Noushafarin

Noushafarin
Bab 30


__ADS_3

Siang ini Papa Pandu kembali meminta Noushafarin mengantarkan makanan. Alasannya karena Mama Kandi tidak boleh terlalu lelah dulu. Agak membingungkan sebenarnya, namun Kandi tetap mengikuti permintaan Pandu.


"Maaf ya Rin, saya merepotkan kamu lagi."


"Tidak apa-apa, Nyonya."


"Kenapa bukan Anjani saja yang Papa minta?" akhirnya Anjani menyuarakan keheranannya setelah mereka melihat Noushafarin pergi.


"Mama juga bingung, kata Papa supaya kamu bisa jaga Mama."


Anjani menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mama merasa aneh nggak sih?"


"Ya aneh, tapi sudahlah. Ikuti saja permintaan Papamu. Kan kalau Mama sakit, kasihan juga Papa."


"Iya ya, hehe."


Satu jam kemudian Noushafarin telah berada di dalam ruangan Tuan Pandu. Dan sekali lagi, ia meminta untuk memanggil Sadewa, karena Nakula sudah berada di dalam ruangan tersebut sejak Nou datang.


"Masuk!" dada Nou bergemuruh mendengar suara Sadewa.


"Se-selamat siang." Nou terbata mengucapkan salam, ia bahkan tidak berani melangkah lebih jauh. Gadis itu berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar.


"Arin? Kok disitu saja?"


"A itu, Tuan Pandu memanggil."


Sadewa berjalan ke depan mejanya dan sedikit bersandar disana. Ia menyilangkan dada dan memperhatikan Nou dari jauh.


"Kok sekarang kayak gini manggilnya?" wajahnya terlihat masam.


Melihat tidak ada pergerakan sedikit pun dari Noushafarin, Sadewa kembali berbicara.


"Mau masuk atau aku cium kamu di depan semua orang?"


Nou sontak masuk ke dalam ruangan dengan wajah ditekuk karena kesal.


"Good girl. Ditutup dong pintunya."


Lagi-lagi Nou menurut perintah Sadewa. Saat berbalik ia melihat jari Sadewa digerakkan sebagai isyarat agar ia mendekat. Gadis itu mendekat dengan gelisah.


Sekitar jarak 1 meter di depan Sadewa, Nou berhenti. Melihat itu Sadewa segera meraih tangan Nou dan menariknya sehingga gadis itu menabrak dada bidangnya.


"Jauh banget berhentinya." Sadewa memeluk Nou dan satu tangan memegangi dagu gadis itu.


"M-mas..." Nou bergerak gelisah. "Ini di kantor, nanti ada yang lihat."


"Biar saja. Aku rindu pada kekasihku."


"Kan tadi pagi sudah ketemu."

__ADS_1


"Tapi tidak berduaan." selesai berkata demikian ia menyentuh ujung hidung mancung Nou dengan ujung hidungnya dan menggerak-gerakkannya ke kanan ke kiri.


"Udah Mas, nanti ditanya-tanya kalau lama kesana."


"Papa ngerti kok."


"Tapi Ma...."


"Kamu bantah aku terus. Iya deh aku pergi." Sadewa mengurai pelukannya dan pergi dengan wajah kecewa.


Nou menghela napas dan berbalik mengejar, ia bahkan memeluk Sadewa dari belakang.


"Bukan gitu maksudnya Mas. Kan Tuan Pandu ingin makan siang bersama. Keburu makanan dingin dan waktu istirahat habis." Nou melepas pelukannya dan berjalan di depan Sadewa.


"Jangan marah gitu." ia mengulurkan tangan dan mengusap lengan Sadewa.


"Sepertinya kamu..."


"Sssttt." Nou meletakkan telunjuknya pada bibir Sadewa. "Jangan menduga-duga hal yang belum tentu kebenarannya. Aku senang bisa berduaan sama kamu Mas, tapi aku nggak mau jadi penghambat pekerjaan."


Sadewa menghela napas dengan berat. "Ya aku tahu." dan sedetik kemudian ia mengecup pipi Nou secepat kilat. "Itu kompensasinya."


Noushafarin tersipu dengan tindakan kecil Sadewa. Ia segera berbalik menuju pintu untuk menyembunyikan rona wajahnya. Saat hendak menggerakkan handle pintu, Sadewa memerangkapnya dari belakang kemudian merapatkan tubuh gadis itu ke pintu.


"Mas." Nou berusaha menoleh ke belakang, dan Sadewa malah mendekatkan wajahnya. Ia kembali mengecup pipi Noushafarin.


"Bukannya reda malah semakin nagih." ia menghembuskan napas frustasi seusai mencium Nou.


Nou tersenyum geli mendengar ucapan kekasihnya, ia mengerti dengan yang dialami Sadewa. Meski baru pertama kali memiliki pacar, tapi Nou bukanlah gadis yang tidak mengerti apa-apa. Otaknya sudah sering direcoki tentang urusan asmara dari teman-temannya.


Ia sadar, ia dan Sadewa adalah pasangan yang sudah sama-sama masuk dalam usia matang. Tinggal bagaimana mengendalikan keinginan masing-masing.


