
Hans mengambil gaun itu dan bergegas menuju apartemen Niken. Ia berdiri dan mencoba membuka pintu apartemen Niken dengan password yang dulu. Ternyata benar. Passwordnya masih yang lama. Hans berjalan perlahan-lahan, ia menemukan seorang perempuan berdiri di balkon dengan merentangkan tangannya keatas, memakai t-shirt sepinggang, dan celana mini berwarna hitam pekat.
"Niken...?" Seru Hans pelan. Perempuan itu menoleh dan terkejut ketika Hans berdiri dihadapannya. Hans berjalan mendekati Niken lalu memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku. Maafkan aku yang tak pernah menyadarinya." Ujar Hans.
"Ehhh, apa yang terjadi?" Tanya Niken bingung. Hans tidak melepaskan pelukannya. Ia begitu sangat merindukan Niken dan sangat sangat merindukannya.
Hans melepaskan pelukannya. "Ada apa?" Tanya Niken. Hans menggenggam gaun yang sudah ia robek. "Apa kau mau minta maaf karena perbuatanmu semalam? Kau merobek gaunku dan kau menyentuhku tanpa seizinku. Memangnya kau siapa? Berani datang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu." Umpat Niken. Hans terdiam sejenak.
"Uhmmm, aku minta maaf." Balas Hans. Niken menghembuskan nafasnya. Apakah sekarang semuanya sudah berakhir? Batinnya.
"Apa...?" Hans membalikan badannya saat Niken berseru. "Kau akan pergi begitu saja?" Lanjut Niken.
"Huh?"
"Apa kau masih membenciku?" Tanya Niken. Hans menganggukkan kepala.
"Aku membencimu karena kau tidak jujur padaku. Kenapa harus menderita sendirian?" Balas Hans.
Niken menggelengkan kepala, "aku tidak sendiri. Ada kau yang selalu bersamaku." Balas Niken.
"Meski aku tidak menyadarinya? Sampai kapan kau akan bersembunyi dariku?"
"Sampai kau mau memelukku lagi." Hans merentangkan kedua tangannya, menyambut pelukan dari kekasihnya. Dan Niken bergegas memeluk kekasihnya itu. Ia meloncat dan ke gendongan Hans.
"Kau...? Aduh berat sekali." Seru Hans. Niken menepuk pundak Hans.
"Enak saja, berat badanku nggak naik ya. Aku selalu diet." Balas Niken. Hans ******* bibir bawah Niken dengan lembut. Dan menjatuhkannya ke sofa. Lalu ia duduk berhadapan dengan wanita yang dicintainya itu.
"Maafkan aku. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita." Tukas Hans sambil menyentuh pipi Niken.
"Gaunku..." Niken merebut gaun yang ia beli di Inggris setahun yang lalu.
"Uhmmm, ini, nanti aku akan mengganti gaunmu yang baru." Balas Hans.
Niken mengangguk setuju, "aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan pergi meninggalkanmu." Kata Niken. Hans kembali memeluk Niken dengan mesra.
"Kenapa harus begitu?" Tanya Hans. Niken mencium bibir kekasihnya.
"Karena aku tidak ingin kau terluka." Balas Niken. Hans balas menciumnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi." Jawab Hans. Niken mendekatkan bibirnya. Dan mengecup bibir Hans. Tiba- tiba ponselnya berdering, tanda pesan dari Haya.
__ADS_1
Kak Niken, aku minta maaf karena telah membongkar rahasia kita kepada kakakku. Tolong jangan marah sama aku ya.
Begitu isi pesannya. "Siapa?" Tanya Hans.
"Adikmu." Balas Niken.
"Lupakan dia. Mengapa kau melakukan semua ini kepadaku? Sementara kau sendiri menderita." Imbuh Hans.
"Aku tidak menderita Hans. Justru aku bahagia. Karena kau selalu ada untukku." Balas Niken.
"Maafkan aku. Sungguh maafkan aku Niken." Hans menundukkan kepala. Dan Niken memeluk kekasihnya.
"Tidak adakah kata yang lain selain kata maaf? Aku sudah memaafkanmu, dulu, kini dan nanti. Cinta adalah bagaimana kau mampu menerima orang yang kau cintai. Benar bukan?" Ujar Niken. Hans menganggukkan kepala.
"Aku mencintaimu." Balas Hans.
"Aku juga." Niken memeluk Hans kembali.
...***...
Haya sangat cemas, ketika Hans masuk ke apartemen Niken. 2 jam telah berlalu, tapi Hans belum kembali ke apartemennya. Suara pintu berbunyi, Haya bangun dari tempat duduknya. Ia melihat Hans dan Niken masuk ke dalam.
"Kakak...?" Seru Haya. Niken melempar senyum kepada Haya.
"Kalian tidak marah padaku, kan?" Ujar Haya. Hans memasang wajah kesal dan marah.
"Tenang saja Haya, aku tidak marah." Jawab Niken. Haya mendesah pelan.
