
"Ichen Ichen, ayo ikut kakak." Raj meraih tangan Ichen lalu mereka melukis gambar mereka di dinding, dan diberi nama Niken & Hansraj. Lalu mama Raj memotret gambar itu sebagai kenang-kenangan. "Nah, sekarang kalian berfoto dulu." Katanya. Raj merangkul bahu Ichen sementara Ichen bersender ke bahu Raj. Hampir setiap hari Niken dan Hans bermain sepanjang waktu. Jika hari libur, mereka akan pergi bertamasya bersama. Niken kecil bersedih ketika mendengar kabar bahwa keluarga Hans akan pindah ke Jakarta. Waktu seolah merubah segalanya. Tentang Niken yang lugu dan lucu berubah saat Hans tak lagi melindunginya. Begitu pun dengan Hans yang tak ingin pindah karena sudah nyaman berteman dengan Niken yang tomboy.
"Aku nggak mau pindah. Aku mau disini aza sama tante Ria." Kata Hans.
"Nanti tiap sebulan sekali kita liburan ke Bandung ya." Bujuk mama. Hans cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Mama jahat." Bentak Hans.
"Sayang. Jangan gitu dong, nak. Mama janji. Mama janji deh, Raj akan ketemu lagi sama Ichen bukan sebulan sekali. Seminggu sekali. Okey. Nanti kalau kita udah di Jakarta. Kita ajak Ichen ke rumah kita. Okey?" Imbuh Mama membujuk putra sulungnya. Lalu Hans mengangguk.
"Mama janji ya." Kata Hans. Niken dan Hans saling berpelukan untuk terakhir kalinya.
"Ichen jangan jatuh-jatuh lagi ya." Tukas Hans. Niken mengangguk.
"Kak Raj jangan lupain Ichen ya." Balas Niken. "Kalau kak Raj pergi. Nanti siapa yang belain Ichen, kalau Ichen digangguin temen-temen lagi." Lanjutnya.
"Uhmm, kakak akan lindungin Ichen terus. Tenang aza ya." Balas Hans. Mereka pun berpisah untuk waktu yang sangat lama. Niken melihat kenangannya sendiri disebuah layar yang sangat lebar dan panjang.
"Niken...?" Seru seseorang dari arah lain. Niken menoleh, ia tak percaya ayahnya menghampirinya.
"Ayah...?"
"Boleh ayah duduk bersamamu?" Tukas Reno. Wajahnya tampak bersih, dan ia duduk disamping putrinya. Niken mengayunkan kedua kakinya sambil melihat beberapa kenangan indah yang pernah ia lupakan.
"Kau bahagia?" Tanya Reno. Niken menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan ayah?"
"Ayah bahagia bila kau bahagia." Balas Reno. Niken tersenyum ramah, senyuman yang sudah jarang sekali Reno lihat dari putrinya. Kemudian Reno membelai lembut rambut Niken.
"Maafkan ayah ya. Ayah tidak pernah membuatmu bahagia. Maafkan ayah, atas semua kejadian yang membuatmu menderita." Ujarnya. Niken menoleh, lalu tersenyum. Ia menggenggan tangan Reno.
"Harusnya, Niken yang minta maaf ke ayah. Niken lupa kalau ayah, adalah ayah terbaik untuk Niken." Balas Niken sambil memeluk ayahnya. Reno tersenyum bangga.
"Ayah bangga sama Niken. Restu ayah akan selalu ada untukmu. Jangan terlalu lama tinggal disini. Pulanglah, dia menunggumu." Ujar Reno.
"Dia siapa yah?" Tanya Niken. Reno menunjuk sebuah kenangan yang membuat Niken menjadi rindu.
"Hai, nama kamu Niken, kan?" Seru seorang laki-laki saat Niken dan ke-4 sahabatnya sedang berada di kantin kampus. Niken menganggukkan kepala. "Namaku Hans. Yang waktu itu menolongmu." Lanjutnya.
"Ciyeee Niken ciyeeeee..." Goda ke-4 sahabatnya.
