
Noushafarin tengah memegang sebuah wadah berisi beberapa botol refill pengharum ruangan otomatis. Gadis itu kini berada di sudut ruang tengah yang luas. Dari tempatnya ia bisa melihat ke arah pintu ruang kerja tanpa disadari siapapun. Sebab pengharum ruangan diletakkan di tempat tersembunyi.
Saat hendak melangkah menuju ruang tamu, ia terkejut melihat Anjani mengendap-endap keluar dari ruang kerja. Istri Nakula itu mengamati sekeliling sebelum tubuhnya keluar seutuhnya dari dalam ruangan. Nou bersembunyi, ia khawatir dianggap memata-matai Nyonya muda itu.
Anjani nampaknya menyembunyikan sesuatu di belakang bajunya, ia melesat ke lantai dua setelah ia merasa tak ada yang memergokinya. Nou akhirnya menghembuskan napas lega, tanpa ia sadari sejak melihat tingkah aneh Anjani, ia menahan napas.
Gadis itu terdiam sejenak menatap pintu ruang kerja. Apa yang Nyonya Anjani lakukan? Kenapa ia mengendap-endap seperti pencuri? Ah sudahlah, bukan urusanku.
Noushafarin keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan pekerjaan. Jika Anjani memang melakukan sebuah kejahatan, biarkan saja. Toh tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
Baru berjalan beberapa langkah ia melihat Inah masuk ke dalam ruang kerja sambil membawa perakatan kebersihan. Seniornya itu terlihat mengawasi sekitar sebelum masuk ke dalam ruangan. Anehnya ia tak menyasari keberadaan Nou. Mungkin karena posisi Nou yang berada jauh di belakang Inah.
Nou tak mau ambil pusing dengan apa yang dilihatnya. Ia sudah bertekad menutup mata dan telinga, membiarkan setiap orang mengerjakan urusan mereka masing-masing.
......................
"Arin!" Mbok Yem masuk ke kamar dengan tergopoh-gopoh membuat gadis yang tengah meregangkan otot-ototnta itu menjengit.
"Ya ampun Mbok, ngagetin aja." ujarnya sambil memegang dada.
"Maaf Rin, maaf." raut wajah Mbok Yem tak menentu.
"Ada apa Mbok?"
"Begini, mendadak anak Mbok sakit. Jadi Mbok mau pulang kampung sekarang. Kamu bantuin Inah masak ya." sebenarnya ia merasa tak enak karena artinya pekerjaan Arin akan bertambah. Namun mau bagaimana lagi, nama Arinlah yang pertama disebut Nyonya Kandi saat ia meminta ijin pulang.
"Oo begitu. Iya Mbok, nggak apa-apa."
"Maaf ya Rin. Buat kerjaan kamu makin banyak."
Noushafarin mendekati Mbok Yem dengan senyum manisnya dan meraih tangan wanita paruh baya itu.
"Bukan masalah besar kok Mbok. Aku kan masih muda, jadi masih kuat."
"Makasih banyak ya Neng." Mbok Yem mengusap kepala gadis di depannya itu dengan penuh sayang.
"Iya, sama-sama. Aku ke dapur dulu ya."
Noushafarin keluar dari kamar dan berpapasan dengan Inah. Wajah perempuan itu terlihat sembab, ia baru selesai menangis.
__ADS_1
"Lho, Mbak Inah kenapa?" Arin memegangi bahu Inah.
"Mbak harus pulang kampung Rin, karena barusan dapat telepon Mbah meninggal." Inah menjawab sambil mengusap air matanya.
"Aku turut berduka Mbak." Arin memeluk Inah sejenak kemudian menemani wanita itu kembali ke kamar mereka.
Mbok Yem yang sedang berkemas terkejut dengan kedatangan Inah, terlebih lagi saat mendengar berita duka yang dibawanya. Mereka berpandangan dan menatap Noushafarin. Gadis itu hanya tersenyum simpul.
"Tenang saja, Nyonya Kandi pasti punya solusi terbaik untuk masalah ini."
Sekitar pukul 4 sore, Mbok Yem dan Mbak Inah berangkat menuju kampung halaman masing-masing. Nyonya Kandi menyewa mobil travel agar kedua asisten rumah tangganya bisa sampai lebih cepat dan nyaman sepanjang perjalanan.
Selepas kepergian mereka, Nyonya Kandi segera membagi tugas. Seorang ART dari bagian laundry menggantikan posisi Noushafarin, sedang gadis itu memasak bersama Nyonya Kandi.
Nyonya Kandi tersenyum senang melihat Noushafarin begitu cekatan menyiapkan bahan masakan. Feelingnya tidak salah saat pertama kali Mbok Yem meminta ijin pergi dan ia menyebut Arin untuk menggantikan sementara waktu. Mereka akan membuat sup sayuran, perkedel daging dan ikan bakar sebagai menu makan malam.
"Maaf terlambat turun." Anjani yang baru datang terlihat tersipu malu.