"Syukurlah." Imbuh Haya. Sementara Hans masih melototi adiknya. Niken menepuk lengan Hans. Lalu ia tersenyum.
"Tidak. Tenang saja." Jawab Hans akhirnya. Haya mengelus dadanya dengan selamat. Ia bahagia melihat kakaknya bahagia.
"Hari ini aku mau masak, kau mau bantu Haya?" Ujar Niken. Haya mengangguk dengan semangat.
"Aku paling senang membantu kak Niken masak. Jadi aku bisa belajar banyak dari kak Niken." Balas Haya. Niken meletakkan bahan-bahan makanan dipinggir kompor.
"Selama kalian masak, aku akan menonton televisi." Tukas Hans. Niken dan Haya bergegas mencuci sayuran dan buah-buahan.
"Tadi kenapa kak Niken bilang, kakak tidak bisa buatin makanan?" Tanya Haya. Niken menggigit bibirnya. Sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Haya. Tidak mungkin ia menjawab kalau ia baru bangun dari kamar Hans.
"Sebenarnya aku kurang bisa tidur. Aku baru terlelap pukul 4 pagi. Dan rasanya badanku pegal-pegal, makanya aku bilang aku tidak bisa masak untuk pagi ini." Jawab Niken.
"Ooohhh." Gumam Haya. Niken dan Haya sudah sangat akrab, mereka sudah sering hangout bareng tanpa sepengetahuan Hans. Haya sangat mengagumi Niken. Penampilannya, cara make upnya, cara berpikirnya, karyanya, dan kepribadiannya. Bagi Haya, Niken adalah sosok perempuan yang sempurna, ia tak hanya memiliki tubuh yang proporsional, tapi juga memiliki sifat keibuan.
__ADS_1
"Sebentar ya, kak." Kata Haya ketika ponselnya berdering.
"Siapa yang menelpon, Haya?" Tanya Niken.
"Adit, kak." Jawab Haya, "dia ngajak aku kencan." Lanjut Haya, sambil tersenyum senang.
"Ohya? Kau sungguh menyukainya?" Haya mengangguk. "Kau yakin akan kencan dengan baju seperti itu?" Haya menatap Niken, lalu melihat bajunya.
"Setelah ini, ayo kita lihat bajuku." Usul Niken. Haya mengangguk. Setelah masak, Niken mengajak Haya ke apartemennya. Lalu memilihkan beberapa baju untuk Haya pakai pada kencan pertamanya.
"Wahhh. Ini serius baju-baju kakak?" Haya takjub melihat isi lemari Niken yang sangat rapi, dan banyak sekali baju-baju yang bagus.
"Sekarang kita pilih beberapa baju untukmu." Haya mencoba beberapa baju yang menurutnya pas dibadannya.
"Aku suka yang ini." Tukas Haya, setiap kali ia mengenakan baju Niken. Tapi Niken menggelengkan kepala.
"Nahhh ini baru cocok. Perpaduan pink dan abu, ohh sebentar." Haya tampak anggun mengenakan baju berwarna pink dan rok abu selutut. Niken membawa syal lalu mengenakannya dileher Haya. "Kau mau dimake up?" Tukas Niken. Haya mengangguk lagi. Niken merias wajah Haya dengan natural.
"Foundationnya apa ini kak? Kayaknya aku baru lihat. Ini produk luar ya?" Kata Haya. Niken tersenyum sambil meng-curli rambut Haya.
"Itu produk luar, Haya. Itu aku beli waktu aku ke Turki." Balas Niken.
"Waw. Serius? Ini yang tadi kak Niken tempelin di wajah aku?" Haya berseru.
"Bukan. Foundation yang dipake kamu yang ini." Niken mengambil foundation miliknya lalu menunjukannya kepada Haya.
"Ini produk mana kak?"
"Rusia. Waktu aku diam-diam datang ke acara kakak kamu." Niken menyemprotkan hair spray ke rambut Haya lalu menghair dry-nya dengan sempurna. "Selesai." Haya bercermin, ia merasa puas dengan make up-nya.
"Kalau kau suka dengan pakaian yang tadi, ambil saja." Ujar Niken.
"Serius kak?" Niken mengangguk. Haya mengambil beberapa bagian baju yang sudah ia pakai tadi.
"Dan ini untukmu." Niken menyodorkan foundation yang sepertinya Haya suka.
"Untukku?" Tanya Haya tak percaya. Niken mengangguk, Haya memeluk Niken. "Kak Niken adalah kakak ipar yang sangat baik. Terimakasih." Lanjutnya.
"Wihhh siapa ini?" Tukas Hans ketika melihat Haya kembali masuk ke apartemennya.
"Tebak, siapa yang make up-in aku. Dan baju siapa ini?" Kata Haya. Hans menggelengkan kepala, "kak Niken. Pokoknya aku seneng banget kalau kakak menikah dengan kak Niken. Lalu setiap harinya aku akan didandanin, trus belajar masak dan belajar banyak hal darinya." Lanjut Haya.
***
__ADS_1