One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Lima puluh


__ADS_3

Tia merasa lemah tak berdaya dihadapan tante Dina atau mamanya Hans. Dulu, ia pernah menjadi pusat perhatian dari keluarga Hans. Ia sangat dekat dengan tante Dina. Sehingga mudah sekali baginya untuk menghasut pikiran mamanya Hans.


"Tante tahu tidak, dulu itu Niken merebut Hans dari aku." Kata Tia saat Dina mengajaknya minum di cafe.


"Iya, tante denger sih kalau kamu putus sama Hans. Tapi masa iya sih perempuan itu bisa merebut Hans dari kamu." Selidik Dina. Antara percaya dan tidak. Karena Dina tahu betul bagaimana karakter anaknya. Hans bukan tipe orang yang bisa dihasut. Apalagi bisa dengan mudah digaet oleh perempuan. Justru sebaliknya, Hans tipe yang selalu bisa membuat semua perempuan klepek-klepek, jangankan perempuan diluaran sana. Mamanya sendiri selalu ia buat klepek-klepek dengan rayuan gombalnya itu.


"Jadi begini tante ceritanya. Waktu aku masih pacaran sama Hans, dan si Niken masih ospek, dia suka deket-deketin Hans. Aku dengar dari Kezia juga, dia itu cewek gatal tante. Dia itu emang suka merebut pacar orang. Aku juga nggak tahu sih gimana ceritanya kenapa Hans bisa jatuh hati sama tuh cewek. Tapi tante banyak orang bilang, si Niken itu pake dukun. Makanya banyak cowok yang ngedeketin dia." Cerita Tia mengarang. Dina mengernyitkan dahinya. Seakan kurang percaya kepada Tia.


"Masa sih...? Zaman sekarang masih ada yang begituan." Tia tampak bersemangat menjelek-jelekan Niken dihadapan tante Dina.


"Iya tante. Dan sekarang aku dengar, Niken pacaran lagi sama Hans. Tante tahu kan, Tia sama Hans itu belum putus resmi. Tante, apa jangan-jangan Hans itu diguna-guna lagi ya? Soalnya Tia curiga sama dia. Tante tahu kan, kalau yang namanya ilmu sihir itu nggak kelihatan." Jelas Tia. Dina semakin berpikir banyak tentang Hans putra semata wayangnya. Antara percaya dan tidak percaya.


Dina pulang dengan keadaan cemas, sejak Tia bercerita tadi. Dina mencoba untuk menghubungi anaknya. Tapi Hans tidak menjawab panggilan teleponnya. Selalu dalam keadaan sibuk.


"Iiih, sibuk mulu." Ketus Dina.


"Nelepon siapa mah?" Tanya Harun suaminya.


"Anak kita lho papa." Jawab Dina.


"Tumben mama nelpon Hans. Ada apa?"


"Mama khawatir lho pah, ternyata Hans itu mutusin Tia. Trus dia pacaran lagi sama cewek yang namanya Niken. Dan mama dengar, cewek itu nge-guna-guna anak kita." Jelas Dina. Harun malah tertawa terbahak-bahak. Dina mengerutkan keningnya dengan kesal.


"Mama, zaman sekarang masih percaya kayak gituan?" Ketus Harun.


"Papa, percaya nggak percaya ya harus percaya. Buktinya anak kita lho pah. Pah, papa nasehatin Hans ya. Biar dia cari calon istri tuh yang bener. Jangan asal." Tutur Dina.


"Tenang dulu dong, mah. Siapa tahu Hans punya penjelasan. Dia juga nggak bakalan asal cari perempuan. Hans bukan playboy kayak dulu lagi. Mama harus percaya dong sama anak mama sendiri." Jelas Harun menenangkan istrinya.


"Papa tuh nggak tahu apa-apa. Udah ahk, mama capek ngomong sama papa." Dina berlalu meninggalkan suaminya.


"Mah, mama... Buatin papa kopi ya." Tukas Harun.


"Minta buatin aza sama si mbak."


"Papa maunya sama mama."


Dina menoleh sebentar. "Ihhh manja. Ya udah bentar." Gerutunya.

__ADS_1


***


Niken menyiapkan makan malam untuk kekasihnya. Ia masih tinggal di apartemen Hans, sebenarnya bukan karena ia masih harus ditemani oleh Hans. Tapi karena Niken seperti sudah nyaman berada di dekat Hans. Dan sebagai imbalannya Niken harus menyiapkan makan malam istimewa setiap hari.


