One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh sembilan


__ADS_3

Setelah acara reuni selesai. Hans mengajak Niken ke tempat pertama mereka kencan.


"Menurutmu sahabat-sahabatku bagaimana?" Tanya Niken.


"Mereka cantik-cantik, dan baik." Jawaban Hans sangat umum sekali.


"Lalu bagaimana dengan Aidan, Arfand dan Dev? Kalian belum pernah bertemu, tapi kalian tampak akrab." Imbuh Niken sambil memainman rambutnya.


"Itulah laki-laki. Kita nggak perlu jaim seperti perempuan. Lagi pula mereka seumuran denganku. Jadi pembahasan kami santai dan berkenaan dengan ****." Jawab Hans sambil tersenyum. Niken meninju lengan Hans dengan kesal.


"Kau. Sungguh kalian membicarakan hal yang menggelikan itu?" Ucap Niken tak percaya. Hans tertawa.


"Kau percaya saja."


"Hans, kau sangat menyebalkan." Niken memukul lengan Hans dengan kesal. Tapi kemudian Hans menarik lengan Niken. Merangkulnya dan berbisik ditelinga Niken.


"Aku ingin mengenalkanmu kepada kedua orangtuaku. Apa kau setuju?" Niken terperanjat tak percaya. Ia menatap Hans.


"Apa papamu galak? Atau mamamu cerewet?" Tukas Niken khawatir.


"Kau khawatir kedua orangtuaku tidak menyukaimu?" Tebak Hans.


"Uhmmm sedikit." Aku Niken kepada Hans.


"Tenang saja. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri." Balas Hans. Niken mengangguk setuju.


"Baiklah, aku setuju." Balas Niken. Hans hampir menempelkan bibirnya, "Hans, ini tempat umum."


Hans menepuk jidatnya. Lalu mereka tertawa bersama.


***


"Baiklah, saya tunggu tugas kalian dikirim sore ini. Ingat, saya tidak menerima tugas hard copy, tugas dikirim lewat email seperti biasa. Mengerti?" Ujar Niken kepada mahasiswanya.


"Mengerti bu..." Balas semua mahasiswanya. Niken merapikan semua buku-bukunya dan berjalan menuju ruangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo...?" Seru Niken.


"Bu Niken, ini saya dari salon." Kata seseorang diujung telepon sana.


"Iya ada apa?"

__ADS_1


"Ummm ini bu, kan ibu nyuruh saya buat beli perlengkapan salon. Emmm gini bu, ibu saya masuk rumah sakit bu. Jadi kayaknya saya nggak bisa gantiin mbak Salma. Gimana dong bu?" Ujarnya.


"Kenapa dengan ibumu, Susan?" Tanya Niken.


"Sakit bu, kata bapak tadi muntah-muntah terus jadi harus dibawa ke rumah sakit." Jawab Susan.


"Oohhh gitu. Ya udah nggak apa-apa. Nanti saya transfer buat pengobatan ibu kamu ya." Balas Niken.


"Nggak apa-apa bu. Nggak usah bu. Kan saya udah gajihan kemarin sama ibu." Tukas Susan.


"Nggak apa-apa. Saya sedekah buat ibu kamu ya. Nanti ke belanja perlengkapan salon biar saya aza." Imbuh Niken.


"Makasih sebelumnya bu."


"Iya sama-sama." Niken memutuskan panggilannya.


"Siapa?" Tiba-tiba suara Hans muncul di samping kananya.


"Haaacappp." Niken kaget. Ponselnya hampir jatuh. "Hans, kau mengagetkanku." Hans memposisikan tubuh Niken sejajar dengannya. Hans menyentuh dagu Niken, lalu ia mencium bibirnya.


"Hans, ini di kampus." Niken memukul lengan Hans.


"Kau bilang kenapa? Kalau ada yang lihat gimana?"


"Biarkan saja." Balas Hans. Niken melotot dengan kesal. "Pintu sudah aku kunci. Biar tidak ada yang mengganggu kita." Tukasnya. Niken mencubit perut kekasihnya itu.


"Udah ahh, aku mau ke mall." Imbuh Niken.


"Ngapain?"


"Belanja buat di salon." Jawabnya.


"Mau aku antar?"


"Tidak perlu." Niken mengecup pipi Hans dan berlalu meninggalkannya.


Setelah selesai belanja perlengkapan salon. Niken mampir belanja perlengkapan pribadi seperti sabun cair, minyak goreng dan lainnya. Setelah membayar di kasir tak sengaja Niken bertemu dengan Kezia dan Tia.


"Hay Niken, kita bertemu kembali. Kemana Hans? Dia tidak ikut denganmu?" Ujar Kezia menyapa.


Niken mengacuhkan mereka berdua. Dan mencoba tidak terpancing emosi. Kezia menahan lengannya, "Kau mau kemana? Ehhh dengar ya, urusan kita belum selesai." Tukas Kezia.

