
Niken mendapatkan beberapa undangan, salah satunya undangan pelatihan mengenai manajemen kepribadian di Belanda selama satu bulan penuh. Lalu undangan lintas psikologi di Kanada selama 10 hari. Dan terakhir undangan tim penguji akreditasi fakultas Psikologi Eksperimen strata satu di Malaysia, selama 15 hari. Niken merupakan salah satu dosen yang mewakili negara Indonesia untuk berkancah di dunia Internasional. Beberapa penelitian eksperimennya dapat diakui oleh sebagian besar negara maju. Itulah sebabnya Niken selalu mendapat undangan dari luar negara untuk menjadi narasumber atau tamu undangan.
"Kalau begini aku harus punya asisten dong." Pikir Niken, sembari mengeluh kepada kekasihnya. Sebenarnya ia ingin Hans juga ikut andil dalam keprofesiannya. Tapi ia juga tahu kalau Hans masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Niken memilih salah satu mahasiswanya untuk membantunya dalam keprofesiannya kali ini. Audi terpilih sebagai mahasiswa yang cerdas dan bertalenta. Niken sangat percaya kalau Audi mampu mengkondisikan semua jadwal-jadwalnya. Selain itu Audi juga termasuk mahasiswa yang dikagumi oleh Niken dan beberapa dosen yang lain. Karena kecerdasan dan kesopanannya membuat Niken tak segan untuk merekrutnya.
"Hans...?" Seru Niken saat Hans masuk ke ruang kerjanya.
"Ya sayang..." Balas Hans. Niken mengirimkan file undangan ke email kekasihnya.
"Undangan...?" Hans mengernyitkan dahinya. Niken mengangguk.
"Aku harus ke Belanda hari senin depan." Balas Niken.
"4 undangan?"
"3 sayang."
"Ini ada empat Niken." Tukas Hans. Niken memperhatikan lagi emailnya. Rupanya ia belum membaca satu pesan lagi. Undangan keprofesian dosen di China selama 10 hari. Niken menghembuskan nafasnya.
"Oh iya. Maaf." Katanya. Hans tersenyum sambil membelai lembut rambut Niken. Hans sangat bangga dengan kerja keras Niken untuk mendapatkan satu persatu impiannya sendiri.
"Ini karirmu. Perjuanganmu." Balas Hans. Niken pun tersenyum.
"Apakah kau tidak apa-apa, jika aku meninggalkanmu sebentar?" Tanya Niken.
Hans tersenyum tipis, "hemmmh, gimana ya? Aku justru bahagia jika kau pergi. Jadi aku bisa menggoda beberapa perempuan cantik yang ada disini." Jawab Hans sambil menggoda Niken.
"Apa?" Niken berkacak pinggang. Hans menggaruk hidung sebentar.
"Hhaha... Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda." Tukas Hans.
"Candaanmu tidak lucu." Niken menyilangkan kedua tangannya kedadanya.
"Hey, aku bercanda. Sungguh. Maafkan aku ya." Hans memohon maaf kepada kekasihnya. Tapi Niken masih cemberut. "Hey dengar, aku akan sangat merindukanmu jika kau jauh dariku. Tapi, aku ingin kau tetap melakukan yang terbaik untuk karir dan masa depanmu. Jadi, kau harus melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Kau mengerti?" Jelas Hans.
"Hemmmmhh..." Gumam Niken.
"Kau masih marah?" Ucap Hans. Niken menyilangkan kedua tangannya ke leher Hans.
__ADS_1
"Berjanjilah padaku, bahwa kau, tidak akan pernah mengkhianati cintaku?" Tukas Niken.
"I promise." Jawab Hans.
"Promise..." Niken dan Hans melingkarkan jari kelingking mereka. Hans hendak mencium bibir Niken, tiba-tiba pintu kerja mereka dibuka seseorang.
"Niken...?" Seru Bella. Niken dan Hans saling menghindar.
"Oops... Sorry. Aku ganggu ya?" Kata Bella.
"Oughh ada apa Bel?" Tanya Niken kikuk.
"Kamu dipanggil pak Kiki." Jawab Bella.
"Ohh okey. Nanti aku kesana." Tukasnya.
"Okey. Hhmmm, Hans. Sorry ya. Aku nggak tahu." Kata Bella. Hans mengangguk. Sementara Niken hanya tersenyum simpul.
"Aku ke ruangan pak Kiki dulu ya." Kata Niken. Hans mengangguk.
Saat di apartemen, Hans membantu Niken mempersiapkan keberangkatannya ke Belanda. "Hans...?" Seru Niken.
"Aku khawatir."
"Khawatir kenapa?"
