
Nakula memijit pelipisnya, ada yang salah dengan pelelangan kali ini. Sepertinya saingan perusahaan mereka mengetahui titik lemah penawaran yang mereka ajukan. Dengan kata lain, berkas penawaran telah bocor.
"Masuk!" perintah Nakula pada seseorang yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Oh, kamu rupanya." Nakula beranjak dari kursi kerja dan beralih ke sofa setelah melihat Sadewa masuk.
"Sudah dipastikan, berkas kita bocor." Sadewa Ulangsung membahas pokok permasalahan.
"Bagaimana mungkin? Aku menyimpan berkas itu di rumah dalam ruang kerja." Nakula terlihat yakin.
"Kecuali ada..." Sadewa menggantung kalimatnya, ia menatap Nakula dengan sorot mata tajam.
"Seseorang dalam rumah sudah berkhianat." Nakula bergumam lirih. Rasa kecewa menyergapnya, jantungnya berdentam dengan hebat. Anjani? Mungkinkah?
"Kau mencurigai seseorang?" Sadewa berhati-hati dalam bertanya karena ia melihat perubahan besar dari raut wajah kembarannya.
Nakula menggeleng lemah. "Aku tak tahu." kilahnya. "Mari temui Papa dan ceritakan masalah ini."
***
Pandu menerima berita kalah lelang tender dengan lapang dada. Toh bukan kali pertama mereka mengalaminya. Namun Nakula tampak tidak bisa menerima dengan baik. Wajahnya murung, rahangnya mengetat.
"Papa tidak menyalahkanmu, mengapa kau terlihat galau seperti itu?"
Nakula menatap Papanya dan tersenyum tipis. "Aku merasa tidak becus menjaga rahasia, juga...."
"Kita hanya manusia biasa nak, wajar jika ada yang terjadi di luar rencana." Pandu menatap putranya dengan tatapan teduh. Ia pun kecewa, namun tak lantas membuatnya menyalahkan orang lain sesuka hatinya. "Ayo kita pulang."
Nakula dan Sadewa bingung melihat Papa Pandu. "Kalian perlu istirahat, Papa juga demikian."
"Tapi tidak bisa Pa. Kit...."
"Naku, Papa benar." Sadewa memotong perkataan saudara kembarnya itu.
Ketiganya lantas meninggalkan kantor setelah terlebih dulu mengabari sekretaris pribadi.
Mama Kandi yang sedang duduk bercengkrama dengan Anjani terkejut melihat hal yang tak biasa ini. Ia menyambut orang-orang terkasihnya dengan senyum sumringah.
"Selamat siang menjelang sore." Pandu lebih dulu mengucapkan salam.
"Selamat sore, lebih singkat." Mama Kandi tertawa pelan. "Tumben."
Sadewa tersenyum tipis, sedangkan Nakula langsung berjalan menuju kamarnya.
"Anjani nyusul Naku dulu Pa, Ma." pamit Anjani sebelum mengekori Nakula.
"Iya, kamu memang harus menemaninya." Papa Pandu menatap punggung Nakula yang semakin menjauh.
Mereka terdiam hingga suami istri tersebut tak lagi kelihatan.
"Ada apa Pa?" Mama Kandi menggandeng suaminya untuk pergi ke ruang tengah dan duduk disana sedangkan Sadewa langsung menuju dapur untuk minta dibuatkan jus.
"Kami kalah lelang pekerjaan Ma."jawab Pandu sambil mengendurkan dasi dan membuka kancing di dekat kerah kemejanya.
"Bukankah sudah biasa ya? Kan tidak selamanya kita bisa menang tender." sahut Mama Kandi dengan tenang.
"Kami curiga ada yang berkhianat Ma." Sadewa yang sudah kembali dari dapur ikut menambahkan. "Karena kelemahan penawaran kami diketahui oleh yang lain."
__ADS_1
"Berkhianat? Maksudnya membocorkan berkas penawaran, begitu?" Mama Kandi terkejut.
Sadewa mengangguk. "Karena menurut Nakula, berkasnya ia simpan di ruang kerja setelah selesai dicetak."
Mama Kandi terdiam, ia nampak memikirkan sesuatu. Yang sering membersihkan ruang kerja hanya Inah. Tapi kalau dia, harusnya sudah dilakukan dari dulu. Dan beberapa hari yang lalu, Anjani....
"Ma!"
Mama Kandi terkejut merasakan tepukan di bahunya.
"Papa panggil-panggil dari tadi malah asyik melamun." Pandu mencebik.
"Mama lagi mikir kemungkinannya, Pa." Mama Kandi membela diri. "Beberapa hari yang lalu Anjani keluar dari ruang kerja. Aneh, kan biasanya kalau nggak ada Nakula dia nggak masuk kesana."
"Mama curiga sama menantu sendiri?" Papa Pandu menggelengkan kepala sambil berdecak, tak habis pikir kenapa istrinya bisa mengira Anjani pelakunya.
"Masih ada Inah juga yang biasanya bersihkan ruangan itu, kenapa cuma Anjani yang Mama duga?" Sadewa memberi pendapat. "Lagian dari dulu sudah aku usulkan pasang CCTV di dalam rumah, nggak ada yang mau dengerin."
"Orang rumah sendiri mau kamu awasi?" dari dulu Papa Pandu tak menyetujui saran itu. Menurut beliau cukup memasang CCTV di luar rumah.
"Kali ini Mama mendukung usul Sadewa, Pa. Pasang CCTV di dalam rumah. Karena ternyata kita sudah menaruh kepercayaan pada orang yang salah."