"Tidak apa-apa sayang. Kita baru mau mulai masak." Nyonya Kandi berbalik sebentar menatap Anjani.
"Hai Arin."
Ketiganya lantas bekerja diselingi obrolan mengenai masakan. Noushafarin hanya diam mendengarkan, terkadang ia tersenyum simpul menanggapi perkataan Nyonya Kandi yang berbicara sambil menatapnya.
Bukan karena ia tidak tertarik dengan tugas yang sedang ia lakukan, namun ia menjaga jarak dengan kedua Nyonya keluarga Wasesa tersebut. Nou hanya tak ingin ada kenangan manis dirinya dengan keluarga Wasesa. Walau pada kenyataannya, ia sudah terlambat untuk mencegah hal itu terjadi.
Semua hidangan telah siap, Nyonya Kandi dan Anjani pun sudah mandi. Malam ini Tuan Pandu pulang sedikit lebih lama dari biasanya, begitu pun Nakula dan Sadewa. Kedua putra Pandu dan Srikandi itu ternyata kembali ke kantor setelah sesi makan dan curhat mereka.
"Istriku sayang." Papa Pandu tersenyum hangat melihat Mama Kandi menyambut kedatangannya.
"Papa ihh, malu sama umur."
"Untuk apa malu?" Pandu mengerling pada Kandi.
"Setidaknya malulah pada kami." Nakula tersenyum geli melihat interaksi orang tuanya.
"Sudah, sudah. Ayo bersihkan badan kalian dulu, kemudian kita makan bersama." Mama Kandi masuk lebih dulu.
......................
__ADS_1
Noushafarin membersihkan peralatan makan, gerakannya sedikit lebih lambat dari biasanya. Gadis itu terlihat lelah. Saat dapur telah kembali bersih, ia tersenyum dan menarik napas lega.
"Ya ampun!" pekiknya. "Tuan, tolong jangan mengendap-endap begitu." ia menunduk sambil menetralkan degup jantungnya.
"Siapa yang mengendap-endap?" Sadewa melenggang menuju kulkas di sebelah Noushafarin untuk mengambil air mineral dingin.
Ia membuka botol dan langsung meminum airnya dengan mata masih menatap gadis di dekatnya yang masih setia menatap lantai. Tiba-tiba ia membungkuk, memposisikan kepala ke bawah dengan wajah menghadap atas tepat di depan wajah Noushafarin. Keduanya bertatapan dengan cara yang tak biasa.
Nou menjengit, ia memekik dan menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak menyangka wajah Sadewa tiba-tiba menghalangi arah pandangnya. Gadis itu mundur satu langkah dan tubuhnya otomatis bersandar pada rak penyimpanan bahan makanan kering.
"Tu-tuan." Noushafarin menatap Sadewa sekilas kemudian kembali menunduk.
"Kenapa?" Sadewa kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya terulur dan mengusap pipi Noushafarin dengan lembut.
Karena mendadak, Nou tak sempat mengelak. Ia melebarkan matanya menatap Sadewa saat ibu jari pemuda itu mengusap lembut pipinya.
Sadewa terhenyak merasakan kelembutan kulit wajah Noushafarin, netra keduanya saling mengunci. Desiran halus menjalari tubuh Nou, pipinya mulai bersemu merah, dadanya berdebar, begitu pun Sadewa.
"Ekhmmm!!! Kalian sedang apa?" deheman dan pertanyaan Nakula sontak membuat Sadewa menarik kembali tangannya. Noushafarin tertunduk malu karena menikmati usapan Tuan Muda di wajahnya.
"Ada noda di pipinya." jawab Sadewa sambil memperlihatkan ibu jarinya yang sedikit kehitaman. Nou segera berbalik melihat melalui cermin kecil di sisi kulkas, ia terkejut melihat noda kehitaman di area pipi yng tadi diusap Sadewa.
"Pe-permisi Tuan." Noushafarin cepat-cepat pergi dari dapur menghindari tatapan menggoda dari Nakula.
"Pelan-pelan saja jalannya, ipar!" seru Nakula sebelum tubuh Noushafarin menghilang di balik pintu dapur.
Sadewa melirik kesal mendengar kata terakhir yang diucapkan kembarannya itu.
"Apa?!" Nakula menggerakkan dagunya.
"Maksudmu apa?"
"Tidak ada." jawab Nakula santai.
Sadewa mendengkus kesal dan pergi ke ruang kerja diikuti Nakula.
"Kelihatannya kau sangat menikmati mengusap pipi Arin." Nakula kembali menggoda Sadewa.
Tak disangka Sadewa langsung mengangkat tangan dan memperhatikan ibu jarinya. Lembut kulit gadis itu masih sangat terasa. Nakula terkekeh melihat reaksi Sadewa. Aku akan menunggu dengan sabar saat kau menjilat ludahmu sendiri Wa.
__ADS_1
...****************...