Noushafarin

Noushafarin
Bab 60


__ADS_3

"Mas, kita ke rumah sakit dulu ya." pinta Noushafarin beberapa menit setelah mobil mereka meninggalkan kediaman Keluarga Wasesa.


"Siapa yang sakit?" Sadewa yang fokus menyetir terlihat cemas.


"Kenalanku sama Kak Darian."


"Aku pikir orang rumah ada yang sakit. Apa perlu membawa buah tangan?"


"Tidak Mas, semua sudah disiapkan di apartemen khusus keluarga pasien."


"Kenal dimana? Siapa yang sakit?"


"Anak kecil Mas, namanya Zoya. Aku dan Kak Darian menyelamatkannya saat anak itu jatuh tak sadarkan diri di lampu merah waktu menemani Mamanya jualan."


Sadewa mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi kita malam mingguan di RS nih."


"Mas kecewa ya. Kalau gitu ke RSnya besok saja. Sekarang Mas maunya kemana?"


Sadewa tertawa kecil. "Kecewa sedikit, tapi walau ke RS asalkan malam ini sama kamu, tidak masalah. Dan asalkan bukan salah satu diantara kita atau keluarga kita yang sakit."


"Makasih untuk pengertiannya, Masku sayang."


"Hmmm??? Coba ulangi."


"Ulangi apa?"


"Kalimat yang tadi."


"Makasih untuk pengertiannya."


"Terus?"


"Terus apa?"


"Tadi kalimatnya bukan itu saja."


"Benarkah?"


"Oh ayolah."


"Ayo kemana sih Mas?"


"Nou."


"Iya Mas."


"Ulangi yang tadi."


"Yang Iya Mas tadi?"


"Noushafarin."


Nou tertawa kecil melihat Sadewa yang mulai kesal.


"Iya Mas, kenapa?"


"Jangan pura-pura tidak tahu." Sadewa terdengar kesal.


Noushafarin semakin terkekeh melihat itu. "Jangan marah dong, nanti gantengnya berkurang."


"Tidak mungkin, keturunan Wasesa itu bibit unggulan."


"Bibit tanaman atau ternak?"


"Tanaman."


"Tanaman jenis apa Mas?"


"Jenis kayu besi berdaun paku."


"Hahahaha." tak ayal tawa Noushafarin pun pecah.


Sedang Sadewa, ia tetap memasang wajah masam hingga gadis itu berhenti tertawa.


"Sudah puas?"


"Aduh, perutku." Nou memegang perutnya disela-sela tawa yang mulai reda. Ia bahkan mengusap air matanya yang keluar di sudut mata.


Sadewa meliriknya sejenak kemudian kembali fokus untuk memarkirkan mobil di area parkir basemen khusus pegawai Rumah Sakit. Noushafarin segera membuka sabuk pengamannya begitu mobil berhenti.


"Jangan ngambek lagi ya, Masku Sayang." Noushafarin mengucapkan kata yang ingin didengar oleh Sadewa sejak tadi. Ia bahkan membelai pipi kekasihnya itu. "Walau bibit terbaik, gantengnya tetap akan hilang kalau marah-marah." imbuhnya dengan tatapan jenaka.

__ADS_1


"Kamu ini ya." Sadewa mencubit pipi Noushafarin dengan gemas.


"Aduh Mas."


Sadewa menghentikan aksinya dan menatap dalam-dalam Noushafarin. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan mata tertuju pada bibir kekasihnya itu. Sedang Noushafarin hanya diam dengan dada yang berdebar.


Tok...Tok...Tok


Kaca mobil di samping Noushafarin diketuk seseorang. Membuat keduanya refleks saling menjauh. Dengan sedikit kesal Sadewa membuka kunci sehingga Noushafarin dapat membuka kaca jendelanya.


"Hai." Miranti melambai.


"Mimi!" seru Noushafarin, ia segera keluar dari mobil dan menghampiri sahabatnya. "Kamu disini juga? Sama siapa?"


"Emmm, itu, sama Kak Darian." Miranti sedikit berbalik ke belakang dengan malu-malu. Noushafarin mengangkat kedua alisnya.


"Oh, ada Kakak juga." Noushafarin senang melihat kehadiran Darian disana, apalagi saat Sang Kakak berjalan mendekati mereka. Namun segera dahinya berkerut. "Kok bisa sama-sama?"


"Memangnya cuma kamu yang mau malam mingguan dengan pacar kamu."