"Mas." lirih Nou pada Sadewa yang berjalan pelan di depannya.


"Hmmm." Sadewa menjawab tanpa menoleh.


"Kamu yang pertama mengecup pipiku, selain keluargaku."


"Apa?!" pernyataan Noushafarin membuat Sadewa terkejut dan refleks menghentikan langkah.


"Aduh!" Nou memekik sambil memegangi hidungnya yang terasa sakit karena membentur tubuh Sadewa. "Kenapa mendadak berhenti?!" protesnya pada Sadewa yang tengah berbalik sambil tersenyum menatapnya.


Tiba-tiba Sadewa menarik tangan Nou dan kembali ke dalam ruangannya. Ia menutup pintu serta menguncinya. Nou semakin terkejut tatkala Sadewa menyandarkannya di dinding.


"Kalau begitu aku juga ingin jadi yang pertama menyentuh ini." Sadewa mengusap bibir Nou dengan ibu jarinya. Perlahan ia memiringkan kepala dan mendekatkan wajahnya.


Saat jaraknya tinggak sedikit lagi, tiba-tiba jemari Nou menutup bibirnya hingga Sadewa hanya menyentuh jari-jari itu dengan bibirnya.


"Please jangan aneh-aneh Mas. Ingat tempat." ujar Nou ketus. "Nanti Tuan Pandu ngomel ke aku kalau Mas lama datangnya."

__ADS_1


"Tapi..."


"Nggak ada tapi...tapi." mendengar nada ketegasan dari Nou, Sadewa lantas pasrah. Mereka keluar ruangan, kali ini Nou berjalan cepat di depan pemuda itu. Ia tak ingin diseret kembali ke dalam ruangan Sadewa.


"Lain kali aku akan mengambil hakku." bisik Sadewa pada Nou sebelum ia masuk ke dalam ruangan Papa Pandu.


Wajah Nou yang merona menjadi hal terakhir yang dilihat Sadewa sebelum pintu tertutup rapat.


"Lama sekali." Nakula yang sudah mulai makan memprotes keterlambatan Sadewa.


"Aku yang lama atau kamu yang sudah sangat lapar."


"Ten...."


"Anak-anak, tolong jangan ribut. Makan saja dulu." Papa Pandu melanjutkan makannya kemudian sejenak menatap pintu dan tersenyum penuh arti. Tentu saja Nakula dan Sadewa tak melihat senyuman itu karena keduanya telah menikmati makanannya.


......................


Sementara itu, di kediaman Armani di waktu yang sama. Seorang Dokter tengah memeriksa kondisi Nenek Faireh didampingi Bardia dan Farena.


"Bagaimana kondisi ibu saya, Dokter?" Bardia terlihat cemas di sisi tempat tidur Nenek Faireh. Sementara Farena duduk di sisi lain ranjang dengan mata yang sembab.


"Dari hasil pemeriksaan rutin kemarin, semuanya terlihat normal." jawab Dokter Mulawarman sambil melepas steoskopnya. "Apakah akhir-akhir ini ada yang menjadi beban pikiran Nyonya Armani? Mengapa beliau tiba-tiba seperti ini, padahal kemarin baik-baik saja saat bertemu saya."


"Sebenarnya, putriku kabur dari rumah beberapa minggu yang lalu." ucap Bardia pada sahabatnya sekaligus Dokter pribadi keluarga Armani.


"Alasan Noushafarin?"


"Dia menolak dinikahkan dengan pemuda pilihan ibu."


Mulawarman menghela napas berat. "Ternyata karena itu. Mungkin kalau aku yang berada di posisi Nou, aku akan melakukan hal yang sama." Dokter tersebut memegangi dagunya sambil menatap Nenek Faireh yang tengah memejamkan mata di kasurnya. "Sepertinya aliran darah ke otak kurang lancar, untuk lebih meyakinkan sebaiknya kita lakukan MRI."


"Sekarang juga akan kami bawa."


"Tapi ini aneh, kemarin kondisi Nyonya sangat baik. Pasti ada pemicunya."


"Tadi pagi ada orang toko bunga langganan kami mengantar bonsai terbaru yang cukup unik. Katanya bonsai itu sudah dipesan beberapa bulan lalu oleh Nou." Farena yang sejak tadi hanya berdiam diri akhirnya berbicara.


Farena mengusap buliran bening yang kembali berjatuhan mengalir di pipinya.


"Sebelum tak sadarkan diri, ibu menangis. Ia menyesal telah membuat rencana pernikahan bodoh itu. Ia mengatakan, Nou selalu memperhatikan apa yang ia suka. Namun ia malah membuat rencana yang sangat dibenci Nou." Farena menutup wajah dengan kedua tangannya saat tangisnya semakin tak tertahankan.


Bardia segera menghampiri dan membawa Farena masuk ke dalam pelukannya.


"Ssttt...tenanglah, tenangkan dirimu." Bardia mengusap punggung Farena. "Kita harus membawa ibu ke rumah sakit sekarang juga."


Ucapan Bardia membuat tangis Farena berhenti seketika itu juga. Ia mengangguk kemudian keluar memberitahu sopir dan menyiapkan semua keperluan Ibu mertuanya.


...****************...

__ADS_1


Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤


__ADS_2