
Setelah dilakukan autopsi, jenazah Anjani segera dikebumikan. Pandu Wasesa dan keluarganya mengatur semua prosesi hingga selesai. Bagaimana pun, perbuatan Anjani dilakukan atas dasar ketidak tahuannya akan masalah yang sebenarnya.
Papa Pandu memilih untuk tidak lagi membahas hal itu dan tidak menanggapi berita yang sudah beredar luas di masyarakat. Ia memilih pengacara sebagai juru bicara keluarganya dan menjelaskan duduk persoalan. Karena berita miring dan tidak benar bisa mempengaruhi citra perusahaan jika tidak ditangani secara tepat.
Malam harinya Sadewa kembali ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Noushafarin. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati ruang perawatan gadis itu sudah kosong.
"Permisi, dimana korban sekaligus saksi yang bernama Arin? Dia tidak ada di dalam ruang perawatan." Sadewa melapor kepada polisi yang bertugas di ruang jaga khusus ruangan VIP.
Petugas memeriksa catatan sejenak. "Gadis itu sudah pulang Pak. Pengacaranya telah mengatur semua, jadi gadis itu tidak akan pergi kemanapun sampai ia selesai memberi keterangan."
"Siapa yang menjemputnya?"
"Maaf Pak, identitasnya dirahasiakan."
"Tapi diakan saksi, bagaimana pergerakannya tidak diketahui dan dirahasiakan? Sedang kami belum mencabut perkara ini."
"Maaf Pak, bukan kapasitas saya untuk menjawab pertanyaan Bapak." ujar petugas itu dengan ramah.
Sadewa menarik rambutnya dengan frustasi. Ia melajukan mobil untuk kembali ke rumah dan segera berlari masuk setelah memarkirkan mobil secara sembarangan.
"Papa!" ia bahkan berteriak mencari Papa Pandu begitu memasuki pintu. "Papa!"
"Ya ampun Sadewa!" hardik Papanya ketika keluar dari ruang kerja. "Ada apa denganmu?"
"Arin Pa! Arin?"
"Ada apa dengan Arin?" Nakula dan Mama muncul dari kamar Pandu dan Kandi yang berada di lantai dasar rumah itu.
"Arin hilang, ia dibawa pergi oleh seseorang. Bahkan identitas yang mengeluarkannya dirahasiakan."
"Pa, bagaimana ini?" Nyonya Kandi menatap suaminya dengan cemas.
"Papa, kenapa Papa malah santai begitu?" Sadewa kesal melihat Papa Pandu yang tak bereaksi.
"Tunggu sebentar." Papa mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Selamat malam Nak."
"....."
"Apakah kamu yang menjemputnya?"
"....."
"Begitu rupanya."
"....."
"Syukurlah jika begitu. Boleh Om berbicara dengannya?"
"....."
"Tak ingin?"
"....."
"Ya, Om mengerti. Terima kasih banyak."
Pandu menghela napas dengan kasar saat meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku baju.
"Siapa yang Papa telepon?" Sadewa terlihat gusar.
"Mari kita duduk dulu." Pandu mengajak seluruh anggota keluarganya untuk duduk di sofa. "Apa hubunganmu dengan Arin?"
__ADS_1
Sadewa terdiam sejenak, lalu dengan tegas ia menjawab. "Arin adalah kekasihku Pa, Ma."
"Sejak kapan?" meski terkejut, Mama Kandi cepat menenangkan diri.
"Baru beberapa hari Ma. Sadewa ingin menceritakannya sejak awal. Namun karena Mama sakit dan ada kebocoran berkas membuat Sadewa memilih merahasiakannya terlebih dulu. Dan setelah dia keluar dari Rumah Sakit, kami berencana memberitahukannya pada Papa dan Mama."
