One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh enam


__ADS_3

"Dimana sekarang? Biar kakak bicara dengannya? Kenapa kalian harus berpisah? Apakah karena orangtuanya?" Ujar Nadine sambil berkacak pinggang. Niken mendongak, menatap kakaknya dengan sayu, lalu ia menggelengkan kepalanya. Lunglai. Perasaannya amat sakit sekali. Degup jantungnya berpacu lemah. Ia kehilangan hati kecilnya. Hati yang semuanya tentang Hans. Tentang kenangannya bersama Hans.


"Hans baru saja siuman dari komanya. Sudah 2 bulan, keluarganya menantikan Hans bangun dari komanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, ketika membuat perjanjian dengan mamanya. Bahwa aku harus meninggalkannya. Tidak. Jangan lakukan apapun terhadap Hans dan keluarganya. Biarlah, biarlah semuanya aku yang menanggung. Sedihku, lukaku, pahitku, biar aku yang merasakannya." Lirih Niken parau. Nadine menghembuskan nafasnya lalu memeluk adiknya dengan iba. "Kenapa kau harus mengalami nasib seperti ini?" Batin Nadine.


1 jam berlalu, Nadine mengajak Niken untuk sarapan pagi. Setelah itu Niken bergegas menuju kampus tempat ia bekerja. Niken menghembuskan nafasnya lagi, Ya Tuhan... Ternyata begini rasanya. Seorang philofobia sepertiku yang mulai percaya bahwa cinta itu ada. Harus mengalami hal seperti ini mencintai dan dicintai itu bukan perkara mudah. Ternyata, kita harus rela berkorban untuk mendapatkan perasaan kita tetap utuh tanpa terluka. Tapi ternyata sakit hati dan cinta adalah satu paket yang harus kita rasakan bersama. Begitulah resikonya ketika seorang philofobia sepertiku mengalami yang namanya jatuh cinta. Apakah ini akhir dari segalanya? Ataukah Tuhan memiliki rahasia lain untuk aku dengannya bersama kembali. Bagaimana aku mampu menjalani semua ini tanpa dia yang selalu menjaga dan melindungiku? Apakah aku sanggup menjalaninya? Aku bertanya pada hatiku, tapi aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Maka, inilah pilihanku. Dengan berat, akan aku jalani sepenuh hati.


Niken memberanikan diri mengetuk pintu rektor. Menandatangani surat keterangan yang telah diputuskan oleh kedua belah pihak, yaitu antara dirinya dan rektor. Ia akan berhenti untuk sementara. Hal itu pun disetujui oleh rektor kampus. Dengan alasan bahwa ia akan penelitian ke beberapa negara. Pilihannya sudah sangat bulat, Niken-pun bergegas mengkemasi barang-barangnya. Ia menoleh ke meja Hans, maafkan aku Hans. Pilu dan sendu merekah perih didadanya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Niken...?" Seru Bella tiba-tiba. Niken menoleh ke arah sumber suara.


"Kau mau kemana?" Tanya Bella ketika Niken membawa perlengkapan pembelajarannya.


"Aku mau pergi, Bel." Jawab Niken.


"Kemana?"


"Tidak usah bertanya aku mau kemana? Nanti juga kau akan tahu sendiri." Balas Niken.


"Koq gitu sih, Ken. Nggak seru kalau nggak ada kamu." Tukas Bella.


"Bel, kalau ada yang bertanya aku kemana? Bilang saja kau tidak tahu. Anggap saja hari ini kita tidak bertemu. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa kepadamu, tapi... Maafin aku ya, kalau aku banyak salah sama kamu." Ujar Niken. Bella mengerjapkan kedua matanya. Ada apa dengan Niken? Pikir Bella. Tidak biasanya Niken seperti ini. Bella menghembuskan nafasnya.


"Hans bagaimana? Dia tahu kau akan pergi?" Niken menggelengkan kepala. Mendengar nama Hans saja sudah sangat berat baginya. Apalagi jika bertemu nanti? Apa yang harus ia katakan? Mata Niken sayu. Ia sangat lelah sekali.


"Hans dan aku sudah berpisah." Jawab Niken. Bella terkejut tak percaya. Hari itu sebelum ia pergi meninggalkan negeri tercintanya, Niken mampir ke rumah sakit untuk melihat kondisi Hans. Namun begitu sampai, ia melihat Hans dengan keluarganya berkemas dan pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka tampak bahagia. Niken melihat Hans tertawa cerah ceria. Ia menahan diri untuk tidak muncul dihadapan Hans.


