Noushafarin

Noushafarin
Bab 27


__ADS_3

"Malam ini biar aku yang menjaga Mama, Arin pulang saja." kata Anjani saat datang menemui Mama Kandi.


"Tidak perlu, Arin saja sudah cukup. Kalau ingin menjaga, saat siang saja. Siapa yang akan memasak jika kau berjaga saat malam?" Nakula menolak secara halus.


"Iya Anjani, biar Arin saja yang temani Mama." Mama Kandi ikut menimpali. "O iya, Sadewa. Tolong antar Arin pulang, biar dia istirahat di rumah. Nanti sore bawa dia kembali kemari."


"Memangnya semalam dia tidur tidak tenang ya." Sadewa mengernyit dan menatap Noushafarin yang sedari tadi hanya diam.


"Dia tidur sambil duduk di sofa."


"Lalu apa gunanya extra bed?"


Mama Kandi mengangkat kedua bahunya.


"Ayo Arin, kita pulang. Siang ini biar Anjani yang bersama Mama." Sadewa segera menuju pintu.


"Nyonya, saya permisi." Noushafarin berpamitan.


"Kami pergi dulu ya Ma." Sadewa mengikuti.


"Kau lihatkan, berjaga malam lebih berat." Nakula meyakinkan Anjani untuk menjaga Mama Kandi saat siang hari.


"Baiklah kalau begitu." Anjani menuruti perkataan suami dan mertuanya.


Sementara itu di dalam mobil....


"Kau sangat lelah ya." Sadewa memperhatikan wajah Noushafarin sebelum menghidupkan mesin.


"Sedikit Tuan."


Sadewa mendekati Nou untuk mengatur sandaran kursinya. Refleks Nou menjauhkan tubuhnya karena terkejut pemuda itu tiba-tiba mendekat.


"Sa-saya bisa sendiri Tuan!"


"Tidak perlu berteriak seperti itu."


"Ma-maaf, Tu-tuan mengagetkan saya."


Sadewa tersenyum lembut dan mengusap kepala Nou. "Aku tak akan macam-macam padamu." ia mengerling setelah menyelesaikan kalimatnya.


Seketika itu juga Nou merasa wajahnya panas, ia berdehem dan memperbaiki posisi duduknya saat Sadewa mulai mengarahkan mobil keluar dari rumah sakit. Sementara Tuan Muda itu tersenyum melihat tingkah ARTnya.


Tanpa Nou sadari, ada dua pasang mata mengamati mereka dari salah satu jendela rumah sakit.


"Setidaknya dia baik-baik saja." seorang pemuda tampan mengamati dengan kedua tangan dimasukkan dalam kantong celananya.


"Ya." Tatiana tersenyum melihat kepergian mobil Sadewa. "Terima kasih karena tidak menyeretnya pulang, Darian."


"Sebenarnya aku sangat ingin melakukannya." Darian tersenyum kecut. "Tapi biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan."


"Kau semakin bijak saja ya." Tatiana mengangkat kedua alisnya dan terkekeh menggoda pemuda itu.


"Tidak juga, hanya berusaha menyenangkan hati adikku satu-satunya."Darian berbalik membelakangi jendela dan bersandar di sana. "Aku akan mengambil rekaman CCTV yang memperlihatkan wajah Nou. Jaga-jaga jika Ayah ingin memeriksa keamanan."


"Ya ampun, aku melupakan hal itu." Tatiana memukul dahinya.


"O iya, aku baru ingat. Bukankah putra Tuan Wasesa itu yang dulu....."


"Hentikan! Jangan diungkit lagi."


"Baiklah... Baiklah... Baiklah... Tak perlu menatapku seperti itu. Kau sangat menyeramkan."


"Sudahlah, aku harus bersiap. Ada operasi satu jam lagi." Tatiana melangkah meninggalkan Darian.


"Ok. Jangan buat pasienmu tidur selamanya, aku tak mau dituntut pihak keluarga."


"Aku tertarik mencobanya." ujar Tatiana berhenti melangkah, berbalik menatap Darian sambil memegang dagunya.


"Hei Dokter Tatiana!!! Aku akan langsung memecatmu."


"Coba saja kalau bisa." Tatiana menarik kantung matanya dan menjulurkan lidah mengejek Darian. Namun sekejap kemudian ia segera menunduk saat sebuah sepatu terbang menuju kepalanya.

__ADS_1


"Aduh!!!"


Tatiana dan Darian berbalik dan terkesiap. "Dokter Haikal!!!" keduanya segera menghampiri Dokter berkacamata yang sedang memegangi kepalanya.


"Dok-dokter maafkan saya." Darian merasa sangat bersalah.


