One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh tujuh


__ADS_3

Berulang kali Hans memencet bel apartemen pujaan hatinya. Tapi tidak ada yang menjawab. Pintu tidak dibuka, dan Hans terus mengetuk pintu apartemen Niken.


"Niken, buka pintunya. Aku tahu kau didalam. Niken buka pintunya." Hampir satu jam lebih Hans menunggu pintu apartemen itu terbuka. Namun sama sekali tidak ada jawaban. Kemudian Hans menyetir mobil barunya, menyusuri setiap jalanan kota Jakarta. Tapi Niken tidak ada diantara keramaian orang, tidak ada diantara cafe-cafe yang ramai dengan pemuda pemudi Hans tidak pantang menyerah, ia pun menemui orang tua Niken.


"Kak Nadine, Niken dimana, kak?" Tanya Hans. Nadine tidak menjawab dengan kepastian. Begitu pun Ria ibunya Niken. Mereka tidak tahu Niken pergi kemana, sementara Hans masih terduduk diteras depan sambil memohon.


"Bu, khasian juga si Hans." Ujar Nadine.


"Nad, enggak. Kita sudah janji sama Niken." Kata Ria.


Nadine yang penuh kasih dan sangat tulus itu. Membantu Hans untuk bangun. Memberinya makan dan minum serta memberi tumpangan untuk tidur.


Bau masakan tercium harum, Hans membuka mata. Ia mengerjapkan kedua matanya, "Niken..." Seru Hans. Namun saat ia keluar kamar, tampak Nadine dan ibunya sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Nak Hans, ayo kita sarapan." Ujar Ria mengajak Hans untuk menyantap sarapan.


"Iya tante." Balas Hans. Hans menyuap sesendok nasi goreng buatan Ria. Perlahan-lahan air matanya jatuh. Rasa masakannya Ria mirip sekali dengan rasa masakan Niken. Hans sangat merindukan perempuan itu. Dimana Niken berada? Nadine memandang Hans lamat-lamat.


"Ini minumnya." Kata Nadine menyodorkan segelas air mineral. Wajah Nadine tampak seperti Niken, tiba-tiba Hans memeluk Nadine sambil menangis.


"Kau kemana saja? Aku merindukanmu, Niken." Lirihnya. Nadine melepaskan pelukan Hans dengan cepat.


"Aku bukan Niken, aku kakaknya." Kata Nadine.

__ADS_1


"Ehh maafkan aku, kak." Tukas Hans. Nadine dan Ria tetap bungkam, merahasiakan kepergian Niken. Hans pulang dengan luka yang perih. Hans mencoba menghubungi Sam dan Elsa.


"Hallo Sam...?" Seru Hans saat telepon terhubung.


"Ya Hans. Ada apa?" Tanya Sam.


"Apakah Niken bersama Elsa sekarang?" Balas Hans.


"Niken? Aku tidak tahu Hans, aku sedang diluar kota sekarang. Coba kau hubungi Elsa, barangkali dia tahu." Jawab Sam.


"Oh begitu. Baiklah." Kata Hans mengakhiri teleponnya. Hans pergi ke beberapa tempat yang sering Niken kunjungi, tapi hasilnya nihil. Begitu seterusnya, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Tidak ada yang tahu kemana Niken pergi. Bertanya kepada Elsa, Bella, dan teman Niken yang lain pun tidak ada yang tahu.


Perasaan Hans hancur berkeping-keping. Ia menjalani kehidupan dengan perasaan terluka. Pergi mengajar, memberikan tugas dan ujian hanya begitu saja. Dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Dan terus begitu dalam 3 bulan terakhir ini.


Suara perut Hans berbunyi. Alarm sudah aktif 30 menit yang lalu. Hans bangun dari tidurnya dan meneguk segelas air mineral. Setelah ia mandi dan bersiap untuk pergi mengajar, pulang dari kampus, Hans datang ke sebuah bar, meneguk alkohol dan pulang, begitu seterusnya. Bagi Hans, hidupnya sudah tak berarti lagi.


