
"Jadi gitu ceritanya kak." Haya mengakhiri ceritanya. Niken melempar senyum, tanda menyimak semua isi cerita dari adik iparnya. Haya datang setengah jam yang lalu, ketika Niken sedang memasak. Kini masakan sudah dihidangkan di atas meja.
"Haya, kau bisa bangunkan kakakmu?" Pinta Niken.
"Makanannya udah siap kak...?" Haya mendongak, Niken menganggukkan kepala sambil menyiapkan piring dan gelas. Sementara Haya masuk ke kamar kakaknya.
"Kak Hans...? Bangun...."
"Emmmm..." Gumam Hans.
"Bangun... Kak Niken udah masak tuh. Kakak...." Haya menggoyangkan tubuh kakaknya. Tapi Hans enggan membuka mata.
"Ihhh males banget sih nih anak. Mana nggak pake baju lagi tidurnya. Apa dia nggak masuk angin gitu..." Haya menggelengkan kepala. Haya punya ide yang menarik. Ia menirukan suara Niken agar kakaknya bisa cepat bangun. "Hans, sayang. Aku kekasihmu yang sangat mencintaimu. Cium aku sayang... Mmmmuaccch..." Haya menempelkan kepalanya ke punggung kakaknya, lalu sengaja mengelus tangannya.
"Niken..." Lirih Hans. Suaranya serak karena masih tidur.
"Iya sayang." Tiba-tiba Hans menarik lengan adiknya. Membuatnya terbaring di atas kepalanya. "Waaaa..." saking kagetnya Haya berteriak.
"Hahhhh... Kau. Aku pikir Niken. Ngapain kau disini?"
"Dasar punya kakak otak mesum. Emangnya kalau kak Niken yang bangunin kau mau apa?" Hans melemparkan guling tepat ke wajah adiknya, Haya pun tidak mau kalah, ia melempar bantal. Hans bergegas bangun dan keluar dari kamar.
"Hanssssss...." Teriak Haya.
Kedua kakak beradik itu selalu bertengkar seperti kucing dan anjing.
"Hans...?" Seru Niken dengan lembut. "Mana Haya?" Lanjutnya. Hans menggelengkan kepala. Lalu Haya muncul dengan rambut berantakan.
"Hans gila." Ketus Haya. Hans mencibirnya.
"Gosok gigi dulu gih!" Perintah Niken.
"Okey sayang." Balas Hans.
"Sayang sayang... Pala lu peyang."
"Syirik aza."
"Ehhh kenapa sih? Berantem mulu." Niken melerai.
"Tahu tuh kak Hans."
Setelah Hans menyikat gigi dan ganti pakaian. Mereka sarapan bersama. Haya dan Hans menikmati hidangan yang dimasak oleh Niken. Selain cantik dan cerdas, Niken juga pandai memasak.
"Jadi kapan kau akan mengenalkanku kepada mama dan papamu?" Tanya Niken ditengah-tengah sarapan.
"Hhmmm secepatnya. Hari ini aku mau pulang dulu ke rumah. Menemui mama dan papa. Nanti kita persiapkan untuk bertemu dengan orangtuaku." Jelas Hans.
"Kak Niken mau ketemu sama mama?" Tanya Haya. Niken mengangguk. Mata Haya berbinar, penuh dengan kebahagiaan.
"Asyik... Aku yakin banget mama pasti suka sama kak Niken. Apalagi kak Niken itu baik dan pintar masak." Tutur Haya memuji.
"Makasih Haya atas pujiannya."
"Sama-sama kak Niken."
__ADS_1
"Hari ini kau ada acara kemana?" Tanya Hans.
"Hari ini aku mau ke salon. Melihat perkembangannya. Mungkin bisa seharian penuh." Jawab Niken.
Hans menggenggam tangan Niken. "Bersenang-senanglah." Niken mengangguk.
"Woy, jangan bermesraan didepanku dong." Tukas Haya.
"Anak kecil diam aza." Ketus Hans. Niken melepaskan genggamannya. Lalu ia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Sebenarnya ia agak kikuk ketika Haya berkata seperti tadi. Apalagi sekarang Hans sudah sangat terang-terangan melakukan kontak fisik dihadapan Haya.
***
Sementara Niken pergi ke Salon. HansĀ pulang ke rumah orangtuanya. Dina sudah siap menyambut anak kesayangannya ada begitu banyak pertanyaannya. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa menghakimi anaknya dan percaya begitu saja kepada orang lain. Dina sangat mengenal Hans sejak ia masih kecil. Hans tidak akan memilih perempuan lain disaat ia masih berhubungan dengan orang lain. Dina mengatur emosinya.
"Assalamualaikum..." Salam Hans.
Dina celingukan siapa yang memberi salam, ketika membuka pintu, ternyata anaknya.
"Wa'alaikumsalam."
"Pagi mah, pah." Sapa Hans.
"Pagi pagi... Ini udah siang." Ketus Dina. Hans nyengir.
"Papa lagi apa sih mah? Sibuk amat." Celetuk Hans.
