Noushafarin

Noushafarin
Bab 59


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Sadewa sudah berhenti sejak beberapa menit yang lalu. Namun Sang Pengemudi lebih memilih memandangi gadis cantik yang duduk di sampingnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga ia tak sadar mereka sudah tiba di kediaman Wasesa.


Noushafarin masih termenung, dan Sadewa memilih memandangi kekasihnya itu dalam diam. Hingga kemudian terdengar helaan napas dari Nou dan gadis itu mulai mengerjap.


"Eh?" gadis itu tampak terkejut, beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan mata. "Kita sudah sampai ya." Nou menoleh ke arah Sadewa dan mendapati pemuda itu sedang memandanginya sambil mengulum senyum.


"Kok nggak bilang kalau sudah sampai?"


"Kamu lagi serius berpikir sih." jawab Sadewa asal-asalan.


"Aku gugup Mas." Noushafarin meletakkan tangan di dada.


Sadewa tersenyum sambil membuka sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya ke arah Noushafarin.


"Biar kubantu menenangkan." ujarnya kemudian secepat kilat mengecup pipi Nou.


"Modus." Nou memukul pelan dada Sadewa.


"Hehe, kan cuma sama kamu." jawabnya sambil membuka sabuk pengaman yang digunakan Noushafarin. "Ayo, Mama tidak akan menerkammu." Nou mengangguk dan keduanya keluar dari mobil.


"Kalian sudah datang rupanya." sambut Mam Kandi begitu keduanya memasuki ruang tamu.


"Halo Nyonya." sapa Noushafarin.


"Kok Nyonya sih Nou." Mama Kandi protes. "Panggil Mama saja." pintanya lagi.


"Eh? I-iya."


"Kamu gugup ya?"


"I-iya Nyo eh Mama."


"Kalau gugup gitu makin cantik saja." goda Mama Kandi membuat Noushafarin merona.


"Untuk Mama." sambil menahan malu Nou menyerahkan parcel yang ia siapkan.


"Aduh, terima kasih banyak ya sayang. Kamu repot-repot begini." Mama Srikandi menerima buah tangan yang dibawa Noushafarin dengan senang hati.


"Sudah datang rupanya." terdengar Papa Pandu menyapa. "Apa kabar Noushafarin?" sambungnya begitu ia berhenti di sebelah istrinya, sedang Nakula mengikuti Papanya dari belakang.


"Kabar baik, Tuan eh Om."


"Hmmmm?" Mama Kandi mengerutkan dahi, sedang Nakula mengangkat kedua alisnya.


"Eh, Papa."


Sadewa merangkul Noushafarin dan mengusap lengan gadis itu untuk menenangkannya. "Tarik napas dulu." godanya kemudian.


Papa dan Mama tertawa melihat kegugupan Noushafarin.


"Mama juga dulu begitu waktu pertama kali dikenalkan ke calon mertua." kenang Mama Kandi.


"Kita duduk di ruang tengah saja." ajak Papa dan berjalan lebih dahulu.

__ADS_1


Akhir pekan yang penuh kehangatan di rumah keluarga Wasesa. Kedatangan Noushafarin yang sudah lama dinantikan Srikandi membuat ibu dari Nakula dan Sadewa itu terlihat sangat bahagia.


"Rahangnya Mama nggak sakit?" dengan isengnya Nakula bertanya.


"Kenapa harus sakit?" Mama Srikandi memegang kedua pipi dan rahangnya.


"Dari tadi senyum sumringah terus." sahut Nakula.


"Iya dong, kan yang Mama tunggu sudah datang." jawab Mama Kandi. "Nou, terima kasih banyak ya nak. Kami sudah menyelamatkan mama waktu itu." Mama Kandi mengusap lengan Nou yang duduk di sampingnya.


"I-itu..." Nou menatap Nakula dengan perasaan bersalah.


"Aku baik-baik saja, jangan merasa bersalah seperti itu. Terima kasih sudah menyelamatkan orang tua kami." ucap Nakula sungguh-sungguh.


"Sama-sama. Dan terima kasih sudah memaafkan kelancangan Nou yang pergi tanpa pamit."


"Ehmm!" Sadewa tiba-tiba berdehem membuat semua yang ada disitu tertawa.


"Kalau Sadewa buat kamu menangis lagi, bilang sama Mama ya sayang. Biar Mama balur mulutnya dengan cabai."


"Iya Ma." Noushafarin tersenyum geli saat melihat ekspresi Sadewa.


