One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Sembilan


__ADS_3

Akhirnya kelas berakhir, Niken bergegas merapikan buku-bukunya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kepada Hans.  "Niken, lu mau kemana? Kenapa tergesa-gesa sekali?" Tanya Naira.


"Hemmmhh, gue nggak bisa jelasin sekarang. Gue harus segera pergi. Gue duluan ya." Niken meninggalkan kelas, ia berlari menuruni anak tangga.


"Dia kenapa sih?" Tanya Naina. Naira dan Via mengangkat kedua bahunya.


"Elsa juga kemana ya? Beberapa hari ini dia nggak ada kabar." Ucap Naira. Via hanya menghembuskan nafasnya dengan pelan. Niken berlari mencari Hans di taman, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya. Tapi dia tidak ada.


"Dimana dia?"


"Niken...?" Seru Adnan.


Niken menoleh, Adnan salah satu teman nongkrong Hans. Mungkin dia tahu Hans ada dimana. "Adnan, ya dia. Kak Adnan, kau tahu dimana Hans?" Tanya Niken.


"Ciyeee yang nanyain Hans. Kangen ya..." Goda Adnan.


"Hans dimana?" Gerutu Niken.


"Dia pamitan sama dosen-dosen." Jawab Adnan.  Pamitan? Apa itu artinya Hans akan pergi sekarang?


"Okey, makasih ya." Niken berlari lagi. Sesampainya di ruang dosen, Hans sudah tidak ada. Niken menoleh ke kiri dan ke kanan. Celingak celinguk nggak karuan.


"Bu, maaf apa ibu melihat Hans?" Tanya Niken kepada salah satu dosen.


"Baru saja dia pergi." Jawabnya. Niken berlari lagi, radarnya mengatakan bahwa ia harus pergi ke kantin. Niken berlari menuju kantin.


"Kemana dia?" Nafas Niken tersenggal-senggal. Niken menggaruk kepalanya. Lagi-lagi Hans sudah menghilang.


"Niken. Kau mencari siapa?" Tanya Kikan teman sekelasnya.


"Aku sedang mencari Hans." Jawab Niken sambil mengusap keringat di dahinya.


"Hans?" Kata Kikan. Niken mengangguk. "Tadi aku melihatnya di parkiran. Sepertinya dia akan pergi. Soalnya tadi aku lihat dia pamitan kepada semua teman-temannya." Lanjut Kikan. Sialan. Umpat Niken.


"Parkiran..." Niken berlari lagi menuju parkiran. Mobil Hans sudah mulai berjalan meninggalkan kampus, Niken berlari sekencangnya. Berusaha mencegah kepergian Hans.


"Hansssss...." Tapi mobil Hans sudah semakin menjauh. Niken berhenti mengejar mobil Hans. Lalu air matanya jatuh perlahan-lahan.  Ada rasa sesal yang membaluti hati Niken. Kenapa aku nggak percaya sama Hans? Kenapa aku nggak coba buat maafin dia? Semua kesalahpahaman itu akhirnya berlarut selama bertahun-tahun.


***


"Aku tak sempat mengatakan maaf kepadamu. Dia benar, bahwa dia tidak mengenal preman itu. Hans tidak pernah memiliki niat untuk melukaiku. Tapi semua terlambat. Aku kehilangan lelaki yang selalu melindungiku. Tangan Hans yang hangat dan kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya. Senyap untuk waktu yang lama. Tiba-tiba hidupku terasa hambar lagi." Kenangan itu masih tergambar jelas di memori Niken. Kini, entah apa yang ia inginkan darinya. Pertengkaran kecil dengan Hans adalah sebuah kecemburuan bagi Niken. Tapi lagi-lagi Niken selalu menyangkal semua perasaannya. Ia hanya tidak ingin terlihat lemah dihadapan Hans. Ia juga tidak ingin kecemburuannya itu tergambar di ekspresi wajahnya.


Niken menghembuskan nafasnya. Hans sibuk di komputernya. Entah sedang melakukan apa. Sementara Niken juga menyibukkan diri sendiri. Ia tidak ingin melibatkan diri lagi dalam urusan pribadi Hans. Jujur, jika memang Niken harus mengakui semuanya. Niken tidak sanggup jika harus terus menerus begini. Ia hanya ingin semuanya kembali seperti dulu. Seperti Hans yang selalu mengejar-ngejarnya selagi kuliah dulu.


***


"Good morning..." Niken menyapa mahasiswanya dengan ramah.


"Good morning Miss Niken." Balas semua mahasiswanya.


"How are you today guys...?"

__ADS_1


Semua mahasiswanya tersenyum, ada yang menjawab, "Fine..." ada juga yang hanya tersenyum malu.


"Okey, sebelum saya memulai perkuliahan pagi ini. Saya ingin kalian menuliskan 5 kelemahan dan 5 kelebihan diri kalian sendiri." Ujar Niken memulai perkuliahan kepada mahasiswanya.


"Bisakah kita bicara sebentar?" Ponselnya bergetar tanda satu pesan masuk dari Hans. Jari jemari Niken dengan cepat membalas pesan tersebut.


"Uhmmm aku sibuk." Jawab Niken.


Niken menghiraukan panggilan dari Hans. Selama 2 jam Niken memberikan materi tentang kepribadian. Kemudian ia sibuk membimbing mahasiswanya sampai sore. Bagi Niken, ada atau tidak adanya Hans didalam kehidupannya adalah sama. Hans hanya seseorang yang nantinya akan pergi meninggalkannya. Niken tidak pernah berpikir ia akan menjalin hubungan yang lebih dengan Hans.


"Assalamualaikum." Seseorang mengetuk pintu dan memberi salam. Lamunan Niken buyar.


