Noushafarin

Noushafarin
Bab 33


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Anjani duduk dengan tenang di sel tahanannya, tak tampak kemarahan ataupun ekspresi lainnya. Ia hanya terkejut karena rencananya bisa terbongkar. Apalagi mengenai keadaan mertuanya, ia sangat yakin wanita itu akan menderita dengan penyakit dan meninggal secara alami.


"Kejahatan apa yang sudah kami lakukan kepadamu?" suara Nakula mengagetkan Anjani yang sedang membenamkan wajah di antara kedua lutut.


Wanita itu tersenyum sinis menatap pria yang masih berstatus sebagai suaminya. "Sangat banyak."


Nakula menghela napas, dadanya terasa sesak. "Kita sudah bersama sejak kuliah, apakah......"


"Mendekatimu sejak kuliah adalah bagian dari rencana." potong Anjani cepat.


"Jadi membunuh Mama dan menghancurkan usaha kami sudah direncanakan sejak lama?"


Anjani diam, ia tak ingin menjawab pertanyaan Nakula. Wajahnya kembali dibenamkan diantara kedua lututnya yang ditekuk.


"Anjani..."


"Pergilah Tuan Wasesa, aku tak ingin melihat wajahmu."


Ucapan Anjani serasa menusuk hati Nakula, seharusnya dia yang berkata seperti itu. Namun nyatanya, justru Anjani yang tak ingin bertemu.


Sadewa telah melarang saudaranya untuk menemui wanita itu, namun Nakula bersikeras ingin bertanya sendiri.


Pagi ini Anjani akan menjalani pemeriksaannya yang pertama. Ia ditempatkan di sebuah ruangan khusus yang memiliki kaca. Dari seberang ruangan itu, Tuan Pandu ditemani Nakula dan Sadewa telah berdiri untuk mendengar setiap pernyataan Anjani.


"Apakah akan direkam?" tanya Anjani pada penyidik wanita yang baru duduk dihadapannya.


"Iya bu."


"Aku akan bercerita, bisa mulai direkam?"


Petugas itu mengernyit sesaat. "Baiklah kalau itu mau anda."


Anjani menarik napas dalam-dalam. "Namaku Anjani Maharani, usiaku 28 tahun. Nama keluargaku adalah...." Anjani menggantungkan kalimatnya dan menoleh ke arah kaca besar yang ada di ruangan itu.


Ia tahu suami dan mertuanya ada di balik kaca tersebut. "Mufasa."


Terdengar suara tercekat dari Papa Pandu, kedua tangannya mengepal. Rahangnya mengatup kuat, wajahnya merah padam. Nakula dan Sadewa menatap Papanya dengan bingung.


"Aku sudah merencanakan ini sejak lulus SMA, saat Papaku, Mufasa Wasesa meninggal karena dibunuh Pandu Wasesa."

__ADS_1


"Maaf saya harus memotong cerita anda, Nyonya Anjani." petugas itu menyela. "Jadi anda menikahi sepupu anda sendiri?"


"Begitulah." Anjani tersenyum kecut.


Dada Nakula seperti dihantam godam, seketika ia merasa tak bisa bernapas. Sadewa merangkulnya dari samping saat Nakula terlihat limbung karena terkejut.


"Aku dendam pada keluarga itu, mereka membuat keluargaku menderita. Harta yang seharusnya menjadi milik Papa, semua diambil alih oleh Pandu Wasesa. Membuat kami sekeluarga hidup dalam kekurangan."


"Papa berjanji akan memberi kami kehidupan yang layak dan memperkenalkan aku dan Mama di depan umum. Namun saat ia pergi meminta haknya, ia malah pulang dalam keadaan tak bernyawa. Tak lama kemudian Mama pun meninggal."


Anjani tersenyum kembali menatap kaca pembatas ruangan itu.


"Aku mulai membuat rencana untuk masuk ke dalam keluarga itu. Pertama dengan mendekati Nakula. Awalnya sulit, karena ia ternyata sangat mencintai seorang gadis. Namun aku tak menyerah, hingga setahun yang lalu kami menikah."


Wanita itu tersenyum sambil menunduk. Ia menertawakan dirinya sendiri, tekad membalas dendam yang membara membuatnya rela mengorbankan diri sendiri.


"Sebelum kami menikah, aku membantu seorang gadis yang bernama Siska. Dengan aset terakhir milik Papa, aku membantu pengobatan Mama gadis itu. Namun aku menyadari, penyakit yang diderita Mamanya sudah tidak bisa disembuhkan. Jadi setelah masa duka, aku membuatnya masuk ke rumah keluarga Wasesa."