"Makanan sudah siap..." Kata Niken. Hans sudah sejak tadi duduk siap menyantap makanan.


"Wow... Sepertinya sangat lezat." Niken duduk di samping Hans, lalu menuangkan nasi dan lauk pauknya. Hans menyendok makanannya, memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Uhmmmm, nyammmm.... Istimewa." Puji Hans. Niken menuangkan nasi dan lauk pauknya. Dan memakan hasil masakannya.


"Enak."


"Istri idaman." Puji Hans. Niken tersenyum bahagia. Setelah makan selesai, Hans membantu Niken cuci piring, kemudian mereka menonton bersama. Menonton drama romantis.


"Ayo kita lakukan itu." Kata Hans.


"Apa?"


"Ciuman." Niken memukul lengan Hans. "Ayolah..."


"Tidak."


"Kau sering sekali menolak ajakanku. Apa kau sudah tidak mencintaiku?" Imbuh Hans.


"Kalau apa...?" Selidik Hans.


"Apaan sih Hans. Udah deh."


"Kalau apa...? Kau tidak melanjutkan kata-katamu. Ayo jawab."


"Enggak. Nggak mau."


"Niken...?"


"Nggak mau Hans."


"Kamu takut itu yaaaaa...." Kata Hans.


"Takut apa?" Kata Niken.


"Hhmmm..." Hans tertawa.

__ADS_1


"Takut apa?" Tanya Niken. Tapi Hans tidak menjawab pertanyaannya. "Hans...." Hans berlari menghindari pukulan pacarnya. Hans menutup kamarnya. "Hans.... Ihhh nyebelin. Ya udah aku pulang nih." Niken merajuk. Hans membuka pintu kamarnya, lalu tiba-tiba dia menggendong Niken masuk ke kamarnya.


"Jawab dulu pertanyaanku." Desak Hans.


"Enggak ahk. Aku malu." Balas Niken. Hans menurunkan Niken diranjangnya.


"Hemmmmh, ya udah. Kalau gitu, sekarang waktunya kamu tidur." Imbuh Hans.


Niken menggelengkan kepala, "aku belum ngantuk."


"Mau aku bikin ngantuk?" Niken mengangguk. Hans malah mencium bibirnya dan ********** dengan pelan. "Kenapa menciumku? Katanya mau buat aku ngantuk dan tertidur." Tukasnya. Hans membelai rambut Niken dengan lembut.


"Kau cantik." Puji Hans. Niken tersenyum manis mendengar pujian dari pacarnya. Hans kembali menciumnya. "Aku ingin menikahimu." Bisik Hans. Niken tersenyum bahagia, ia mengangguk setuju.


"Aku juga. Aku ingin menjadi istrimu." Balas Niken. Lalu ia merentangkan kedua tangannya. Menyambut Hans dengan hangat. Hans kembali menciumnya dengan lembut. Hati Niken melayang jauh ke angkasa. Tubuhnya seperti terbang ke langit ke tujuh.


Satu jam kemudian, ponsel Hans berdering. Mama. Tanda panggilan masuk dari mamanya. Hans mengisyaratkan kepada Niken untuk diam.


"Hello mah. Ada apa?" Tanya Hans tanpa basa basi.


"Hans, kamu gimana sih? Sibuk terus deh dari tadi. Kamu lagi ngapain?" Balas Dina dari ujung telepon.


"Ehhh mama, nggak koq. Tadi aku lagi nonton tv, trus hp nya di kamar. Nggak tahu kalau mama nelpon aku." Jawab Hans.


"Hhmmm. Ada yang mau mama bicarakan denganmu." Imbuh Dina.


"Apa mah?"


"Nanti aza. Kalau mama ke apartemen kamu." Hans terkejut kalau mamanya akan menemuinya ke apartemennya. Hans menghembuskan nafasnya.


"Ehhh, emmm gini aza mah. Nanti aku hubungi mama kalau mau pulang. Jadi kita ngobrolnya pas aku pulang aza." Jelas Hans langsung mendapatkan ide.


"Ohhh gitu. Ya udah kamu cepat pulang ya, nak. Ini penting soalnya." Kata Dina.


"Sepenting apa sih mah?" Tanya Hans.


"Pokoknya penting banget. Mama nggak bisa bicara di telepon. Kamu harus pulang ya." Jawab Dina. Hans menganggukkan kepalanya.


"Iya mah..." Balas Hans lalu menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


***


__ADS_2