__ADS_1


"Urusan apa Key? Kau tahu tidak, dulu cewek ini pernah ngerebut Hans dari aku." Tia menambahkan. Tia sangat ingat, kejadian 10 tahun yang lalu, ketika Hans mengakhiri hubungan mereka. Dan mencoba mengejar Niken, mahasiswa baru tingkat pertama.


"Dengar baik-baik, aku tidak merebut siapapun darimu." Jawab Niken.


"Ehhh aku lihat sendiri bagaimana kau menggoda kekasihku." Tia mendorong Niken dengan kasar. "Dasar perebut lelaki orang. Kau itu tidak cantik. Aku harus rela mengotori tanganku sendiri hanya untuk membuatmu celaka dan diperkosa oleh para preman. Sehingga Hans tidak lagi menyukaimu. Tapi kau mengacaukan semuanya. Kau itu tidak pantas untuk Hans. Yang pantas menjadi kekasih Hans itu adalah aku." Tia terus mendorong Niken dengan kasar. Semua orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.


"Ohhh ternyata dia yang kau maksud itu." Tukas Kezia tak percaya. "Dia juga musuhku. Dia memang tidak pantas untuk Hans." Lanjut Kezia. Tia dan Kezia mencengkram lengan Niken.


"Kita apakan wanita ****** ini?" Kezia dan Tia saling berpandangan, untuk merencanakan sesuatu.


"Aku tidak merebut siapapun. Jadi lepaskan tanganku." Kata Niken.


"Hey dengar wanita ******. Kau tahu, gara-gara dirimu, Hans selalu mencibirku dan selalu menganggapku tidak ada. Kau harus membayar, apa yang telah Hans lakukan terhadapku." Tutur Tia.


"Kalian memang benar-benar menjijikan. Jika kau masih ingin hidup, jangan campuri urusanku. Kecuali jika kau benar-benar ingin mati." Ancam Niken.


"Kau pikir aku takut? Kezia, aku rasa dia cocok untuk menjadi umpan kita mencari uang malam ini." Balas Tia. Niken menyunggingkan bibirnya.


"Ohh ternyata pekerjaanmu juga sama seperti si pelacur ini." Ketus Niken. Tia menampar pipi Niken dengan sangat keras.


"Kau salah jika menganggapku lemah, Niken. Aku tahu, kau tidak punya bukti dan saksi. Jadi kali ini aku akan membalasmu." Balas Kezia menggertakan rahangnya.


"Kau lupa aku siapa? Baiklah, akan aku ingatkan kembali. Nyawa orangtuamu ada ditanganku. Hari ini ayahmu sedang dirawat di rumah sakit. Ibumu memiliki banyak hutang. Dan kau penderita skizofrenia. Video itu masih ada, jika hari ini aku pergi ke rumah sakit dan mengungkap semua kejahatan dan penyakitmu, apakah ayahmu masih akan hidup?" Balas Niken sambil menyipitkan matanya. Kezia mengedipkan kedua matanya dengan cepat. Kedua orangtuanya tidak pernah tahu pekerjaannya serta perlakuan dirinya di 10 tahun yang lalu.


"Aku tidak takut." Ujar Kezia mempertahankan diri.


"Baiklah. Aku tinggal mempublikasikannya sekarang." Niken memperhatikan ponselnya kepada Kezia dan Tia. Kezia terkesiap, karena rekaman itu sangat jelas menunjukan wajahnya. "Kita lihat bagaimana reaksi ayahmu ketika video ini telah tersebar ke sosial media dan televisi." Balas Niken.


"Bajingan...." Teriak Kezia tepat diwajah Niken. Mereka menjadi bahan tontonan orang-orang di mall.


"Akan aku hancurkan kau?" Timpal Tia dengan menampar pipi Niken lagi. Kezia terduduk lemah. Sementara Niken mengambil sikap dengan kembali menampar Tia. Sehingga Tia terjatuh ke lantai. Tia bangun dan mencoba mendorong Niken. Sementara tangan Niken menahannya, Niken kembali menampar Tia berkali-kali, kemudian mendorong hingga Tia kembali terjatuh. "Jangan kau pikir aku takut terhadap kalian berdua. Dan jika kau berniat untuk merebut Hans dariku, kau akan berhadapan denganku. Aku yang akan menghancurkanmu terlebih dahulu. Kehidupan kalian ada ditanganku." Ancam Niken kemudian berlalu.


"Tia...?" Seru seorang ibu-ibu separuh baya. "Kenapa? Siapa perempuan itu?" Tanyanya.


"Dia Niken tante. Dia jahat sekali sama Tia." Katanya.


"Kenapa dia bisa sampai menamparmu?" Selidik perempuan itu.


"Tante tahu, dia itu pernah merebut Hans dariku." Balas Tia.


***

__ADS_1


__ADS_2