Noushafarin

Noushafarin
Bab 62


__ADS_3

Sadewa dan Noushafarin baru akan melangkah masuk ke dalam rumah saat mereka mendengar deru mobil sport memasuki halaman kediaman Armani.


"Siapa yang bertamu malam begini?"


"Itu mobil Kak Tatiana." jawab Nou sambil menatap kedatangan Kakak sepupunya itu. Terlihat jelas gadis itu sangat gembira.


Tatiana berjalan menuju kedua sejoli itu dengan tatapan berbeda.


"Kakak akan menginap?"


"Iya Nou. Kalian baru sampai juga?"


"Iya Kak."


"Halo Sadewa, apa kabar?"


"Kabar baik. Kamu?"


"Baik, seperti yang kamu lihat. Aku ke dalam duluan." kemudian Tatiana pergi begitu saja.


"Kalian sudah kenal? Sejak kapan? Bagaimana kalian bisa bertemu? Lalu kenapa Kak Tatiana menatap aneh padamu Mas? Terus..."


"Sayang, kalau bertanya satu per satu."


"Maaf. Ok, jadi kapan kalian mulai saling mengenal?"


"Se...."


"Kalian sudah pulang?"


"Bunda."


"Selamat malam, Tante. Saya mengantar Nou pulang."


"Tidak masuk dulu, nak?"


"Sudah larut Tante. Pasti Nenek, Om dan Tante ingin segera beristirahat." tolak Sadewa meski sebenarnya ia masih ingin berbincang dengan Nou.


"Baiklah kalau begitu. Salam buat Papa Mama ya. Tante masuk duluan, kalian pasti masih ingin bicara."


"Iya Tante. Terima kasih." Sadewa menunggu Farena masuk ke dalam untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Noushafarin.


"Kami adalah teman SMA. Hanya itu yang bisa aku katakan. Selebihnya, mungkin lebih baik dijawab oleh Tatiana."


"Begitu rupanya. Apakah kalian berdua bermasalah?"


Sadewa menggeleng. "Bukan denganku." pemuda itu mendekat dan memegang kedua pipi Noushafarin "Sayang, dengar. Aku tidak ingin menimbulkan salah paham dan masalah baru. Jadi lebih baik tanyakan semua ke Tatiana. Jangan bertanya lagi padaku. Kamu mengerti kan sayang."


Meski tak suka dengan ide itu, Noushafarin tetap mengangguk. "Sebenarnya aku ingin dengar dari Mas saja. Tapi kalau memang ini yang terbaik, aku tidak akan bertanya lagi."


"Gadis pintar, aku mencintaimu." Sadewa tersenyum mendengar kekasihnya menuruti permintaannya. Kemudian ia mengecup dahi Nou. "Aku pulang ya."


"Hati-hati nyetirnya Mas."


"Iya sayang."


Saat Sadewa mendekati mobilnya, tampak mobil Darian memasuki pekarangan. Sadewa sengaja menunggu hingga Darian turun. Dan benar saja, Darian menghampirinya begitu turun dari mobil.


"Sudah bertemu Nenek?"


"Tidak, aku tidak mampir."


"Lalu, ada hal lain yang terjadi?" tanya Darian penuh selidik.


"Aku bertemu Tatiana."

__ADS_1


"Dan?"


"Yah, kami bertegur sapa seperti biasa. Namun Tatiana tidak bisa menyembunyikan tatapan anehnya kepadaku dari Nou."


"Ada Nou juga waktu kalian bertemu?"


"Karena kami baru saja tiba saat Tatiana datang."


"Lalu apa yang dikatakan Nou."


"Dia hanya penasaran sejak kapan kami saling mengenal dan mengapa cara Tatiana memandangku sedikit aneh."


"Jadi, apa jawabmu?"


"Aku menjawab, kami berteman sejak SMA. Dan untuk pertanyaan lain, bisa tanya sendiri ke Tatiana. Aku tidak ingin terjadi masalah lain lagi."


Darian memegang dagunya kemudian mengangguk-anggukkan kepala. "Kurasa jawabanmu sudah tepat. Biar Tatiana sendiri yang memutuskan hal apa yang akan ia ceritakan pada Nou."


"Itu juga yang aku pikirkan. Baiklah, aku pulang dulu."


"Ya, hati-hati di jalan."


"Terima kasih."


Darian segera masuk ke dalam rumah begitu mobil yang dikendarai Sadewa melintasi gerbang.


"Selamat malam semua." sapa Darian saat melihat keluarganya tengah berkumpul.


"Cie yang sudah punya kekasih. Jadi bisa keluar malam mingguan." goda Nou.


"Aku tak ingin dilangkahi olehmu."


"Oo, jadi meminta Miranti jadi kekasih hanya karena tak ingin dilangkahi olehku. Begitu?!"


"Bagus, jadi Nenek bisa melihat cicit dalam waktu dekat."