Haya melaporkan kondisi kesehatan Hans kepada mamanya yang semakin memburuk dan perilaku Hans yang mulai minum-minuman keras.


"Hans?" Seru Dina dengan berkacak pinggang dan mata yang melotot. "Apa-apaan kau ini? Hanya karena Niken kau menjadi seperti ini. Memalukan." Ketus Dina.


"Lihat kan, mah. Karena ulah mama, kak Hans jadi seperti ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali kak Niken ada untuknya." Ujar Haya.


"Mama melakukan semua ini untuk kebaikan kakakmu." Bentak Dina.

__ADS_1


"Kebaikan apa mah? Mama lihat sendiri kak Hans bagaimana. Dia mabuk-mabukan, pulang larut malam, mama yang merusak perilaku buruk kakak. Bukan kak Niken." Debat Haya kepada mamanya.


"Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan kakakmu dari Tia yang mengancam keluarga kita? Hah?  Ini yang bisa mama lakukan. Dan jangan berdebat lagi tentang Niken sekarang." Kata Dina yang tiba-tiba menyinggung soal Tia.


"Tia? Ohhh jadi Tia yang mengancam mama. Apa yang dia katakan? Mama lebih takut terhadap ancaman Tia daripada perilaku kakak? Mama egois." Imbuh Haya.


"Mama tidak egois. Satu-satunya cara agar Hans tidak mengalami kecelakaan lagi adalah memisahkannya dengan Niken. Itu yang mama tahu. Tia sudah merencanakan untuk menghancurkan keluarga kita. Apa yang bisa mama lakukan? Hah?" Jelas Dina. Haya mengernyitkan dahinya. Tia. Kecelakaan. Hubungan yang harus diakhiri. Kepergian Niken. Haya mengerti sekarang.


"Ohhh, karena itu mama selalu ketakutan. Aku mengerti sekarang. Tia adalah dalang dibalik kecelakaan kak Hans. Dasar brengsek. Bangun kak. Bangun...." Kata Haya yang kemudian menarik lengan Hans.


"Kita harus memproses kak Tia ke kapolsek. Setelah itu kakak pergi ke Rusia. Kembali mengajar dan melakukan kegiatan seminar dan workshop. Kakak tahu, kalau kak Niken tahu kakak seperti ini, aku jamin kak Niken akan kecewa. Aku jamin kak Niken nggak akan pernah kembali ke sisi kakak." Ujar Haya memperlihatkan surat panggilan dari universitas  tempat Hans belajar. Hans tiba-tiba teringat sesuatu. Diacara talk show itu, Niken mengatakan bahwa ia akan pergi ke Turki.


"Hans dengar mama. Ini demi kebaikanmu. Lupakan Niken. Lupakan semuanya. Mama takut kau kenapa-kenapa. Maafkan mama karena egois. Lupakan semuanya ya." Kata Dina menggenggam tangan Hans.


"Ini rencana mama bukan?" Tanya Hans. Dina menangis sejadi-jadinya. Ia tidak tahu kalau Hans sangat mencintai wanita itu. "Sekarang ikutin rencana aku dan Haya." Lanjut Hans.


"Apapun rencanamu, mama akan selalu bersamamu dan Haya." Balas Dina. Haya dan Hans berfirasat bahwa Tia akan mengancam mamanya dengan kalimat yang tidak pantas. Maka semua bukti dan saksi dikumpulkan oleh Hans dan Haya untuk menjebloskan Tia ke penjara. 


Tidak perlu menunggu lama setelah Hans dan Haya lapor ke polisi. Pihak polisi segera bertindak untuk melacak keberadaan tersangka.


Tia ditemukan disebuah hotel bersama lelaki. Dia terciduk melakukan pekerjaan **** komersial dengan lelaki yang sudah menikah. Lantas tak hanya itu, Tia mendapatkan beberapa pelanggaran pasal berlipat-lipat. Maka polisi dengan mudah menjebloskan wanita pelacur itu ke sel tahanan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2