja?" Farida mengucapkan permintaannya dengan senyum malu-malu.
Seandainya Tuhan mempercayakan anak perempuan padaku, aku akan memukul wajahnya berkali-kali jika bertingkah seperti dia. Srikandi bergumam sambil menatap Farida.
"Baiklah, aku antar. Mari." Sadewa berdiri dan berjalan lebih dulu.
Setibanya di depan ruang kerja, tiba-tiba Farida mengaduh.
"Akh." pekiknya sambil memegangi kakinya.
"Ada apa?" Sadewa yang berjalan di depannya berhenti dan berbalik.
"Sepertinya aku menginjak sesuatu Mas."
"Ooo." Sadewa berbalik dan meneruskan langkahnya. Farida sampai melongo melihat Sadewa yang tak peduli dengan keluhannya.
"Jika tak ingin ke toilet aku akan kembali ke ruang tamu." imbuh Sadewa yang tahu Farida tak lagi mengikutinya. Mendengar itu Farida bergegas mengejar Sadewa dengan wajah yang kesal.
Sadewa tiba di depan sebuah ruangan. "Ini toiletnya." ucapnya sambil berbalik menuju ruang tamu lagi. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Ditatapnya Farida yang sedang tersenyum manis kepadanya.
"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan 'Mas' lagi." ucapnya datar.
"Kenapa?"
"Aku tak suka." Mendengar kamu yang mengucapkan. Ingin rasanya Sadewa menambahkan kalimat itu juga.
"Kalau begitu mau aku panggil apa?"
"Nama saja." Sadewa berbalik pergi.
"Tunggu." Farida memegang tangan Sadewa untuk menahannya. Refleks Sadewa mengibaskan tangan gadis itu. "Eh, maaf." Farida tersipu malu saat Sadewa berbalik menatapnya dengan tajam.
"Terima kasih." imbuh gadis itu sambil sesekali melirik Sadewa kemudian berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam toilet.
Tingkah aneh Farida sudah terlalu sering ia lihat. Kebanyakan gadis-gadis yang tertarik kepadanya akan bersikap aneh untuk menarik perhatiannya. Berbeda dengan Noushafarin.
Ah, Noushafarin. Sadewa mengusap wajahnya dengan kasar dan berjalan meninggalkan tempat itu. Cepatlah pulang....
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like dan komen ya❤❤❤❤❤