
"Kenapa Kak Darian melarangku mengatakan kalau Kak Aldi itu anak dari salah satu satpam di rumah kita?" tanya Noushafarin dalam perjalanan mereka pergi makan siang.
"Karena identitasnya memang sengaja kami rahasiakan."
"Untuk apa? Jadi mata-mata di kantor sendiri?"
Darian hanya mengangguk sambil fokus melihat ke jalan raya di depannya.
"Ada-ada saja, masa sama pegawai sendiri curiga sih." Noushafarin terkekeh.
"Karena tidak sedikit orang berkhianat hanya karena uang. Dan beberapa pegawai sudah dipecat karena itu."
"Benarkah? Memangnya mereka berbuat apa?"
"Menipu, membuat aku menandatangani kontrak dengan pihak ketiga penyedia barang dan jasa yang tidak jelas. Kualitas barang yang datang tidak sesuai dengan harga yang kita berikan."
"Mereka berani sekali."
"Oleh sebab itu aku harus tegas. Kita mempunyai usaha yang berhubungan dengan nyawa manusia. Jadi jangan main-main dengan hal itu. Aku tidak terima obat atau peralatan dengan kualitas buruk. Pasien sudah membayar dengan harga mahal, jadi kita wajib memberikan pelayanan yang terbaik."
"Aku mengerti." Noushafarin mengangguk. "Sebagian besar hidupku dihabiskan dengan belajar ilmu kedokteran, sudah saatnya mempelajari ilmu baru."
"Selama kita hidup, kita tidak akan berhenti belajar Nou. Dan sudah seharusnya kau paham tentang dunia bisnis. Meski kau memilih untuk tidak terlibat langsung, tapi tidak ada salahnya mempelajari hal itu."
"Apa Kak Darian bersedia membantuku belajar?"
"Tentu saja."
"Dan untuk pegawai di rumah sakit, apakah hanya kesalahan itu yang mereka lakukan?"
"Ada yang menjual data perusahaan juga. Tapi karena ada Aldi, jadi kami sempat membuat data palsu."
"Kak Aldi pahlawan dong."
"Ya, sama seperti bapaknya. Pahlawan di rumah kita."
"Iya, kakak benar." Nou setuju. "Beberapa hari lagi paketku akan tiba. Isinya multivitamin, Georgia yang mengirimnya. Aku akan membagikan itu untuk pegawai di rumah."
"Bagus, sudah seharusnya kau memperhatikan mereka yang sudah menolong kita."
Darian mengurangi laju kendaraannya karena lampu lalu lintas sudah berwarna kuning. Tak jauh dari kendaraan mereka, terlihat seorang wanita menjual minuman. Ia menggandeng putrinya yang terlihat sangat pucat.
Tak lama kemudian anak kecil itu mulai batuk-batuk hingga tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kak, Kak." Noushafarin mengguncang bahu Darian.
"Ayo tolong, itu disana." Noushafarin menunjuk ke arah seorang ibu yang susah payah menopang tubuh anaknya.
Darian dan Noushafarin bergegas keluar dari mobil. Tampak sejumlah pengendara pun melakukan hal yang sama.
"Anak ini harus dibawa ke rumah sakit!" seru seorang pria paruh baya saat melihat kondisi gadis kecil itu.
Tanpa berkata apapun Darian langsung menggendong tubuh mungil di hadapannya. Noushafarin membantu mengangkat barang dagangan serta sang Ibu berdiri dan menuntunnya menuju mobil mereka.
Setelah dipastikan ibu dan anaknya dalam posisi aman, Darian mengemudikan mobil berbalik arah kembali menuju rumah sakit.
"Zoya, sayang." Sang Ibu terus menangis melihat anaknya yang tidak sadarkan diri. Noushafarin yang duduk di bersama Zoya memeriksa denyut nadi gadis kecil itu. Karena tak membawa peralatan, Nou hanya memeriksa sekedarnya.
"Kak, cepat dikit." ucap Nou pada Darian.
"Tenanglah, sedikit lagi kita akan tiba di rumah sakit." Darian menenangkan.
Sang Ibu melihat ke sekeliling jalan, wajahnya terlihat risau.
"Ibu tenang saja, Zoya akan segera diberi pengobatan."
Sang Ibu tersenyum tipis. "Tapi Nona, ini kawasan eksklusif. Rumah sakit yang berada disekitar sini sangat mahal biayanya. Saya dan suami tidak punya uang sebanyak itu."
