One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh enam


__ADS_3

Siang itu Niken dan Hans menemui ketua penyelenggara. Mereka memperkenalkan dirinya selaku tamu undangan sekaligus pemateri dari Indonesia yang kompeten. Dalam bekerja mereka selalu profesional. Baik Niken maupun Hans, selalu memberikan yang terbaik dan optimal terhadap pekerjaannya.


"Welcome to join us Mrs. Niken, and Mr. Hans." Ujar Willson dengan menggunakan Bahasa Inggris.


"Welcome to my campus and to my program." Jane menambahkan.


"Well. Hopefully our event will be successful tomorrow." Balas Niken. Wilson dan Jane mengantar mereka keluar ruangan.


"Then see you tomorrow morning." Ujar Hans sambil pamit kepada kedua mahasiswa itu. Sambil berjalan Niken bertanya. "Eee, Hans, jarak antara rumah Elsa dengan kampus kayaknya agak jauh lho..." Tukas Niken. Hans menoleh.


"Emmm trus gimana?"


"Ya kita harus cari hotel. Agar hari senin tidak terlambat."


"Uhmmm okey." Balas Hans. "kau mau memesan hotel yang bagaimana?" Tanya Hans.


"Yang bagaimana saja yang penting nyaman." Jawab Niken.


"Sebentar." Kata Hans masih sambil memainkan ponselnya.


"Kau sedang apa sih? Serius amat." Ujar Niken sambil melirik ke ponselnya Hans.


"Eitsss rahasia." Katanya. Kemudian ia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Oohhh begitu, jadi mau main rahasia-rahasiaan. Baiklah kalau begitu." Ketus Niken kesal. Niken berlalu menuju jalanan. "Dari tadi aku ngomong nggak dia dengar. Sekarang mau main rahasia-rahasiaan. Baiklah. Terserah dia saja. Aku nggak peduli. Bodo amat." Umpat Niken dengan berbicara sendiri.


"Niken...? Yah, dia marah." Hans berlalu menuju parkiran dan menyetir mobil sewaannya.


"Sayang, ayolah. Jangan begitu. Nanti aku jelaskan. Ayo naik." Kata Hans mengejar Niken dengan mobilnya.


"Hemmmmh..." Niken mendesah pelan, lalu masuk ke pintu kanan mobil.


"Okey, tadi aku sedang memesan restaurant untuk makan malam kita. Awalnya aku ingin memberimu kejutan. Tapi karena kau merajuk jadi ya bukan lagi kejutan." Jelas Hans.


Mata Niken bersinar bahagia.


"Benarkah?" Mata Niken terbelalak tak percaya.


"Kau tidak percaya?"


"Uhmmm, percaya."


"Sudah tidak marah?"


"Uhmmm sedikit." Balas Niken.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau masih marah. Aku tidak akan bicara." Imbuhnya.


Niken tertawa. "Iya iya. Aku hanya bercanda. Aku tidak marah." Jawab Niken.


"Apa kita langsung berkemas menuju hotel?" Tanya Hans mengusulkan.


"Uhmmm, tadi Elsa memberiku pesan, katanya dia dan Sam sudah menyiapkan makan siang untuk kita. Mungkin kita bisa bicarakan hal ini sambil makan siang, bagaimana?" Balas Niken.


"Ehmmm baiklah." Sesampainya mereka di rumah Elsa. Sam dan Elsa mengajaknya untuk makan siang bersama. Sesampainya di rumah sahabatnya, Niken dan Hans langsung diajak makan siang bersama.


"Kalau agak asin, harap maklum ya. Soalnya yang menaruh bumbu adalah Sam." Tukas Elsa setengah berbisik.


"Kamu tuh ya, selalu meledek masakanku." Imbuh Sam. Niken dan Hans tersenyum.


"Sam, kau sudah tahu kebiasaan jelek Elsa belum?" Ucap Niken kepada Sam. Elsa melotot ke arah Niken, sementara Sam menatap Niken dengan penasaran.


"Apa?" Tanya Sam.


"Kentut saat tidur." Ketus Niken diiringi dengan tawa.


"Niken...?" Seru Elsa. Hans dan Sam pun tertawa. Elsa malu bukan main.


"Uhmmm selama ini belum sih. Mungkin dia masih jaim." Balas Sam.


"Kau...?" Elsa mencubit pinggang Sam.


"Hans kesukaanmu." Ujar Niken saat melihat rumput laut, lalu menyuapi Hans.


"Hans, kau sudah tahu kebiasaan jelek Niken belu.?" Elsa membalas.


"Apa?" Tanya Hans.


"Membuat pulau penuh diatas bantal." Jawab Elsa. Niken melotot.


"Elsa...?"


"Siapa suruh buka aib orang." Ketus Elsa.


"Iya baiklah kita satu sama." Balas Niken. Hans dan Sam pun tertawa.


