
Anniversary Armani Grup digelar meriah di sebuah ballroom hotel ternama. Tak ada satu pun relasi yang terlewat. Darian melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.
Berbagai rangkaian acara formal dan hiburan dilangsungkan dengan apik. Bardia Armani terlihat senang dengan kerja keras Sang Putra.
"Selamat malam. Maaf masih ada acara yang terlewat." ucap Bardia disela-sela jamuan makan. Pria paruh baya itu sudah kembali berada di atas panggung kecil yang disiapkan untuk acara formal sebelumnya.
"Aku ingin memperkenalkan seseorang dalam keluarga kami yang sudah lama tidak kami ekspos." Bardia menatap hangat pada putrinya. "Kemarilah sayang."
Noushafarin tampil dengan sangat memukau. Ia sangat cantik dalam balutan gaun malam berwarna hijau tua. Dengan rambut di sanggul yang memamerkan leher jenjangnya.
Ia tersenyum menyambut uluran tangan Ayahnya.
"Perkenalkan, putriku yang bungsu, Noushafarin Armani."
Noushafarin membungkukkan badannya memberi hormat pada tamu undangan yang memberi tepuk tangan. Senyum manisnya tak pernah luntur.
"Sejak kejadian penculikannya beberapa tahun silam, kami memang sengaja menutup keberadaannya. Namun karena akhir-akhir ini banyak kesalah pahaman terjadi, kami memutuskan untuk mengenalkannya melalui acara resmi. Agar kedepannya, tidak ada lagi kejadian tak mengenakkan."
Bardia dan Nou saling berpelukan sesaat sebelum keduanya kembali ke tempat duduk.
......................
"Tuan Bardia." seorang pria tua menghampiri Bardia yang sedang berbincang dengan Pandu dan Nakula Sadewa.
"Tuan Roy, terima kasih sudah berkenan datang." Bardia menjabat tangan pria tua tersebut.
"Ya ya. Aku langsung saja. Putrimu sangat cantik, sangat cocok untuk menjadi pendamping cucuku. Jadi aku harap anda berkenan memberikan Noushafarin untuk cucuku."
Sadewa mengepalkan kedua tangannya, Nakula yang menyadari tubuh saudaranya menegang segera menepuk pundak pemuda itu. Bardia dan Pandu saling pandang, keduanya bahkan kompak menatap Sadewa.
"Anda terlalu berlebihan memuji putri saya, Tuan Roy. Namun Noushafarin sudah memiliki calon suami. Maaf, saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda." ujar Bardia sambil tersenyum tipis.
"Sayang sekali." Tuan Roy menghela napas berat. "Kalau begitu aku akan berbicara dengan Nyonya Besar Armani. Beliau pasti akan mengabulkan."
"Jangan membuang waktu, Tuan. Sekali pun anda dekat dengan Ibu. Namun untuk urusan yang satu ini, Ibu tidak bisa mengabulkannya." Bardia menatap tajam Tuan Roy.
"Bukankah hubungan mereka bisa membuat bisnis kita makin lancar?" tawar Tuan Roy.
Ayah Bardia tertawa pelan. "Hidup anak-anak saya bukan bisnis, Tuan. Jadi saya tidak akan mencampur adukkan masa depan anak dengan bisnis."
"Memangnya siapa calon suaminya? Sebaik apa dibanding dengan cucuku?" Tuan Roy menampilkan senyuman yang meremehkan.
Bardia Armani hanya tersenyum simpul, Tuan Pandu Wasesa pun tidak mengambil hati atas perkataan Tuan Roy.
"Yang pastinya, dia tidak perlu Kakek atau Orang tuanya membantu untuk mendapatkan seorang gadis, Tuan." ucapan Ayah Bardia yang terdengar menohok membuat Tian Roy mendengus kesal.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan anda. Sayang sekali, padahal saya memberi tawaran untuk memperluas kerajaan bisnis Armani Grup."
"Saya percaya doa anak-anak saya yang bahagia juga berpengaruh pada kesuksesan bisnis keluarga kami, Tuan Roy."
Sekalipun dalam perdebatan, Tuan Bardia tak pernah menghilangkan senyumannya. Ini adalah perayaan, harusnya orang bersukacita. Bagi Ayah Bardia, untuk apa terpengaruh dengan orang yang egois dan berpikiran pendek.
Pria tua itu memandang sinis pada Bardia kemudian pergi begitu saja.
"Sadewa, sepertinya aku belum bertemu putriku. Bisa kau menolongku dengan membawanya kesini? Jangan lupa ajak Darian juga." ucap Bardia pada Sadewa.
"Saya akan segera mencarinya." meski tidak mengerti mengapa ia harus mencari Nou, namun Sadewa tetap melakukan yang diperintahkan.