Wanita itu terdiam, ia melihat Noushafarin tidak risih memegang putrinya yang berpakaian lusuh bahkan terlihat kotor. Kemudian ia beralih menatap Darian yang tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran mereka berdua di mobil.
Masih ada orang baik di dunia ini, gumam ibu itu dalam hatinya.
Setibanya di rumah sakit, Darian bergegas mengambil brankar. Beberapa perawat dengan sigap membantu.
Zoya segera diangkat dan dibawa ke ruang observasi. Dokter yang bertugas terkejut dengan kedatangan Darian dan Noushafarin, terlebih lagi penampilan pasien darurat yang kakak adik itu bawa.
Tak ada satupun petugas medis yang bertanya hal lain di luar keadaan gadis kecil itu pada Sang Ibu. Dengan terbata-bata, wanita itu menceritakan kondisi anaknya yang didiagnosis menderita paru-paru basah. Namun karena tak memiliki biaya, mereka tak melanjutkan pengobatan putri mereka hingga tuntas.
"Kau tak memeriksa?" Darian berbisik pada Noushafarin.
"Biar mereka yang melakukan tugas itu. Lagipula aku tak memiliki ijin untuk menangani pasien."
"Baiklah, terserah kau saja."
Dokter yang memeriksa datang menemui Darian. "Gadis kecil itu akan segera ditangani oleh dokter spesialis anak dan spesialis paru. Kami akan mulai melakukan rangkaian pemeriksaan."
"Lakukan yang terbaik, selamatkan anak itu. Biayanya akan kami tangani." ujar Darian.
__ADS_1
"Baiklah Pak."
Selepas kepergian Sang dokter, Sang ibu mendekati Darian dan Nou.
"Terima kasih banyak atas bantuan Tuan muda dan Nona. Nama saya Melati, ibu dari Zoya. Suami saya, Arya, sedang mencari pekerjaan."
"Apakah ibu bisa menghubungi suami ibu? Kalau bisa, katakan dimana ibu dan Zoya berada." Nou memberi saran.
"Saya sudah melakukannya tadi, Nona. Dan suami saya sedang dalam perjalanan."
"Kalau begitu, saya dan Kakak saya permisi dulu. Kami akan kembali lagi nanti. Akan ada perawat yang datang meminta data keluarga dan mungkin tanda tangan Ibu. Lakukan saja yang mereka minta, dan jangan pikirkan masalah yang lain."
"Iya Nona, Tuan, terima kasih banyak."
"Sama-sama." Nou mengusap lengan ibu Melati dan pergi meninggalkan tempat itu.
......................
Melati berjalan mondar mandir, ia tak bisa menemani putri kecilnya karena paramedis sedang melakukan pemeriksaan pada Zoya. Hatinya sangat gelisah, namun begitu dilihatnya Arya, Sang suami, berlari ke arahnya, ia merasa ada sedikit beban yang terangkat.
"Mas, Zoya, Mas." ratap Melati setelah Arya datang dan memeluknya.
"Jangan menangis, nanti Zoya dengar, dia bisa makin sedih." segera Melati menghentikan tangisan dan mengusap air matanya.
"Dimana Zoya?"
"Di dalam Mas, sedang diperiksa dokter."
"Kita bertemu orang baik, Tuhan sangat baik." Arya bergumam dengan mata berkaca-kaca. "Dimana mereka? Aku ingin berterima kasih."
"Mereka sedang pergi Mas, tapi mereka akan datang lagi."
"Permisi, Ibu Melati?" seorang perawat mendekat.
"Iya benar. Dan ini suami saya, Arya."
"Syukurlah, Bapak sudah datang." perawat itu terlihat lega. "Begini Bapak, Ibu. Diagnosis sementara putri Bapak dan Ibu menderita penyakit paru-paru basah. Namun kami belum memastikan apakah menular atau tidak karena hasil laboratoriumnya belum keluar. Kami akan melakukan pencegahan lebih dahulu. Jadi kami akan melakukan pemeriksaan pada Bapak dan Ibu juga. Untuk mengetahui kondisi Bapak sekeluarga."
Arya dan Melati berpandangan. "Tapi, biaya pemeriksaannya."
"Semua sudah dibayar, jadi Bapak dan Ibu tidak perlu risau." perawat tersebut menenangkan Melati dan suaminya.
"Baiklah kalau begitu." Arya menggandeng istrinya dan mengikuti perawat itu pergi.
__ADS_1
......................