"Eh, itu...hehe." Noushafarin meringis.


"Wah, ternyata ada pasangan baru. Selamat ya." ucap Sadewa yang baru bergabung.


"Pasangan baru?" rupanya Noushafarin tidak paham dengan jawaban Kakaknya. Ia menatap ketiga orang itu bergantian. Miranti tampak tersenyum malu-malu, Sadewa menepuk dahinya melihat Nou yang tak kunjung mengerti.


"Iya. Perkenalkan, Miranti, kekasihku." Darian merangkul pinggang Miranti kemudian mengecup pipinya.


Noushafarin ternganga melihat kejadian itu, matanya membulat dengan mulut terbuka lebar.


"Tolong kondisikan bibirmu, nanti ada lebah membuat sarang di dalamnya." ucap Sadewa kemudian menekan dagu Noushafarin ke atas agar bibir gadis itu mengatup.


"Ya ampun Kak, harus ya cium Mimi saat dikenalkan begini di depan umum." protes Nou.


"Jadi, harus di dalam mobil seperti kalian tadi?"


"Ih, sok tahu." cibir Noushafarin.


"Tahu dong." Darian tak mau kalah.


Noushafarin menipiskan bibirnya tanda tak suka. Miranti menepuk dada Darian dengan pelan disertai tatapan protes. Darian hanya mengangkat bahu tak peduli.


"Kami duluan deh." ucap Noushafarin sambil menarik Sadewa untuk segera meninggalkan tempat parkir.


"Biar saja."


"Dasar." Miranti mengerucutkan bibirnya.


Darian yang melihat itu segera menahan dagu Miranti dan mengangkatnya. Pemuda itu mendaratkan ciuman di bibir Miranti dengan cepat, membuat gadis itu terperanjat.


"Kak..." Miranti tak bisa melanjutkan protesnya karena Darian tak memberi celah.


Kemudian Miranti mendorong dada Darian sekuat tenaga untuk mengakhiri serangan bibir Darian yang lembut membuainya.


"Kak, sudah dong." ucapnya setelah Darian menjauhkan wajah.


"Sepertinya aku kecanduan." Darian mengusap bibir Miranti dengan ibu jarinya. Kemudian menggandeng tangan gadis itu untuk pergi menyusul Noushafarin dan Sadewa. Miranti geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya.


"Bunda sudah tahu?" Noushafarin bertanya pada Miranti saat mereka berempat sudah dekat dengan ruang perawatan Zoya.


"Sepertinya belum."


"Selamat ya." Noushafarin merangkul lengan Miranti dengan gemas. "Aku senang kau jadi Kakak iparku. Jadi aku tidak perlu repot menyesuaikan diri dengan orang baru lagi."


"Iya, aku juga senang." Miranti tampak canggung dengan arah pembicaraan Nou. Ia dan Darian baru resmi menjalin hubungan beberapa jam yang lalu, tapi Noushafarin sudah membahas soal ipar.


"Selamat malam." Noushafarin mengucapkan salam usai mengetuk pintu. Ibu Melati segera berdiri mendengar ada tamu yang datang.


"Selamat malam Nona." sahutnya dengan senyuman ramah.


"Bagaimana kabar ibu?"


"Saya baik, terima kasih." ia sedikit terkejut karena banyaknya orang yang datang. Ia mengira Noushafarin hanya bersama Kakaknya.


"Dimana suami ibu?" Nou kembali bertanya saat melihat Melati hanya seorang diri menjaga Zoya.


"Dia sedang mencari pekerjaan, Nona."


"Selamat malam." tiba-tiba terdengar suara Arya. Semua yang di ruangan menoleh dan menatapnya. Membuat Arya terkejut dengan banyaknya orang yang berada di ruang perawatan putrinya. "Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu."


"Bukan masalah." jawab Darian.

__ADS_1


Sadewa sedikit terkejut dengan penampilan Arya yang bertubuh kekar dengan tato yang terlihat pada tangan dan sedikit terlihat di bagian pangkal leher.


Arya melangkah masuk menuju istrinya. Setelah Melati mencium tangannya, Arya mendekati kaca pembatas dan menatap putri kecilnya yang sedang terlelap.


"Bagaimana dia?" tanya Arya pada Melati.


"Kata dokter tubuhnya bereaksi baik pada pengobatan yang diberikan."


Darian, Sadewa, Noushafarin dan Miranti melihat Arya dengan takjub. Pria yang terlihat menakutkan, garang dan kasar itu, menatap lembut pada istri dan anaknya. Sungguh dua sifat yang bertolak belakang.