"Nenek, melamar saja belum, sudah memikirkan cicit." Nou mengerucutkan bibirnya.


"Tidak ada salahnya kan bermimpi indah. Jadi mari kita tidur." kata Nenek sambil berdiri.


"Biar aku antar ya bu." Bunda Farena segera berdiri dan menemani mertuanya menuju ke kamar.


"Selamat beristirahat Nek." ucap Nou.


"Ya, ya. Kalian juga segeralah beristirahat." jawab Nenek sambil melambaikan tangannya tanpa berbalik.


"Darian, masih bisa menahan mata?"


"Masih Ayah, ada apa?"


"Kita bicara di ruang kerja."


"Baik Ayah."


"Lalu Nou?"


"Aku mau melihat Kak Tatiana dulu."


"Baiklah kalau begitu." Ayah segera menuju ruang kerja, sedang Darian menahan tangan adiknya.


"Jangan menyudutkan Tatiana dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Tahan rasa penasaranmu itu."


"Kok Kakak bisa tahu."


"Tadi aku sempat bertemu Sadewa di halaman. Ingat pesanku tadi."

__ADS_1


"Iya Kak."


Nou berlari kecil menuju kamar yang biasa digunakan Tatiana saat berkunjung.


"Kak, ini Nou." ucap Noushafarin setelah mengetuk pintu kamar Tatiana.


"Masuklah Nou!" seru Tatiana dari dalam. "Tentang Sadewa ya." imbuh gadis itu begitu Nou duduk di hadapannya.


"Iya, aku tidak menyangka kalian saling mengenal."


"Apa yang Sadewa katakan?"


"Dia bilang, kalian adalah teman saat SMA. Dan jika ingin bertanya yang lain, aku harus mendengarnya dari Kak Tatiana sendiri."


Tatiana tertawa kecil dan meletakkan body cream yang ia gunakan sebelum tidur. "Benar, kami adalah teman SMA."


"Kenapa Kakak tidak pernah cerita?"


Tatiana menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia sadar, tidak bisa menutupi cerita lamanya dari Noushafarin. Jika bukan Tatiana yang bercerita, mungkin Nakula yang akan melakukannya. Namun dalam hati ia bersyukur, Sadewa memilih memberi kesempatan pada Tatiana untuk menjelaskan sendiri ke Noushafarin.


"Aku dan Nakula, kami adalah sepasang kekasih waktu itu."


Noushafarin menarik napas karena terkejut, ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Kakak beneran? Nggak bohong?"


Tatiana mengangguk sambil tersenyum miris. "Ya, tapi di hari kelulusan, aku mendengar ternyata ia hanya bermain-main dengan diriku."


"Saat itu tanpa sengaja aku mendengar percakapan Nakula dengan teman-temannnya. Naku hanya berpura-pura mencintaiku. Dia bangga sudah membuatku jatuh cinta padanya dan berencana akan segera meninggalkanku."


"Ternyata di mata Nakula, aku hanyalah gadis kutu buku yang membuatnya penasaran dan ingin menaklukkan diriku. Setelah keinginannya tercapai, ia akan mencampakkan aku begitu saja, sesuka hatinya."


Noushafarin terdiam, ia berulang kali mengatur napas untuk mengimbangi rasa terkejutnya.


"Karena itu juga Kakak jadi tidak berani membuka diri untuk pemuda lain."


"Bisa dibilang begitu."


"Jadi, itu juga alasan Kakak menatap aneh pada Mas Sadewa?"


"Iya, bagaimana pun, wajah mereka itu kan sama Nou. Kakak bukan membenci Sadewa, hanya saja melihat Sadewa itu sama seperti sedang menatap Nakula. Walau cara mereka menatap jauh berbeda."


"Kak Tatiana masih ingat juga sampai hal sekecil itu tentang Kak Nakula? Beneran belum move on dong ya." celetuk Noushafarin. "Aduh!" ia mengaduh saat Tatiana memukul tubuhnya dengan bantal.


"Cerewet!! Sana, kembali ke kamarmu. Kakak mau tidur."


"Ih Kakak, aku akan belum selesai."


"Sudah cukup untuk malam ini."


"Berarti lain kali aku masih bisa bertanya."


"Tergantung situasi."


"Issshhhhhh." Nou jadi kesal. "Baiklah kalau begitu, selamat istirahat Kak." ucap Nou saat beranjak dari sana.


"Selamat malam."


Nou menutup kamar Tatiana dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia masih penasaran, namun ia juga sudah diingatkan oleh Darian agar tidak menyusahkan Tatiana.


"Sekarang aku mengerti kenapa Kak Darian melarangku bertanya lebih jauh. Ternyata aku mengorek luka lama." Noushafarin bermonolog hingga tiba di kamarnya.


......................


Jangan lupa like dan komen ya❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2