"Ssst apaan sih." Kata Niken. "Ehh makasih ya, waktu itu udah nolongin aku."
"Iya sama-sama. Aku ganggu kalian nggak?" Naira, Naina, Via dan Elsa menggeleng secara bersamaan. "Kalau gitu, aku boleh ikut makan sama kalian?" Lanjutnya.
"Ehhh, koq....?" Niken terkejut ketika Hans mau bergabung bersama teman-temannya.
"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Hans.
"Enggak sih. Tapi emangnya mau, gabung sama kita? Mereka tuh risih, banyak ngomong." Jawab Niken.
"Niken tuh maunya berdua aza sama kak Hans." Tukas Naina.
"Apalagi kalau diajak kencan." Sambung Naira.
"Seneng banget pastinya." Tambah Via dan Elsa bersamaan.
"Tuh kan."
__ADS_1
"Kalau gitu, aku culik Niken sebentar ya, boleh?" Kata Hans. Ke empat sahabat Niken mengangguk setuju. Hans meraih tangan Niken dan menuntunnya ke luar kantin, lalu mengajak makan diluar.
"Nggak apa-apa kan kalau kita makan disini? Siomaynya enak. Lebih enak daripada di kantin." Ujar Hans. Niken mengangguk malu. Hati Niken berdegup lebih cepat. Perasaan yang belum pernah terjadi kepada dirinya. Lelaki itu, memiliki tangan yang hangat, jiwa pelindung. Matanya hitam pekat, hidungnya mancung, alisnya tebal, dia memiliki struktur wajah yang sempurna. Seperti lelaki impiannya yang sering ia mimpikan.
"Kalau mau siomay paling enak, adanya di Bandung. Deket banget sama rumahku." Balas Niken.
"Ohya? Ehh kamu Bandungnya dimana? Dulu aku pernah tinggal disana, tapi cuma sebentar." Hans menyodorkan siomay kepada Niken. Dengan senang hati Niken menerimanya. Dari beberapa orang yang mengenal Hans, Niken tahu bahwa lelaki itu playboy. Tapi siapa yang mau menolak jika diajak makan bersama dengan lelaki tampan seperti Hans.
"Di Subang. Agak jauh juga sih sama Bandung. Tapi orang-orang nggak akan tahu daerah Subang. Makanya kalau ada yang nanya aku tinggal dimana, aku jawab saja di Bandung." Jawab Niken.
"Ohya? Dulu aku juga pernah tinggal disana. Tahu nggak? Kamu mengingatkan aku sama sahabat kecilku." Rayunya. Niken sedikit tersipu mendengarnya.
"Siapa? Cinta pertamamu?"
"Cinta pertamaku itu adalah kamu." Balas Hans. Niken menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Emang kebanyakan cowok kayak gitu ya. Pasti kak Hans banyak ngerayu perempuan seperti itu." Kata Niken.
"Triknya nggak sama, tapi nggak jauh bedalah." Balasnya. Niken dan Hans tertawa bersama.
"Ehh boleh minta nomor hp kamu nggak?"
"Boleh." Lalu Niken memberikan nomor ponselnya kepada Hans.
"Kalau aku nelpon kamu malam-malam, ada yang marah nggak?" Hans masih merayu Niken.
"Siapa yang marah? Eng enggak ada deh." Sedikit demi sedikit Niken menyuap siomaynya ke mulutnya.
"Ya, takutnya pacar kamu gitu yang marah."
"Enggak. Aku nggak punya pacar." Balasnya.
"Enggak. Menurutku pacaran itu nggak penting. Buang-buang waktu." Balas Niken. Hans memandang Niken dengan takjub.
"Jadi kalau aku minta kamu menjadi pacarku, mau nggak?" Imbuh Hans. Niken tergelak tertawa.
"Aneh rasanya kalau ada yang nembak sama aku. Biasanya diantara kita berlima, Aku, Naina, Naira, Via dan Elsa, yang pertama kali dilirik itu Elsa. Bukan aku." Niken mengusap bibirnya.