"Tapi pernah sekali waktu itu." Imbuh Hans.


"Kapan?" Niken menoleh.


"Waktu Niken menginap di apartemenku." Jawab Hans. Niken melotot. Elsa dan Sam secara bersamaan memandang Hans dan Niken. Tiba-tiba Hans terdiam dan tak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Ohya, Elsa. Apalagi kebiasaan buruk Niken?" Hans mengalihkan topik.


"Uhmmm banyak banget." Balas Elsa.


"Elsa, awas ya, kalau gitu aku juga bongkar kebiasaan burukmu sama Sam." Ancam Niken.


"Yahhh aku takut diancam Niken, Hans. Nanti juga kau akan tahu sendiri kalau sudah menikah dengan Niken." Ujar Elsa.


"Jadi kalau udah nikah, semua keburukannya bisa ke buka gitu?" Hans memastikan. Elsa mengangguk yakin.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu kebiasaan burukmu?" Timpal Sam. Glekkk seketika Elsa terdiam. Tiba-tiba suasana menjadi menegang. Sam dan Elsa saling diam-diaman.


"Ohya, Sa. Kita juga perlu bongkar kebiasaan buruk Via kepada Arfand, kebiasaan buruk Naina kepada Dev, dan kebiasaan buruk Naira kepada Aidan." Ide Niken mencairkan suasana lagi.


"Ide yang bagus. Tapi memangnya Naina sudah pacaran dengan Dev. Terakhir dia cerita katanya Dev benci banget sama dia." Tutur Elsa.


"Kau lihat foto-foto Naina dengan Dev di Facebook? Tampak sekali dia menyukai lelaki itu. Mungkin saja sebentar lagi mereka pacaran. Dari pada dia menunggu Danar yang tidak jelas begitu." Balas Niken.


"Ehhh iya bener-bener. Aku setuju banget." Elsa mengangguk setuju.


"Kalian ngomongin siapa sih? Gosip aza dasar ibu-ibu." Ketus Sam.


"Jadi gini lho, Sam. Aku tuh punya sahabat lima, selain Niken, aku bersahabat dengan Naira, Naina dan Via. Kita tuh udah lama bersahabat, dari SMP kelas satu. Kita punya genk yang namanya lima matahari. Kita kuliah sama-sama di fakultas yang sama, kita satu kost bareng, kita punya tujuan yang sama, dan kita punya pengalaman hidup masing-masing yang sangat unik. Sama-sama memiliki masa lalu yang tidak mengenakan. Dan kita ini termasuk orang yang aneh, iya kan, Ke?." Jelas Elsa. Niken menganggukkan kepalanya.


"Kita selalu saling menjaga satu sama lain. Menjaga rahasia untuk kebaikan kita semua. Termasuk Elsa yang selalu menjagaku, dan oh ya, kami semua sangat iri kepada Elsa. Dia cantik, cerdas, penampilannya selalu okey, dan saat SMA, Elsa selalu menjadi pusat perhatian semua laki-laki. Tapi perhatian Elsa cuma satu. Dia selalu berharap bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu dengan pengagum rahasianya. Untuk kali pertama dia jatuh cinta pada pria misterius. Tapi semuanya berubah saat dia bilang, kalau dia akan menikah denganmu. Well, I know, kalau ternyata Elsa sangat mencintaimu." Niken menambahkan.


"Niken...?" Elsa melotot ke arah Niken.


"Kenapa? Benar bukan?" Hans memandang Niken, begitu pun dengan Sam yang tiba-tiba terdiam.


"Habiskan makananmu." Kata Hans, Niken mengangguk menurut.


"Sebelumnya kami berterimakasih kepada kalian yang sudah mau direpotkan oleh kami. Aku dan Niken sudah memesan hotel dekat dengan kampus. Jadi malam ini kami mau pamit." Tutur Hans. Elsa dan Sam tentu saja terkejut dengan keputusan mereka. Padahal selama ini Elsa tidak keberatan. Malah ia sangat senang jika Niken bisa berlama-lama tinggal di rumahnya.


"Lho koq gitu. Padahal nggak apa-apa lho, Ken, Hans. Aku malah senang kalian ada disini. Jadi aku ada teman." Balas Elsa.


"Heyyy, mereka kesini kan bukan untuk liburan." Sam merangkul Elsa yang merasa sedih.


"Aku takut mengganggu kalian. Maaf ya. Tapi tenang aza koq. Nanti aku kesini lagi kalau mau pulang." Jelas Niken.


"Uhmmm baiklah." Elsa sedikit kecewa.


"Atau kita bisa menjadwalkan untuk nonton bareng, gimana?" Usul Sam.


"Ide yang bagus. Jadi kayak double date gitu kan, Sam." Balas Hans. Sam mengangguk. Niken dan Elsa juga mengangguk setuju.

__ADS_1


***


__ADS_2