
Jangan lupa like, komen dan tambahkan novel ini ke favorit ya.
Terima kasih❤❤❤
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setibanya di rumah, Arin segera menuju kamarnya. Namun belum sampai membuka pintu, Anjani telah memanggilnya.
"Arin, jawab yang jujur." sorot mata Anjani berubah serius. "Kamu dimarah kan sama Sadewa?"
Arin terhenyak, ia bingung mau menjawab apa.
"Arin kenapa diam saja?" Anjani memaksa. "Kamu dikerjain sama Sadewa, iya kan?"
"Kapan Nyonya?" alis gadis itu bertaut.
"Ya tadilah Arin." Anjani terlihat gemas. "Waktu di kantor."
"Tidak kok Nyonya." tidak mungkin Arin berkata iya Sadewa marah-marah. "Tuan muda cuma salah paham."
"Salah paham?"
"Saya juga tidak mengerti Nyonya. Tuan cuma bilang kenapa saya tidak menghentikan Nyonya Kandi." jawab Arin jujur.
Anjani mengernyit, memikirkan kemana arah pembicaraan Sadewa.
"Hanya itu saja?"
"Iya Nyonya."
"Baiklah, aku permisi." Anjani berbalik dan melangkah pergi.
"Emm, maaf Nyonya." Arin memberanikan diri menyusul Anjani. "Bagaimana Nyonya tahu Tuan Sadewa marah?"
"O itu. Tadi saya melihatnya menyeretmu ke pintu ruang tangga darurat." istri Nakula itu melirik pergelangan tangan Arin. "Masih sakit?"
"Eh." Arin refleks memegang pergelangan tangannya. "Sudah tidak Nyonya." jawabnya semakin menunduk.
Anjani menatap iba pada Arin, ia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah utama.
"Sadewa sudah keterlaluan." lirih Anjani sambil mengupas mangga di dapur bersih.
"Keterlaluan gimana?" pertanyaan Mama Kandi membuat Anjani menjengit, bahkan pisau di tangannya sampai terlepas karena kaget.
"Mama, ngagetin aja."
"Kamu sih, ngupas buah sambil ngomel. Jadi nggak sadar mama datang." ucap Mama Kandi sambil duduk di depan menantunya. "Sadewa kenapa?"
"Itu Ma, dia tadi nyeret Arin ke ruang tangga darurat." kemudian Anjani mulai mengadu, bahwasanya Sadewa senang mengerjai Arin.
"Anak itu!" Mama Kandi menggeram. "Lihat saja nanti, Mama akan menegur dia."
"Iya Ma, kasihan Arin. Dan lagi, nama baik keluarga kita bisa tercemar Ma. Orang akan berpikir kita suka menganiaya ART."
"Kamu benar Jani." Mama Kandi mengangguk membenarkan ucapan Anjani. "Tapi rasanya baru kali ini Sadewa iseng ke seorang ART."
__ADS_1
"Kalau marah sih sering, tapi kalau iseng ini lho. Kayak aneh banget." Mama Kandi terheran-heran mengingat ulah Sadewa berdasarkan penuturan Anjani.
"Mungkin Sadewa naksir." ucap Anjani asal.
"Bisa jadi." Mama Kandi mengangguk-anggukkan kepala. Sementara Anjani terlihat bengong mendengar kata-kata mertuanya.
Beliau tidak menolak tebakan Anjani, dan terkesan menganggap wajar kalau Sadewa memiliki rasa tertarik. Artinya Mama Kandi sedang melihat Arin dari sisi gadis biasa, bukan ART keluarga mereka.
Menarik, Anjani tersenyum penuh arti dan menyodorkan potongan mangga pada mertuanya.
***
Sadewa menatap gadis cantik nan seksi yang duduk di depannya. Tak ada rasa cinta dalam sorot matanya. Bahkan terlihat jelas pemuda itu sedang menatap Della dengan penuh kemarahan.
"Aku salah apa sih honey? Kok kamu kelihatan marah gitu." Della meletakkan sendok es krimnya dan mencoba meraih tangan Sadewa. Namun sebelum berhasil pemuda itu telah lebih dulu menarik tangannya.
"Sudah selsai makan es krimnya?"
"Sudah! Nggak selera lagi." Della mencebik kesal.
Sadewa menarik napas sebelum mengaktifkan ipad yang ia letakkan di meja. Della dengan antusias melihat semua gerakan Sadewa.
"Lihat baik-baik." pemuda itu menunjukkan layar ipad pada Della. Sebuah video sedang ditampilkan. Seketika itu juga wajah Della berubah pucat seperti tak memiliki darag.
"Hon-Honey, ak-aku.."
Sadewa mengeluarkan amplop coklat besar dan menuangkan isinya ke atas meja. Foto-foto mesra Della dengan seorang pemuda berhamburan hingga jatuh ke lantai.
"Sejak kapan kamu mulai menjalin hubungan, selingkuh sama Salton Triantono?"
"Jawab!!!" Sadewa menggebrak meja. Beruntung karena belum terlalu malam, pengunjung kafe itu masih sedikit. Hingga mereka berdua tak perlu malu menjadi sorotan banyak orang.