"Wa'alaikumsalam." Niken melepaskan kaca matanya.


"Ada apa Randy?" Tanya Niken


"Begini bu, saya punya kendala dalam menentukan judul." Jawab Randy.


"Baik. Dimana kendalanya?"


"Begini bu, saya masih rancu dalam pembuatan judul dengan latar belakang." Kata Randy.


"Judul kamu mana?" Randy menunjukan judul skripsi yang akan ia tulis selama 6 bulan terakhir ini.


Niken dengan sabar menjelaskannya kepada Randy. Sehingga Randy paham dan mulai menulis latar belakangnya.


"Makasih ya bu. Maaf sudah ganggu." Kata Randy.


"Niken?" Seru Hans saat masuk ke dalam ruang kerjanya. Niken menoleh sebentar lalu merapikan kertas hasil ujian mahasiswanya. Ia sangat terburu-buru. Ia tidak ingin berbicara dengan Hans. Sesuatu yang ia hindari saat ini adalah berbicara dengan Hans. Karena ia takut kalau Hans menyadari kecemburuannya.


"Kau masih disini?"


"Kenapa?" Tanya Niken.


"Kau mau pulang?"


"Bukan urusanmu." Niken beranjak dari tempat duduknya, lalu menenteng tasnya.


"Ayolah, jangan begitu. Kau mau pulang? Ayo aku antar. Apartemen kita bersebelahan kan." Tukas Hans.


"Memangnya kenapa kalau apartemen kita bersebelahan?" Tanya Niken.


"Tidak apa-apa." Niken dan Hans berjalan beriringan.


"Kau mau makan?" Hans menawarkan. Niken menggelengkan kepala. "Ayolah, kita makan dulu. Setelah itu aku antar kau pulang."


"Aku tidak bisa." Jawab Niken.


"Why...?" Tanya Hans.


Niken menghembuskan nafasnya. Ia tidak punya alasan untuk menolak ajakan Hans. Karena sejujurnya ia juga sangat lapar sekali.

__ADS_1


"Kau tidak lapar?" Tanya Hans.


Niken menggelengkan kepalanya, "aku tidak lapar." Jawab Niken. Namun sayang sekali, perutnya berbunyi. Niken tidak bisa menutupi suara perutnya sendiri. Hans tersenyum senang saat Niken menatapnya.


"Aku tahu kau tidak makan tadi siang. Jadi, tidak ada alasan kau menolakku." Balas Hans. Niken menghembuskan nafasnya.


"Emmm, baiklah." Akhirnya Niken menerima ajakan Hans.


Hans mengajak Niken ke sebuah restoran berkelas. Niken melihat ke sekeliling. Ia belum pernah makan di tempat semewah ini. Niken pun untuk ragu masuk. Ia menarik lengan Hans.


"Kau yakin mau makan disini?" Bisik Niken. Hans menoleh.


"Kenapa? Kau tidak suka?" Kata Hans.  Niken mengembungkan pipinya.


"Harga menu disini mahal-mahal." Bisik Niken tepat ke telinga Hans. Hans dengan tenang menggenggam tangan Niken.


"It's okey. Nggak apa-apa. Aku yang bayar." Balas Hans. Niken menggelengkan kepalanya. "Ayo...?" Hans menarik lengan Niken.


"Aku dengar kau dosen yang memiliki dedikasi yang tinggi, benarkah?" Ujar Hans saat mereka memesan makanan.


"Ehmm ya." Jawab Niken pendek sambil mengusap leher belakangnya.


"Selain cantik dan cerdas kau juga sangat menakjubkan. Benar?"


"Tidak juga." Niken melirik ke kiri dan kanan, sudah bosan mendengar celotehan Hans yang tidak berguna itu. Tidak lama kemudian makanan datang, setidaknya Niken bisa menikmati makanan tanpa mendengar celotehan lelaki itu. Tapi sayangnya, Hans masih dengan pembahasan yang menurutnya menarik. Ia mencondongkan tubuhnya.


"Ohya bagaimana dengan sahabat-sahabatmu, eee-siapa namanya? Oh iya, Naira, Naina, Elsa dan Via. Bagaimana mereka sekarang?" Tanya Hans sambil mengunyah makanannya.


"Mereka baik." Jawab Niken.


"Wahh kau beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Oh ya, aku dengar kau juga lulusan terbaik ya di universitas mana sih? Di Turki ya? Emmmm, aku kagum sama kamu." Katanya sambil mengunyah makanannya.


"Hans...?" Niken menghembuskan nafasnya kemudian meletakkan sendok dan garpunya, ia memandangi wajah tampan milik Hans dengan agak kesal.


"Yappp?" Hans menatap Niken dengan seksama.


"Bisakah kau diam? Aku tidak bisa menikmati makananku." Balas Niken. Hans merapatkan bibirnya.


"Seperti yang aku katakan padamu, aku tidak akan pernah berhenti merayumu." Jawabnya. Niken terdiam  sejenak. Ia sangat kesal dengan semua rayuan Hans. Namun sebaliknya, Hans justru sangat senang dengan terus menerus merayu dan ngegombalin Niken. Setelah selesai makan, Niken dan Hans pulang ke apartemennya masing-masing.


"Terimakasih atas traktirannya." Tukas Niken.


"Sama-sama." Balas Hans.


"Surprise...?" Perempuan bernama Haya itu menemui Hans lagi.


"Kau? Sejak kapan ada disini?" Tanya Hans.


"Sejak tadi. Aku menunggumu. Ayolah masuk, aku kedinginan." Katanya. Hans dan Haya mengunci apartemennya. Niken menghembuskan nafas pelan. Ia bisa menyimpulkan sendiri bahwa Hans masih sama seperti yang dulu.


***

__ADS_1


__ADS_2