Noushafarin

Noushafarin
Bab 38


__ADS_3

Sadewa duduk di ruang tengah dengan wajah murung. Pemuda itu baru saja pulang dari kantor untuk melaporkan hasil monitoringnya di Kabupaten Asmat, Papua.


"Jika seperti itu wajahmu, Mama tidak akan mempunyai menantu." Mama Kandi datang membawa segelas jus jambu untuk Sadewa.


"Ma, masa Mama dan Papa tidak bisa berbicara dengan Noushafarin." Sadewa terlihat menyedihkan.


"Tuan Bardia dan istrinya sedang pergi. Tujuan mereka juga dirahasiakan." Mama Kandi mengusap lengan putranya. "Sudah satu minggu ini kami berusaha tapi hasilnya nihil. Darian pun menolak membahas persoalan adiknya."


"Tapi kan koneksi Papa banyak, apakah tidak ada yang bisa membantu?"


"Apakah kamu pikir Tuan Bardia pun tak memiliki banyak koneksi? Dia mampu menyembunyikan keberadaan putrinya, bahkan tak ada yang tahu dimana gadis itu kuliah. Darimana ia bisa melakukan semua itu kalau bukan koneksi?"


"Tapi Ma...."


"Jika Noushafarin adalah jodohmu, percaya saja. Dia pasti akan kembali kepadamu."


"Aku tak ingin menunggu tanpa berusaha Ma."


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"


"Entahlah, mungkin menemui Darian."


"Jika menurutmu itu bisa membantu, maka lakukanlah." Mama Kandi menepuk pundak Sadewa sebelum beranjak pergi.


......................


Sadewa melangkah dengan cepat menuju meja informasi di lantai dasar Rumah Sakit Mitra.


"Selamat siang."


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu Tuan?" seorang petugas menyambutnya dengan ramah.


"Saya ingin bertemu Tuan Darian Armani. Nama saya Sadewa Wasesa."


"Sudah ada janji, Tuan?"


"Belum ada."


"Kalau begitu saya akan membuat janji terlebih dahulu." petugas wanita itu mengangkat gagang teleponnya dan mulai berbicara dengan seseorang.


Sadewa menjauh dari sana dan duduk di sebuah kursi tak jauh dari meja informasi. Namun saat pandangannya menyapu lantai dasar itu, tak sengaja ia melihat sosok tubuh Darian baru memasuki gedung. Sadewa segera berlari menghampiri.


"Selamat siang Tuan Muda Armani." sapanya sopan.


"Oh, Tuan Muda Wasesa rupanya." Darian tersenyum ramah. Walau kesal setelah mendengar cerita dari Tatiana, ia tak bisa begitu saja melampiaskannya. "Maaf, tapi anda Nakula atau Sadewa?"


"Saya Sadewa, panggil saja Sadewa."


"Kalau begitu panggil saja saya Darian." ujar pemuda itu dengan senyum yang tak pudar. "Mau membahas pekerjaan atau yang lain?"


"Yang lain."


"Kalau begitu kita ke kafetaria saja. Bagaimana?"


Sadewa mengangguk menyetujui ajakan Darian. Mereka berdua duduk di salah satu sudut yang sudah dikosongkan oleh bodyguard Darian. Jadi keduanya nyaman bercerita tanpa takut ada yang menguping.


"Apakah tentang Nou, adik saya?" Darian segera bertanya begitu mereka duduk.


"Ya."

__ADS_1


"Maaf, tapi saya tidak bisa membantu."


Seorang pelayan membawakan jus jeruk untuk mereka, membuat Sadewa tak bisa langsung menanggapi.


"Silahkan diminum." Darian mempersilahkan tamunya setelah pelayan tadi pergi.


"Terima kasih." Sadewa lantas menyedot sedikit minumannya. "Tapi anda bisa menghubunginya, bukan?"


"Tentu saja."


"Bisakah katakan kepadanya, saya minta maaf jika ada perkataan atau tindakan saya yang membuatnya marah. Saya sangat mencintainya, tolong berikan saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya."


Ucapan Sadewa membuat Darian mengernyit, sepertinya Sadewa tak sadar sudah menyakiti adiknya.


"Memangnya Nou bilang apa saat terakhir kalian bertemu?" Darian mencondongkan tubuhnya.


"Ia sedang tidur saat terakhir kali saya melihatnya, kemudian saya mengurus jenazah istri kembaran saya. Saat malam kembali ke Rumah Sakit, anda sudah menjemputnya."


"Tidur?"


"Iya. Ada apa?"


Darian terdiam beberapa saat. "Baiklah, jika dia tidak sibuk, saya akan menyampaikannya."


"Tolong penuhi ucapan anda."


"Apakah anda meragukan saya?" Darian terlihat tak suka.


"Maaf, bukan begitu maksud saya." Sadewa merasa telah salah bicara. "Saya hanya tak tahu bagaimana harus bertindak." ucapnya lagi.


Wajah lesu Sadewa sudah mengusik Darian sejak awal mereka bertemu di lobi. Hal ini membuat Darian bertanya-tanya dan menganggap persoalan diantara Nou dan Sadewa tidak semudah yang terlihat.