"Bagaimana kalau nanti aku di Belanda tidak bisa apa-apa." Tukas Niken sambil memanyunkan bibirnya. Hans menghembuskan nafasnya.
"Dengarkan aku, aku akan membantumu kapanpun, selalu ada untukmu setiap waktu. Ini adalah kesempatanmu, kau harus bisa menempatkan aku sebagai kekasihmu dan sebagai professor pembimbingmu. Jadi, aku harap kau mengerti." Jelas Hans. Niken mengangguk mengerti.
"Emmm aku mengerti." Kata Niken lega.
Hans mengusap lembut pipi Niken. Lalu mengecup keningnya dengan lembut pula. Niken berjinjit untuk mencium bibir Hans. Mereka berciuman.
***
"Sebelum aku berangkat, bisakah kau mengajakku kencan terlebih dahulu." Pinta Niken dengan manja. Hans mendekapnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Kencan?" Kata Hans. Niken menganggukkan kepala. "Apa ini bukan kencan?" Tanyanya.
"Hans...?"
"Dengar, kita bisa melakukan apapun sebelum kau berangkat ke Belanda. Di rumah saja. Bagaimana?" Usul Hans.
"Melakukan apa?"
"Apa saja, seperti pasangan drama korea yang suka kau tonton." Katanya.
"Sungguh?" Mata Niken bersinar penuh harap. Hans menganggukkan kepala. Niken menarik selimutnya. Dan tidur di bahu Hans.
"Uhmmm, apa dulu ya yang harus dilakukan?" Pikir Niken. Hans meletakkan kepala Niken ke bantal. Ia menahan lengannya. Lalu ******* bibir Niken dengan lembut.
"Pertama, membuat hati kita bahagia. Kedua, kita bisa masak bersama besok. Dan ketiga, kita berangkat kerja bersama, berpegangan tangan, dan pulang bersama. Kau setuju?" Jelas Hans. Niken pun mengangguk setuju
"Mmmm, aku setuju." Balasnya. Hans melihat bibir Niken lagi. Tangannya mendekap mesra punggung kekasihnya.
"Lagi?" Tanya Niken pelan. Hans tersenyum lalu mengangguk.
"Kenapa kau keberatan?" Hans bertanya.
Niken menghembuskan nafasnya, "tidak. Baiklah." Balasnya. Hans melanjutkan mencium lembut dan mesra bibir kekasihnya itu.
Niken tidak bisa pulang untuk pamit kepada ibunya. Akhirnya ia hanya bisa menelpon untuk memberitahukan ibu bahwa ia akan berangkat ke Belanda.
"Koq bisa? Kapan berangkatnya? Padahal ibu mau mengenalkanmu kepada anak teman ibu lho, Ken." Ujar Ria.
"Nanti saja ya bu. Niken nggak punya waktu." Jawab Niken.
"Kamu itu terlalu mementingkan pendidikan dan pekerjaan, terus lupa sama nikah. Kamu kapan sih bisa nyenengin ibu. Ibu itu pengin kamu nikah bukan terus-terusan penelitian atau workshop melulu. Memangnya kamu pikir ibu nggak malu, kalau ditanya sama orang-orang, kapan anaknya mau nikah? Jangan kelamaan dong, nanti cepat tua. Ehh nggak laku nantinya. Gitu. Tahu nggak, ibu tuh sakit hati banget digituin sama temen-temen ibu. Kamu kapan sih nurut sama ibu. Niken dengar ya, ibu nggak mau kamu nolak sama lelaki yang ibu jodohkan untukmu." Tutur ibu panjang lebar. Niken menghembuskan nafas dengan pelan.
"Dijodohkan?" Ujar Niken kaget. Hans menoleh, penasaran dengan pembicaraan kekasihnya dengan ibunya ditelepon. "Ibu nggak bisa gitu dong, bu. Kenapa ibu nggak bilang dulu sama Niken sih? Belum tentu kan, Niken mau. Lagian ibu tuh kuno. Apaan sih main jodoh-jodohin segala. Kayak zaman Siti Nurbaya aza." Balas Niken.
"Tuh kan, begini anak yang susah diatur. Ibu juga berpikir dong mau jodohin anak ibu sama siapa? Pokoknya ibu nggak mau tahu, pulang dari Belanda atau dari Kanada atau dari mana lha terserah kamu. Kamu harus ketemu sama anak temen ibu. Paham." Kata Ria keukeuh.
"Uhmm terserah ibu deh. Pokoknya doain Niken ya bu." Imbuh Niken akhirnya. Lalu menutup panggilan telepon dari ibunya.
__ADS_1
...***...