Noushafarin

Noushafarin
Bab 51


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian...


Miranti berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan bengkel sambil mengaduk isi tasnya. Dalam hatinya, gadis itu terus saja bersungut-sungut. Mobil kesayangannya mogok disaat yang tidak tepat.


"Aduh!!!" keluhnya sambil memegang dahi yang terasa sedikit nyeri. "Maaf saya tidak.... Eh, Kak Darian?"


"Jalan dengan begitu cepat sambil memeriksa tas. Apakah kau punya sembilan nyawa?!"


"Ah itu...." Miranti tidak menemukan jawaban apapun di dalam benaknya.


"Ayo." Darian berbalik menuju mobilnya.


"Kemana?"


"Bukannya kau akan ke rumah kami."


"Tidak, aku akan ke bandara."


"Nou berpesan agar kita menunggu di rumah. Tidak perlu panitia penyambutan."


Miranti terdiam sejenak sebelum akhirnya mengikuti Darian tanpa protes.


"Kenapa Nou tidak memberitahu secara langsung kepadaku? Kenapa harus lewat kakak? Dan lagi, bagaimana Kak Darian tahu aku ada di bengkel ini?"


"Sejak kapan kau bertransformasi menjadi beo?"


"Eh!!" Miranti refleks menutup mulutnya. "Maaf."


Miranti pun heran, akhir-akhir ini ia sering tak dapat mengendalikan mulutnya saat bersama Darian.


Darian tersenyum, dan itu membuat Miranti yang sedang meliriknya menjadi terpana.


"Aku tahu aku sangat tampan saat sedang tersenyum. Tapi bukan berarti kau bisa meneteskan liur sesukamu di dalam mobilku."


"Ap-apa??" wajah Miranti memerah tertangkap basah sedang mengagumi Darian. Ia membuang pandangan melihat ke jendela untuk mengurangi rasa malunya.


Tiba-tiba mobil Darian menepi dan berhenti. Bahkan Darian menggenggam tangan Miranti dan menarik dagu gadis itu agar menatapnya.


"Tapi aku senang ditatap seperti itu olehmu." Darian tersenyum lembut. "Dan jangan gunakan mata indah ini untuk mengagumi pemuda lain selain aku. Ingat itu."


Entah apa yang terjadi, Miranti hanya mengangguk mengikuti perintah Darian. Ia bagai terhipnotis dengan tatapan kakak sahabatnya itu.


"Gadis pintar." Darian mengusap kepala Miranti sebelum kembali melajukan mobilnya.


Hening...


Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jemari Miranti bertaut, ia takut suasana yang sepi membuat Darian bisa mendengar detak jantungnya. Tanpa Miranti ketahui, Darian pun mengalami hal yang sama. Pemuda itu sampai mencengkram kemudi lebih kuat untuk menahan gejolak di dalam dadanya.


......................


Suasana hangat penuh kebahagiaan memenuhi ruang tengah keluarga Armani. Kedatangan Noushafarin kali ini disambut meriah oleh mereka. Karena gadis itu datang bukan untuk sekedar berlibur, melainkan pulang untuk seterusnya.

__ADS_1


"Makan apa ya?" Miranti menimang-nimang piring kosong di tangannya. Ia sedang mempertimbangkan cemilan apa yang akan dia nikmati bersama Noushafarin.


"Yang ini?" tiba-tiba Bunda Farena meletakkan kue berselimut coklat, terlihat sangat menggiurkan.


Miranti berbinar. "Wah tante. Kok tahu Mimi ingin makan yang ini."


"Mungkin ada ibu peri di sekitar sini."


"Ah tante, bisa saja."


Bunda Farena tersenyum sambil memotong kue berlapis krim dan buah stroberi segar yang baru diantar pelayan. "Kalau yang ini favorit Nou." ucapnya sambil meletakkan dua potong kue di piring kecil.


"Nah, tante rasa obrolan kalian sudah lengkap sekarang." imbuhnya sambil menyodorkan piring tadi pada Miranti.


"Sangat lengkap. Terima kasih tante."


Dengan riang Miranti mengangkat nampan berisi kue dan minuman kemudian membawanya ke tempat Nou duduk.


"Wajahnya kok gitu?" tegur Miranti.


"Hmmmm."


"Karena Kak Sadewa nggak bisa datang ya."


Noushafarin tersenyum masam mendengar tebakan Miranti.


"Aku kira bisa bertemu hari ini."


"Aku tahu. Tapi rasanya...hmmmm."


Miranti mengusap pundak sahabatnya itu. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk mengurangi kesedihan Noushafarin.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Darian?" tanya Nou tiba-tiba.


"Eh??? Kenapa bertanya begitu?"