Tak perlu bersusah payah mencari, gadis itu ternyata sedang bersama Tatiana dan Miranti menikmati hidangan penutup. Tak jauh dari sana, Darian tampak sedang berbincang dengan Tora.
Sadewa membisikkan sesuatu pada Darian, pemuda itu menatap adiknya sesaat kemudian mengangguk.
"Nou, kurasa Ayah ingin bertemu." ujar Darian setelah mereka mendekati para gadis.
"Ada apa?"
"Entahlah, kami pun tak tahu." Darian mengedikan bahunya.
"Bukan akal-akalmu saja Sadewa?" Tatiana memicing.
"Aku ikut." Tatiana menatap Miranti. " Bagaimana denganmu?"
"Tentu saja dia akan kesana bersamaku." Darian segera menghampiri Miranti dan merangkul pinggangnya dengan posesif.
Tatiana menipiskan bibir, ia segera menyusul Sadewa dan Noushafarin. Tak lupa ia menarik Tora agar ikut dengannya.
"Ayah mencariku?" tanya Nou saat mereka sudah tiba pada Bardia.
"Iya sayang. Ayah hanya ingin kalian berdiri di sini, bersama Ayah."
Noushafarin mengangkat kedua alisnya, ia menatap dengan penuh tanya. Namun Bardia tak melanjutkan ucapannya lagi.
Sadewa mengambil dua gelas jus dan memberikannya pada Noushafarin. Sedang Darian dan Miranti serta Tora dan Tatiana pun akhirnya berdiri tak jauh dari mereka.
"Mas, sebenarnya ada apa?" Nou tak dapat menahan rasa penasarannya lagi.
"Mungkin Ayahmu ingin menjagamu saja." jawab Sadewa seadanya. Karena pada dasarnya, ia pun tak mengerti apa maksud calon ayah mertuanya itu.
Noushafarin mengangguk sebelum meminum jusnya. Ia tak lagi mempersoalkan masalah ini, dalam hatinya bisa bersama Sadewa saja sudah senang. Sebenarnya sejak tadi ia ingin bersama kekasihnya. Namun karena Tuan Pandu mengajak kedua putranya berbincang dengan Ayah Bardia, ia hanya bisa menatap Sadewa dari kejauhan.
"Kamu cantik sekali sayang." Sadewa menatap penuh kekaguman.
__ADS_1
"Mas, sudah lusinan kali Mas ngomong begitu." ujar Noushafarin menunduk untuk menyembunyikan rasa malu. Padahal dalam hatinya ia berbunga-bunga dipuji seperti itu.
"Nou, ingin makan sesuatu? Aku masih lapar." keluh Tatiana.
"Tidak kak, aku sudah kenyang."
"Baiklah kalau begitu."
Tatiana pergi dan kembali menuju meja yang menyajikan makanan ringan. Ia tak tahu kalau Nakula sudah mengikutinya.
Saat sedang memilih menu, Tatiana terkejut saat seorang gadis yang berdiri disisinya mendesah sambil menyebut nama Sadewa.
"Sadewa." ucap gadis itu lagi yang tak lain adalah Farida. "Duh, menatapmu saja sudah membuat milikku berkedut." ucapnya lagi sambil menggigit bibir bawahnya.
Mata Tatiana membola. "Apamu yang berkedut?! Mau kubantu menyembuhkan?!" Tatiana mengangkat garpu kecil yang ia pegang.
Farida menelan ludahnya dengan kasar. Ia terkejut ada yang mendengar ucapannya, segera saja ia pergi dari sana.
"Kau menakutinya." ujar Nakula sambil mengulum senyum menatap Tatiana.
"Biarkan saja, anak siapa sih dia?"
"Tuan Bowo." jawab Nakula sambil mengambil sebuah piring kecil.
"Kamu mengenalnya?"
"Begitulah."
"Perempuan mesum itu?! Kamu mengenalnya?!"
Nakula menghentikan kegiatannya memilih makanan. Ia mengernyit saat menatap Tatiana.
"Perempuan mesum?"
Tatiana menatap kesal. "Dia bilang hanya dengan menatap Sadewa, miliknya jadi berkedut. Dan kau mengenal perempuan itu?" Tatiana memandang Nakula dengan seksama.
"Hentikan pikiran yang aneh-aneh itu." ujar Nakula sambil menyentil dahi Tatiana.
"Aduh." Tatiana mengusap dahinya.
"Dia terobsesi pada Sadewa. Apa jawabanku bisa menghentikan pikiran negatifmu tentang diriku, hmm?"
"Aku tidak berpikir yang aneh-aneh kok." Tatiana segera berbalik dan tersenyum lega tanpa diketahui Nakula. Astaga, ada apa dengan diriku. Apakah cinta lama tidak akan usai?
......................
__ADS_1