Papa Pandu menghela napas dengan berat. "Dia tidak ingin bertemu dengan Papa atau pun anggota keluarga kita untuk sementara waktu. Sepertinya lebih kepada Sadewa. Dan keterangannya akan diambil secara terpisah didampingi pengacara keluarganya."
"Pengacara Keluarga?" Sadewa terlihat bingung.
"Ya, Pengacara Keluarga Armani."
"Keluarga Armani?" kali ini Mama Kandi yang menjengit kaget dan menatap suami di sampingnya dalam-dalam. "Papa bercanda? Dan mengapa dia tidak ingin bertemu?"
"Apakah Mama tidak menyadari kemiripannya dengan Darian? Lalu soal tidak ingin bertemu, Papa rasa Sadewa lebih tahu kenapa."
Mama Kandi memukul dahinya. "Pantas saja Mama merasa familiar dengan senyuman pemuda itu."
"Papa sudah tahu? Sejak kapan?"
"Sejak kedua kalinya melihat gadis itu di rumah ini. Awal melihat Papa lupa, dimana pernah bertemu. Kedua kalinya Papa ingat, pernah melihatnya di foto yang dipegang Tuan Bardia Armani."
Sadewa terkejut bukan main, namun sekaligus senang. Tak akan ada yang mempermasalahkan pilihannya.
"Kenapa Papa tidak mengatakan pada kami?"
"Noushafarin kabur dari rumah, dia menyamar jadi pembantu agar tidak bisa dilacak keluarganya. Jadi untuk apa Papa bercerita."
"Jadi namanya Noushafarin." Sadewa bergumam.
"Ya, ingat baik-baik nama kekasihmu. Noushafarin Armani, calon Dokter Spesialis Anak."
"Dokter?" Mama Kandi dan Sadewa terkejut.
"Sejak kalian dirawat di Rumah Sakit. Darian datang dan ingin bertemu. Namun karena sudah larut malam, Papa tidak memberi ijin. Darian juga tidak memaksa."
"Kenapa Arin, ah tidak. Kenapa Noushafarin kabur dari rumahnya?" Sadewa ingin memuaskan rasa penasarannya.
"Ia menolak dinikahkan dengan seorang pemuda. Hingga Nyonya Besar Armani, ibu Tuan Bardia, melarangnya kembali ke Jerman."
"Siapa pemuda itu?" mata Sadewa memicing, ia merasa cemburu.
"Salton Triantono, selingkuhan Della, tunanganmu." Papa Pandu tersenyum mengejek Sadewa.
"Apa?!" Sadewa menggeram.
"Pernikahan dibatalkan karena Nyonya Besar juga mengetahui Salton bercumbu dengan Della." lagi-lagi Papa Pandu melirik Sadewa, ia semakin ingin membuat putranya itu kesal.
"Tak bisakah Papa berbicara dengan ekspresi biasa saja?" Sadewa mulai emosi.
"Maaf, rasa isengnya tak tertahankan. Seperti gatal di ketiak, menyiksa jika tak digaruk." jawab Papa Pandu asal.
Dan jawaban itu dihadiahi pukulan pada paha kirinya oleh Sang Istri. Papa Pandu terkekeh melihat wajah kesal Kandi dan Sadewa, sedangkan Nakula hanya bisa tersenyum geli melihat itu. Sampai akhirnya dering ponsel Pandu membuat mereka semua terdiam.
"Ya Sekretaris Li."
"....."
Papa Pandu menyimak penjelasan Sekretaris Li dengan raut wajah berubah-ubah. Setelah beberapa menit hanya menanggapi dengan pertanyaan singkat, Papa Pandu menutup telepon dengan helaan napas berat.
"Ada apa?" Mama Kandi mengusap lengan suaminya.