"Jadi kapan kami mendengar kabar baik dari kalian berdua?"


"Secepatnya Pa."


Jawaban Sadewa atas pertanyaan Papa Pandu membuat desiran halus di dada Noushafarin. Terlebih saat mengucapkan itu Sadewa menatap dalam-dalam padanya.


......................


"Ini semua karena Noushafarin!" Farida mengepalkan kedua tangannya.


"Sudahlah nak. Ini semua salah Mama, kesombongan Mama yang mengakibatkan semua ini." suara Mama Fitri terdengar lemah.


"Aku jadi semakin ingin menghancurkannya Ma."


"Kenapa tidak kau biarkan saja mereka hidup bahagia?"


"Tidak bisa Ma. Karena aku juga menyukai Sadewa."


"Jangan hancurkan hidupmu sendiri sayang. Carilah pemuda lain yang mencintaimu dengan tulus."


Fitri menatap Mamanya dengan pandangan tidak suka sekaligus iba. Ia memilih mengalah, tak baik rasanya jika berdebat dengan orang yang sedang sakit.


"Mama istirahat saja ya. Jangan pikirkan yang aneh-aneh lagi. Papa juga sudah memaafkan Mama kan."


Mama Fitri mengangguk pelan. "Mama rasa kondisi Mama sudah tidak seperti kemarin lagi. Sudah lebih baik."


"Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu."


"Ya, Mama juga ingin istirahat."


Farida mengecup dahi Mamanya kemudian keluar dari kamar orang tuanya. Ketika hendak menuju kamarnya, ia melihat Papanya masuk ke dalam ruang kerja. Farida berubah pikiran, ia menyusul Papanya.

__ADS_1


"Pa, ini aku." ucapnya setelah mengetuk pintu.


"Masuklah."


Farida masuk dan melihat Papanya sedang mencari sesuatu di tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya.


"Papa sibuk?"


"Tidak juga. Ada apa nak?"


"Aku ingin bicara."


"Duduklah dan katakan yang ingin kau bicarakan."


"Ini tentang Sadewa."


Papa Bowo menghentikan kegiatannya, ia menatap anaknya kemudian duduk di kursinya.


"Ada apa lagi?" ia menatap Farida dengan serius.


"Aku, ingin minta maaf secara pribadi dengannya."


"Bukankah Mamamu sudah melakukannya?"


"Aku tahu Pa. Tapi karena namaku dicatut Mama pada malam itu, aku merasa harus meminta maaf padanya juga."


"Kenapa pada Sadewa? Yang dipermalukan Mamamu adalah Noushafarin."


"Ini soal perkataan Mama bahwa aku adalah calon istri Sadewa. Aku rasa aku perlu menjelaskan kepadanya."


Bowo terdiam, ia mencerna ucapan anaknya. "Lebih baik tidak usah. Mama sudah meminta maaf dan masalah selesai sampai disitu. Papa juga sudah bicara dengan Pandu."


"Tapi Pa, aku merasa bersalah." Farida menatap Papanya dengan mata memohon. "Papa tega melihatku tersiksa dengan rasa bersalah?"


Kalau sudah seperti ini, Bowo pun luluh. Ia tak bisa menolak permintaan putrinya jika Farida sudah mulai memohon seperti sekarang ini.


"Baiklah, lagipula niatmu itu baik. Minggu depan Papa akan ke kantor mereka, kamu bisa ikut bersama Papa. Kalau menemani ke kediaman mereka, maaf Papa belum ada waktu."


"Terima kasih Pa. Papa memang yang terbaik." Farida mendekati Papanya dan memeluk pria paruh baya itu.


"Ya ya." Bowo menepuk tangan putrinya. "Papa masih ada pekerjaan, maaf tidak bisa menemani akhir pekanmu."


"Tidak apa-apa Pa, aku mengerti." Farida menautkan jarinya.


Bowo geleng-geleng kepala. "Papa akan transfer ke rekeningmu sekarang."


"Yes!!" Farida bersorak kegirangan. "Bye Pa, aku menyayangimu." ucapnya sambil menuju pintu.


"Papa juga menyayangimu." Bowo melihat anaknya pergi sambil tertawa kecil. Ia lantas mengambil ponsel pintarnya dan mengirim sejumlah uang ke rekening putrinya.


Begitulah Bowo, terlalu menyayangi putri tunggalnya. Ia selalu memenuhi kebutuhan Farida, meski kadang putrinya itu selalu melakukan hal-hal yang membuatnya kesal.


......................

__ADS_1


__ADS_2