"Kamu sih Ian." Tatiana mencebik sambil mengusap kepala Dokter Haikal.


"Siapa suruh mengejekku." Darian membela diri. "Sekali lagi maaf ya Dokter, saya tidak sengaja."


"Maaf wakil CEO, rumah sakit bukan taman bermain." Dokter Haikal tersenyum masam. "Kau mengerjai wakil CEO lagi ya Dokter Tatiana." tatapan Haikal membuat Tatiana menunduk malu.


"Permisi wakil CEO, sepatu anda." seorang perawat yang mendampingi Dokter Haikal membawa sepatu Darian yang jatuh tak jauh di belakang Dokter tersebut.


Raut wajah Darian tampak menahan malu, ia memasang tatapan permusuhan saat bertatapan dengan Tatiana. Ia mengambil sepatunya kemudian meletakkan kembali di lantai.


"Sekali lagi maaf Dokter." Tatiana membungkuk dan segera pergi.


"Ap-apakah masih sakit Dokter?" Darian bingung mau bicara apa.


"Tidak terlalu." Dokter Haikal masih mengusap kepalanya yang terkena sepatu Darian.


Tak lama kemudian Tatiana telah kembali membawa sebotol minyak. Ia mengoleskan pada kepala Haikal. Perlakuan Tatiana membuat Haikal terdiam dan terus menatap wajah Dokter cantik itu. Terlebih lagi posisi mereka yabg sangat dekat.


"Ekhmm." Darian berdehem, membuat Dokter Haikal mengerjap dan tersenyum kecut karena tertangkap basah sedang mengamati wajah Dokter Tatiana. "Saya permisi." Darian berpamitan kemudian memakai kembali sepatunya yang tergeletak tak jauh darinya.


"Sudah cukup." Dokter Haikal menghentikan tangan Dokter Tatiana. "Kalian berdua mirip Tom dan Jerry." ia berujar sambil menggeleng-gelengkan kepala, sedang Dokter Tatiana hanya bisa menunduk malu.


......................


Beberapa hari kemudian...


Nakula dan Sadewa mengamati monitor di depan mereka dengan seksama. Kedua saudara itu sedang melihat rekaman CCTV yang menampakkan ruang kerja. Tak ada yang ganjil, dalam rekaman tersebut.


Mereka terlihat kompak memijat pelipis untuk meredakan rasa sakit yang mendera. Masalah datang bertubi-tubi. Satu minggu yang lalu Mama Kandi dirawat di Mitra Hospital dan dua hari yang lalu mereka kembali kalah dalam lelang pekerjaan.


"Sebaiknya aku memeriksa komputer di rumah." ucap Sadewa sambil menyandarkan tubuh di sofa.


"Perangkat keras, kalau tidak salah jika ingin mencuri data, kita tetap memerlukan perangkat keras."


Nakula memegangi dagunya sementara ia berpikir.


"Kau benar, kita tidak memikirkan kesana."


"Yahh, begitulah." Sadewa memejamkan mata.


"Kau menemani teknisi itu semalaman kan. Pulanglah dan beristirahat. Jika kita berdua sama-sama lelah, siapa yang akan membantu dan bertukar pikiran?"


Sadewa melirik Nakula dan tersenyum. "Bukankah kau juga merisaukan istrimu?"


"Kali ini aku berharap rekaman CCTV yang baru dipasang dapat memperbaiki nama Anjani." Nakula balas menatap Sadewa sambil tersenyum kecut.


......................


Sadewa meminta Inah membuatkan jus jeruk dan diantar ke kamarnya. Setelah selesai membuat pesanan Sadewa, Inah dipanggil Nyonya Kandi untuk pekerjaan lain. Dan karena hanya ada Noushafarin di dapur, jadilah Mbak Inah meminta gadis itu membawakan jus untuk Sadewa.


"Tapi Mbak...." Noushafarin keberatan dengan tugas itu bahkan terang-terangan menolak.


"Tolong Rin, Nyonya sudah memanggil dari tadi. Ya Rin ya... Maaf Mbak harus pergi sekarang."


Nou menghela napas berat, ia menatap jus jeruk di depannya dengan enggan. Ia mengulurkan tangan dan segera mengangkat nampan, membawa jus pesanan Sadewa ke lantai dua.


Begitu tiba di ruang keluarga lantai dua, Nou bingung. Selama ini jika ia ke lantai dua, hanya sampai di ruangan yang kini dipijaknya. Ia tak tahu menahu letak kamar putra-putra Pandu.


Saat ia sedang memandang berkeliling, Anajani muncul dari dalam kamarnya.


"Arin, sedang mencari apa?"


"Oo, Nyonya. Saya ingin mengantar jus jeruk pesanan Tuan Sadewa. Tapi saya tidak tahu yang mana kamar Tuan Muda, Nyonya."