"Saya akan membantu sebisa saya." ujar Darian pada akhirnya. "Namun keputusan ada di tangan Nou, bukan saya. Ketahuilah, membuat adik saya merubah keputusan bukanlah hal yang mudah. Anda tentu sudah tahu alasan dia kabur dari rumah bukan?"


Sadewa mengangguk. "Papa sudah menceritakannya."


"Itulah Nou. Jika ia sudah bertekad dan mengambil keputusan, maka akan sulit merubahnya. Kecuali ada hal yang membuatnya terdesak." Darian seolah memberi petunjuk. "Pikirkan baik-baik, dia nekat pulang dan membuat Miranti, sahabatnya, membayar denda karena melanggar kontrak dengan Nyonya Wasesa. Pasti ada sesuatu yang mendesak Nou hingga berbuat seperti itu."


"Temukanlah 'sesuatu' itu." lanjut Darian sambil menepuk pundak Sadewa.


"Terima kasih." Sadewa terlihat sedikit lega.


......................


Darian sedang menatap kepergian Sadewa saat Tatiana menghampirinya dari belakang.


"Ada apa?"


Darian menoleh sekilas pada sepupunya itu, kemudian menarik tangan Tatiana menuju lift yang langsung mengarah ke kantornya. Selama di dalam lift mereka berdua hanya diam, Tatiana pun tak ingin mengusik Darian dengan pertanyaan. Ia menahan diri sampai tiba di ruangan pemuda tersebut.


"Jadi?" Tatiana duduk di sofa dan dihadapannya Darian sedang melonggarkan dasinya dan duduk dengan posisi merosot.


"Apakah Sadewa benar-benar hanya mempermainkan Nou?"


"Nou bilang dia mendengar Dokter Tora mengatakannya saat ia pura-pura tidur."


"Lalu, apa kata Sadewa?"


"Entahlah, Nou tidak menceritakannya." Tatiana mengangkat kedua bahunya. "Ada apa?"

__ADS_1


"Sadewa memintaku untuk menyampaikan pesan pada Nou. Ia sangat mencintai Nou dan meminta maaf jika ada perkataan atau perbuatannya yang menyinggung Nou. Pemuda itu minta diberi kesempatan."


"Kenapa tidak bilang padanya tentang yang diceritakan Nou. Katakan apa adanya, Nou mendengar semua itu."


"Aku tak bisa, ekspresi pemuda itu sangat menyedihkan. Ia benar-benar kehilangan Nou."


"Aneh."


"Itu maksudku." Darian menjentikkan jari. "Jika dia hanya bermain, untuk apa dia harus bersikap seperti itu."


Tatiana merenung. "Seingatku dia bukan tipikal orang yang mudah terlihat kecewa."


"Saat orang tuanya dirawat, apakah kalian pernah bertemu?"


"Tidak." jawab Tatiana sambil menggeleng. "Aku hanya bertemu Nou."


"Dokter Tora tahu kalian..."


"Tidak juga."


Darian mengusap wajah dengan kasar. "Hhhhhhh.... aku harus bagaimana?"


"Sampaikan saja pesannya pada Nou. Selesaikan tanggung jawabmu."


"Menurutku juga begitu. Tapi aku tak siap melihat ekspresi sakit adikku. Dia tak pernah mengalami ini sebelumnya."


"Selalu ada kata 'pertama kali' untuk setiap hal dalam hidup kita. Kau tak bisa selamanya melindungi Nou seperti saat ia remaja. Bahkan kalau perlu tariklah bodyguard-bodyguardnya yang ada di Munich."


Darian membeliakkan matanya.


"Oh ayolah. Jangan berekspresi seperti itu kepadaku. Noushafarin tahu kau mempekerjakan bodyguard untuk mengawalnya walau tak nampak."


"Dia tahu?"


"Yappp...begitulah. Biarkan dia berkencan dengan orang yang dianggapnya menarik." Tatiana menjeda ucapannya saat mengubah posisi duduk. "Kau tahu, ada seorang putra bangsawan Inggris tertarik kepadanya sa......"


"Tidak! Jika dia ingin berkencan, harus dengan mahasiswa asal Indonesia."


"Terserahlah! Aku mau pergi, terlalu lama bicara denganmu membuatku terserang migrain." ucap Tatiana seraya berdiri dan melangkah pergi.


"Tatiana!"


"Apa lagi?"


"Menurutmu, bagaimana Miranti?"


"Jika kau hanya ingin coba-coba dengan gadis itu, aku pastikan akan menyuntikkan cairan kimia ke dalam tubuhmu, Tuan Muda Armani!!" Tatiana berjalan kembali menuju Darian sambil menunjuk-nunjuk wajah pemuda itu menggunakan telunjuknya.


"Ok... Ok... Tenanglah." Darian mengangkat kedua tangannya. "Aku pikir kau akan mendukung."


"Ya! Jika kau serius!" Tatiana berbalik kembali menuju pintu.


"Aku serius!l!" seru Darian.


"Prove it!" jawab Tatiana sebelum menutup pintu dari luar.


...****************...


Jika kamu suka episode ini

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya❤❤❤❤❤


__ADS_2