
Akhir pekan, seperti biasanya Nyonya Kandi akan pergi ke pasar tradisional bersama Tuan Pandu. Tradisi ini sudah mereka lakukan sejak awal menikah. Kandi tidak pernah meminta hal yang aneh saat Pandu memiliki waktu luang. Tentu saja Pandu tidak keberatan, sebab artinya ia memiliki kesempatan untuk merequets masakan yang ia inginkan.
"Arin, karena Anjani dan Nakula akan pergi piknik, kamu temani saya dan Tuan Pandu ke pasar ya."
"Iya Nyonya."
"Maaf menambah pekerjaan kamu ya Rin. Biasanya Mbok Yem atau Anjani yang ikut."
"Tidak apa-apa kok Nyonya. Saya tidak keberatan, lagi pula ini sudah menjadi tugas saya untuk sementara waktu menggantikan mbok Yem." Noushafarin mengulas senyum tulus.
"Gadis baik." Nyonya Kandi mengusap kepala Noushafarin dengan lembut.
Nou jadi canggung dengan perlakuan lembut majikannya. "Nyo-nyonya, saya ganti kaos dulu."
"O iya. Cepat ya, saya tunggu di depan."
Nou segera melesat ke kamarnya, nggak mungkin kan majikan yang nungguin. Jatuh dong harga diri sebagai pembantu.
Secepat kilat ia mengganti dengan kaos baru, agar tidak menimbulkan aroma lain dalam mobil kemudian mengikat rambutnya dengan ikat rambut kecil warna warni. Nou berlari sekuat tenaga melalui halaman samping khusus pekerja rumah.
"Fiuhhh...untung Tuan dan Nyonya belum sampai." lirihnya sambil mengusap peluh dan mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Lho, Arin. Cepat banget." Nyonya Kandi muncul diiringi Tuan Pandu dan Sadewa.
"I-iya Nyonya." Noushafarin tersenyum kikuk kemudian membungkuk. "Selamat pagi Tuan besar, Tuan Muda."
"Pagi. Arin duduk didepan ya." Tuan Pandu menatap Nou penuh arti.
"Baik Tuan."
Nou segera menuju ke depan dan bersamaan dari arah berlawanan muncul Jono yang sedang membawa ember.
"Selamat pagi Mas eh...Kang Jono." Noushafarin merasa lidahnya kaku untuk mengucapkan kata terakhir.
"Kok manggilnya Kang, biasanya kan manggil Mas."
"Iitu, iiya, e emm." Noushafarin bingung mencari kalimat yang tepat.
"Kenapa Rin?" Jono menunggu, namun ia merasa seperti ada yang menusuk dadanya dari sudut depan. Sopir itu mendongak dan mendapati Sadewa sedang menatapnya tajam.
"Oo, Akang ngerti kok Rin." ia bergegas menuju mobil milik Nakula dan membersihkannya.
"Akang."
Jono berbalik menatap Noushafarin dengan takut-takut. "Kenapa Rin?"
"Terima kasih." ia berterima kasih karena Jono tidak mempermasalahkan panggilannya. Pemuda itu tersenyum manis, namun saat melirik Sadewa, senyum itu pudar dalam sekejap.
__ADS_1
"Sadewa, Arin, ayo!" seru Nyonya Kandi dari dalam, rupanya ia dan Pandu sudah duduk dan memperhatikan reaksi ketiga orang di luar mobil.
Suasana di dalam mobil terasa sangat berbeda. Di bangku tengah, Nyonya Kandi dan Tuan Pandu bercerita diselingi canda tawa yang menyenangkan. Namun di depan, suasana mencekam sangat terasa. Noushafarin duduk dengan tegang karena aura menakutkan menguar dari tubuh Sadewa.
"Aduh!" Noushafarin memekik sambil memegangi tengkuknya.
"Kenapa?" karena sedang berhenti di lampu merah, Sadewa merasa aman untuk mengalihkan pandangan.
"Ada apa Rin?"
"Maaf sudah mengejutkan Nyonya dan Tuan. Ini cuma kejepret karet rambut yang putus." Nou tersenyum canggung. Rambutnya yang hitam dan panjang kini terurai bebas.
Sadewa merasa napasnya tercekat, bahkan ia tak mampu mengalihkan matanya dari pemandangan indah di sebelah kirinya.
"Wa, sedikit lagi lampu hijau." suara Papa Pandu menyeret otak Sadewa untuk kembali fokus.
Sementara di bangku tengah kedua orang tuanya saling berpandangan dengan mengulum senyum. Sesaat kemudian mobil kembali bergerak.
