Noushafarin

Noushafarin
Bab 18


__ADS_3

"Apa-apaan tadi?" Noushafarin masih memegangi dadanya. Debaran itu sudah berkurang sejak satu jam yang lalu, namun masih membuatnya merasa tak nyaman. Terbayang tatapan Sadewa saat mengusap pipinya, membuat Nou kembali menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Ini gila, benar-benar gila. Astaga!" Nou mengerang frustasi, pasalnya dadanya kembali berdegup kencang saat mengingat tatapan Sadewa.


Demi meredakan rasa tak nyamannya, Nou memutuskan keluar kamar. Ia memilih duduk di bangku taman tak jauh dari lapangan basket.


Gadis itu menengadah ke langit, yahhhh...kirain bisa lihat bintang, ternyata mendung.


"Kenapa duduk sendirian disini, Rin?" Mang Ari datang menghampiri.


"Nggak ada teman Mang. Yang lain kayaknya sudah pada tidur."


"Jangan sering melamun, nanti kesambet."


"Aku baru aja duduk kok Mang." Noushafarin membela diri. "Mamang sendiri dari mana?"


"Dari depan, ngopi-ngopi sama Pak Satpam." jawabnya sambil duduk di samping Nou. "Kamu kenapa? Lagi ada masalah?"


"Eng-enggak kok Mang."


"Berarti kangen rumah ya."


Nou mengernyit. "Kok Mamang nanyain gitu?"


"Yahh...habisnya kamu lihat ke langit trus narik napas kayak orang asma."


"Hmm??? Emang orang asma gimana narik napasnya?"


"Megap-megap kayak ikan yang lompat dari air trus terdampar di tanah kering."


"Hahahaaa...berarti tadi aku megap-megap gitu dong."


"Iya."


"Isshhhh, Mamang bisa aja."


Mang Ari tersenyum simpul mendengar tawa renyah Noushafarin. Semenjak kenal, baru kali ini ia melihat gadis itu tertawa lepas. Ia merasa gadis muda di hadapannya ini menyimpan beban berat di hatinya.


"Kenapa kamu kabur dari rumah?"


"Hah?? Ka-kabur Mang? Si-siapa yang kabur?" Nou gugup, apalagi Mang Ari menatapnya tajam dan penuk selidik.


"Kamu bukan dari kalangan ekonomi kelas bawah kan Rin."


"Mang Ari lihat darimana? Kok menilainya sampai segitunya."


"Nebak aja, soalnya muka kamu kelihatan lain. Sepertinya belum pernah kerja kasar juga."


"Ppfftttt, hahahahaha." Nou tertawa geli sekaligus lega. "Kan aku anak manja Mang, jadi jarang kerja. Sekarang lagi kepepet butuh duit, makanya jadi pembantu."


Mang Ari ikut tertawa, namun saat ia melihat ke arah lapangan basket, ia langsung menutup mulutnya. Disana Tuan Muda sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Dilihat dari cara berpakaiannya, bisa dipastikan itu adalah Tuan Muda Sadewa. Bertahun-tahun bekerja dengan Keluarga Wasesa membuat Mang Ari bisa membedakan Tuan Mudanya dari jauh sekalipun.


Pria itu menelan salivanya dengan penuh perjuangan. Namun ia sadar yang menjadi fokus netra Sadewa adalah gadis cantik yang sedang tertawa di sampingnya. Ia hanya bayangan yang tak penting, kesadaran ini lantas membuat Mang Ari berinisiatif untuk berdiri.

__ADS_1


"Mamang duluan ya Rin. Kamu jangan kelamaan di luar, besok banyak pekerjaan. Apalagi Mbok Yem sama Inah kan lagi cuti."


"Iya Mang, sebentar lagi aku kembali." jawab Arin masih dengan sisa tawa di wajahnya. Saat Mang Ari berjalan menjauh, gadis itu kembali menengadah ke langit dengan mata terpejam.


Ia menikmati terpaan angin malam di wajah dan tubuhnya. Sesaat kemudian wajah Bunda memenuhi kelopak matanya. Gadis itu tersenyum dengan tetap mendongak dan memejamkan mata. Bunda...


"Aku rindu."


"Siapa yang kamu rindukan?"


Noushafarin segera membuka mata setelah mendengar suara bariton seorang pemuda yang baru satu jam lalu menemuinya di dapur. Ia terkejut wajah Sadewa berada jauh di atas dengan posisi terbalik. Rupanya pemuda itu berdiri di belakang Nou dan menjulurkan kepalanya hingga wajah mereka berdua berhadapan. Lagi-lagi dengan posisi yang aneh.


"Tuan!" Nou terpekik sambil berdiri dengan sedikit melompat ke depan. Namun karena posisi awalnya tidak bagus, ia jadi kehilangan keseimbangan. Nou terhuyung, dengan sigap Sadewa menarik tangan gadis itu hingga Nou kembali duduk di kursi.


"Tak perlu terkejut seperti itu, aku bukan hantu."


Nou mengarahkan pandangan ke arah tujuan Mang Ari, dan tampak Si Tukang Kebun itu sedang berhenti dan melihat interaksi muda mudi itu.


Jadi Mang Ari pergi karena sudah tahu ada Tuan Muda disini.


Sadewa mengikuti arah pandang Nou, membuat Mang Ari terkejut lantas cepat-cepat meneruskan langkahnya.