Pandu terdiam mendengar usul Kandi. Ia menatap tajam pada satu titik, dahinya berkerut samar.
"Tapi kita tidak bisa pasang sekarang. Akan membuat musuh waspada. Karena pemasangan CCTV akan melibatkan banyak orang." Pandu mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku akan mencari orang yang bisa memasang instalasi CCTV tersembunyi. Biasanya diletakkan pada ornamen penghias rumah." Sadewa menawarkan solusi.
"Bagus tuh. Iya kan Pa." Mama Kandi terlihat sangat antusias.
Papa Pandu tersenyum. "Baiklah, kamu yang atur ya Wa."
"Dan untuk masalah Anjani, jangan katakan apapun padanya maupun Nakula." Papa Pandu memberi peringatan pada kedua anggota keluarganya itu. "Kita tidak boleh menuduh orang sembarangan tanpa bukti." Mama dan Sadewa mengangguk setuju.
Di dalam kamar, Nakula sengaja berlama-lama di kamar mandi. Ia membiarkan shower terus menyala dan menyirami kepalanya.
Ia sadar tak seharusnya langsung merasa kecewa sebelum mencari tahu kebenarannya. Namun entah kenapa Nakula merasa sangat tak nyaman saat melihat Anjani.
Ini adalah kali pertama Papa Pandu menyerahkan seluruh proses mengikuti lelang dari awal. Bahkan sampai pembuatan berkas penawaran, Papa Pandu hanya memberi beberapa arahan.
Tugas pertama, langsung kalah bahkan berkas bocor ke pihak pesaing. Hhhhhhhh....sungguh tidak beruntung.
***
Arin membersihkan dapur, ini adalah tugas terakhirnya sebelum ia beristirahat. Ia tersenyum tipis saat melihat hasil pekerjaannya.
"Ya ampun!!!" Arin memegangi dadanya karena terkejut, wajahnya pucat.
"Kenapa terkejut seperti itu?" Sadewa melipat tangan di depan dada.
"Ma-maaf Tuan Muda, saya tidak menyadari kedatangan Tuan." jawab Arin sambil menundukkan pandangannya. "Apakah ada yang harus saya kerjakan Tuan?" Arin menundukkan wajahnya.
"Buatkan teh, dan bawa ke ruang tengah lantai dua."
"Ba-baik tuan." Arin berbalik dan menghela napas kasar. Olahraga malam lagi. Gumam Arin dalam hati mengingat terakhir kali Sadewa mengerjainya naik turun lantai 2.
"Jangan berprasangka buruk, aku tidak akan membuatmu berolahraga malam ini." kata Sadewa seakan bisa membaca gerak gerik Arin dari belakang. Setelah mengatakannya, pemuda itu segera beranjak dari sana.
__ADS_1
Arin tersenyum kecut mendengat kalimat terakhir Tuannya. Baguslah, hari ini aku sudah sangat lelah jika harus bolak balik dapur dan lantai 2.
Sambil menunggu air mendidih, pikirannya menerawang. Mengingat kesibukannya jika berada di Jerman. Noushafarin tersenyum tipis, hanya dengan membayangkan saja semangatnya sudah terkumpul kembali. Hatinya bahkan terasa hangat.
Kalau boleh jujur, aktifitasnya di sana lebih berat dari pada menjadi pembantu saat ini. Namun karena melakukan hal yang sudah ia cita-citakan, maka rasa lelahnya tak mempengaruhi tubuhnya. Ia percaya usaha tak mengkhianati hasil. Saat ini bersusah-susah menimba ilmu, kedepannya ia akan menikmati hasil jerih lelahnya.
Noushafarin membawa teh menuju Sadewa dengan perasaan was-was. Ia takut jika Tuan Mudanya tak menepati perkataannya. Namun ternyata ketakutannya berlebihan, Sadewa terlihat sibuk bekerja dengan laptopnya. Kenapa tidak kerja di ruang kerja saja? Nou membatin.
"Tuan Muda, ini tehnya."
"Hmm."
"Saya permisi Tuan."
"Arin."
Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik. "Iya Tuan."
Sadewa berdiri dan mendekati Arin, matanya menatap tajam ke arah gadis itu.
"Angkat wajahmu."
Noushafarin ragu, namun ia perlahan mengangkat wajahnya mengikuti perintah Sadewa.
Kedua mata mereka beradu pandang, saling mengunci selama beberapa detik.
"Ada apa Tuan?" Noushafarin lebih dulu memecah keheningan.
Sadewa sedikit terkejut. "Ehmm. Aku mau minta maaf selama ini bersikap kasar padamu."
Gadis itu mengangkat kedua alisnya.
"Aku minta maaf suka menuduhmu sembarangan."
Noushafarin menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Aku minta ma..."
"Sudah cukup Tuan Muda. Anda tidak perlu seperti ini." Arin menghentikan Sadewa yang menyebut kesalahannya satu per satu. "Saya sudah memaafkan."
"Benarkah?" Sadewa tak percaya, namun gadis dihadapannya mengangguk tegas. Wajahnya pun terlihat jujur, tak nampak ada kebohongan disana.
"Terima kasih."
Gadis itu tersenyum samar. "Sama-sama Tuan. Bolehkah saya kembali sekarang?"
"Tentu."
"Arin." sekali lagi Noushafarin menoleh.
"Ya Tuan."
"Selamat tidur."
Noushafarin hanya diam menatap Sadewa kemudian berbalik dan kembali ke kamarnya.
Sadewa salah makan apa malam ini? Atau obatnya habis?
__ADS_1
***