"Apa anda tidak berada disini sepanjang hari?" Darian bertanya.


"Iya Tuan. Saya harus mencari pekerjaan." jawab Arya setelah membalikkan tubuhnya.


"Apa keahlian anda, Pak Arya?"


Arya tertawa pelan, lebih seperti menertawakan dirinya sendiri. "Hampir seluruh hidup saya dihabiskan dengan menjadi petarung bebas dan mengerjakan pekerjaan kotor orang-orang kaya."


Darian mengangkat kedua alisnya. "Apakah anda seorang pembunuh bayaran?"


"Tidak Tuan, saya belum pernah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi jika membuat orang yang menjadi target dirawat berbulan-bulan dalam keadaan koma, itu sudah sering."


"Anda bangga dengan itu, Pak?" Sadewa ikut bertanya.


Arya terdiam sejenak setelah melihat siapa yang bertanya. "Sama sekali tidak, Tuan. Saya terpaksa karena sedari remaja hanya hal itu yang saya bisa. Apalagi saya tidak berpendidikan, sekolah dasar saja saya tidak lulus." jawabnya kemudian. "Saya merasa sakit yang dialami Zoya adalah karma akibat perbuatan jahat saya. Jadi saya mulai mencari pekerjaan halal." imbuhnya lagi.


"Tolong, jangan laporkan suami saya ke polisi, Tuan, Nona." Melati mengatupkan kedua tangannya saat memohon.


"Itu masa lalu. Kami tidak mempunyai kaitan dengan itu." jawab Darian. "Anda sungguh ingin pekerjaan halal?"


"Iya Tuan."


"Kalau begitu apakah anda bersedia bergabung dengan bagian keamanan kami?" tawar Darian.


"Kami pun memerlukan tambahan personel di bagian keamanan." Sadewa menambahkan.


"Nah, ada dua tawaran. Silahkan pilih yang mana." ujar Noushafarin.


"Mas." wajah Melati berseri.


"Tapi, saya tidak punya ijazah yang bisa dilampirkan dalam berkas lamaran pekerjaan."


"Keahlian anda adalah ijazah anda Pak." kata Darian.


"Itu juga bukan masalah bagi kami." imbuh Sadewa. "Bahkan besok anda sudah bisa mulai bekerja, aku akan mengaturnya."


Darian membalikkan tubuhnya sedikit dan menatap Sadewa dengan mengernyitkan dahi.


"Aku yang menawarinya pekerjaan lebih dulu."


"Benar, dan aku juga memberi penawaran lebih bagus."


"Pak Arya, silahkan pergi ke bagian keamanan sekarang juga dan katakan pada mereka Darian Armani menugaskan anda berjaga malam ini." perintah Darian tanpa melepaskan tatapannya dari Sadewa.


"Tidak Pak Arya, sebut nomor rekening anda sekarang. Aku akan mentransfer gaji pertama anda sekarang juga." Sadewa balas menatap Darian tanpa gentar.


"Apa kau sungguh tak ingin mengalah?"


"Tentu, SDM seperti ini sangat jarang. Kami perlu untuk mengawal kami saat melakukan pengecekan ke daerah konflik."


"Tapi aku perlu juga untuk mengantisipasi keluarga pasien yang kadang tidak puas dengan pelayanan kami."


"Tapi nyawaku menjadi taruhan apalagi jika harus monitoring ke daerah merah di Papua."


"Keamanan rumah sakit lebih utama."


"Kau ingin adikmu menjadi janda?"


"Kalian kan belum menikah."


"Apa kau rela melihat Noushafarin bersedih?"


"Hei bung! Bukankah kau pulang dalam keadaan utuh saat terakhir kali bertugas ke Papua? Kenapa bicaramu melantur kemana-mana?"


"Tapi kita tidak pernah tahu..."


"Cukup!!!" Darian mengangkat kedua tangannya. "Ayo suit gunting batu kertas, yang menang mendapatkan Pak Arya." tantang Darian.


"Baiklah, siapa takut." Sadewa tak gentar.


Arya dan Melati tersenyum geli melihat tingkah kedua Tuan Muda itu. Sedangkan Noushafarin dan Miranti terlihat sangat kesal. Kedua pemuda itu tidak sadar mereka terlihat seperti anak kecil yang memperebutkan mainan.

__ADS_1


......................


__ADS_2