"Permisi Tuan, saya akan kembali."


Nou beranjak namun lengannya ditahan oleh Sadewa, pemuda itu bahkan membuat Nou kembali duduk.


"Jawab dulu pertanyaanku. Siapa yang kau rindukan?"


"Oh, itu." Nou menunduk.


"Angkat wajahku dan jawab pertanyaan tadi." dari nada bicara Sadewa terdengar bahwa ia sedang menahan kesal.


Nou mengangkat wajah, tak ingin membuat Tuan Mudanya semakin kesal jika keinginannya tidak dipenuhi.


"Saya rindu mama saya, Tuan Muda." tiba-tiba dadanya kembali berdebar saat pandangannya dan Sadewa bertemu.


Ia cepat-cepat menoleh melihat ke arah lain, Nou takut jantungnya lepas jika terlalu lama bertatapan dengan Tuan Muda itu.


"Mama atau kekasihmu? Jangan berbohong!"


"Saya belum punya kekasih, Tuan Muda." jawab Nou kembali menatap Sadewa walau sesaat. Ingatan soal usapan pemuda itu dipipinya kembali memenuhi kepala.


Sadewa mengamati wajah gadis di depannya, tak ada kebohongan, bahkan ia menjawab tanpa ragu.


"Syukurlah." lirih Sadewa.


"Maaf Tuan?"


"Ti-tidak ada. Ekhmm!" pemuda itu terkejut dengan respon lidahnya yang lebih cepat dari kerja otak.


Keduanya terdiam, namun tangan Sadewa masih belum melepaskan lengan Noushafarin.


"Tuan."

__ADS_1


"Hmmm?"


Oh Tuhan, jantungku. Gumaman Sadewa yang lembut terdengar sangat manis di telinga Noushafarin, membuat detak jantungnya semakin cepat. Di tambah lagi mata Sadewa terlihat begitu lembut menatapnya. Bernapas Nou, bernapas...malu-maluin kalau sampai pingsan.


"Ta-tangan sa-ya, Tu-tuan." Nou jadi kesulitan berbicara akibat dari dentaman di dadanya.


"Tanganku kenapa, hmmm?" Sadewa mengangkat satu alisnya, ia menyadari kegugupan gadis itu.


Lampu taman yang tak terlalu terang masih dapat memperlihatkan rona merah di wajah Noushafarin. Manis sekali, gumam Sadewa dalam hati.


"Maaf Tuan." setelah berkata demikian Nou menarik tangan Sadewa yang masih setia memegang lengannya.


"Saya permisi Tuan Muda, selamat malam." imbuhnya lagi sambil melangkah pergi. Pemuda itu hanya terdiam menatap punggung ARTnya yang semakin jauh.


"Kali ini aku melepasmu, lain kali mungkin tak akan mudah seperti ini." lirih Sadewa disertai senyuman kecil.


Sejak melihat gadis itu tersenyum pada Tora, ia jadi ketagihan ingin selalu melihat senyumannya. Dan malam ini ia melihat gadis itu tertawa renyah bersama Mang Ari.


Wajah Sadewa berubah masam. "Kenapa bukan saat denganku dia berekspresi seperti itu?!"


......................


"Naku." Anjani mendekati suaminya yang akhir-akhir ini bersikap dingin kepadanya. Nakula hanya diam tak menjawab panggilan, namun ia menatap Anjani.


"Apa aku sudah berbuat salah?"


Nakula jadi memikirkan ucapan Sadewa tadi siang. Jika terbukti bukan istrinya yang berkhianat, maka ia akan jadi suami paling bodoh. Ia menarik napas dan untuk sejenak memejamkan mata.


Ia meraih kedua tangan Anjani, kemudian menatap lembut netra wanita yang sudah menjadi istrinya selama satu tahun ini.


"Mengapa bertanya seperti itu?"


"Kau bersikap dingin padaku." mata Anjani berkaca-kaca.


"Hhhhhh... Maafkan aku, mungkin karena stres pekerjaan dan kelelahan aku jadi mengabaikanmu." Nakula menarik Anjani untuk masuk ke dalam pelukannya. "Maaf ya."


Anjani tak mampu berbicara, ia hanya mengangguk sambil menangis dalam dekapan suaminya.


"Shh..shh..shh..tenanglah." berkali-kali Nakula mengecup kepala istrinya.


Anjani menjauhkan wajah dari dada bidang suaminya. "Aku harus kembali membasuh wajahku."


"Lakukanlah." Nakula melepas pelukannya, dan sebelum Anjani beranjak ia mengecup kening istrinya dengan mesra.


Nakula menatap Anjani hingga wanita itu masuk ke dalam kamar mandi. Ia lantas berdiri dan berjalan mendekati jendela. Nakula menyibak tirainya dan menatap ke langit. Tak terlihat ada bintang, mungkin sedang mendung.


Ia lantas mengalihkan tatapan ke arah taman dekat lapangan basket di bawah sana. Siluet muda mudi yang saling menatap membuat sudut bibirnya terangkat naik. Sudah pasti Nakula tahu siapa orang-orang itu.


Segera ia mengambil ponsel dan mengabadikan momen itu.


"Kena kau!"


...****************...

__ADS_1


Jika berkenan, jangan lupa vote, like dan komennya ❤❤❤❤❤


__ADS_2