"Arin, saya mau kamu memilih sayur-sayuran yang segar ya. Nanti siang saya ingin buat salad."
"Baik Nyonya." jawab gadis itu dengan tubuh sedikit berbalik ke belakang. Saat ia mengangguk rambutnya turun menutupi pipi hingga ia harus kembali menyelipkan ke belakang telinga.
Nyonya Kandi lantas membuka tasnya mencari sesuatu. "Kalau ribet pakai jepit ini saja Rin." ujarnya sambil menyodorkan jepit rambut.
"Tidak usah!" tiba-tiba Sadewa menyela, membuat Noushafarin yang hendak mengambil jepit di tangan Nyonya Kandi sontak menarik kembali tangannya karena terkejut.
"Eh, it-itu..."
"Itu apanya Wa? Kalau ngomong yang bener." Nyonya Kandi mendapat kesenangan baru, mengganggu putranya.
"Sudah sampai." jawab Sadewa pada akhirnya sambil mengarahkan mobil berbelok memasuki pasar. Terdengar helaan napas berat dari Nyonya Kandi, ia masih ingin mengerjai putranya.
Akhirnya tanpa mengikat rambut, Nou segera turun dari mobil dan menunggu Nyonya Kandi. Ia berjalan mengikuti Sang Majikan menuju pedagang-pedagang yang sudah menjadi langganannya.
"Nah, itu disana langganan saya. Kamu pilih sayurannya ya."
"Baik Nyonya."
Bagi Nou yang memiliki seorang Nenek yang vegetarian, memilih sayuran segar serta minim pestisida adalah pekerjaan mudah. Ia sudah melakukan ini dari kecil. Karena Nenek Faireh sering mengajaknya berbelanja di pasar.
Nyonya Kandi mengamati Noushafarin saat memilih sayuran. Ia mengangkat kedua alisnya saat melihat sayur pilihan gadis itu kemudian mengangguk-angguk kecil.
"Tidak buruk." lirihnya dengan bibir menyunggingkan seulas senyuman.
Ternyata acara belanja di pasar lebih lama dari perkiraan Nou. Ia dan Sadewa mengatur bahan makanan di bagasi, sedangkan Nyonya Kandi dan Tuan Pandu belum juga kembali karena masih mencari buah.
"Apakah harus memanggil Jono dengan nada suara seperti itu?" Sadewa berdiri menyilangkan tangan di dada dan menatap datar pada Noushafarin.
__ADS_1
"Seperti bagaimana Tuan?" kerutan-kerutan karena bingung terlihat jelas di dahi gadis itu.
"Sok manis!" cibir Sadewa.
Gilanya kumat lagi ni orang!
"Saya merasa biasa saja saat memanggil Mas eh Kang Jono."
"Kenapa kamu tidak lupa permintaan saya soal panggilan ke Jono, sedangkan ke saya kamu lupa?!"
"Permintaan yang mana Tuan?" Nou memiringkan kepalanya.
"Jangan pura-pura lupa!"
"Saya benar-benar tidak ingat, Tuan. Maaf."
"Panggil saya Mas!" perintah Sadewa.
"Ooo itu."
"Tuh kan, kamu sengaja pura-pura lupa."
"Saya bukan pura-pura lupa Tuan. Tapi saya pikir hanya kemarin saja Tuan minta dipanggil seperti itu."
"Mulai sekarang panggil saya seperti itu."
"Tidak bisa Tuan."
"Kamu membantah saya lagi!!!"
"Bu-bukan begitu Tuan." Noushafarin mengedarkan pandangan ke sekelilingnya karena suara Sadewa yang mulai meninggi.
"Terus kenapa?!"
"Tidak sopan Tuan, saya kan hanya ART keluarga Tuan."
"Kalau begitu panggilnya saat kita sedang berdua saja."
"Ta...."
"Tidak ada tapi-tapi Arin!" kesabaran Sadewa seperti sudah mencapai batasnya. "Aku tidak suka di bantah!"
"Suaranya bisa dipelanin dikit bisa nggak sih Mas? Malu dilihatin orang." ternyata Noushafarin yang lebih dulu kehabisan stok sabar.
Sadewa mengerjap mendengar intonasi ucapan gadis itu. Terlebih lagi penekanan pada kata 'Mas' yang membuat dirinya seperti kekasih yang sedang dimarahi.
Bukannya marah mendengar hardikkan Noushafarin, Sadewa malah menyunggingkan senyum bahagia. Noushafarin memutar bola matanya malas dan berbalik begitu melihat senyuman Sadewa. Aku mual lihat senyum itu, dasar Tuan Muda Sableng.
__ADS_1
...****************...