
Malam romantis di restaurant Aubergine yang letaknya di 18 Barker St. Griffith, Canberra. Hans mengajak Niken ke sana. Begitu dia menginjakkan kakinya, Niken sangat terpesona dengan gaya restaurant yang sangat elegan. Sebuah hidangan mewah sudah disiapkan. Hans juga mengundang musisi saxophone untuk mengiringi keromantisan mereka. Di atas meja pelayan menaburkan kelopak bunga mawar yang segar. Hans memberikan sebuah buket bunga mawar putih yang sangat indah.
"Spesial untuk wanitaku." Katanya.
"Thank you." Balas Niken penuh haru. Ia tampak bahagia.
"Bagaimana kau menyiapkan semua ini?" Tanya Niken.
"Rahasia." Jawab Hans pendek. Niken memandangi wajah Hans dengan penuh cinta. Beberapa pelayan mengantarkan pesanannya. Mata Niken terbelalak tak percaya. Hidangan yang dipesan sesuai dengan seleranya.
"Kau suka?" Tanya Hans. Niken mengangguk. Mereka menikmati hidangan dengan diiringi musik saxophone.
Vibe Hotel Canberra
Hans dan Niken chek in ke hotel Vibe.
"Hans...?" Mata Niken berbinar.
"Yah..."
"Terimakasih." Hans mendekat lalu memeluknya.
"Kau bahagia...?"
"
Sangat. Sangat dan sangat bahagia." Jawab Niken balas memeluk Hans dengan erat. Hans menempelkan bibirnya ke bibir Niken dan ********** dengan lembut dan mesra.
"Sudah malam, ayo kita tidur." Kata Hans. "Kau tidur disini, dan aku disana." Lanjutnya.
"
Hans..."
"Iya sayang..."
"Terimakasih ya. Kau membuatku merasa istimewa." Balas Niken.
"Dengar, jika didunia ini hanya ada satu wanita yang ditakdirkan untukku, wanita itu adalah kau." Kata Hans dengan romantis.
"Dan jika didunia ini hanya ada satu lelaki yang ditakdirkan untukku. Maka lelaki itu adalah kau, Hans Sambara. Aku mencintaimu." Balas Niken.
"Aku juga mencintaimu. Sekarang, kau bisa menyiapkan diri untuk tidur. Besok kita ada acara." Ujar Hans sambil menyentuh pipi Niken.
"Siap bos." Niken memberi hormat kepada Hans. Mereka berdua tertawa kekeh.
Cinta itu terlahir dari sebuah kebahagiaan. Tidak ada pembagian dalam sebuah cinta. Pun tidak ada pengurangan didalam cinta. Kau hanya perlu menerima segala kekurangan dan merangkul dengan erat segala kelebihannya. Begitu caption Niken diakun sosial medianya. Tiba-tiba sebuah chat muncul dilayar ponselnya dari Fariz.
__ADS_1
"Hai Niken...?"
Niken menelan ludah. Ada kenangan yang tidak bisa ia lupakan dengan lelaki itu. Niken tidak berniat untuk membalasnya tapi ponsel Niken kembali menyala.
"Niken...?" Akhirnya Niken mengetik sesuatu.
Niken : "Iya, hai juga." balasnya.
Fariz : "Apa kabar?"
Niken : "Baik."
Fariz : "Uhmmm lama ya kita nggak ketemu."
Niken : "Iya."
Fariz : "Dimana kau sekarang?"
Niken : "Canberra, Australia."
Fariz : "Kau tinggal di sana sekarang?"
Niken : "Tidak."
Fariz : "Jadi ngapain kamu di sana?"
Niken : "Workshop."
Niken : "Calon suamiku."
Fariz : "Ooh... Begitu."
Niken : "Ya"
Fariz : "Kau tambah cantik dan sukses. Aku senang melihatmu bahagia."
Niken : "Ya terimakasih."
Fariz : "Niken, apa kita bisa bertemu sebentar."
Niken mengernyitkan dahinya, lalu ia memutuskan untuk mengakhiri percakapan dan melelapkan diri dalam tidur.
Senin pagi, Niken membangunkan Hans untuk bersiap melakukan workshop. Workshop diselenggarakan dengan sangat mewah dan elegan. Semua para mahasiswa bersorak penuh kagum terhadap Niken dan Hans.
"Ladies and gentleman. Let's welcome our presenters, Mr. Hans and Miss Niken." Moderator memanggil Niken dan Hans maju ke panggung utama. Semua para mahasiswa pascasarjana bertepuk tangan.