"Entahlah, aku hanya penasaran. Karena cara Kak Darian menatapmu terasa berbeda."


Miranti tersenyum tipis. "Tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Masih sama seperti dulu, aku adalah sahabat adiknya, yaitu kamu."


"Benarkah?" Nou mengernyit. "Entahlah Mimi, tapi rasanya beda."


Miranti memalingkan wajah, merasa ada yang sedang memperhatikannya. Ternyata Darian sedang menatapnya dengan intens. Sesaat keduanya saling mengunci pandangan, akhirnya Miranti menunduk dengan wajah merona.


"Aku benar kan Mimi?" pertanyaan Noushafarin membuat Miranti mendongak menatap sahabatnya. Rupanya Nou memperhatikan saat Miranti dan Darian saling menatap.


"Aku bahagia jika benar itu adalah kau." Noushafarin tersenyum tulus dan menggenggam tangan sahabatnya. "Gadis yang disukai kakakku."


"Sudahlah, ayo makan kue." ajaknya sambil mengibaskan garpu kecil di hadapan wajahnya.


Noushafarin pun tak berniat untuk terus menggoda sahabatnya. Ia menikmati kue dengan pikiran yang sesekali tertuju pada pemuda yang sudah menguasai hatinya.

__ADS_1


Berbulan-bulan mereka tak bertemu. Meski sering bertegur sapa dan bercengkrama menggunakan ponsel, namun rasanya tidak sama dengan pertemuan langsung.


Sekuat apapun Nou menutupi kesedihannya, mata tak bisa berbohong. Ada rasa sepi disana, sesuatu yang kosong di dalam hatinya tercermin dengan jelas di pelupuk mata.


Saat ada kerabat yang mengajaknya berbincang, kabut hatinya seakan hilang. Ia mampu berinteraksi dengan baik. Tertawa dan tersenyum seolah tak ada beban. Namun jika ia kembali sendiri, maka kabut itu datang lagi.


Suasana rumah mulai sepi, satu per satu sanak saudara sudah meninggalkan kediaman Armani. Noushafarin duduk di bangku yang mengarah langsung ke taman favoritnya.


Ia tahu alasan Sadewa tidak bisa hadir, sebelum pergi mengawasi proyek, Sadewa sudah menghubunginya. Meski demikian hatinya masih saja tak rela. Berulang kali Noushafarin menarik dan menghembuskan napas dengan kasar.


"Maaf, aku terlambat."


Suara itu membuat kepala Nou bergerak dengan cepat. Senyuman mulai terbit di wajahnya. Noushafarin menatap wajah Sadewa yang sedang berdiri tak jauh darinya sambil membawa seikat bunga.


Gadis itu bangkit dan berjalan menuju kekasihnya. Perlahan ia mengikis jarak dengan pandangan yang saling mengunci.


"Hai." Sadewa tersenyum manis.


"Hai juga." dengan wajah merona Nou memberanikan diri terus menatap Sadewa.


"Untukmu."


"Terima kasih." Nou menghirup harumnya bunga segar yang diberikan. "Aku suka."


Sadewa mengangguk. "Dan aku......."


"Ya???"


"Rindu."


Sambil berkata seperti itu, direngkuhnya Noushafarin masuk ke dalam pelukannya.


Nou memejamkan mata, menikmati perasaan hangat yang memenuhi rongga dadanya. Jantungnya bertalu, membuat debaran yang tak terkendali. Bibirnya tak bisa berhenti menyunggingkan senyum. Sampai tak terasa, air mata mengalir dari sudut matanya.


Sadewa merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah Noushafarin.


"Kenapa menangis sayang?" dengan lembut Sadewa mengusap pipi Nou.


"Aku bahagia karena bisa bertemu Mas hari ini. Aku pikir, akan butuh waktu yang lama untuk kita bisa berjumpa."


Sadewa tersenyum dan kembali memeluk kekasihnya itu. "Aku melakukan pekerjaanku sebaik dan secepat mungkin. Karena aku juga bisa gila jika tak segera menemuimu."


"Aku mencintaimu, Noushafarin. Sangat mencintaimu, rindu ini sangat menyiksaku. Tapi aku lega, jarak dan perbedaan waktu tak lagi menjadi penghalang."


Para pelayan yang sedang membereskan tempat itu hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Sedangkan Nenek, Ayah dan Bunda sudah lama pergi menuju kamar masing-masing sejak kedatangan Sadewa.


"Apa kau juga ingin dipeluk?" Darian berbisik pada Miranti yang tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya.


"Ya ampun kak!!" Miranti refleks memukul lengan Darian yang berdiri di sampingnya. "Membuatku kaget saja."


"Jangan mengintip orang pacaran." ucap Darian sambil menarik tangan Miranti dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2