"Dari sebelum kita tunangan." suara Della terdengar lemah, namun masih bisa didengar Sadewa dengan jelas
Rahangnya mengatup, kedua tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Sungguh pemandangan yang menakutkan karena Della tak pernah melihat Sadewa semarah ini.
"Aku memperjuangkanmu di depan keluargaku, tapi kau malah mengkhianatiku." desis Sadewa.
Della mengangkat wajahnya, sorot matanya mulai berubah dari ketakutan menjadi kemarahan.
"Memperjuangkan? Kamu yakin? Kenapa tidak ada perubahan sama sekali?" Della mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu dengan wajah tersenyum sinis.
"Aku begini juga karena kamu. Andai kamu lebih perhagian sama aku. Aku nggak bakal selingkuh."
"Apa perhatianku masih kurang?" Sadewa merendahkan suaranya.
"Iya, kamu nggak pernah temani aku ke salon, belanja, nonton di bioskop, ngumpul sama teman-teman arisan." Della mulai menyebut kelemahan Sadewa.
Sebelah alis pemuda itu terangkat. "Jika aku menemanimu, lalu dari mana aku mendapat uang untuk membeli tas LV edisi terbatas? Kau meminta uang dan waktuku di saat yang bersamaan?"
"Buktinya Salton bisa melakukannya." Della tersenyum meremehkan Sadewa. "Kamu memang ngvak sayang sama aku, makanya kamu nggak mau menghabiskan banyak waktu sama aku." gadis itu tak ingin disalahkan karena telah berselingkuh.
Sadewa merasa emosi mulai naik lagi setelah dibandingkan dengan selingkuhan tunangannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
"Bekukan semua kartu kredit, kartu debet dan tabungan atas nama Della yang kubuat untuknya." begitu tersambung ia langsung memberikan perintah.
__ADS_1
Della tercengang, ia tak menyangka Sadewa langsung membuat keputusan seperti itu. Terlebih lagi pemuda itu melepas cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kita selesai, semoga kalian bahagia." ucap Sadewa sambil meletakkan cincin di atas meja dan pergi meninggalkan Della seorang diri.
***
Sadewa berdiri di dekat jendela ruangannya dan menatap jalanan di bawah sana. Namun jika dioerhatikan lebih dekat, tatapan mata pemuda itu kosong.
"Kau terlihat menyedihkan." Nakula berjalan menghampiri saudara kembarnya itu. "Dan kau membuat Mama resah karena berangkat kerja tanpa sarapan."
"Bagaimana kau bisa masuk?" Sadewa berkata tanpa berpaling.
"Aku sudah mengetuk dan memanggil sampai sepuluh kali, jika tak salah hitung."
"Apa yang kau inginkan? Berkata 'kan sudah kubilang'. Begitu?" Sadewa menatap kembarannya dengan datar.
"Tentu tidak." Nakula tersenyum lembut. "Aku ingin berkata, aku siap mendengar keluh kesahmu."
"Kenapa tidak menertawakanku?"
"Dasar bodoh." gerutu Nakula. "Itu sama saja aku menertawakan diriku sendiri. Karena sebagai saudara aku gagal menasehatimu."
Sadewa terdiam, ia berjalan menuju sofa di sudut ruang kerjanya dan disusul Nakula.
"Hhhhhh, kau benar, kalian semua benar." Sadewa bersandar di sofa dan memejamkan matanya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Jika suati hari nanti Della memohon untuk kembali, jangan terima dia lagi." Nakula bersungguh-sungguh mengatakannya. "Tukang selingkuh adalah penyakit yang sulit diobati, suatu saat bisa kambuh lagi."
Sadewa terkekeh geli mendengar alasan dari permintaan Nakula.
"Hanya karena itu?"
"Ya karena kami juga tak menyukainya." Nakula meringis. "Kami sudah mengalah menghormati pilihanmu, jadi berikutnya kau harus mengormati keputusan kami mengenai Della."
"Terima kasih karena tidak membullyku."
"Siapa bilang?" Nakula menaik turunkan kedua alisnya. "Tunggu saja waktu yang tepat." ia segera berdiri karena melihat Sadewa mengambil ancang-ancang melempar bantal sofa ke arahnya.
"Awas saja kau." ancam Sadewa disertai tawa.
"Eh, aku lupa." Nakula yang sudah membuka pintu berbalik. "Mama akan datang lebih awal membawakan sarapanmu."
"Mengapa tidak meneleponku langsung?"
"Nomormu tak bisa dihubungi, periksalah handphonemu." ucap Nakula seraya keluar meninggalkan ruang kerja Sadewa.
Sadewa merogoh kantong jasnya dan mendapati handphonenya sedang tidak aktif. Ia memijat pelan pelipisnya sambil tetap bersandar di punggung sofa. Kepalanya terasa sangat sakit sejak semalam saat meninggalkan kafe tempat ia dan Della bertemu.
"Ternyata dikhianati rasanya sangat menyakitkan." lirihnya pelan dengan mata terpejam.
***
__ADS_1