"Tahu tuh papamu. Sok sibuk." Balas Dina. "Mama mau ngomong sama kamu." Lanjut Dina.
"Ini to the point aza nih?" Tukas Hans.
"Tawarin Hans minum dulu kek." Dina menghembuskan nafasnya.
"Hhehe, bercanda mah. Enggak mah, ntar aza deh."
"Ohya Hans, mama dengar kamu udah punya pacar lagi selain Tia." Kata Dina
"Huh? Uhmmm... I-iya mah." Jawab Hans.
"Kamu selingkuh dari Tia?" Lagi Dina bertanya, menyelidiki putra sulungnya.
"Mah, hubungan Hans sama Tia kan udah lama berakhir. Jadi, Hans nggak selingkuh sama siapa-siapa. Hans emang udah punya calon menantu buat mama." Jelasnya.
"Niken namanya?" Hans mengernyitkan dahinya.
"Mama tahu dari mana?" Ucap Hans.
"Waktu itu mama pernah lihat Tia berantem. Kata Tia sih perempuan itu pacar kamu, namanya Niken. Trus Tia juga bilang, kalau Niken itu merebut kamu dari dia, emang benar?" Selidik Dina.
"Enggak mah. Mama harus percaya sama Hans. Apapun yang Tia katakan itu salah. Aku lebih kenal Niken dibandingkan siapapun. Niken itu nggak pernah merebut Hans dari siapapun." Hans berusaha meyakinkan mamanya.
"Tapi Hans, mama harap kamu nggak salah pilih buat menentukan kehidupanmu dimasa mendatang. Mama ingin kamu bahagia." Ujar Dina dengan mengelus lembut punggung anaknya.
"Mama jangan percaya sama Tia ya. Mama harus percaya sama Hans. Hans anak mama, Hans nggak akan pernah mengecewakan mama. Dan Hans nggak akan asal pilih calon menantu mama." Balasnya.
"Iya mama percaya sama kamu." Imbuh Dina.
__ADS_1
"Emang si Tia ngomong apa aza sih?" Sekarang Hans yang menyelidik.
"Tia cuman bilang gitu doang. Trus suka sms mama, katanya harus hati-hati sama Niken. Gitu. Mama kan jadi khawatir sama kamu. Dia juga bilang kalau kamu tuh diguna-guna gitu lah." Tutur Dina.
"Ya Tuhan, Tia Tia. Dia emang kurang ajar mah. Kayaknya dia sengaja mau cuci otak mama." Hans terkejut mendengar cerita mamanya.
"Papa sih bilangnya mama jangan percaya dulu. Iya atau enggaknya kan mama nggak tahu. Mama tahu Tia anak yang baik. Mama juga tahu kalau dia masih sayang sama kamu. Tapi semuanya ada di kamu. Kamu yang menentukan jalan hidupmu. Jadi kamu yang harus memilih. Mama sama papa, pasti mendukung kamu." Ujar Dina dengan bijak.
"Iya mah. Makasih ya mah." Dina menganggukkan kepala.
"Pah, papa, ini ada anaknya datang malah sibuk sendiri." Tukas Dina.
"Apa sih mah? Papa lagi sibuk nih." Balas Harun.
"Nggak apa-apa mah."
"Ehhh Hans. Kamu mau kemana?"
"Kenapa pah?"
"Sini dulu sebentar. Papa mau bicara." Kata Harun.
"Hans, kamu mau minum apa nak?"
"Nggak usah mah. Nggak apa-apa. Biar nanti Hans ngambil sendiri." Kata Hans.
"Tumben." Gumam Dina.
Harun membahas distro mereka yang sedang dalam pembangunan baru. Hans sebagai pengelola sekaligus managerial keuangan memberikan laporannya kepada papanya.
***
"Mah... Hans pulang ya." Pamit Hans sama orangtuanya.
"Iya sayang." Balas Dina.
"Itu si Haya gimana kuliahnya? Bilang ke dia jangan main melulu." Imbuh Harun.
"Enggak koq pah. Dia baik-baik aza." Balas Hans.
"Tumben kamu ngomong yang baik-baik sama adik kamu." Ketus Harun.
"Ehhh papa, Haya kan adiknya Hans." Hans sun tangan kepada papanya.
"Mah...?" Hans mencari mamanya.
"Ini di dapur."
"Mama lagi buat apa?" Tanya Hans.
"Biasa. Buat kue aza." Jawab Dina. Hans meraih tangan mamanya lalu sun tangan dan mencium pipi Dina.
"Hans pulang ya." Katanya. Hans berlalu meninggalkan rumah kedua orangtuanya. Dina menghampiri suaminya.
"Ada apa dengan Hans?" Tanya Dina.
__ADS_1
"Dia sun tangan?" Tebak Harun. Dina mengangguk. Ada yang aneh dengan Hans. Sikapnya tidak seperti biasanya. Hans tidak pernah melakukan kebiasaan itu. Dan untuk kali pertama semenjak ia remaja sampai sekarang, ia belum pernah mengecup pipi mamanya.
***