"Kenapa? Aku pikir kau juga cantik dan menarik." Hans masih memandangi Niken dengan penasaran.
"Ohya? Aku nggak pernah ngerasain yang namanya pacaran apalagi jatuh cinta." Kata Niken sambil mengangkat bahunya.
"Serius? Selama 18 tahun ini, kamu nggak pernah pacaran atau naksir gitu sama lelaki?" Tanya Hans.
Niken menggelengkan kepala, "Pernah sih, beberapa bulan yang lalu. Tapi sayangnya, dia bohongin aku dan ngecewain aku." Jawab Niken.
"Terus...?"
"Terus aku jadi yakin kalau semua lelaki itu sama brengseknya. Awalnya aza kalian ngerayu, baik, ngegombalin, tapi ujung-ujungnya bakalan pergi ninggalin perempuan itu kan? Sama kayak kamu." Jelas Niken.
"Ehhh beda dong. Aku tuh nggak brengsek." Cela Hans.
"Trus apa?"
"Sebenarnya bukan aku yang ngerayu mereka. Tapi mereka yang mau dirayu sama aku. Kayak kamu." Balas Hans nyengir.
"Dihhh, enak aza. Aku nggak gampangan kayak cewek-cewek yang pernah kamu rayu ya." Tukas Niken.
"Trus kamu cewek yang seperti apa?" Hans menopang dagunya sambil menatap Niken.
__ADS_1
"Uhmmm, perempuan cantik yang berprestasi." Jawab Niken sambil tersenyum. Hans tergelak tertawa. Niken menghabiskan makanannya.
"Pacar kamu nggak marah?" Tanya Niken.
"Pacar aku kan kamu." Goda Hans.
"Mulai lagi deh. Aku serius. Aku nggak mau karena aku, kalian jadi berantem." Imbuh Niken.
"Aku tuh nggak pernah serius sama mereka. Cuma main-main aza." Hans membayar makanannya.
"Ehh, aku aza yang bayar." Niken mengeluarkan uang dari sakunya.
"Nggak usah. Masa dibayarin sama cewek sih. Gengsi kali." Niken tertawa kecil, begitu pun dengan Hans. Mereka berdua berjalan bersama menuju kampus.
"Teman-teman kamu nggak marah?" Tanya Hans.
"Marah kenapa?"
"Karena kamu ngobrol sama aku."
"Apaan sih. Enggak lha. Mereka ngerti koq." Balas Niken.
"Mereka udah punya pacar?"
"Cuma Elsa yang udah punya pacar. Yang lainnya belum." Jawab Niken.
"Kamu mau nggak, malam minggu besok kita nonton." Ajak Hans.
"Hah? Enggak salah." Niken memutar bola matanya, seakan tak percaya.
"Kenapa?"
"Harusnya kamu ajak pacar kamu. Bukan aku."
"Kenapa sih kamu bahas pacar terus? Kamu mau ya jadi pacar aku?" Tunjuk Hans merayu Niken.
Niken tersenyum, "ehh enggak tahu. Bukan gitu. Aneh aza gitu. Koq ngajak aku."
"Yahh emangnya salah?"
"Enggak."
"Gimana mau nggak? Anggap aza ini sebagai kencan pertama kita." Kata Hans.
"Uhmmm, tapi kamu ngejamin keselamatan aku nggak?" Balas Niken.
"Aku siap melindungi dan menjaga putri Niken." Imbuh Hans sambil membungkukkan badannya sebagai tanda kehormatan untuk orang ternama atau keluarga kerajaan seperti di Inggris.
Niken pun tertawa, "baiklah. Tapi ini bukan kencan ya."
"Baiklah kalau itu maumu. Sahabat?" Hans mengulurkan tangannya. Niken menatap mata Hans. Lalu balas mengulurkan tangannya.
"Sahabat." Balas Niken.
"Niken...?" Seru ke empat sahabatnya.
"Bye Niken." Hans menggapaikan tangannya. Niken pun membalas menggapaikan tangannya.
***
__ADS_1