"Oo itu." Anjani tersenyum. "Kemarilah." ia meminta Nou mendekat.

__ADS_1


"Ini adalah kamar Sadewa." Anjani menunjuk sebuah pintu yang hampir berhadapan dengan pintu kamarnya bersama Nakula.


Nou mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Tanpa mengucapkan apapun, tiba-tiba Anjani sudah mengetuk pintu itu.


"Masuklah!" suara Sadewa terdengar dari dalam. Anjani membuka pintu agar Noushafarin tak kerepotan. Gadis itu masuk beberapankangkah kemudiam berbalik.


"Te-terima kasih Nyonya."


"Sama-sama, aku ke bawah dulu."


"Eh...." Nou tak mampu berkata apa-apa lagi karena Anjani dengan cepat melesat pergi. Ia berbalik dan melihat Sadewa sedang memejamkan mata sambil duduk di sofa yang dekat dengan jendela besar yang mengarah ke balkon.


Noushafarin menelan salivanya dengan kasar, entah kenapa ia menjadi berdebar-debar jika hanya berdua dengan Sadewa.


"Tu-tuan, ini jusnya." Nou terbata, tangannya bahkan bergetar saat meletakkan gelas. Sepertinya Tuan Sadewa sedang tidur.


Karena Sadewa tak kungjung merespon, Nou berbalik hendak jeluar kamar. Baru dua langkah berjalan gadis itu menjerit tertahan.


"Akhhh!!" Nou membeliakkan mata saat kedua tangan kekar Sadewa melingkar di perutnya dan menarik Nou masuk dalam dekapan Sadewa dari arah belakang.


Pemuda itu lantas meletakkan dagu pada pundak kiri Nou.


"Tu..."


"Sshhh... Tolong biarkan seperti ini Rin, sebentar saja."


Mendengar nada bicara yang penuh kesedihan dari mulut Sadewa, membuat Nou tak kuasa menolak. Ia malah merasa iba pada keadaan Sadewa saat ini. Pemuda yang kini tengah memeluknya pasti sangat tertekan menghadapi masalah yang melanda keluarganya.


Entah apa yang dipikirkan Nou saat tangan kirinya tiba-tiba terangkat dan mengusap kepala Sadewa yang berada di sisinya. Bahkan Tuan Muda itu memejamkan mata mendapat perlakuan manis Noushafarin.


Hening, Sadewa begitu menikmati perhatian Nou hingga tak mengatakan sepatah kata pun.


"Kamu membuatku nyaman Rin." lirih Sadewa.


"Saya bukan bantal Mas." ucap Nou untuk menutupi kegugupannya. Pelukan Sadewa terasa sangat hangat dan nyaman serta mendebarkan.


Kedua mata pemuda itu seketika terbuka mendengar panggilan yang diucapkan gadis itu.


"Aku kira kau lupa untuk memanggilku 'Mas' saat hanya berdua. Mengingat beberapa hari ini kau tetap saja memanggilku Tuan saat sedang berduaan."


Nou memutar bola matanya ketika mendengar kata 'berduaan'. Sadewa membuat yang mendengar akan berpikir seolah-olah mereka sengaja ingin berduaan saja.


"Kau berdebar Rin." betapa malunya gadis itu karena Sadewa menyadari degub jantungnya yang semakin cepat. "Aku pun sama."


Perlahan Sadewa melonggarkan dekapannya dan memutar tubuh Nou. "Kamu sudah punya kekasih ya Rin."


Noushafarin membeliakkan mata, terkejut dengan pertanyaan itu. Namun sedetik kemudian ia mengatasi kekagetannya dan menggeleng pelan.


"Tidak ada Mas." ia menggigit bibir menahan malu, diusia yang sudah bisa dianggap matang ia masih sendiri.


Sadewa mengamati tingkah gadis dihadapannya sambil sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mengecup pipi yang sedang merona itu.


"Kalau gitu, jangan dulu punya ya."


Noushafarin mengernyit, ia mendongak dan menatap Sadewa dengan heran.


"Nanti juga bakal ngerti." pemuda itu mengusap kepala Nou dengan lembut kemudian duduk kembali di sofanya.


"Saya permisi Mas."


"Arin." panggilan dari Sadewa menghentikan langkah gadis itu dan membuatnya berbalik.


"Iya mas?"


Sadewa diam beberapa saat, kemudian ia terkekeh pelan. "Ngetes pendengaran kamu saja."


Nou menipiskan bibir dan keluar dari kamar pemuda itu dengan wajah kesal.


"Aku suka dengar kamu bilang 'iya Mas'." lirih Sadewa sambil menggaruk tengkuknya.


...****************...

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2