"Ada masalah dengan pembangunan lapangan di Agats, Kabupaten Asmat." Papa Pandu memijat pelipisnya. "Sadewa, Papa mengandalkanmu. Nakula, bagaimanapun sedang berduka karena Anjani meninggal. Sedang Mama baru keluar rumah sakit. Besok, pagi-pagi sekali berangkatlah ke Papua. Pakai jet pribadi ke Bandara Mozes Kilangin, Timika. Dari sana akan ada pesawat jenis pilatus yang akan membawamu ke Bandara Ewer."
__ADS_1
"Baik Pa, aku mengerti." kalau boleh jujur ia ingin menemui Noushafarin terlebih dahulu, namun ia tak bisa egois.
Citra perusahaan sedang dipertaruhkan, apalagi dengan adanya berita percobaan pembunuhan. Para kompetitor pasti akan menggiring isu tersebut hingga menjadi bola panas yang liar tak terkendali.
Sebelum tidur, Mama Kandi kembali bertanya pada Papa Pandu soal Noushafarin yang tidak ingin bertemu.
"Pa, kenapa Arin eh Noushafarin tidak ingin bertemu?"
"Sebenarnya hanya tidak ingin bertemu Sadewa, Ma."
"Mereka bertengkar?"
"Mana Papa tahu."
Mama Kandi terdiam, sebagai sesama perempuan ia mengerti. Pasti ada sesuatu yang membuat gadis itu marah dan tidak disadari oleh Sadewa.
......................
"Kamu benar-benar tidak ingin makan sesuatu?"
"Nou bosan ditanya terus dengan pertanyaan yang sama Bunda."
"Iya deh iya." Bunda Farena mengusap kepala Noushafarin yang berada di pangkuannya. Mereka sedang bersama Nenek Faireh yang sementara dirawat.
Sejak kedatangan Noushafarin, keadaan Nyonya besar itu mengalami kemajuan pesat. Meskipun mereka sempat sedih melihat kondisi Nou, namun mereka lega gadis itu sudah pulang.
Demi bisa senantiasa melihat Nenek, Darian mengatur agar brankar untuk Nou diletakkan diruangan yang sama dengan Nenek Faireh. Jadi mereka bisa sekaligus menjaga dan menjenguk keduanya.
"Selamat malam." Bardia masuk bersama dengan Darian.
"Selamat malam." Farena dan Nou menjawab.
"Bagaimana kondisi putri Ayah?" Bardia segera duduk di sisi kanan Nou. Gadis itu mengangkat kepala, berganti meletakkan di pangkuan Ayahnya.
"Sudah lebih baik Yah."
"Lalu bagaimana dengan luka ini?" Ayah Bardia tentu saja mengkhawatirkan bekas luka yang kemungkinan besar menjadi permanen di kulit mulus putrinya.
"Tenang saja ayah, nanti Georgia akan menanganiku begitu tiba di Minga."
Ayah Bardia menaikkan kedua alisnya.
"Maksudnya München. Bavarian, hehe." Nou meringis.
"Tapi sekarang lagi di Jakarta, Indonesia." ucap Ayah Bardia penuh penekanan. "Gunakan kata yang familiar, jangan mengikuti bahasa lokal."
"Entschuldigen Sie bitte meine fehler (maafkan kesalahan saya)."
"Formal sekali." Darian mencibir. "Berhenti menggunakan bahasa asing. Kau di rumah sekarang ini."
"Ya ampun, Kak. Hanya kalimat meminta maaf. Bukankah sudah sering dengar?"
"Tidak." sahut Darian ketus.
"Apa?!" Nou segera bangun.
"Kalian berdua, berhentilah. Nanti Nenek bangun." Bunda menegur keduanya. "Malu sama umur! Harusnya sekarang Bunda sama Ayah melihat cucu yang bertengkar, bukan kalian."
"Bundaaaaa." Darian dan Nou kompak memprotes perkataan Bunda Farena.
...****************...
Dear Good Reader. Jika kalian menyukai Bab ini, jangan lupa untuk Hadiah, Like, Komentar dan Vote ya❤❤❤❤❤
__ADS_1