"Hello Canberra...?" Sahut Niken.
__ADS_1
"Hellooooo....." Balas semua para mahasiswa workshop dengan sangat meriah.
"How are you today?" Tambah Hans. Semua menjawab sambil bertepuk tangan dengan meriah. Workshop berjalan dengan lancar sampai hari terakhir. Niken dan Hans mendapatkan pujian dari para mahasiswa pasca sarjana. Buku non fiksi Niken yang berjudul Who I'am..? Laris dikalangan para mahasiswa psikologi di Australia. Serta jurnal-jurnal yang ia terbitkan pun selalu menjadi panduan penelitian para mahasiswa. Hans pun tidak kalah terkenal, ia malah banyak dikerubuni oleh mahasiswi. Selain punya wajah yang tampan, Hans juga memikat mereka dengan kecerdasannya dalam bidang statistika dan psikometri. Hans menulis jurnal dan buku tentang metode penelitian kuantitatif serta belajar psikometri dengan mudah. Buku-bukunya tidak kalah boming dikalangan para pendidik dan pelajar. Setelah workshop selesai, Niken dan Hans masih ada undangan seminar di beberapa kampus swasta di Canberra dan di Brisbane.
"Mrs. Niken...?" Seru seorang lelaki. Niken dan Hans menghentikan langkahnya.
"My name is Gilbert. I am your fan. I have a youtube content that is about great inspirations. Can you guys fill in my youtube content. I know, maybe the pay is not so much like seminars and workshops. But I hope you can help me." Ujar Gilbert seorang mahasiswa pasca sarjana yang mengaku penggemar Niken dan Hans.
"Uhmmm, I have no problem, how about you, Hans?" Tanya Niken.
"Okay. I don't think it's a problem either. We will help you. When and where we will meet again with you." Jawab Hans setuju. Gilbert sangat senang dan memberikan kartu namanya.
Niken dan Hans mengobrol bersama Gilbert dalam sebuah konten youtube.
"I heard, Mrs. Niken speaks 5 languages, is that true?" Tanya Gilbert. Niken mengangguk.
"Yes, thats right. So at that time I accidentally learned French, but after I mastered one language, my interest grew. And learning foreign languages is very fun." Jawab Niken.
"Wow, so how many languages do you speak?" Gilbert bertanya kembali.
"I don't know how many languages I learned. If I say 5 or more, I'm afraid netizens will think I'm arrogant." Jawab Niken dengan senyum.
"Oughm, I think so." Gilbert pun membalas kemudian tertawa.
"Netizens will not know if in fact Niken is not arrogant. She is smart, beautiful and sincere. Maybe that's what they need to know." Tambah Hans.
"This is what I want to ask both of you. When did you meet? And does Mr. Hans have a special relationship with Ms. Niken? I'm sorry, but it seems like your fans also want to know." Ujar Gilbert.
"The story will be very long. And it took a very long time to tell our story. Have you read my book about How to Measure Qualitative Methods Based on Psychometrics?" Imbuh Hans.
"Uhmm not yet. What's in it?" Tanya Gilbert penasaran.
"You will find a word, love cannot be measured by the length of time. When you were born into this world, God has created love for a very long time." Jawab Hans.
"Wow thats a word amazing. But, how do you write that word in a non-fiction book?" Tanya Gilbert sambil mengganti posisi duduknya.
"You have to read it." Hans menunjuk Gilbert.
"Yeah, I have to read. Is that a book containing numbers?" Balas Gilbert.
"Ohh no. If you think my books contain a lot of numbers that's a big mistake." Jawab Hans dengan tegas.
Gilbert menahan nafas dan agak terkejut ketika Hans selalu menunjuknya. "Don't be surprised, he really is." Tukas Niken.
"Okay, I think I should go back to psychometrics with your books, Mr. Hans. Oh yeah, what about your come back in Russia?" Gilbert menyinggung soal kembalinya Hans ke Rusia, banyak orang yang tahu, kalau Hans adalah seorang professor dari Rusia. Hans terdiam sejenak. Begitu pun dengan Niken yang menatap Hans.
"I heard you will move to Russia, right?" Tanya Gilbert, Hans memandang Niken.
__ADS_1
"And what about the offer of doctoral scholarships in Turkey, Miss Niken? Did you accept the offer? Or are you going back to England?" Tanya Gilbert seolah membuka semua rahasia yang mereka sembunyikan selama ini. Acara talk show dalam konten youtube Gilbert selesai dengan penuh banyak tanya antara Hans dan Niken.
***