"Kak Niken?" Seru Haya dengan menyentuh pundak Niken.


Niken dan Haya duduk dikursi taman rumah sakit. Niken pun pamit kepada Haya.


"Aku titip surat buat Hans ya." Kata Niken.


"Aku tahu kalian saling mencintai. Tapi kenapa kakak harus pergi sih? Tolong jangan tinggalin kak Hans, kak. Aku mohon. Dia sangat mencintai kak Niken." Ujar Haya.


"Nanti, kamu akan mengerti alasan aku pergi dari sini." Jawab Niken.

__ADS_1


"Tapi kak Hans akan sangat terpukul sekali." Haya memegang lengan Niken.


"Tolong jaga Hans untukku. Jangan katakan apapun soal kepergianku. Aku tidak pernah pergi meninggalkan cintanya. Aku akan selalu ada untuknya. Apapun yang terjadi. Aku ada disampingnya untuk Hans." Balas Niken kemudian pamit pergi meninggalkan Haya. Setibanya Haya di kamar, Dina tersenyum sumringah. Haya ingin sekali menyampaikan surat itu kepada kakaknya, tapi mama mungkin akan marah, atau malah tidak akan pernah menyampaikan surat itu kepada Hans. Haya mengulur-ulurkan waktu untuk memberikan surat kepada kakaknya. Hingga Hans kembali ke apartemennya dan beraktivitas kembali.


"Mama pulang ya sayang. Mama senang banget kamu bisa kembali sehat." Ujar Dina. Hans mengangguk lalu memeluk mamaya. Dina, Harun dan Haya mengantar Hans kembali ke apartemennya.


"Iya mah." Balas Hans.


Setelah Dina dan Harun berlalu, Haya berujar kepada Hans. "Kak, maafin Haya ya..."


"Kenapa Haya?" Tanya Hans. Sambil merapikan bajunya ke lemari.


"Maaf banget, Haya nggak ngasih tahu kakak." Balas Haya sambil menundukkan kepalanya. Hans menoleh.


"Kenapa sih? Kakak nggak ngerti deh." Kata Hans.


"Sebenarnya Haya pengin banget ngasih tahu kakak. Tapi Haya nggak berani, karena mama." Ujar Haya.


"Mama kenapa?"


"Surat? Dari Niken? Kenapa mama harus marah? Mama menyukai Niken." Hans mengernyitkan dahinya.


"Aduhhh gimana ya. Haya bingung ngejelasinnya." Kata Haya.


"Katakan terus terang, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Hans. Haya menghembuskan nafasnya.


"Tapi kakak janji nggak akan marah ya?"


"Iya..."


"Sebenarnya, waktu kakak sama kak Niken mengalami kecelakaan. Mama tuh marah banget sama kak Niken. Mama nyalahin kak Niken, mama juga mama nggak setuju kakak berhubungan dengan kak Niken lagi. Mama ngusir kak Niken, dan..." Haya menggigit bibirnya.


"Dan kenapa...?"


"Dan mama meminta kak Niken membuat sumpah, kalau kakak siuman, dia harus pergi ninggalin kakak." Lanjut Haya sambil menyodorkan suratnya.

__ADS_1


Hai Hans?!


Apa kabarmu?


Mungkin kau sudah siuman, sudah bersama keluargamu atau kau sudah di apartemenmu.


Ohya, mungkin sudah kuno jika kau membaca suratku ini. Karena ini bukan zamannya lagi. Maaf karena suratnya begitu lusuh. Uhmmm, Hans, jangan tanya aku kemana? Dan jangan mencariku. Nanti aku akan terluka.


Ada begitu banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu.


Tapi aku tahu, surat ini tidak akan cukup untuk menjelaskan semuanya. 


Permintaan maafku mungkin sudah tidak berarti bagimu.


Terimakasih karena kau selalu menjagaku. 


Terimakasih kau selalu ada disisiku ketika aku mengalami banyak kepedihan.


Hubungan kita, mungkin, tidak akan pernah menemui restu.


Kita hanya ibarat kekasih yang tak pernah sampai.


Kita telah melalui banyak hal.


Tapi aku mengerti jalan takdir kita.


Meski kita takkan pernah mampu bersama.


Tapi rindu akan selalu ada dihatiku.


Dan cinta akan tersembunyi didalam diri kita.


Aku mencintaimu.


Niken…

__ADS_1


__ADS_2