"Saat membantu aku tak pernah menunjukkan wajahku, jadi Siska tak mengenaliku. Kami berkomunikasi menggunakan sandi yang kubuat menggunakan kata yang ada dalam buku mengenai kehamilan dan parenting."


"Siska tak sadar, jika suatu saat rencana ini terbongkar. Semuanya akan mengarah kepadanya. Namun sepertinya aku terlalu meremehkan keluarga ini." Anjani tersenyum kecut.


"Aku benci karena sudah gagal membalas dendam Papa. Aku benci Pandu Wasesa, aku benci keluarga itu." Anjani mulai terisak. Tanpa ia sadari pintu ruang pemeriksaan terbuka.


"Mufasa Wasesa bukan anak kandung keluarga Wasesa." suara Pandu terdengar datar. Tatapannya tajam, kemarahan menguar dari pria itu.


Penyidik wanita yang berada di dalam tak bisa berbuat apa-apa. Karena di belakang Pandu sudah berdiri seorang pria yang memiliki pangkat sangat tinggi jauh di atasnya.


"Mama Mufasa menjebak Ayahku, mengaku hamil anak Ayah. Namun setelah kami dewasa tak sengaja Mufasa mengalami kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah. Dari situ kami semua tahu, dia tak ada hubungan darah sama sekali dengan kami."


Pandu menyeringai. "Kau bilang kami membuat hidup keluargamu menderita? Kami lebih menderita saat wanita sialan itu masuk membawa Mufasa!!!"


"BOHONG!!!" Anjani berdiri dan menggebrak meja.


"ITU FAKTANYA!!!" suara Pandu lebih menggelegar. Polisi yang ada disana hanya mengawasi agar pria paruh baya itu tidak kalap. "Dia tidak berhak sepeser pun dari uang keluarga Wasesa karena dia memang bukan siapa-siapa. Masih baik kami tidak menarik semua aset miliknya dan milik wanita sialan itu!"


"Tak mungkin!" Anjani bergetar, ia mulai menangis.


"Hari itu dia menerobos masuk ke rumah, ia berusaha melecehkan Srikandiku! Bahkan ia melukai kening Nakula!" tangan Pandu bergetar. "Bukan kami yang membunuhnya, ia melarikan diri saat hendak ditangkap dan tertabrak mobil yang melintas."

__ADS_1


"Kalian hidup dalam kekurangan?" Pandu tersenyum sinis. "Aset yang tidak kami tarik seharusnya lebih dari cukup. Namun orang tamak tetaplah orang tamak."


Pandu segera keluar dari ruangan itu, ia tak mempedulikan Anjani yang telah merosot di lantai dan menangis sejadi-jadinya.


Nakula dan Sadewa menghampiri Pandu, ketiganya berpelukan untuk saling menguatkan. Kejadian yang dialami keluarga mereka bukanlah peristiwa yang bisa dilupakan begitu saja. Bahkan Mama Kandi sampai mengikuti terapi untuk menghilangkan trauma yang diderita.


......................


Noushafarin baru saja meletakkan gelas di meja makan lipat khusus di tempat tidur ketika pintu ruang perawatannya terbuka.


"Hai."


"Hai juga." ia tersenyum manis saat melihat Sadewa datang.


"Sudah selesai makan?"


Nou hanya mengangguk. Sadewa membereskan meja di atas tubuh Nou dan kemudian duduk di pinggir kasur berhadapan dengan pujaan hatinya.


"Masih sakit?" perlahan Sadewa membelai kepala Nou.


"Sedikit."


"Maaf melibatkanmu dalam masalah ini."


"Sudahlah Mas, lagipula aku baik-baik saja kan." Noushafarin tersenyum dan membelai pipi Sadewa.


Pemuda itu mendekatkan wajahnya dan balas membelai pipi Nou.


"Aku mencintaimu." bisiknya tepat di depan wajah gadisnya.


Perlahan ia mengikis jarak diantara mereka, Nou memejamkan matanya dan hal itu membuat Sadewa tersenyum. Ia merasa mendapat lampu hijau.


"Ahh maaf!" suara perawat yang terkejut membuat Sadewa refleks menjauhkan wajahnya. Sedangkan Nou hanya bisa menunduk menahan malu.


"Sepertinya aku belum bisa menikmatimu." lirih Sadewa sambil mengusap bibir Noushafarin.


Pemuda itu lekas berdiri dan mempersilahkan perawat untuk memeriksa Noushafarin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2